by

Suwandilam

Pengalaman menarik yang dialami oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi ketika melaksanakan KKN ( Kuliah Kerja Nyata ) di salah satu desa terpencil. Tidak mau memahami kultur yang ada di sana, mengakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Part-1

PERKENALAN

Cerita ini merupakan fiksi, namun isi dari cerita ini sebagian diambil dari serangkaian kisah pengalaman nyata yang dialami oleh penulis dan dicampur dengan cerita fiksi yang tidak benar-benar terjadi. Beberapa kejadian memang benar terjadi dan beberapa kejadian merupakan cerita rekayasa untuk penambahan agar cerita ini menjadi lebih menarik. Semua nama tokoh, nama tempat dan lain-lain telah disamarkan guna menjaga nama baik pemilik aslinya.

Nah mari kita mulai ceritanya.

1 Februari 2015, Yap tepat pada tanggal ini saya mahasiswa jurusan ekonomi yang bernama Dony mendapatkan tawaran menarik dari kampus saya. Saya berasal dari Jakarta, kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta dan sekarang tengah memasuki semester delapan. Menjelang memasuki semester 8 yang ku anggap bakal menjadi semester terakhir untuk perkuliahanku, Aku memiliki banyak waktu luang karena aku hanya tinggal menyelesaikan KKN dan menyusun skripsi (Itupun uda hampir kelar karena data2 skripsinya uda ada dan tinggal dimanipulasi, namun repotnya ya itu nanti minta persetujuan dosen dan revisi2 yang menjengkelkan pastinya dan bisa menghabiskan waktu cukup lama).

Sebelum tanggal 1 Feb, keseharianku cukup membosankan karena terlalu banyak waktu luang, mau memikirkan tentang KKN, tetapi aku masih galau mau KKN di mana, belum ada lokasi KKN yang asik menurutku sampai saat ini. Kebanyakan waktu luangku kuhabiskan untuk berkelana di kampus mencari info2 sputar KKN, hingga suatu waktu aku pergi ke ruangan dosen, bercerita2 dengan dosen dan terakhir sebelum pulang, aku membaca papan informasi yang ada di ruangan dosen, seketika mataku tertuju pada papan informasi yang terdapat selembaran brosur. Brosur tsb bertuliskan :

“Dicari 10 Mahasiswa/I yang berminat untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa terpencil selama 3 bulan, dana semua ditanggung oleh kampus. Diperuntukkan bagi mahasiswa/I yang berada di semester 7 ke atas.
Kriteria : Memiliki jiwa pemberani, bisa hidup mandiri, menyukai kehidupan alam desa dan ingin pengalaman seru.
Hadiah : Bagi anda yang belum menyelesaikan KKN, maka KKN dianggap selesai sehubungan dengan kegiatan ini dan mendapatkan nilai A
Bagi anda yang sedang menyelesaikan skripsi, maka nilai Skripsi anda akan langsung mendapatkan nilai A.
Silahkan isi formulir yang dapat diambil di bagian kemahasiswaan, serahkan formulir tersebut ke rektorat paling lambat tanggal 30 Januari 2015. Bagi mahasiswa/I yang kami anggap cocok untuk ikut serta dalam kegiatan pembangunan desa ini, akan kami informasikan pada tanggal 1 Februari 2015.
Mahasiwa/I akan kami pilih dari berbagai jurusan agar dapat saling melengkapi dan membuat serangkaian program untuk pembangunan desa tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung datang ke rektorat.”

Wahhhh !!! Setelah membaca brosur ini, akupun kaget dan cukup tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Langsung kutanyakan ke bagian kemahasiswaan di fakultasku tentang formulir ini dan apakah masih ada kuota kosong untuk kegiatan pembangunan desa ini atau tidak.

Saya : “Pak ! Itu brosur di papan informasi masih berlaku kan Pak? Kira2 masih ada slot kosong utk saya ikut serta gak ?”

Dosen Kemahasiswaan : “Oh brosur itu, setahu saya itu masih terbuka untuk semua mahasiswa di universitas ini. Penutupannya kan di akhir bulan Januari ini. Kenapa? Kamu minat utk ikut ?”

Saya : “Oh jelas minat lah Pak ! KKN dan Skripsi langsung kelar dan nilainya A loh !”

Dosen : “Hehehe iya nak, Bapak juga kaget baca brosur ini, kok bisa ya rektorat langsung izinkan KKN dan Skripsi langsung dapat nilai A.”

Saya : “Loh, memangnya kenapa Pak ? Tahun2 sebelumnya belum pernah ada informasi seperti ini?”

Dosen : “Belum pernah nak. Ini informasi terbaru dan perdana yang pernah Bapak dapatkan. Belum pernah ada kegiatan seperti ini selama bapak mengajar di sini. Ya uda kamu coba apply aja deh, siapa tau kamu bisa terpilih kan, itu untuk 10 orang kapasitasnya loh, coba aja kamu ajak temanmu biar gak bosan. Siapa tau bisa masuk kalian kan, tapi nanti kepastian siapa yang berhak ikut itu jg ditentuin dari rektorat dan kemungkinan kamu dan temanmu tidak bisa lolos barengan, tapi dicoba saja, paling enggak nanti kamu bakal dapat banyak teman baru loh. Nih formulirnya.”

Saya : “Makasih pak, paling enggak saya lolos dari KKN dan Skripsi yang menyusahkan ini Pak. Hehehehe.” (Ketawa cengengesan)
Setelah mendapatkan formulir dari dosen kemahasiswaan fakultasku, Aku langsung bikin group chat via BBM untuk beberapa teman2ku yang berjumlah 4 org termasuk aku yang tentunya masih belum KKN dan Skripsi.

Saya : “Woi, Bro ! Baca nech, Kalian ndak perlu KKN dan bikin skripsi oeeee ! Ikut program ini, seru cui ngabdi di desa, hidup di alam bebas, KKN dan skripsi lgsg kelar. Dana semua ditanggung kampus ! Ikut yok, untuk semua fakultas loh!”

Rudy : “Wew serius tuh? Keknya seru juga loh ! Lu ada formulirnya?”

Victor : “Wakakaka, klo KKN dan skripsi lgsg A , gue masuk cui. Kapan kasi gue form nya ?”

Benny : “Gue ikut apply deh klo kalian semua apply ! Ya moga” aja kepilih semua kita berempat!”

Saya : “Okay, form nya kalian jemput aja ama gua di kampus ya!”

Setelah menghubungi semua teman2 gua, gua pun atur waktu ketemu mreka dan ngasihin formulir untuk mereka isi.
Tepat pada tanggal 1 Februari 2015 pagi hari, HP kami masing2 pun berdering.

Saya : “Woiii brooo ! Gue dapat sms dari rektorat nech ! Gw kepilih untuk ikut loh ! Wakakka, kalian cam mana? Lolos ?”

Rudy : “Gue kagak lolos brooooo… Suram !!!”

Victor : “Lu gak lolos Rud ? Gue lolos nech wkawkakwa, mantap Don ! Bareng2 nikmatin alam desa kita, skalian cuci mata liat cewek2 desa wakwkawka ! Benny gimana?”

Benny : “Gue gak lolos cukkk~ Kok bisa yeee… Padahal pengen banget gue nikmatin alam desa, intinya sih sebenarnya kkn dan skripsi kelar wakwakka.”

Saya : “Sabar yee yang gak lolos wkwkwk, kalian ambil masa langkau aja, barangkali tahun depan ada lagi kegiatan beginian hehehe.”

Rudy : “Taikk lu… Ya uda info2 n cerita2 ye pengalaman xan disana gimana !”

Victor : “Pasti bro ! Eh Don, nanti siang kita ke rektorat bareng deh ya !”

Saya : “Sip bro !”

Siang harinya sehabis makan siang, gue dan Victor langsung menuju ke rektorat dengan mengendarai motor kami masing2. Selama perjalanan kami saling bercerita.

Saya : “Eh bro, bosan gak ya nanti selama di desa, 3 bulan loh. Entah ada pulang or enggak ?”

Victor : “Ya kagak tau, enak sih hidup mandiri dan bebas, tapi klo 3 bulan ndak pulang ya bosan jg, kecuali di desa itu adem dan bnyk hiburan, tapi gue rasa mana bakal byk hiburan, tv, game, inet pasti ga ada or klo pun ada pasti jelek sekali.”

Saya : “Iya juga sich, tapi biarlah, lumayan kan KKN dan Skripsi bisa kelar dalam 3 bulan bersamaan. Bersabar2 aja dah, tujuan kita kan itu. Hehehe”

Victor : “Yoi Bro. Kira-kira 8 peserta lagi cowo apa cewe ya, klo cowo semua bosan juga nech. Btw entah ada yang Chinese or gak ya, pengennya sih klo ada yg cewe Chinese, bisa pdkt-an sekalian hahaha.”

Saya : “Hehehe.. Lu mah mata keranjang wakwkawka.”

Ehem, sampai lupa ngasih tau ke para pembaca, Saya dan Victor ini keturunan tionghoa nih. Sehubungan kuliah kami di universitas swasta yang terkenal di Jakarta, lumayan banyak sih keturunan tionghoa yang kuliah di sini, jadi kami ngarepnya ya itu dapat anggota yang sesama keturunan tionghoa biar bisa sekalian pdkt gt loh ~

Part-2

KEBERANGKATAN

Tanggal 8 Februari 2015 pun tiba. Setelah 1 minggu persiapan berlalu, kami semua akhirnya berkumpul di bandara terkemuka di Jakarta pada pagi hari sekitar pukul 7. Kami bersepuluh bertemu di tempat yg telah dijanjikan bersama.

Victor : “Nah… Sepertinya kita semua sudah lengkap bersepuluh kan ?”

Laras : “Sudah kok. Keberangkatan kita pukul 8 nanti kan sesuai di tiket yang diberikan oleh kampus ?”

Aldi : “Ho oh.. 1 jam lagi.. Sekarang gini deh, kita bahas2 dulu yuk tentang perjalanan kita nih?”

Amelia : “Okay.”

Gue : “Loh itu cewe berempat lainnya kok ga ikut nimbrung ?” (Sambil lirik ke para cewe lain)

Kelihatannya Nadya si cewe berambut lurus sebahu dan Monica cewe blaster indo jepang yang putih dan cantik serta lumayan sexy sedang sibuk bermain HP, sedangkan Angela dan Feby sibuk mencari jajanan ringan di stand makanan yg ada di bandara.

Danu : “Ya uda biarin aja mreka, nah gini, kita kan berangkat jam 8, kemungkinan akan tiba di bandara Riau sekitaran pukul 10, perjalanan dari JKT ke RIAU lebih kurang 2 jam. Nantinya kita akan langsung dijemput oleh travel yang disediakan kampus dan butuh perjalanan 10 jam utk sampai ke lokasi.”

Laras : “Eh… itu artinya kita tiba di lokasi sekitaran jam 10 malam, ngitung-ngitung kita kan pasti break makan dan istirahat? Gak salah tuh !”

Amelia : “Iya juga ya. Uda malam banget tuh, mau nyari siapa kita di sana ? Astaga !”

Gue : (Sambil natap ke Victor) “Oi cuii, kalo nyampe nya jam 10 malam, di desa terpencil yang kita gak tau apa2, bagusnya gimana tuh ?”

Victor : (natap balik dengan tatapan kebingungan) “Entahlah bro. Jalanin aja. Gue jg masih bingung, nanti kita Tanya sama supir travel yg nganterin kita aja deh.”

Di sela-sela kami berdiskusi, tiba-tiba Angela dan Feby datang menghampiri kami membawa kan minuman kaleng.

Angela : (Ngasihin minuman ke Victor) “Ko, ini minuman kaleng, masih sejam lagi nanti kehausan.”

Victor : (Sedikit kaget dan natap ke Angela) “Eh iya iya, makasih loh Angela.”

Danu : (Sambil godain Victor dengan berbisik) “Broo.. Cantik juga nih Angela, Sesama non, putih bersih, lumayan tinggi, sexy juga, baik lagi. Matanya bulat gede manis banget loh senyumannya. Hehehe

Victor : (Sambil mendorong si Danu) “Ssttt.. Jangan keras-keras… Malu gue tau !”

Feby : (Nyodorin minuman ke kami-kami lainnya) “Ini buat yang lainnya.”

Semua : “Oh thanks ya.”

Akhirnya jam pun menunjukkan pukul 8. Pengumuman dari bandara agar para penumpang segera memasuki pesawat karena pesawat sebentar lagi akan berangkat. Sesampai di dalam pesawat, kami melihat barisan tempat duduk adalah berjumlah 3 kursi untuk setiap deretnya yang artinya harus ada salah satu dari kami yg duduk terpisah. Karena yang cewe jumlahnya 6 orang, tentunya kursinya sudah pas untuk 3 – 3. Sementara karena kami cowo jumlahnya ber-4, artinya harus ada 1 orang yang duduk terpisah sendiri. Kami pun memutuskan untuk melakukan pengundian cabut kertas, 1 kertas diberikan warna merah dan 3 kertas warna putih, bagi yang mendapatkan warna merah, berarti dia harus duduk terpisah.

Danu : “Sene sene seneee… kumpul dulu, nih kita ngundi aja biar adil, pastinya yang duduk sendiri bakal bosan wakakak.”

Gue : “Oh gue jagonya cabut undian nech. Ga mgkn sial !”

Victor : “Hahahaha. Elo mah biasanya sering sial klo nyabut gini Don!”

Aldi : “Yuk..”

Sesaat setelah nyabut ~

Victor : “Gue putih cui.. Wakakkaa, gw mah emang selalu hoki klo undian gini.”

Gue : “ANJIR !!!” GUE KOK DAPAT MERAH !”

Victor : “Wkakakakak, Nasib loe lah tu!”

Akhirnya tempat duduk telah diputuskan, gue terpaksa duduk dibarisan depan sendiri, di belakang gue ada Victor, Danu dan Aldi, di belakang mereka ada Laras, Nadya dan Amelia, di belakang mereka lagi ada Angela, Monica dan Feby.
Setelah 2 jam penuh kebosanan di dalam pesawat, akhirnya kami tiba di bandara Riau yang mungkin sangat baru bagi kami. Kami semua belum pernah pergi ke Riau, sesampai di bandara kami segera muter-muter untuk nyari supir travel yang telah disediakan oleh pihak kampus. Sambilan kami menelepon, kami pun mencari kesana-sini agar lebih menghemat waktu. Tidak lama kemudian, kami bertemu dengan supir travel yang disediakan oleh kampus. Ternyata supirnya adalah seorang bapak-bapak yang kira-kira usianya sudah mendekati 40an ke atas dan bergolongan darah Jawa yang dapat kami ketahui dari gaya bicaranya yang lembut dan sopan.
Kami pun mengikuti Bapak tersebut ke mobilnya dan setelah ketemu mobilnya.

Victor : (Lihat ke mobil dan bisik ke gw) “Tuh lihat mobilnya, tipe agak panjang, dan sepertinya posisi duduknya di depan hanya bisa 2 orang buat supir dan 1 orang kita, terus belakangnya bakal 3-3-3. Wakakka artinya 1 orang dari kita yg cowo harus jadi tumbal duduk depan lagi selama 10 jam wakwakwka.”

Gue : “Hahahaha… Diem lu… Ga usah liat2 ke gw napa.. Ga bakal sial lagi gw klo soal ngundi-ngundi”

Danu : “Hehehe.. Yuk kita undi lagi seperti tadi !”

Pengundian pun berlangsung kembali ~

Aldi : “Gue putih lagi nih, artinya duduk bareng-bareng biar ga bosan hehe!”

Gue : “Ahhh BIADAB !!! KOK GUE MERAH LAGI !”

Danu dan Victor : (Ngakak terbahak-bahak) “Wkakakakaka SURAM KALI KAU BRO~! WKAKAKA”

Para cewe yang melihat Danu dan Victor tertawa begitu keras sampai kebingungan dan salah satu dari mereka pun menghampiri ~

Amelia : (Sambil ngampirin ke gw yang tampangnya lagi menyedihkan) “Kalian ngapain sih? Kok ketawa-ketawa lepas gitu?” (Sambil senyum-senyum)

Gue : (Garuk-garuk kepala) “Eh gapapa gapapa. Hehehe”

Victor : (Bisikin ke Amelia) “Diaa suram muluh klo ambil undian hahahaha”

Gue : (Narik si Victor) “Oiii dieemmm lu berisik…”

Setelah selesai menentukan pilihan, akhirnya Gue mesti duduk di depan bersama si Bapak supir, di belakang gua ada Laras, Nadya dan Amelia dan di belakangnya lagi ada Angela, Monica dan Feby dan yang paling belakang barulah diisi oleh Danu, Aldi dan Victor. Ahh asal gue liat ke belakang, mereka pasti cengengesan dan ngeledekin gua.. Mereka asik ngobrol-ngobrol, sementara gue ngantuk duduk di depan sendiri. Mau ngobrol ke belakang, isinya cewe yang bisa dibilang masih gue masih canggung.

Kami start jalan dari mobil sekitaran pukul 11 siang, selama diperjalanan ya gue kebanyakan ngelihat pemandangan di jalan dan sekali-kali ngobrol ama cewe-cewe di belakang gue. Sementara temen gue yg cowo lainnya sibuk main game or entah bahas apalah yang keliatannya seru, tapi gue ga bisa nyambung.

Ga lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 6 sore. Artinya kami sudah 7 jam di perjalanan dan sekarang kami sedang break karena pak supirnya ingin istirahat dan sholat sebentar sambilan cari makan malam. Kami pun berhenti di masjid yang berukuran sedang dan kelihatannya jumlah pemukiman penduduk di sini sudah mulai jarang, tidak sepadat seperti sebelumnya.

Kami pun memutuskan untuk cuci muka dan makan di salah satu warung makan yang berada di pinggiran jalan. Warung ini kelihatan lumayan, tempatnya yang luas dan bangunannya yang terbuat dari kayu-kayu menambah nuansa kehidupan dengan alam bebas sesuai kesenangan hatiku, namun sayangnya yang membuat kami gelisah yaitu ga ada seorangpun yang makan di tempat ini, hanya kami

bersepuluh termasuk si pak Supir. Tapi biarlah, makan beginian toh ga bikin mati kok ~ hehehe

Danu : (Mendekati si pak supir) “Oh ia Pak, kami mau nanya nih Pak, ini kan sudah pukul 6 sore, berarti klo kita jalan terus masih sekitaran 3 sampai 4 jam lagi kan? Entar nyampai di desanya uda mau tengah malam. Apa masih ada orang di desa tuh?”

Pak Supir : (Sedikit terdiam) “Emm sepertinya ga ada orang lagi dik. Kita nginep di sini dulu ampe tengah malam, ampe warung ini mau tutup, terus nanti kita baru berangkat pelan2 biar kita nyampainya subuh.”

Gue, Victor dan Aldi sedikit kaget mendengar perkataan si pak Supir.

Pak Supir : “Oh iya, nanti pas subuh berangkat, saya juga tidak bisa bawa cepat, soalnya jalan menuju ke desa kalian ini termasuk jalan yang sangat jarang dilewati orang, bisa dibilang jalannya agak susah, sepi dan gelap.”

Gue : “Sepi dan gelap, Pak ?!”

Pak Supir : “Iya dik. Namanya juga desa terpencil. Memang sangat jarang dilalui orang-orang. Masyarakatnya juga saya dengar sangat primitif, kurang begitu terbuka dengan lingkungan luar. Terus sepanjang perjalanan nanti juga kebanyakan hutan-hutan dan semak-semak. Sangat minim jumlah pemukiman warga. Jadinya jalannya agak gelap.”

Gue : (Sambil nelan ludah, glekk dan bisik ke Victor) “Ini benar-benar suram neh.”

Victor : (Balas bisik ke gue) “Yoo mau gimana lagi. Suram sih suram, tapi seru keknya kan, kayak di game-game, hidup di village gitu, indah ~ wakakka” (Sambil nenangin diri)

Pak Supir : “Oh iya, kalian tolong kasi tau ke yang cewe-cewe ya, tapi ga usah jelasin terlalu panjang lebar, bilang aja kita istirahat dulu dan berangkatnya pas tengah malam biar nyampainya subuh. Okay ?”

Kami semua : “Ehhhmm.. Baik pak.”

Setelah makan malam selesai, kami berempat pun langsung memberitahu para cewe tentang informasi yang disampaikan oleh pak Supir. Si Victor langsung mendekati Amelia, si gadis cantik berkulit putih dengan rambut hitam lurus yang lumayan panjang. Sementara gue menghampiri Monica, cewe blasteran yang putih dan cantik dengan rambut lurus panjang yang berwarna kecoklatan dan Angela, si cewe putih cantik berambut hitam lurus panjang dengan poni Dora.

Kalau Danu dan Aldi sudah pasti langsung menghampiri Laras, Nadya dan Feby.
Sebelumnya kami berempat para cowo sih sudah jelasin hal ini, sambilan ngabdi di desa, sambilan PDKT. Jadi kami kasih ruang gerak buat masing-masing kami melakukan pengenalan diri lebih dalam.. Hehehe, bisa di bilang sambil nyelam minum air deh ~ KKN KELAR, SKRIPSI KELAR, GEBETAN DAPET ~ Moga-Moga Sichhh ~

Tak lama setelah kami menginfokan hal ini kepada para cewe, tampaknya mereka menjadi sedikit cemas dan terdiam. Ya wajar saja, mereka pasti berpikiran yang macam-macam seperti kami. Para cowo aja cemas apalagi para cewe, mengingat jalanan yang gelap, suasana yang sepi dan pemukiman penduduk yang begitu jarang. Jalan yang agak susah dilalui, kiri kanan lebih banyak hutan dan semak-semak. Wah bisa dibayangkan bagaikan di negeri antah berantah ini ~

Jam pun menunjukkan pukul 12 malam, warung makan akan segera tutup, kami pun membangunkan beberapa orang dari kami yang sudah tertidur pulas karena kecapekan di mobil, tampaknya si Pak Supir juga baru saja bangun dan ia pergi cuci muka untuk siap-siap berangkat lagi.
Wahhhh… Langit yang masih begitu gelap, suasana yang begitu sunyi senyap, sekeliling yang dapat kulihat hanyalah hutan dengan pohon yang menjulang cukup tinggi, sebagian lagi tampak tebing-tebing dan udara tengah malam yang begitu dingin membuat bulu kudukku merinding ~
Pemukiman warga yang nyaris tidak terlihat dari sini, hanya warung makan di pinggiran jalan ini saja yang bercahaya. Baiklah, pak Supir pun sudah siap cuci muka dan masuk ke dalam mobil, perjalanan menuju desa terpencil pun akan dilanjutkan lagi ~

Part-3

TIBA DI DESA

Suara mesin mobil pun telah terdengar, kami semua mulai naik ke dalam mobil untuk siap-siap berangkat. Para cewe kelihatannya masih kecapekan dan masih mengantuk. Sementara gue melihat ke belakang, Danu dan Victor kelihatannya juga ngantuk, sementara Aldi sedikit terjaga. Gue yang duduk di depan susah untuk tertidur karena harus menemami pak Supir bercerita agar beliau tidak ikut-ikutan ngantuk.

Wah memang benar kiri kanan rata-rata hutan dengan pohon yang menjulang tinggi yang rimbum, tebing-tebing juga terlihat, terkadang kalau di lihat ke sisi kanan atau kiri, bisa terlihat seperti jurang ke bawahnya. Sementara kalau gue lihat ke belakang, tampaklah Laras, Nadya dan Amelia yang sedang sandaran sambil tidur-tiduran. Wihh cantik banget mereka pas lagi tidur, itu yang ada dipikiran gue (Coba aja klo Victor duduk di sini, bisa nengokin si Amelia lagi tidur neh).

Biar ga bosan, gue pun bercerita2 dengan pak Supir.

Gue : “Pak, uda jam 4 subuh nih, berarti sebentar lagi sampai kan?”

Pak Supir : “Iya dik. Lebih kurang 1 jam-an lagi kita sampai. Oh iya, kalian kok bisa dapat kegiatan seperti ini ya ?”

Gue : “Ho oh.. Kami dapat pengumuman dari kampus tentang kegiatan ini. Dananya juga diberikan dari kampus, tugas kami di sini ya melakukan pembangunan terhadap desa yang katanya terpencil ini Pak, terus dengan kata lain kuliah kami lgsg kelar Pak setelah kegiatan ini siap.”

Pak Supir : (Sambil mengangguk-ngangguk dan menatap ke saya) “Sudah pernah dengar cerita tentang desa ini sebelumnya Dik?”

Gue : (Menggeleng-geleng kepala seperti kebingungan) “Emm, belum pernah Pak. Saya dapat informasi dari kampus saya, katanya kegiatan ini juga perdana diadakan. Desanya aja kami belum tau sebenarnya, kami disuruh meraba-raba sendiri dan bersosialisasi langsung ketika sampai di desanya. Memangnya kenapa Pak”

Pak Supir : “Owh begitu.”

Gue : (Sedikit penasaran) “Memangnya kenapa Pak? Kok sepertinya Bapak mau mengatakan sesuatu tapi tidak jadi ?”

Pak Supir : (Sedikit ragu-ragu) “Emm.. Selama kalian mengabdi di desa itu, Bapak sarankan kalian jangan berbuat yang macam-macam yah. Desa itu masih terkenal kuat akan kekuatan mistisnya. Setahun yang lalu, Bapak juga pernah mengantarkan rombongan mahasiswa seperti kalian yang jumlahnya juga 10 orang dari universitas lain, tetapi….”

Gue : (Semakin penasaran) “Tetapi kenapa, Pak ?”

Pak Supir : (Menghela nafas panjang) “Tetapi mereka semua tidak ada yang kembali dengan selamat….”

Gue : “HAHHH?!!! (Dengan nada agak teriak karena kaget) Yang benar Pak ?”

Pak Supir tersebut hanya mengangguk seolah-olah mengiyakan apa yang disampaikannya barusan, namun beliau tidak mau cerita panjang lebar lagi meskipun gue terus bertanya. Sejenak gue terdiam kaget dan melihat ke belakang, syukurlah semua teman-teman gue sepertinya tertidur dan tidak begitu mendengar percakapan gue dengan pak Supir ini. Ahhh gila ini… Yang benar saja ada kejadian seperti itu di zaman modern ini pikirku. Lupain aja deh, gue pun malas ceritain ke teman-teman lainnya. Eittss,, rasanya tadi ada salah satu cewe yang juga sadar deh akan percakapan gue dengan pak Supir, tapi siapa ya ??? Ah mudah-mudahan enggak ada yang denger deh.

Perjalanan pun terus dilanjutkan, sesaat aku melihat ke arah jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 6 pagi, Pak Supir pun mengatakan bahwa kita sudah memasuki kawasan desa terpencil ini, kulihat teman-temanku di belakang, mereka semua sudah terbangun dan menyaksikan pemandangan alam desa ini yang memang benar-benar memukau hatiku dan mungkin hati teman-temanku.

Yapp. Begitu indahnya pemandangan desa ini. Hamparan sawah yang begitu hijau, tebing-tebing dan bukit yang masih rimbun dan hijau, air sungai kecil yang begitu jernih dan tidak penuh akan limbah. Butiran embun yang membasahi kaca mobil ini (Wah ini seperti nya di dataran tinggi desanya menurut gue). Lika liku jalan dari tanah liat dan berpasir yang begitu sepi. Kupandangi setiap jalan yang dilewati oleh mobil ini dan gue sedikit terkejut.
(GILE ! Ga ada lampu penerangan jalan sama sekali ! Kalo malam hari macam mana ini ! Bakal gelap gulita semacam kota mati)

Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumah Pak Kades (Kepala Desa). Pak Supir ini memperkenalkan kami kepada Pak Kades dan menjelaskan tentang kegiatan yang akan kami lakukan di sini. Sosok pak Kades ini berbody tinggi tegap, warna kulit lumayan hitam dan memiliki janggut yang lumayan lebat dan cukup membuat kami sedikit ketakutan, jangan-jangan orangnya serem, tetapi ternyata Pak Kades memberikan respon yang baik, ramah dan bersahabat, kami pun diajak masuk ke rumah pak Kades, ahhh lega hatiku ~. Rumah Pak Kades ini tergolong cukup besar, hanya saja terletak di tempat terpencil begini, klo di kota, uda termasuk orang kaya banget nih menurut gue.

Kami pun memperkenalkan diri kami masing-masing. Bercerita-cerita tentang kegiatan yang akan kami lakukan. Pak Kades pun mengatakan akan menghubungi pihak kampus bahwa kami telah tiba dengan selamat di desa ini.

Tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 12 Siang. Kami pun di ajak makan siang bersama di rumah Pak Kades yang kebetulannya istrinya sudah mempersiapkan makanan lebih karena kami akan datang hari ini. Selesai makan, Pak Supir mohon izin untuk pulang meninggalkan kami, Beliau mengatakan nanti jika ingin pulang setelah 3 bulan, hubungi saja Pak Kades, Beliau akan menelepon saya untuk mengantar kalian pulang.

Setelah pak Supir pulang, Pak Kades pun mengantar kami dengan mobil pickup menuju tempat hunian kami (karena kami cukup ramai, sehingga sebagian harus duduk di bak mobil blakang yang terbuka). Victor dan Danu dipersilahkan duduk di depan untuk menemani pak Kades.

Oh iya, kelompok kami ini tidak ada memakai sistem siapa ketua dan wakil ketua grup. Kami sepakat untuk mempersilahkan setiap anggota menyampaikan pendapat mereka dan memimpin setiap program jika yang bersangkutan mampu, namun sepertinya Victor dan Danu memang terlihat lebih cocok untuk memimpin dalam kondisi begini. (Hehehe, gue dan teman-teman lainnya kurang suka ngurus ini itu soalnya).

Beberapa menit perjalanan, tibalah kami di tempat hunian kami yang ternyata WOW, rumahnya cukup gede, sayangnya terbuat dari papan saja. Di belakang rumah kami kira-kira berjarak beberapa ratus meter, terdapat sumur, kemudian pekarangan rumah kami cukup luas dan hanya dipenuhi oleh rumput-rumput hijau biasa dan juga beberapa pohon yang lumayan tinggi dan berdaun lebat sehingga terasa begitu sejuk. Memang benar, pemukiman warga sangat sedikit. Jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup jauh, dari beberapa puluh meter hingga ratusan meter, jalannya pun hanya jalan setapak tanah liat yang bercampur pasir, selebihnya hanya rumput-rumputan hijau yang tumbuh dan pohon-pohon hijau yang menghiasi pemandangan rumah kami ini.

Pak Kades : “Nah, selama 3 bulan kalian akan menempati rumah ini, rumah ini tergolong cukup luas kok, ada beberapa kamar kosong yang bisa kalian gunakan, beberapa ruangan kosong yang bisa kalian pakai untuk meletakkan peralatan kalian. Oh ia, untuk kamar mandi ada di dalam rumah ini, hanya saja buat yang ingin BAB, tempat nya terpisah.”

Amelia : “Eh ? Maksudnya pak?”

Pak Kades : “Iya, untuk tempat BAB, tempatnya ada di luar rumah ini, sekitaran beberapa puluh meter dari rumah, sebelum sumur belakang.”

Laras : “Wah, berarti kami harus keluar rumah donk Pak ? Kalo malam kebelet gimana yah ?”

Pak Kades : (Sambil senyum) “Ya begitulah, harus keluar. Hahaha” (Sambil tertawa)

Danu : (Bisik ke Victor dan Gue) “Nah kita bisa jadi pahlawan nih, temenin cewe tiap x mau boker?!” Wkakakaka

Victor : (Balas bisik ke Danu) “Setuju banget gue. Kesempatan neh ! hahahaha. Ya gak Don?”

Gue : (Sedikit kurang merespon karena masih teringat cerita pak Supir tadi) “Eh, iya iya.”

Victor : “Ah elu kok malah nda semangat gini sih? Jangan-jangan takut pula lu ya?

Gue : “….” (Ga bisa ngomong apa-apa)

Pak Kades : (Tersenyum melihat kami semua sedikit cemas) “Udah udah tenang aja, ga perlu ada yang dicemaskan dan ditakutin kok. Desa ini aman-aman saja dan tak pernah ada masalah. Nih ambil koper-koper kalian dan bawa masuk ke dalam rumah. Minggu awal ini kalian istirahat saja dulu, lakukan penyesuaian diri dengan lingkungan dan sosialisasi dengan warga dulu ya. Sambilan melihat potensi-potensi apa yang bisa kalian jadikan program kegiatan kalian. Nanti kalau uda ada, baru hubungi saya ya.”
Kami Semua : (Mengangguk-ngangguk) “Baik Pak. Terima kasih atas bantuan dan perhatiannya.”

Pak Kades pun meninggalkan kami, kami semua mulai memasukkan koper-koper kami ke dalam rumah, mulai beres-beres rumah, nentuin kamar, nentuin kegiatan, saling pengenalan diri sesama anggota, bercerita-cerita, bagi tugas dan lain-lain layaknya anak KKN deh ~

Nah terhitung dari episode ini, mulailah kejadian-kejadian seru dan menegangkan serta menyeramkan menghantui hari-hari kami.
Silahkan nantikan episode selanjutnya, akan ada pengenalan diri untuk setiap tokoh dalam cerita ini.

 

Part-4

MALAM PERTAMA

Setelah pak Kades meninggalkan kami, kami pun merapikan segala peralatan dan barang-barang yang kami bawa. Sambilan merapikan barang-barang. Gue dan Victor sambilan ngecek kondisi rumah ini, sementara Danu dan Aldi hanya duduk dan beristirahat mungkin karena capek merapikan barangnya. Para cewe juga kelihatan sedang istirahat dan merapikan barang mereka, klo cewe ya wajarlah, agak rapi dibanding kami hehe..

Gue : “Oe Vic. Rumah ini mayan gede ya. Cuman pondasi dindingnya rata2 dari kayu, banyak lubang n celah-celah lagi, sarang laba-laba juga banyak, debu juga banyak yah.”

Victor : “Yoi, ga usah heran lah klo itu. Eh kita cek seisi rumah ini yok? Oia klo soal celah-celah, itu hoby Danu tuh ntar, bisa ngintip2an, lu juga pengen kan?”

Gue : “Ah gue sih enggak kek kalian deh. Udah ah kita ngecek2 dulu deh.”

Kami pun mengelilingi rumah ini dan kami dapatkan ada 3 kamar kosong yang bisa kami jadikan tempat tidur kami. 1 kamar untuk 4 cowo, dimana barang-barang cowo diletakkan di ruangan tengah, jadi kamar hanya untuk tidur, 1 kamar untuk cewe yang terdiri dari Laras, Nadya dan Amelia, kemudian 1 kamar lagi untuk Angela, Monica dan Feby.

Kamar pertama terletak di depan dekat pintu masuk rumah yang diisi oleh rombongan Laras, kamar kedua tepat dibelakang kamar pertama yang diisi rombongan Angela, sementara kamar ketiga terletak agak ke belakang ke arah dapur dan kami yang menempatinya.

Ruangan kosong yang ada yaitu ruang tamu yang kosong, ruang tengah yang hanya ada satu lemari milik pemilik rumah ini, dapur yang cukup luas dan terdapat beberapa peralatan makan seperti piring, gelas dll milik pemilik rumah ini, gudang dan kamar mandi serta toilet utk BAB terletak di jalan belakang. Ya kira2 beginilah kondisi rumah yang kami tinggali utk 3 bulan ke depan ini.

Sambilan mengecek-ngecek rumah, tidak terasa jam telah menunjukkan pukul 7 malam.
Lampu di segala sisi rumah kami hidupkan karena dari luar sangat gelap (Ga ada lampu penerangan jalan sama sekali, yang ada palingan lampu dari rumah-rumah warga, itupun jarak nya sangat jauh). Meskipun demikian, pada malam hari yang sunyi senyap ini, cahaya rembulan begitu terang karena alam di desa ini sangat bersih dari polusi udara, Langit malam memang gelap, namun ditemani cahaya rembulan yang remang-remang dan udara yang dingin sejuk sangat menenangkan hati dan membuat pikiran nyaman dan betah untuk tinggal di sini, ya hitung-hitung melepas lelah dan kebosanan tinggal di kehidupan kota.

Untuk malam pertama, kami mendapatkan makan malam yang telah disediakan oleh istri pak Kades saat siang tadi. Makan malam pun selesai, dan kira-kira jam sudah mau menunjukkan pukul 9 malam, kami berkumpul di ruang tamu untuk bercerita-cerita mengisi malam pertama kami di desa terpencil ini. Amelia dan Laras yang mulai membuka topic pembicaraan.

Amelia : “Hei…Kita kan bakal 3 bulan nih tinggal di desa ini. Kita bagi tugas dulu yuk ?”

Laras : “Yah.. Kita harus bagi tugas utk piket deh paling enggak. Pas hari ini, kalian bertugas untuk belanja, masak dan bersih-bersih rumah. Setuju gak?

Victor : “Gue okay aja.”

Gue : “Yup bebas.”

Danu dan Aldi juga mengangguk dan mengiyakan saja.

Monica : “Oh ia baginya gimana tuh?”

Amelia : “Emm, klo menurutku, gimana klo kita bagi 5 orang dalam satu kelompok piket? Jadi selang seling gitu deh piketnya, satu kelompok terdiri dari 2 cowo dan 3 cewe, pas kan ?”

Danu : “Sippp.. Gue bareng Aldi, Laras, Angela dan Feby ya. Setujukan Aldi?!” (Tiba-tiba bersuara)

Aldi : (Nganguk-nganguk)

Seketika Laras, Angela dan Feby terkejut

Angela : “Eh kami?? Oke deh.”

Victor dan gue yang mendengar ucapan dari Danu tiba-tiba terdiam dan saling bertatapan.

Victor : (Bisik ke gw) “Mantap banget si Danuuuuu brooo… Pengertian banget dia ama kita?!!! Wkwkwkwk”

Gue : (Masih agak bingung) “Ha? Maksudnya?”

Victor : (sambil nendang gua) “Ah bego loeee.. Berarti kita kan sekelompok ama Amelia dan Monica si cewe rambut coklat yang lu bilang cantik itu !”

Gue : (Baru tersadar dan senyum2) “Wooooo iya Bro IYA !!! WKakakakak KOK GA SADAR YA GUE DARITADI ! Wkakakakak “

Tiba-tiba Amelia, Monica dan Nadya datang menghampiri kami dan duduk di dekat kami.

Amelia : “Okay karena kita sekelompok piket. Mohon kerjasamanya ya dan saling membantu untuk 3 bulan ke depan?!”

Victor : (Dengan pedenya) “Oh siap siap buk ! Pasti itu.”

Gue : (Senyum-senyum lihat ke Victor karena tau dia lagi kesenengan) “Aman dah tuh klo ada Victor, lu nyuruh dia napain aja dia juga mau, ngangkat air ke kamar mandi dari sumur juga mau tuh wakakak.”

Victor : “Eh brengsek lu hahahaa.”

Monica dan Feby pun tertawa kecil mendengar ucapan ku ~ Woo bahagia nih bisa bikin Monic tersenyum pikirku hahahahahaha
Sementara kalo melihat ke kelompok Danu dan Aldi, sepertinya Danu begitu semangat deh di kelompok itu, yah maybe ada yang ditaksir juga hehehe, klo Aldi sih sepertinya dia enjoy-enjoy aja. Anaknya kalem dan sopan, ya mgkn tidak senakal kami lah ~

Teng ~ Jam menunjukkan pukul 9 malam, tiba-tiba seisi rumah kami menjadi gelap dan hanya sinar rembulan yang tersisa.

Angela : “Aaaaaa…. !!!!” (Menjerit kaget)

Danu : “Eh kenapa Angel? (Sambil ngidupin lampu dari HP)

Mendengar jeritan dari Angela, tiba-tiba gw juga kaget dan kepikiran akan yang dibilang si Supir ini. Ah ga mungkin ga mungkin, ini Cuma mati lampu aja. Sambil nenangin diri.

Angela : (Menghembuskan nafas kecil) “Oh maaf gapapa gapapa… Aku hanya kaget tiba-tiba mati lampu.”

Kami semua : (agak lega) “Oh syukurlah.”

Dalam keadaan mati lampu, suasana kami semakin tegang dan hening. Hanya lampu dari 2 HP yang kami nyalakan guna menghemat baterai. Ah siapa yang nyangka di malam pertama tiba sudah dikagetkan dengan mati lampu.

Victor : (Lirik ke gw) “Eh Don, lu kenapa? Kok jadi diam gtu?”

Gue : (Tegakkan kepala) “Oh gapapa gapapa, Cuma sedikit ngantuk aja hehehe.”

Monica, Amelia dan Nadya melihat ke arah gue, gue jadi malu dikirain gue takut padahal lagi kepikiran karena perkataan pak Supir tadi pagi nih. Dalam keadaan yang cukup gelap, gw pandangin setiap temen-temen yang sekelompok piket ama gw. Kelihatannya kok raut muka Monica agak cemas ya. Kalo Amelia dan Nadya sih biasa-biasa aja main HP mereka.

Victor : (Nyenggol gue) “Eh Bro.. Bengong mandangin apa sih? Jangan mikir yang macam-macam deh ! Kerasukan entar lo !”

Gue : “Bawel lu ah ! Gw lagi liatin raut muka Monica, kok kayaknya dia agak cemas gtu ya? Apa ada sesuatu?”

Victor : (Lirik ke Monica trus senyum2 ke gue) “Biasa aja tuh dia. Ah perasaan loe aja kali, lu mikir yang enggak2 tentang Monica ya? Baru malam pertama juga uda mau macam2 lu.

Gue : “Taikkk lu !”

Sambilan bercanda dengan Victor, sepertinya klompok Danu dan Aldi sudah mulai beranjak dari tempat duduk dan masuk ke kamar.

Victor : “Eh, Dan, kalian uda siap diskusi n bagi tugasnya?”

Danu : “Udah sih, Lagian mati lampu, uda ngantuk dan capek mereka, tadi pagi kan kurang lelap tidur di mobil.”

Gue : “Iya juga sich, ya uda deh masuk kamar lagi yuk, mati lampu entah ampe kapan, tapi syukurlah dingin, angin bisa masuk dari celah2 papan.”

Akhirnya kami berempat pun masuk ke kamar dan di dalam kamar kami matikan cahaya dari HP sambil baring-baring. Suara jangkrik dan serangga di malam hari dapat terdengar dengan jelas dari kamar kami. Wah benar-benar alam yang indah dan tenang seperti di game game fantasy nih pikir gue. Tak lama kemudian, terdengarlah suara rintik-rintik hujan turun perlahan-lahan dan mulai deras.
Sbelum tertidur, kami pun saling bercerita.

Danu : (Membuka topik) “Eh bro-bro… Gimana menurut kalian para cewe itu ? Coba kasi pendapat kalian masing2 deh. Daripada bosan kita, gue belum ngantuk kali soalnya.”

Victor : “Hmm.. Kalo menurut gue, si Amelia ini orangnya agak tegas dan sinis deh, tapi dia punya jiwa kepemimpinan yang mayan oke tuh, pengertian juga mgkn. Yg bikin gue demen sih ya postur tubuhnya mayan tinggi lah, rambut lurus hitam. Klo lu Don?”

Gue : “Klo menurut gue si Monica juga tipe gw sih, Dulu gue pernah ngejer sosok cewe yang mirip dia, rambutnya panjang dan agak kecoklatan, matanya agak gede, cantik dan sexy deh menurut gue, sifatnya sih kayaknya agak pendiam dan pemalu ya, tapi kayaknya pengertian dan asik diajak cerita deh, mungkin yah.”

Aldi : “Kalo gue liat Laras sih mirip kayak Amelia, sedangkan Nadya mirip kayak Monica, hanya beda ras aja. Coba klo sama, mungkin lu dan Victor bisa galau milihnya ~ Hehehe.”

Victor : (Sambil berpikir) “Eh bener juga kata lu ya Di. Fisik dan karakternya mirip2 hahaha.”

Danu : “Nah klo menurut gua si Feby itu body nya oke nih, sexy dan montok, putih bersih juga, mata gede, rambut pnjang. Cakep deh. Nah klo si Angela, cakep juga kayak Feby, rambutnya panjang, poninya rata kayak poni Dora, matanya bulat dan senyumannya manis. Cakep lah, sayangnya beda ras aja. Klo sama, gue jg bakal galau milihnya wakwkawka.”

Gue : “Ah udah udah, tidur lagi. Gue ngantuk, kalian di mobil mendingan dapat tidur. Gue duduk depan temanin supir, kagak bisa tidur!”

Victor : “Hahahahah Lu mah klo ngajak bahas cewe pasti gitu, biasanya semangat, kok sekarang jadi enggak ya?”

Gue : “Ga tau ah ~” (Gue lanjut tidur, gue ga bisa mikir macam2 karena masih keingat perkataan pak Supir tadi, ah ga nyaman banget jadinya)

Nah malam hari pertama pun kami jalanin dengan tidur dalam kondisi mati lampu, angin sepoi-sepoi yang dingin yang berhembus dari luar terkadang membuat ku merinding, tetapi ya itu hanyalah hembusan angina, gue ga mikir macam2. Akhirnya kami berempat pun tertidur.

Di tengah lelapnya tidur kami, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kami terus menerus sambil manggil nama gue…
Wew… Siapakah itu ? Gue terbangun dan dalam kondisi setengah sadar, gue masih mendengar suara itu…..

Part-5

IBU TUA

“Tukk.. Tuk… Tuk… Ko Dony, Ko Victor…”

Wew suara inilah yang daritadiku dengar sampai membuatku terjaga dari tidurku. Di tengah hujan yang masih turun, suara percikan air di atas genteng rumah kayu ini sudah cukup membuat aku sullit utk tidur lelap dan sekarang ditambah suara orang memanggil aku.

Gue : (Menggoyangkan badan Victor) “Oee Vic.. Bangun donk, itu ada yang manggil dan ketuk-ketuk pintu tuh!”

Victor : (Masih ngantuk-ngantuk) “Aaahhh, lu buka dan Tanya kenapa lah.”

Gue : (Gue goyangin lebih kuat badan si Victor biar bangun) “Oeee bangun lah, temenin gue, kayaknya itu teman cewe kita deh yang manggil.

Mungkin mereka butuh bantuan, mau nyuruh lu nemenin mreka boker kali. Hehehe.” (Sambil nyemangatin Victor biar bangun dia)

Victor : “Ah iya iya.. Ganggu bener lu. Lagi enak enak tidur. Jam berapa sih skrg?”

Gue : (Lihat ke arah jam di HP ku) “Oh jam 3 subuh neh.”

Victor : (Hoam masih nguap2) “Ya uda buka tuh pintu dan Tanya kenapa, gue lanjut tidur lagi ya.”

Gue : (Sambil berdiri dan nendangin pantat Victor yang mau tertidur lagi) “Oi taikk bangun… Cepat!”

Gw pun beranjak dari tempat tidur dan bukain pintu, eh rupanya ada Monica dan Amelia. Gw sempat kaget kenapa jam segini mereka bangunin kami, dan perasaan Amelia dan Monica kamarnya beda deh.

Gue : “Eh kok kalian bisa bareng, bukannya beda kamar?”

Amelia : “Iya awalnya gw beda kamar ama Monica, tapi sehubungan kelompok piket uda dibagi, ya uda kami tukeran aja, biar nanti lebih mudah komunikasi.”

Gue : “Oh I see I see…” (Sambil bangunin Victor yang sepertinya tertidur lagi) “Oe Vic, ada Amelia nech!”

Victor : (Mata terbuka dan melotot tiba2) “Wew yang benar lu? Mana dia? Napain?”

Monica : (Agak malu-malu mau bilang) “Emm Ko, gw mau minta kalian temenin nih, kami mau ke wc belakang, tapi agak serem klo Cuma berdua.”

Victor : (Langsung semangat) “Oh bisa bisa.. Bntar ya, gw ambil jaket dulu, soalnya lagi hujan juga. Lebat gak ya?”

Amelia : “Kayaknya gak lebat deh, cuman bunyi tetesan air ke genteng kan emg keras.”

Victor : (Sambil senyum-senyum dan sok cool) “Oh iya iya. Okay let’s go!”

Gue : (Wah taik juga ini Victor, dengar Amelia lgsg semangat ckckck)

Akhirnya gue, Victor, Amelia dan Monica pun menuju ke dapur untuk keluar dari pintu belakang menuju toilet yang ada di luar itu. Kami berusaha membuka pintu sepelan mungkin agar tidak mengganggu teman-teman lain yang sedang tertidur lelap. Perjalanan kami harus melalui jalan setapak di belakang rumah yang tentunya banyak pohon-pohon yang di sepanjang jalan setapak ini. Setidaknya kami tidak begitu basah karena hujannya sudah tidak begitu lebat dan terhalang oleh pohon-pohon ini.

Monica : (Agak malu) “Ko, sorry ya ngerepotin dan ngebangunin jam segini.”

Gue : “Oh gapapa kok. Soalnya kalo lebih ramai yg temenin kan lebih ga serem.”

Sesampai di toilet, Monica pun masuk ke dalam toilet, sedangkan gua, Victor dan Amelia nungguin di luar.

Amelia : “Syukurlah ujannya ga gitu lebat, klo lebat bakal susah nih nemeninnya.”

Victor : “Ya gitu deh, klo ujan lebat, mungkin gue suruh Dony pergi temenin sendiri.”

Gue : “Woi kok gue doank? “Ah payah ga setia kawan lu!”

Victor : (Sambil senyum-senyum) “Hahaha, ya iyalah, kan elu doank yang terbangun duluan, bukan gue.”

Amelia : “Ah payah lah kamu Vic, padahal tadi kami manggilnya nama lu duluan loh!”

Victor : (Langsung terdiam dan salting)

Gue : (Sambil cemeeh Victor) “Dengar tuh Bro ! Elu nya aja ngorok terus sampai ga sadar !”

Victor : “Eh diam diam, mana ada gue ngorok ! Malu-maluin aja lu.”

Amelia : “Hahahahaha.”

Kami pun tertawa kecil di tengah hujan yang sedang mengguyur kami. Canda tawa terus berlanjut sambil menunggu Monica siap. Namun tiba-tiba kami melihat seorang Ibu tua yang sudah bungkuk berjalan tanpa memakai alas kaki ke arah kami. Melihat dari fisik Ibu ini, gua rasa ibu ini sudah berusia sekitaran 80 tahunan, tapi ngapain ibu ini subuh-subuh begini lewat jalan setapak kecil ini ya ?

Tak.. Tuk.. Tak.. Tuk… Ya bunyi pijakan kaki ibu tua itu ke jalan setapak ini. Canda tawa kami untuk mengisi kebosanan menunggu Monica pun menjadi hening. Kami terdiam dan memandangi Ibu tua ini. Perasaan campur aduk ada di dalam hati kami. Terutama gue, ini Ibu tua beneran apa jadi-jadian yahhh !

Semakin kulihat, semakin mendekat Ibu ini ke arah kami. Monica yang di dalam toilet yang tiba-tiba merasa heran kenapa kami terdiam langsung memanggil kami.

Monica : “Mel, kalian masih di depan?”

Amelia : (Dengan suara kecil) “Iya Mon, gapapa kok. Uda siap?”

Monica : “Uda kok bntr lagi.”

Akhirnya Ibu tua ini pun sampai di depan kami, Kami hanya bisa mengangguk dan mempersilahkan Ibu tua itu untuk jalan. Kami ga berani berkata apapun sama Ibu tua itu karena Ibu tua itu matanya tidak ada melihat ke arah kami. Beliau jalan dengan posisi membungkuk, langkah kakinya juga begitu pelan, matanya hanya melihat ke bawah dan lurus ke jalan. Badannya sedikit basah karena terkena air hujan, namun sepertinya beliau tidak kedinginan sama sekali.

Setelah Ibu tua itu melewati kami, Victor pun memulai pembicaraan.

Victor : “Wah ibu tua itu hening banget yah. Mau kusapa pun segan.”

Amelia : (Agak merinding) “Iya, gw jadi takut tadi. Soalnya dia liat kitapun enggak.”

Gue : “Yup yup yup.” (Gue Cuma ngangguk ngangguk doank)

Victor : “Oia btw, tadi kalian cium aroma aneh dari ibu itu ga? Kayak bau apa gitu kan?”

Gue : (Geleng-geleng) “Gue ga cium apa-apa tuh. Biasa aja.”

Amelia : (Geleng-geleng) “Gue juga enggak.”

Victor : (Kaget) “Kalian serius nih? Gw ga bercanda loh!”

Gue : “Iye gw ga bercanda.”

Di tengah keributan kami mempersoalkan adanya bau-bau aneh dari Ibu tua itu. Monica pun keluar dari toilet dan nyapa kami.

Monica : “Ui… Ada apaan nih? Kok tadi tiba-tiba kalian diem?”

Amelia : (Sambil rangkul monica) “Oh gapapa Mon, yuk balik lagi ke dalam.”

Gue : (Ngangguk) “Iya deh, kembali tidur lagi.”

Victor : (Tanya ke gw lagi) “Oe Don, serius nih gua, tadi lu emg ga ada nyium bau apapun pas Ibu tuh lewat?”

Gue : “Iye serius gue kagak ada cium bau apa-apa.”

Victor : (Agak bingung) “Oh ya udahlah, anggap aja bau tanah yang kena air hujan deh.”

Akhirnya kami pun kembali ke dalam rumah kami untuk istirahat. Yah sejujurnya kalau mau bilang, gue juga mencium bau aneh dari Ibu tua tersebut, tapi klo Amelia sih gue ga tau. Gue masih inget pesan ortu sebelum berangkat, klo misalnya ketemu hal-hal aneh or ngerasain hal-hal aneh, jangan pernah disebutin, gak baik, apalagi lagi di tanah orang.

Ya agar tidak menjadi masalah panjang, lebih baik gue diem aja sih. Victor pun ga mempersoalkan masalah itu lagi. Tapi tentunya, hal ini membuat gua semakin cemas menjalani hari-hari di desa terpencil ini. Ini baru melewati malam pertama, gimana malam-malam selanjutnya sampai 3 bulan ke depan yah????

Part-6

INFORMASI MENGEJUTKAN

Setelah melewati malam pertama yang cukup membuatku resah, akhirnya kami memasuki hari kedua. Cahaya mentari pagi yang bersinar sangat redup karena masih tertutupi awan mendung dari kemarin malam membuat suasana di pagi hari masih cukup gelap dan udara sangat dingin meskipun jam telah menunjukkan pukul 7. Aku pun beranjak dari tempat tidur dengan kepala yang masih sedikit berat karena tidurku yang kurang nyenyak kemarin malam.

Ucapan pak Supir tentang kondisi desa ini, Ibu Tua, eh lebih tepatnya nenek tua bungkuk yang berjalan tanpa alas kaki dan tidak menatap kaki serta bau aneh yg tercium benar-benar menghantui pikiranku. Ah biarlah… Jangan diingat-jangan diingat.

Hari kedua, ya hari ini sudah dimulai kehidupan kami yang sesungguhnya di desa terpencil ini.

Laras : “Bangun-bangun semua. Hari ini kita uda mulai jalankan tugas piket ya !”

Danu : (Hoaaammm, sambil menguap karena baru bangun tidur) “Iya… Hari yang piket kelompok siapa ya?”

Angela : “Kelompok kita Dan!”

Danu : “Eh??? Kita duluan yah? Gue pikir kelompok si Victor n Dony. Ya uda kita mau napain?”

Gue : (Gue ikut nimbrung) “Buat sarapan oe sarapan, gue laperrrrr.”

Pagi hari pun kami lewati dengan sarapan indomie, selanjutnya kami menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang hingga siang hari. Siang hari kami merencanakan utk berangkat ke rumah pak Kades untuk bertanya di mana kami dapat berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari serta membahas tentang warga-warga yang tinggal di desa ini.

Victor : “Siang ini kita ke rumah Pak Kades yuk ? Kita harus nanya-nanya dimana kita harus membeli kebutuhan sehari-hari nih, terus ini uda memasuki hari kedua, kita harus mulai bersosialisasi dengan warga juga.”

Amelia : “Iya yuk siap-siap berangkat!”

Gue : “Gue bole stay di rumah aja gak? Kepala gue agak berat nih?”

Amelia : “GAAKKK !” (Sambil pasang tampang sinis)

Kami pun berangkat menuju rumah pak Kades yang bisa di bilang kalau dengan berjalan kaki, ini akan memakan waktu lebih kurang 15 menit, di sini kami ga ada kendaraan apapun, dan rata-rata warga di sini juga jarang memakai kendaraan, kebanyakan mereka berjalan kaki. Selama perjalanan, kami memang melihat adanya beberapa rumah warga, namun jaraknya memang jauh-jauh, paling ketemu satu rumah, terus berjalan beberapa puluh meter baru ketemu rumah lagi. Selebihnya hanya jalan pasir dan tanah lihat dan dikelilingi pohon-pohon di kiri kanan. Pokoknya benar-benar alam yang indah deh !

Ada satu yang aku agak aneh, setiap kali kami melewati rumah warga, kami berusaha seramah mungkin untuk menyapa mereka, ya bisa dengan kalimat “Siang Bu!”, “Siang Pak”, tetapi respon mereka kebanyakan diam dan hanya mengangguk saja, sesekali tersenyum tapi sangat jarang. Duhhh respon macam apa ini ya….. Kok kami sepertinya dianggap seperti warga asing banget yah, atau jangan-jangan pak Kades belum infoin ke warga-warga akan kedatangan kami yah? Yang bikin ga enaknya yah mata mereka selalu menatap kami dari awal kami lewat hingga kami menghilang, seperti ada yang sesuatu yang mengganjal di diri kami… Gue bener-bener ga tahan dengan situasi begini, tapi mau gimana lagi, jalanin aja karena masih lama, toh gue liat temen-temen gue yang lain pasti punya perasaan yang ga nyaman seperti yang gue rasain.

Gue : “Vic, lu liat warga-warga selama kita jalan ini gak? Tatapan mereka rata-rata kosong dan melihat ke kita terus ya?”

Victor : “Iye keknya, gue rasa klo bapak-bapak terpesona ama kecantikan cewe-cewe kita deh, mungkin mereka jarang lihat yg bening-bening, di sini kan rata-rata kulitnya sawo matang n agak hitam. Klo ibu-ibu mgkn terpesona ama kegantengan lo kali Don ! Wakakak”

Gue : (Agak bergumam) “Ah kentut lu Vic. Gue ngomong serius malah dicandain, lagian kok kegantengan gue buat Ibu-Ibu sih ! Buat bunga desa sini kek hahahaha.”

Suasana canggung gue pun terpecahkan oleh candaan si Victor. Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumah Pak Kades. Kami disambut dengan baik oleh Pak Kades dan Istrinya, tentunya di jamu makan siang dan dibuatkan lauk lebih utk makan malam kami. Selesai makan, kami pun berbincang-bincang dengan pak Kades.

Pak Kades : “Ehm.. Gimana malam pertama kalian nginap di desa ini? Nyaman?”

Gue : “Nyaman sih Pak, tapi kemarin…”

Victor : (Langsung motong gue) “Nyaman pak, tapi kemarin mati lampu tiba-tiba aja jam 9 malam bikin kaget. Hehehe”

Gue : (Oh iya, baru tersadar gua, hampir aja terucap hal-hal yang aneh) “Iya pak kemarin mati lampu.”

Pak Kades : “Yah. Saya lupa infoin ke kalian, Desa ini setiap malamnya mulai dari pukul 9 sampai subuh, bisa jam 3, bisa jam 4, jam 5 baru lampunya hidup.”

Gue : “Oh pantesan pak, tadi jam 3 subuh, lampu uda hidup kok.”

Pak Kades : (Agak terkejut) “Loh ! Kalian jam 3 subuh belum tertidur ?”

Gue : (Agak bingung melihat pak Kades terkejut) “Iya Pak. Kebelet pergi ke toilet belakang Pak, makanya terbangun.” (Gue ngerahasiain klo sebenarnya yg pergi ke toilet cewe biar ga dipikir macem2)

Monica dan Amelia tampak sangat serius mendengarkan omongan pak Kades, sementara yang lainnya ada yang membantu istri pak Kades di dapur, dan selebihnya ikut mendengarkan kami.

Pak Kades : (Sedikit meneteskan keringat) “Aduhhh.. Saya lupa bilang lagi. Pokoknya kalo sebelum jam 5 or 6 pagi, kalian jangan ada yang keluar rumah deh !”

Kami sedikit terkejut mendengar ucapan dari Pak Kades kalau kami dilarang keluar rumah. Aneh saja kedengarannya.

Victor : “Maaf Pak. Kenapa dilarang keluar rumah ya?”

Pak Kades : (Terdiam dan bingung utk menjelaskan) “Ya pokoknya hindarin jangan keluar dari rumah terhitung mulai dari jam 9 saat mati lampu hingga subuh jam 5 or 6 pagi seperti yang saya bilang deh.”

Gue : (Masih penasaran) “…”

Amelia : “Maaf Pak, klo misalnya ada yang kebelet di jam segitu gimana ya?”

Pak Kades : “Mmmm… Ya secepatnya aja deh untuk kembali.”

Danu dan Aldi yang ikut nimbrung mendengarkan cerita kami juga menyimpan rasa penasaran dan Danu pun tiba-tiba ikut bertanya.

Danu : “Pak, memangnya kenapa sih jam segitu? Apa ada yang aneh-aneh ya?”

Pak Kades : “Hahahahaha… Ya enggak, cuman napain kalian keluar di jam segitu lagi kan? Itu uda jam istirahat! Kalian mulailah sosialisasi dengan warga, tapi di pagi hari sampai malam hari sebelum jam itu ya hehe” (Terlihat ketawanya dibuat-buat dan sepertinya menyembunyikan sesuatu)

Ah udahlah pikir gue dan temen-temen lainnya, sepertinya pak Kades ini menyimpan sesuatu dan memang lebih baik kami ngikutin saran dia deh, jangan keluar di jam segitu. Ingat ingat, ini tanah orang, kita gak tahu kehidupan orang sini seperti apa. Jangan berbuat yang macam-macam.

Ya hanya ini yang kutanamkan dipikiranku, tapi sepertinya Danu sedikit penasaran, Victor juga sedikit penasaran akan ucapan pak Kades, kalo Aldi sepertinya setuju dan patuh dengan ucapan pak Kades deh. Sekilas kulihat ke arah para cewe, terutama Monica, mereka juga kelihatan agak cemas dan penasaran dengan omongan pak Kades, tapi biarlah, yang penting jangan sampai ada yang macam-macam ada.
Stelah melihat hari sudah semakin sore, kami pun memutuskan utk kembali ke rumah kami, tak lupa istri pak Kades juga menyiapkan makan malam buat kami, besok kami baru mulai belanja ke pasar yang telah dibahas dengan pak Kades sebelumnya.

Seperti biasa, di perjalanan pulang, tatapan warga pun terus mengikuti kami setiap kami melewati rumah mereka dari awal jalan hingga kami menghilang dari tatapan mereka. Wowww tatapan yang dingin dan menegangkan pokoknya ! Selama perjalanan, kami terpaksa membiarkan cewe untuk jalan ditengah dan di sisi kanan dan kiri mereka diisi oleh Gue, Victor, Danu dan Aldi. Nah sosok pahlawan sudah mulai tampak dikit-dikit deh di sini hahahahaa ~

Kami pun tiba di rumah, jam telah menunjukkan pukul 6 sore, malam kedua pun akan segera tiba. Menjelang datangnya malam, kami mulai kepikiran lagi apa yang dikatakan oleh Pak Kades tadi, terutama gue yang mengait-ngaitkan kejadian ibu tua kemarin dengan apa yang diucapkan oleh Pak Kades. Apakah malam kedua ini akan berjalan dengan lancar? Ataukah ada sesuatu yang akan terjadi lagi ? Nantikan dikisah selanjutnya.

 

Part-7

SUARA

Makan malam di hari kedua pun sudah berlalu, kelompok piket Danu mulai membersihkan rumah sebelum kami memulai diskusi kami.

Amelia : “Teman-teman, seperti yang kita dengarkan dari Pak Kades, sebaiknya pukul 9 malam saat mati lampu, kita semua jangan ada yang keluar dari rumah ya. Terus baru boleh keluar rumah pukul 5 subuh.”

Feby : (Bertanya karena tadi berada di dapur bareng Istri Pak Kades) “Kenapa Mel? Sebabnya? Kalo misalnya kebelet ke toilet belakang gimana?

Amelia : “Pokoknya jangan keluar deh, sebabnya juga ga tau. Pak Kades gak ceritain tadi. Ya kalo pengen ke toilet belakang, sebaiknya minta ditemenin dan agak cepat, klo bisa ya ditahan sampai besok pagi aja.”

Mendengar informasi yang disampaikan Amelia, beberapa cewe yang tadi kurang mendengarkan perkataan Pak Kades menjadi sedikit cemas terutama Angela dan Nadya.

Danu : (Agak penasaran) “Gua agak penasaran ama omongan pak Kades tadi, Emangnya bakal kenapa yak lo kita keluar ? Gue pengen coba cari tau ah.”

Gue : “Eh ga usah Dan, ga ada gunanya.”

Danu : (Sambil geleng-geleng) “Tenang Don, gapapa. Nanti kita coba cari tau yuk Vic? Aldi ikut?”

Victor : (Pasang tampang cool) “Gue sih oke aja. Mau cari tau oke, asal jangan terlalu macam-macam aja.”

Aldi : (Ngangguk-ngangguk) “Ya bebas.”

Di sela-sela kami berdiskusi, gue melihat ke arah Nadya, dia sepertinya sedang menghubungi orangtuanya melalui telepon, namun sepertinya percakapan dia dengan orang tuanya sedikit terputus-putus karena dia harus mengulangi beberapa perkataannya dan sering berulang kali mengucapkan “apa? Apa?”. Ya sinyal memang jelek di desa kami ini, jaringan inet hanya edge, kadang Cuma bisa utk emergency call only malahan, bbm , WA, FB smua susah jalan. Suram sih, mau hubungin orang di luar desa ini aja susah banget deh. Benar-benar serasa di pulau terpencil ~

Tak lama kemudian, jam pun menunjukkan pukul 9 malam. Mati lampu pun terjadi lagi. Tiba-tiba gue mendengar suara “Halooo… Halooo…. Halooo….” Yang berulang kali terucap.

Gue : (Agak cemas) “Eh Vic, siapa tu yang lagi Haloo… Halooo ? Lu dengar gak?”

Victor : “Iye denger gue, hidupin lampu HP lu lah ! Gelap nech.”

Gue pun nyalain lampu dari HP gw, terus gue liat ke teman-teman gue, Laras Nadya dan Angela seperti sudah duduk saling berdekatan, terus Amelia dan Monica malah uda duduk di samping gue ama Victor, Danu langsung nyamperin ke arah Feby dan Nadya, sementara Aldy duduk sendiri di pojok ruang tamu sambil baring-baring.

Danu : “Don, yang halo halo barusan si Nadya tuh, dia kan tadi lagi telponan, terus terputus pas mati lampu!”

Nadya : (Ngangguk-ngangguk) “Iye Don, Sinyal tiba-tiba putus dan jadi SOS, bukan edge loh, mau lakukan panggilan apapun ga bisa.”

Gue : “Emangnya emergency call juga ga bisa?”

Nadya : “Ga bisa Don.”

Mendengar perkataan Nadya, gue dan Victor pun bergegas melihat ke HP kami dan ternyata bener. Sinyal kami jadi SOS semua saat mati lampu, emergency call pun benar-benar tak bisa.

Gue : “Dan, coba lu cek HP lu deh liat sinyalnya gimana. Oia Mon, coba cek juga HP mu. Ada sinyal gak?”

Monica : “Iya ga ada Ko, SOS juga nih”

Danu : (Dengan penuh semangat) “Wooohhooo… SOS juga gue ! Ini benar-benar seperti petualangan di pulau terpencil dunia fantasi !”

Gue : “Ah bukan waktunya bercanda Dan, Tu artinya klo ada apa-apa kita ga bisa ngehubungin orang luar!” (Gue jadi kepikiran lagi deh soal ucapan pak Supir klo ga ada yang selamat, mgkn benar juga sih, sinyal aja ga ada pas mati lampu. Kalo terjadi apa-apa saat ini, gimana bisa hubungin orang luar minta bantuan. Keluar rumah aja dilarang ama pak Kades!)

Victor : (Bisikin ke gue) “Uda tenang aja lah Don, Lu kan jadi bisa makin deket ama Monica. Hehehe.” (Sambil bikin gue semangat)

Gue : “Ah lu mah malah mikir beginian!”

Victor : “Tuh lu ga liat mreka duduknya uda deket kita?” (Sambil nunjuk-nunjuk ke arah Monica yang duduk deket gue)

Gue : “Eh iya juga ya hehehe.” (Gue jadi sedikit tenang mendengar celoteh si Victor)

Victor : “Ya uda, nanti kita cek dan pastiin yuk klo ga ada masalah apa-apa dengan keluar malam? Gimana? Lu mau jadi pahlawan kan dan keliatan pemberani gak?”

Gue : (Agak bingung) “Emm gimana ya.. Ya uda serah lu deh. Ajak Danu n Aldi coba.”

Gue dan Victor pun membahas keinginan kami untuk mengecek keluar rumah pas malam hari nanti, rencananya sih bakal menjelang jam 12 malam. Mendengar keinginan kami, Danu langsung setuju, ya gak heran sih, Danu ini memang suka hal beginian, smentara Aldi juga oke meskipun kelihatannya dia Cuma ngikut keinginan kami aja. Para cewe beberapa sudah masuk ke kamar seperti Nadya dan Laras. Sementara yang lainnya masih di ruang tamu bercerita-cerita.

Danu : “Oi cewe, kalian ada yang mau ikut kami liat-liat keluar ntar tengah malem gak?”

Feby : “Ah enggak mau ah… Mati lampu gini aja uda ga tenang, apalagi liat keluar. Males banget.”

Monica : “Gak deh… Mending tidur.”

Danu : “Ahhh payah lah ! Mana asyik gtu hehehe.” (Sambil cemeeh)

Amelia : “Ya uda Dan, lu cek aja, nanti kabarin kami hasilnya. Emangnya lu mau ngecek sendiri?”

Danu : “Oh enggak donk. Bareng Dony, Victor dan Aldi lah.”

Amelia dan Monica yang mendengar ucapan Danu sedikit terkejut. Mereka berdua lgsg melihat ke arah gue dan Victor, memasang tatapan sinis seolah-olah memberi kode utk tidak ikut melakukan hal macam-macam. Dalam hati gue senang sih, ada yang perhatian ke gue hahhaa, Tapi gara-gara otak gue uda dicuci oleh Victor buat jadi pahlawan pemberani, akhirnya gue tetep memutuskan utk ikut keluar ngecek.
Tak lama kemudian, jam sudah mulai menunjukkan pukul 11 malam, kami pun sudah mulai bersiap-siap mau duduk-duduk di luar rumah untuk membuktikan perkataan Pak Kades tadi siang. Gue dan Victor rencana mau ke kamar mandi dulu yang letaknya ada di belakang dapur. Saat kami akan membuka pintu menuju ruang dapur, tiba-tiba terdengar suara.

PRANKKkkkkkk………!!!!

Tangan Victor yang baru saja memegang gagang pintu ke ruang dapur langsung terdiam….

Victor : (Agak pelan dan gemetar) “Suu…suu… suaaraaa apa itu Don? Lu denger?”

Gue : “I…iyeee Vic… Kayak suara benda jatuh.”

Victor : “Astagaaa… baru saja punya niat mau jadi pahlawan, sudah dikejutkan dengan suara begini”

Gue : “Aa.. Aa.. Apa ini suara pertanda agar kita gak macam-macam ???”

Part-8

TERKUNCIKAH

Gue dan Victor yang dikejutkan oleh suara benda jatuh saat kami akan membuka pintu ruang dapur sempet membuat kami terdiam sejenak dan berpikiran yang macem-macem. Kami terdiam beberapa menit, namun sepertinya tidak ada yang mendengar suara benda jatuh ini selain kami. Para cewe bahkan tidak memberikan respon kaget ataupun bertanya padahal suara benda jatuh ini sangat keras. Akhirnya kami pun membuka pintu ruang dapur dan menyinari ke setiap sudut ruangan dapur, ternyata….

“MIAOOWWWW !!!!”

Gue : “Ah kampret, rupanya seekor kucing !”

Victor : “Iya brengsek juga nih, bikin gue cemas aja tadi!” (Terlihat sedikit kesel)

Gue : “Eh Vic, jangan sinarin mata kucing itu terlalu lama donk, serem juga tuh, bulunya hitam semua lagi, matanya jadi tajem banget kena cahaya!”

Victor : “Iya iya.. Selow lah, Cuma kucing hitam aja kok!’’

Gue : “Vic, jangan sembarangan loh. Kucing hitam itu kan pertanda ga baik?!”

Victor : (Cuekin gue) “Ah masa bodoh lah. Uda buruan kencingnya. Ditunggu Danu n Aldi tuh!”
Gue dan Victor pun buru-buru menuju ke kamar mandi agar ga kelamaan ditunggu.

Gue : (Agak merinding) “Vic, lu rasain gak, kok rasanya agak dingin ye?!”

Victor : “Biasalah uda tengah malam nih ! Wajar aja !”

Gue : “Tapi ga biasanya gini, bulu kuduk gue kok merinding ye !”

Intinya sih kami berdua kencing bareng di kamar mandi biar cepat siap, ya tapi ga saling mandang lah, ga homoan kok wakakaka… Victor yang megang flash HP tiba-tiba sedikit iseng.

Gue : (Kaget) “Woiii jinkk !!! Gelap cuk, jangan main-main flash HP lah !”

Victor : (Ngakak) “Wkakakaka mampus, kena tangan gak kencing lu?! Wkakaka…”

Gue : (Gue tiba-tiba terdiam) “….”

Victor : (Nyalain flash HP lagi) “Oee Don… Biasa ajalah, jangan ngambek gitu lah?!”

Gue : (Agak terpatah-patah omongan gue) “Eh.. Vic.. Vicc… Lu lihat gak ada bayangan putih kayak asap tiba-tiba terbang selayang gitu?!”

Victor : (Bingung) “Apaan? Kagak ada ah.. Ude gak usah nakut-nakutin gue gitu lah !”

Gue : “Ciusss neh gua !”

Victor : “Ah udah.. Ngayal aja lu kali. Uda cepet siram, kita masuk lagi ke dalam !”

Ahh mungkin ini hanya halusinasi pikir gue, positive thinking aja lah, mungkin karena mata gue tadi kena cahaya flash, jadi pas dimatiin, terkesan ada asap putih gitu. Gue dan Victor pun segera nyiram dan kemudian mau menuju ke ruang tengah lagi.

“BRAKKKKK !!!!!”

Langkah kaki gue dan Victor langsung terhenti saat mendengar suara pintu penghubung ruangan dapur dengan ruangan tengah tertutup dengan sendirinya. Perasaan ga ada angin kencang, tapi kok bisa.

Gue : “Oe Dan ! Oe Aldi ! Gak lucu deh ngunci kami di dapur, Gelap nih ! Baterai HP habis ntar !” (Sambil teriak)
Victor : “Wah taik nih kita dikerjain !”

Gagang pintu gue Tarik-tarik tapi ga mau kebuka. Victor juga ikut dorong pintu ini juga ga bisa.

Victor : (Agak kelelahan) “Taik juga mereka, pakai apa sih nguncinya ! Kagak bisa dibuka !”

Disaat gue dan Victor lagi berusaha buka pintu ini, tiba-tiba terdengar suara Danu dari kejauhan, sepertinya dari arah ruang tamu

Danu : (Sambil teriak kecil) “Oe Don, Vic ! Lama amat sih kalian ke wc nya, kencing apa boker sih ?!”

Victor : “Oe Dan, jangan bercanda lah ! Bukain pintu kami, masa kami dikunci sih !”

Danu : (Dengan nada bingung) “Hah??? Maksudnya? Napain gue kunci? Gue bareng Aldi neh lagi nungguin kalian di ruang tamu !”

Aldi : “Iye Vic, kami di ruang tamu. Bentar deh kami kesana !”

Aldi dan Danu pun menuju ke ruang tengah untuk bukain pintu kami.

Danu : (Agak kesel) “Ahh.. Ga ada dikunci pun! Cuma ketutup biasa doank. Masa ga bisa buka?!” Nih coba gue tutup dari arah dapur ya. (Danu ngepraktekin tutup pintu n buka lagi). Nah bisa kan, ga ada keras or nyangkut kok?!”

Gue : “Kami ga boong Dan. Tadi emg ga bisa kebuka sama sekali loh !”

Danu : “Udah udah, cepat siap-siap. Uda jam 11.30 nech. Bntr lagi jam 12 !”

Aldi : “Eh bro. Gue agak ragu loh mau ngecek beginian, apa batalin aja? Tadi gue cek tanggal, malam ini Jumat Kliwon loh?!”

Victor : “Ah biarin aja deh, mau jumat kliwon kek, mau apa kek. Kita kan ngecek dan mastiin doank. Ga bikin macam2 kok !”

Danu : (Tepuk pundah Victor) “Nah mantap lu Bro ! Tanggung banget kan uda mau jam 12 juga!”

Gue dan Aldi tampak sedikit ragu, tapi ya sudahlah, dipikir-pikir toh Cuma duduk dan jalan-jalan di teras depan rumah doank, Ga napa-napain juga kok.

Tapi saat gue mandangin muka Aldi, kok dia kayaknya agak muram, cemas dan pucat gitu ya…

Gue : (Rangkul Aldi) “Eh Di, lu kagak enak badan?!”

Aldi : (Agak pelan dan mandangin ke bawah, bukan mandang ke gue) “Ahh… eng…enggak papa kok.”

Melihat Aldi yang tiba-tiba pucat, gue jadi ikut kepikiran macam-macam lagi. Bercampur perasaan takut dan gak enak, apalagi abis ngeliat kucing hitam yang nongol entah darimana di dapur kami dan pas gue dan Victor balik, kucingnya uda ga ada. Kelihatannya Victor dan Danu lagi mau pamer keberanian mereka deh. Mau yakinkan ke cewe-cewe biar ga usah takut, sok pahlawan gitu deh. Fiuhhh ~ Biar deh…
Tapi mereka apa ga peduli klo ini MALAM JUMAT KLIWON dan BARUSAN BERPAPASAN DENGAN KUCING HITAM ???!!!!

Victor : “Oee buruan Don, Aldi !”

Gue : “Iye iye…!”

Aldi : “…….” (Hanya diam dan berjalan ke arah depan rumah dengan pandangan melihat ke bawah, bukan melihat ke depan)

Part-9

RUMAH TERANG

Victor dan Danu yang sudah ga sabaran, akhirnya duluan keluar rumah, smentara gue dan Aldi jalan agak belakangan. Gw nemenin Aldi karena keliatannya dia agak cemas dan khawatir. Ya entah apa yang dikhawatirkan juga ga tau, pokoknya setelah bukain pintu dapur dan melihat kami, Aldi lgsg agak pucat. Akhirnya kami berempat pun keluar, gue lihat ke dalam rumah hanya terlihat Monica dan Amelia yang masih duduk di ruang tamu, smntara yang lain sudah pada pergi tidur, maklum uda mau jam 12 malam.

Monica dan Amelia sepertinya penasaran dengan kami dan terus memandangi kami dari dalam rumah, ahhh mungkin mereka khawatir ama gue kali ya? Hehehe

Danu : “Don, tutup pintu rumah lah ! Napain dibiarin terbuka gt?”

Gue : “Eh? Biarin terbuka aja lah, kita kan ga kemana.”

Victor : “Uda tutup aja, kita jalan-jalan dulu mumpung uda di luar !”

Gue pun nutup pintu rumah, gue kira Cuma mau nongkrong depan rumah doank, rupanya mereka ngajak keliling2 desa. Wew… Uda tau desa kami ini rumah penduduknya sangat jarang, kebanyakan hanya hamparan rumput dan pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi ditemani dengan jalanan berpasir dan tanah liat.

Kami berempatpun mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di temani dengan cahaya redup rembulan, kiri kanan hanya hamparan rumput dan rumah para penduduk yang kami temukan rata-rata sudah tertutup rapat dan sepertinya uda pada tidur. Ga ada seorangpun yang keluar rumah selain kami. Suara burung hantu maupun suara serangga dapat terdengar dengan jelas. Angin malam sepoi-sepoi yang dingin menusuk tulang-tulangku.

Victor : “Seru ya Don jalan-jalan malam di desa gini. Sejuk, udara bersih. Enak banget !”

Gue : “Yoi. Di kota mana bakal begini, kebanyakan berisik dan udara kotor.”

Danu : “Hehehe, makanya, ga rugi kan jalan-jalan malam, yuk kita kelilingi desa ini. Berani ?”

Gue : “Berani sih, tapi ga usah kejauhan la. Capek baliknya !”

Danu : “Hadeehhh, capek apa takut???!”

Gue : “Uda uda jalan sono !”

Kami pun terus berjalan, kelihatannya sudah cukup jauh dari rumah kami. Sedikit capek dan akhirnya kami beristirahat sejenak di bawah pohon yang cukup rimbun, gue lihat sih sepertinya ini pohon beringin karena ada akar-akar yang menggantung gitu. Di depan pohon ini terdapat rumah tua yang sudah agak rusak dan sepertinya ga ada penghuninya karena banyak dinding kayunya yang sudah bolong-bolong. Entah kenapa klo di desa, selalu saja ada rumah kosong beginian, entah denger dari cerita temen, entah dari game, pasti ada aja rumah gini.

Victor : (Ngos-ngosan) “Oee bentar… Break dulu lah, capek kali gue !”

Danu : (Heran) “Ah yang bener aja lu capek? Baru jalan 30 menitan doank keknya, itupun malam hari. Jalan pun santai ?”

Victor : (Sambil membungkuk) “Iyeee capek banget gue sumpeh ! Pegel kali pundak gua macam mikul beban berat.”

Danu : “Ahhh lu macam kakek-kakek aja !”

Gue : “…” (Gue sedikit kepikiran film the shutter, buat yang pernah nonton pasti tau, pundak klo pegel, berarti ada hantu yg duduk di atasnya)

Sementara kulihat Aldi terus menatap ke pundak Victor dengan tatapan cemas, sekali-kali ia melirik ke tempat lain seolah-olah gam au ngeliat ke Victor.

Gue : “Di, lu kenapa? Kok agak diem ya? Ada yg ganggu pikiran lo?”

Danu : “Iya nih Di, tadi sebelum berangkat kayaknya oke2 aja, kok jadi agak diem?”

Aldi : (Geleng2 dan senyum) “Enggak kok, gapapa. Apa kita ga balik aja nih? Ga ada apa2 kan setelah kita cek?”

Danu : “Tanggunglah. Bntr lagi baru kita balik, ini kan baru jam 12 lewat dkit.”

Victor : “Iye bentar lah, pijatin pundak gw lah Don, ga ilang2 nih pegel.”

Kami akhirnya memutuskan utk break sebentar di bawah pohon ini dan gue mijitin pundak si Victor, sementara Danu mulai ngidupin rokoknya. tiba-tiba…

“JEDEEERRRR !!!”

Gue : (Lihat ke langit) “Wah suara petir dan kilat ! Mau ujan nih, balik yuk ?!”

Danu : “Yuk !”

Kami bergegas utk balik, tapi hujannya semakin lebat, petir dan kilat pun datang silih berganti.

Victor : “Udahlah, ga memungkinkan kita balik ujan lebat gini, jalanan becek banget, susah lihat selokan di mana, lagian ini alam terbuka, salah2 kena sambar petir kita !”

Danu : “Iya, uda kita cari tempat teduh aja deh, di bawah pohon ini tetap basah kita !”

Victor : “Eh lihat tuh, di depan kita ada rumah yang lampunya hidup nih !” Kita berteduh di sana aja yuk?” (Sambil ngucek-ngucek matanya yang perih kena air hujan)

Sangat sulit untuk melihat dengan jelas di tengah hujan deras ini, kami harus sambil nutupin mata karena air hujan yang terus ngalir mengenai mata. Gue sempat heran, perasaan kan mati lampunya ampe subuh, apa malam ini lampunya uda hidup duluan ya?

Ya udah lah, daripada basah kuyup di bawah pohon ini, mending kami berlari ke rumah yang terang di depan pohon ini aja….

Sesampai di depan rumah yg terang itu, kami pun melihat sepertinya penghuninya belum tidur. Agar sopan kami pun meminta izin berteduh di terasnya sebentar. Rumahnya keliatannya lumayan besar juga, terasnya aja mayan gede bisa utk berteduh.

Danu : “Ass… permisi, kami numpang teduh ya. Maaf mengganggu jam segini.”

“Iyaaaa……” (Terdengar suara balasan yang begitu lembut dari dalam rumah)

Victor : (Natap ke gue sambil berbisik ke kami ber 3) “Eh suara cewe?! Cantik gak ya? Kayak suara gadis deh ! hehehe”

Gue : “Ah otak luuuu !”

 

Part-10

GADIS YANG KESEPIAN

Hujan yang turun dengan lebat diikuti dengan gemuruh petir yang silih berganti membuat kami terpaksa berteduh sementara di rumah yang terang di depan pohon beringin.

Danu : (Sambil ngelirik ke dalam rumah) “Eh Vic, Don, Di, Tumben nih ketemu rumah yang lampunya hidup, kayaknya yang tinggal sendirian deh, cewe lagi!”

Victor : (Senyum2) “Iya sih. Kesempatan sih, tapi kita kan ga kenal dia. Segan jg lah, ga ditawarin masuk juga.”

Gue : “Lu mikir mesum lagi yah? Jgn bikin ulah oe !” (Dengan tatapan agak sinis)

Aldi : “….” (Sambil duduk hening natapin hujan)

Beberapa menit kami menunggu di luar, tiba2 pintu rumah ini terbuka, tampaklah sosok gadis yang masih muda, bisa dibilang usia 20an, berkulit putih, rambut panjang hitam lurus, mata yang bulat bersinar, bibir yang mungil dan hidung yang mancung membuat kami tidak dapat mengedipkan mata sedikitpun. Gadis ini hanya memakai tanktop berwarna putih dengan celana tidur yang cukup pendek. Kulit pahanya yang putih dan gunung kembarnya yang lumayan berisi tentunya membuat hati kami kegirangan melihatnya, postur tubuhnya yang ideal bisa dibilang 165cm-an menambah pesona gadis ini layaknya seorang model kota.

Gadis Cantik : “Haiii.. Mari masuk ke dalam, kalian pasti kedinginan kan ?” (Dengan suara lembut sambil memberikan handuk kepada kami)

Danu : (Langsung menjawab) “Eh iya iya makasih non. Tumben belum tidur jam segini?”

Gue : (Nyela pembicaraan dengan sopan) “Makasih Mbak, tapi kayaknya kami nunggu di luar aja deh. Ga enak uda malam masih ngerepotin orang.”

Victor : (Sambil dorong gue) “Eh apaan sih Don ! Uda ditawarin masuk, mending kita masuk aje. Di luar dingin banget nih anginnya !”

Danu : “Iya nih Don. Masuk aja yuk?! Ehm, maaf non, gapapa klo kami masuk sbntar sambilan nunggu hujan reda?”

Gadis Cantik : “Gapapa kok, sini sini masuk.” (Dengan lembut dan tangannya yang mulus sembari menarik tangan Danu dan Victor utk masuk)

Gue : “Ah ancur dah, mereka ber2 klo uda ketemu cewe cantik. Hilang akalnya.” (Geleng-geleng)

Karena Danu dan Victor ditarik masuk ke dalam, akhirnya kami berempat terpaksa ikut masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya tidak cukup besar, hanya ada 2 kamar, ruang tamu dan ruang belakang. Rumahnya terlihat begitu bersih dan rapi dan wangi tentunya. Kami duduk di ruang tamu dengan hanya beralaskan bantal kecil yang empuk. Gadis cantik ini menawarkan kami teh hangat, namun kami menolaknya karena segan, akhirnya kami hanya duduk dan bercerita-cerita. Danu dan Victor duduk begitu dekat dengan gadis cantik ini, bisa dibilang Danu di sebelah kiri cewe itu dan Victor di sebelah kanan cewe itu, sementara gue lebih memilih duduk di dekat pintu keluar karena lebih sejuk. Aldi hanya bersandar di dinding sambil tidur-tiduran. Keliatannya dia memang sudah ngantuk karena jam sudah hampir menunjukkan
pukul 1 dini hari.

Gadis Cantik : (Dengan nada yang lembut) “Oh iya, kenalan dulu donk. Namaku Diana. Nama mas-mas ini siapa ya?”

Danu : (Dengan suara berwibawa) “Gue Danu.”

Victor : (Agak cool) “Gue Victor, itu yang duduk deket pintu namanya Dony, yang lagi nyandar, namanya Aldi.”

Gadis Cantik : (Natepin ke Danu dan Victor) “Mmm.. Kok Diana ga pernah lihat mas-mas ini sebelumnya yah?”

Danu : “Iya Diana, kami baru saja datang kemarin, ini malam kedua kami di sini.”

Gadis Cantik : “Oh yaaa??? Asik donk.. Kita bisa temenan klo gtu. Diana di sini juga tinggal sendirian, terus jarang ada yang berkunjung ke sini.”

Victor : “Loh kok bisa sih gadis cantik gini ga ada yang mau kunjungin?” (Agak menggoda dikit)

Gadis Cantik : (Masang wajah memelas) “Iya koko… Diana agak pemalu.” (Jarinya menyentuh tangan Victor dengan gemulai)

Victor : “Owh gitu gitu. Ehm..” (Agak cool)

Gadis Cantik : “Oia ko, itu koko satu lagi yang duduk di pintu kok ga gabung cerita ama Diana ya?”

Danu : “Ahhh biasa tuh, dia agak pemalu dikit alias agak pendiam lah klo ama orang baru. Hehehe”

Gadis Cantik : “Oh ya? Ya uda mas Danu dan Ko Victor. Istirahat dulu ya, Diana mau kenalan dulu ama Koko yang disitu. Okay ? (sambil nepuk punggung Danu dan Victor)

Gue : (Dasar maniak cewe ini Danu n Victor, ahh ini cewe malah mau nyamperin ke gue pula lagi)

Victor dan Danu yang keliatannya juga capek akhirnya memejamkan mata mereka sambil tidur-tiduran dengan beralaskan bantal. Sementara si gadis cantik ini mulai datang menghampiriku.

Gadis Cantik : “Ko… Kok diem aja nih? Diana ga menarik utk diajak bicara yah?” (Tangannya yang agresif langsung memegang pundakku)

Gue : (Astagaaaa… Ini cewe agresif banget, dinding pertahanan gue bisa luluh nih, cantik pula dia soalnya, wangi lagi) “Emm iya.. Agak canggung dan grogi nih.. Hehehe” (Sambil nunduk dan malu2)

Gadis Cantik : (Dengan nada yang lembut dan memelas) “Jangan malu-malu gitulah Ko. Diana di sini kesepian, tinggal sendiri, ga ada teman. Ngebosenin banget. Mumpung koko pendatang baru, jadi temen Diana yah?” (Ngomongnya sambil berbisik di dekat telinga gue, desah nafasnya terasa banget)

Gue : (Deg-deg-an) “Iya iya… Kami masih baru di sini, yup, nanti kami akan luangkan waktu main-main kemari. (Gue ngeliat ke arah Victor,
Danu dan Aldi, sepertinya mereka pada ketiduran deh. Wah kacau, ga bole tidur semuanya nih)

Gadis Cantik : “Kooo….”

Gue : “Hah?” (Astagaa gadis ini makin menempel ke arah gue, karena posisinya yang agak sedikit menunddukkan pundaknya, gue jadi bisa ngeliat gunung kembarnya yang berisi dan putih, baju tanktopnya yang putih yang ketat memberikan kesan padat yang begitu wow)

Gadis Cantik : “Kalian nginep di sini malam ini gimana?!”

Gue : “Ehhhhhh??!!!”

 

Part-11

TANGISAN

Mendengar ucapan dari gadis cantik tersebut, gue pun sedikit canggung dan kebingungan. Dilema dalam hati antara mau menerima tawaran tersebut, tetapi hati kecil merasa ga enak karena nginap di rumah gadis muda yang tinggal sendirian apalagi di desa orang.

Gue : (Agak grogi) “Eh maaf non, Ane ga enak mau nginep di sini. Entar sehabis hujannya reda, ane mau balik bareng temen ane.”

Gadis Cantik : (Agak sedih mukanya) “Hmmm… Kok gitu? Ga mau ya nginep di sini bareng temennya? Diana kesepian jarang ada yang temenin nih.”

Gue : “Iya maaf, tapi ga bisa nih.”

Gue pun berusaha menolak ajakan dari si Gadis cantik ini. Yaa daripada entar dibilang macem-macem ama warga, ini pun baru beberapa hari tinggal di desa ini, masa bikin masalah sih? Klo mau bikin masalah, nanti diakhir-akhir uda mau pulang sih pikir gue baru coba nginep di sini hehehee

Gadis Cantik ini pun pergi meninggalkanku dan masuk ke dalam kamarnya, gue ga begitu peduli, yang jelas gue ga bole tidur dan menunggu hujan ini reda.

Selang 1 jam-an, hujan pun sudah mulai reda, gue manggil Victor, Danu dan Aldi untuk bangun dan minta izin pulang.

Gue : (Agak kaget) “Wah uda jam 3 subuh. Gawat nech. Ga enak banget ama cewe-cewe di rumah. Kita tinggalin semaleman gini. Kalo ada kenapa2, susah nih !”

Victor : “Hoammm, gue masih oleng nih. Ya uda buruan balik lgi.”

Kami pun memanggil dengan suara pelan meminta izin utk pulang, namun sepertinya Gadis ini sudah tertidur sehingga tidak memberikan respon.

Danu : (Bisik ke kami) “Eh ngintip ke kamarnya yok? Pura-pura mau minta izin pulang ? Berani ?!”

Gue : “Gile lu. Kagak mau la gua. Riskan coi !”

Karena ga ada jawaban, kamipun keluar dengan pelan-pelan dan menutup pintu depan rumahnya. Ajakan dari Danu sudah jelas gue tolak daripada nanti timbul gosip aneh-aneh.

Beberapa menit kami berjalan, akhirnya kami tiba di rumah. Gue lihat ke jam tangan gue, Ga nyangka uda mau jam 4 pagi. Gue pun buka pintu rumah dan sedikit kaget ketika melihat Monica dan Amelia tertidur di ruang tamu. Loh kok ga tidur di kamar sih? Apa nungguin kami kali ya?

Victor : “Eh bro, kok mereka 2 tidur di ruang tamu sih? Terus si Nadya tidur di kamar sendirian ya? Coba lu intip sana Don !”

Gue : “Ah gak lah. Kerjaan lu ngintip melulu, orang lagi tidur napain di ngintip !”

Danu : “Lu ga mau liat cewe lagi tidur pakai tanktop or pakaian longgar Don ?”

Gue : (Agak tertarik) “Gak deh gak.. Klo di sini gw ragu. Klo di kota gue berani hehehe.”

Danu : “Ya ude, gw lanjut tidur lagi yah. Masih ngantuk nih, Don, lu ama Victor bangunin tuh Amelia dan Monica, suruh mereka pindah ke kamar. Jangan2 nungguin kalian berdua, ampe2 mreka ketiduran di ruang tamu. Hehehe.”

Victor : (Agak senyum2 kege-eran) “Ehmm.. Bener juga ya hehehe.”

Doni dan Aldi pun menuju ke kamar tidur kami lagi, sementara gue dan Victor mencoba membangunkan Monica dan Amelia dengan lembut.

Gue : “Mon… Mon… Bangun Mon, kok tidur di ruang tamu sih?! (Sambil mendorong dengan pelan pundaknya Monica)

Monica : (Terbangun dan sedikit terkejut melihat kami yang baru pulang) “Kooo Dony ! Jam berapa sih kalian baru balik ?! Katanya Cuma di luar, kok menghilang !” (Agak cemas)

Gue : “Gapapa Mon. Kami tadi jalan-jalan terus kehujanan, akhirnya kami berteduh di dalam rumah orang sbntar.”

Monica : “Hah?!” Kalian berteduh di dalam rumah orang ?! Emangnya masih ada orang yang belum tidur pas tengah malam gini ?!”

Gue : “Ada Mon.”

Amelia yang dibangunin oleh Victor juga kaget dan nambahin.

Amelia : (Agak sinis) “Jadi kalian ditemenin ama bapak-bapak desa ngobrol sambil nungguin ujan reda yah?!”

Victor : (Agak malu) “Emmm bukan Mel, kebetulan kemarin kami berteduh di rumah cewe. Kami juga ga nyangka yang tinggal Cuma cewe sendiri.”

Amelia : (Dengan tatapan tajam dan sinis) “Kalian ga macam-macam or gangguin dia kan?! Awas aja klo dapat gosip aneh-aneh. Ga kami maafin kalian.”

Gue : “Ya enggak napa-napain lah. 3 orang nih aja tidur. Gue yang nungguin sampai ujan reda biar bisa balik. Kami diajak nginep, tapi ga mungkin lah !”

Victor : (Kaget) “Woi Don ! Kita diajak nginep yah? Kok ga bilang ke gua sih ! Harusnya nginep tuh !”

Amelia : (Sambil jitak kepala Victor) “Dasar mesum !”

Gue : “Hahahahahhaa. Lu aja nginep sendiri, gue ga mau! Oh ia, kalian kok malah tidur di luar sih? Bukannya tidur dalam kamar ?!”

Mendengar pertanyaan gue, Monica dan Amelia jadi terdiam dan sedikit takut untuk mengungkapkan kebenarannya.

Gue : “Lahh gue tnya, kok malah jadi hening ga di jawab?!”

Monica : (Agak tertunduk dan bingung mau jawab) “Emm gapapa sih, kami hanya ketiduran di sini.”

Gue : “Ahhh jangan nutup-nutupin lah. Kita kan bakal tinggal serumah untuk 3 bulan ke depan. Jangan pakai rahasia-rahasian lah ama kami.”

Amelia : “Mon, kasih tau aja deh ya?”

Monica : (Ngangguk-ngangguk) “Iya deh. Ko, tadi waktu kalian pergi, kami denger suara aneh saat mau masuk ke kamar. Makanya kami jadi ga berani masuk kamar.”

Victor : (Jadi penasaran) “Huh ? Suara aneh gimana tuh?”

Gue : “Serius ya? Suaranya gimana?”

Monica : “Kayak suara melengking dan berdenging gitu , NGINGGGGG… Cumiik di telinga Ko.”

Gue : “Terus yang lain gimana? Si Nadya apa ga kebangun?”

Monica : (Geleng-geleng) “Enggak Ko, mereka semua ga ada yang dengar, Cuma gua dan Amelia yang kedengeran. Terus setelah suara dengingan itu, diikuti suara tangisan sayup-sayup HIKS HIKS HIKS gitu dari arah luar kamar.”

Victor : “Wew… Ada suara begituan yah ? Tapi tadi pas kami pulang, kami ga lihat apa-apa kok di luar kamar kalian.”

Amelia : “Iya, suaranya sekilas gitu aja, terus hilang. Karena cemas, kami nungguin kalian pulang utk ngecek, tapi kalian pulangnya kemaleman, akhirnya kami ketiduran di sini.”

Gue : “Waduh sorry sorry. Ya uda kalian lanjut tidur di kamar aja. Klo ada apa-apa, bangunin aja kami Ok ?”

Monica : “Okay Ko, thanks lohh.”

Akhirnya mereka berdua pun kembali tidur di kamar mereka, Gue dan Victor juga kembali masuk ke kamar.

Gue : “Eh Vic, Kok rasanya aneh ya, jadi ada kedengeran suara. Kemarin malah ketemu ibu tua yang ga hiraukan kita.”

Victor : “Ah entahlah, besok or kapan kita ke tempat pak Kades, kita tanyain deh.”

Gue : “Ya uda lah, Gw lanjut tidur lagi. Besok baru kita bahas.”

 

Part-12

PERNYATAAN KADES

Esok paginya, setelah beres-beres, gue, Victor, Danu, Amelia dan Monica berencana untuk menuju rumah pak Kades untuk bertanya soal kejadian yang semalam. Sebenarnya kami agak malas mau bertanya hal beginian, orang tua biasanya menyuruh kami utk cuekin jika terjadi hal seperti ini, namun agar lebih tenang, ada baiknya kami pergi berkonsultasi saja, itung2 masih lama kami bakal tinggal di desa ini. Sesampainya di rumah pak Kades.

Danu : (Ngetuk pintu) “Ass.. Pak, permisi Pak, Kami mahasiswa yang mengabdi di desa ini nih. Ada sedikit yang mau ditanyakan. Ganggu gak pak?”

Kades : “Oh enggak kok. Mari masuk. Ada hal apa tuh ?”

Danu : “Emmm, begini Pak. Tadi malam, kami kan duduk-duduk di luar rumah, kemudian kami pergi jalan2 menikmati angin malam, terus kami keujanan dan berteduh di rumah warga.”

Kades : (Agak kaget) “Loh kalian keluar tengah malam? Waduhh, Bukannya uda saya bilang jangan keluar tengah malam? Itu pantangan banget bagi pendatang baru ke desa ini loh !”

Victor : (Shock dikit) “Maksudnya Pak? Pantang kenapa yah?”

Kades : “Bapak juga bukan asli warga desa ini, Bapak di sini juga pendatang. Dari awal Bapak datang, bapak sudah diingatin oleh tetua desa ini utk jangan pernah keluar malam melewati batas jam yang sudah bapak infokan ke kalian.”

Gue : “Memangnya kenapa Pak ?”

Kades : “Hmm.. Percaya gak percaya yah, desa ini kekuatan mistisnya masih kuat. Kemudian desa ini masih rawan dengan makhluk-makhluk gaib. Ya bisa dibilang karena daerahnya masih terpencil. Jadi masih ada penunggunya loh.”

Mendengar pernyataan pak Kades seperti itu. Kami berlima kaget bukan main. Raut wajah Amelia dan Monica langsung menjadi agak suram karena sedikit takut. Gue lihat Victor dan Danu juga sedikit cemas, tapi mereka tetap berusaha tenang.

Danu : “Oia Pak, daripada bahas penunggu, ngomong-ngomong bapak tau pohon beringin yang gede yang ga jauh dari rumah kami ?”

Kades : “Ya tau kok. Kenapa? Kalian berteduh di sana?”

Victor : “Iya pak, kemarin malam kami istirahat di sana karena kecapekan, terus tiba-tiba ujan lebat, jadi kami berteduh ke rumah di depan pohon itu.”

Kades : “Rumah di depan pohon beringin itu ? Ada rumah ya ?” (Sambil mengingat-ingat)

Victor : “Ada Pak, rumahnya lumayan bagus sih, tapi yang tinggal Cuma seorang gadis muda sih. Bapak kenal ?!”

Kades : (Bingung) “Emm maaf nak, Bapak ga pernah tau ada gadis muda yang tinggal seorang diri di desa ini loh.”

Gue yang mendengar pernyataan pak Kades demikian langsung menatap wajah Victor dan Danu. Mereka berdua juga kelihatannya kaget

Gue : “Ah yang bener pak? Tapi tadi malam kami bertiga benar-benar berteduh di sana loh.”

Kades : “Bener kok. Kalian gak macam-macam kan ?!”

Gue : “Gue sih enggak Pak, tapi Victor dan Danu tuh yang agak bandel. Heheheh”

Victor : (Membela diri) “Gak kok. Kami Cuma numpang istirahat tidur-tiduran di ruang tamunya aja. Ga ada napa-napain.”

Amelia : (Menyela pembicaraan) “Maaf Pak, apa berarti gadis yang mereka bertiga lihat itu sebenarnya tidak ada?”

Danu : “Eh Mel, ngomong apa nih? Masa ga ada ! Jelas-jelas kami lihat loh !”

Kades : (Ngangguk-ngangguk) “Ya bisa dibilang begitulah. Bapak sudah peringatkan kalian kan utk ga keluar malam. Dengan kata lain, kalian mengganggu mereka, resikonya kalian bakal diganggu balik.”

Gue : “Wah jangan nakut-nakutin donk Pak?”

Victor : “Iya nih, kami kan ga ada macam-macam Pak?”

Kades : “Ya itu kata tetua desa ini. Bapak sih ga pernah melanggar, jadi Bapak ga bisa mastiin kebenarannya juga. Apa kalian ada ngalamin hal-hal aneh lainnya?”

Monica : “Ada pak. Kami mendengar suara tangisan cewe sayup-sayup gitu dari kamar. Tapi yang lainnya ga kedengaran.”

Kades : “Hmmm… Kalian ada lakuin hal macam-macam sebelumnya?”

Monica : “Kayaknya ga ada. Oh ia, kemarin pas kami ke toilet belakang. Kami ada ketemu Ibu-ibu tua lewat, tapi ga ada ngelihat kami sama skali Pak.”

Kades : “Itu tengah malam atau subuh ?”

Monica : “Subuh Pak, waktu itu kami ditemenin Victor dan Dony.”

Kades : “Kalian ada bilang permisi pas mau keluar atau pas ketemu Ibu tua itu ?”

Gue : “Emm ga ada sepertinya Pak.”

Kades : “Oalah. Kalo begitu bisa jadi penunggunya merasa terganggu oleh kalian nih. Gini aja, bapak kasi alamat rumah Tetua desa ini. Klo masih diganggu. Kalian cari beliau aja.”

Victor : “Oke Pak. Kalo begitu kami pamit dulu ya. Nanti klo masih diganggu, kami cari beliau.”

Kades : “Sip. Jadi gimana program kerja kalian? Sudah dapat ide? Sudah sosialisasi ama warga?”

Gue : “Belum Pak. Ini baru mau mulai.”

Akhirnya kami pun balik dari rumah pak Kades. Mendapatkan informasi seperti ini membuat kami cukup kaget terutama Monica dan Amelia. Mereka menjadi gelisah dan khawatir, Monica pun mendekati gue.

Monica : (Sambil berbisik ke gue) “Ko, selama di desa, jangan macam-macam ya. Temenin aku ya klo ada kegiatan luar, boleh ?”

Gue : “Ehm ehm.. Oh pasti tuh.” (Wah mantap banget kesempatan utk makin deketnya enak nih)

Danu : “Don , Vic. Ntar sambilan pulang, kita singgah ke rumah cewe kemarin yok, sekedar ucapin terima kasih. Gue heran kok pak Kades bilang ga ada cwe itu sih.”

Victor : “Ya uda oke aja gw.”

Danu : “Kalian para cewe mau ikutan gak ?”

Amelia : “Ah enggak deh. Kalian aja, kami lgsg balik rumah aj ya.”

Gue : “Ok hati2 ya. Kami singgah sana bntar deh. Skalian ucapin terima kasih.”

Di perjalanan pulang, kami bertiga tidak langsung pulang ke rumah, melainkan kami memutuskan untuk singgah ke rumah gadis cantik kemarin. Ya hitung-hitung mau ucapin terima kasih sekalian cuci mata deh. Kemarin malam kan ga gitu leluasa bertamunya. Kalo di siang hari, mungkin bisa lebih nyaman. Hehehehehe

 

Part-13

TERJEBAK

Gue, Danu dan Victor akhirnya memutuskan untuk mengunjungi rumah gadis cantik yang kami temui kemarin malam, sedangkan Amelia dan Monica langsung menuju ke rumah. Mumpung hari baru menjelang siang dan cuaca mendung, kami pun berjalan dengan santai.

Danu : “Oe Don, ntar sampai rumah gadis itu, kita mau ucapin apa? Bilang makasih terus pergi? Gitu aja?”

Gue : “Ya gue sih gitu aja deh. Bingung juga mau ucapin apa.”

Victor : “Ga mau sambil godain dia Don? Kan cantik n montok tuh. Barangkali lu dapet bunga desa kan enak tuh.”

Gue : “Enak sih enak. Tapi kan jgn sembarangan lah. Buat Danu aja deh. Lebih cocok dia.”

Danu : “Oh bole aja tuh. Paling enggak nikmatin aja masa-masa bersama di sini bareng dia wkwkwk.”

Gue : “Nohh tuh pohon beringin kita kemarin. Rumah nya di depan pohon tuh kan. Bntar lagi sampai tuh !”

Victor : “Yeahhh yeahhh ! Go Go Go… !”

Danu terlihat begitu semangat untuk ketemu gadis cantik kemarin, Victor dan Gue jalan agak belakang. Danu yang berlari-lari kecil akhirnya duluan sampai di depan pohon beringin dan tiba-tiba dia terdiam dengan tatapan kaget.

Victor : (Nepuk pundak Danu) “Oe Dan ! Kenapa lu? Kok bengong.”

Danu : “Lihat tuh ke depan. Bener kan ini tempat kita kemarin berteduh ?!” (Nunjuk ke arah depan pohon beringin)

Gue : (Kaget) “Wew… Bener ini tempatnya. Tapi kok jadi RUMAH KOSONG !” (Lihat ke Victor)

Victor : “Shiittt men shitt.. Gue mana tau. Tapi yang jelas kemarin malam emg di sini kita berteduh !” (Agak heran)

Danu : “Ah gak caya gue. Masa rumah yang lumayan gede bisa tiba2 jadi rumah kosong. Kita cek ke rumah kosong itu yuk !”

Gue : “Gak usah lah Dan. Cari perkara aja lu!”

Danu : “Uda gapapa ! Kalian ikut gue aja !” (Narik gue dan victor)

Victor : “Eh tar tar.. Pundak gue pegel lagi neh. Duduk di deket pohon nih dulu lah. Kan sejuk juga cuaca mendung.”

Gue : “Ah elo ! Tiap kali ke pohon ini, masih bilang pundak pegel, kemarin malam juga gitu. Emang lu kerja berat apaan sih sampai pegel melulu ?!

Victor : “Gue mana tau cok. Dia mau pegel sendiri, lu tanyain gue. Jelas kita tinggal serumah uda 2 harian neh!”

Danu : “Ya uda break 10 menit deh ! Tapi jangan lama2, nanti kita mau cek rumah kosong itu dulu, yang ada keburu ujan pula.”

Victor : “Iye-iye !”

Karena Victor mengeluh pundaknya pegel lagi, akhirnya kami bertiga break kira-kira 10 menitan baru akhirnya kami menuju ke rumah kosong yang ada di depan pohon ini. Model rumah ini keliatannya sama persis dengan yang kami kunjungi kemarin, hanya saja bangunannya uda mulai agak hancur, dinding kayunya juga uda menghitam, dan rapuh bahkan ada yang bolong-bolong. Gentingnya juga uda rusak-rusak. Bnyak rumput-rumput liar tumbuh menjalar ke dinding kayunya. Kaca jendelanya juga uda pecah-pecah. Rumah ini benar-benar macam rumah yang habis kebakaran yang tidak dibersihkan dan dibiarkan cukup lama.

Gue : “Noh uda jelas kan Dan. Kemarin itu kita dikerjain. Untung kita ga nginep !”

Danu : (Agak penasaran) “Hmm… Tapi lu emg yakin ini rumahnya kan? Apa ada 2 pohon beringin di sini?!”

Gue : “Mana ada 2 pohon beringin. Uda jelas tadi pak Kades aja bilang ga pernah dengar tentang gadis cantik yang masih muda yang tinggal sendirian di sini !”

Victor : “Hmm. Jadi maksud lu kemarin itu halusinasi kita ya? Gak mungkin kan kita berempat kena halusinasi ?! Nanti kita coba Tanya Aldi deh !”

Gue : “Ya uda ayo balik aja !”

Danu : (Nahan tangan kami berdua) “Ah tanggung. Uda sampai depan rumah kosong ini. Kita cek ke dalam lah ! Berani gak? Cowo gak kalian?!”

Gue : “Gak masalah cowo or cewe lah. Ga guna !”

Danu : “Ah masa takut loe?!”

Victor : “Ayo Don masuk aja kita ! Ngecek aja kok !”

Karena dipaksa Danu dan Victor, akhirnya gue ikut masuk ke dalam rumah kosong itu bareng mereka. Ah bagi gue entah apa gunanya ngecek rumah kosong begini. Memang sih bikin penasaran, tapi ini di tanah orang, ga enak banget masuk rumah kosong begini hanya untuk lihat-lihat dan uji nyali. Mana cuaca di luar lagi mendung neh.

Gue : “Dah kan? Yok keluar ! Napain lama-lama. Gak ada apa-apa juga tuh !”

: “Iye bentar. Mayan gede ya rumah kosong ini, kamarnya ada 2. Tapi barangnya uda ancur smua.”

Beberapa menit kami di dalam rumah kosong itu, gue mendengar suara gemuruh dari luar. Wah ini pertanda mau ujan lagi nih. Kelihatannya angina berhembus semakin kenceng, suara pasir yang beterbangan dan dedaunan yang tertiup angina sudah jelas menjadi pertanda akan turun ujan lebat lagi.

Gue : “Woi mau ujan lebat neh ! Balik yok !”

Victor : “Oke-oke” (Sambil berjalan ke arah pintu keluar)

“BRUUUUKKKK !!!!!!”

Victor : (Kaget) “Loh pintunya ketutup sendiri!”

Danu : “Ah karena angina tuh, Tarik aja yang kuat !”

Victor berusaha sekuat tenaga untuk menarik pintu yang tiba-tiba ketutup sendiri ini, namun tidak membuahkan hasil. Suara tetesan air hujan
yang pelan akhirnyapun berubah menjadi deras.

Gue : “Wah kejebak ujan kita ! Uda dobrak aja tuh pintu !” (Melihat usaha Victor menarik gagang pintu agar terbuka ga berhasil, gue lgsg memutuskan untuk mendobrak pintu kayu ini biar cepat keluar dari rumah ini!”

PRANKKK !!!!

Gue : “Suara apa itu Dan?!” (Kaget dan Cemas)

Danu : (Agak pucat) “Emm.. suara dari arah dapur rumah ini keknya !”

Victor : “Jink… Buruan, dobrak yang keras pintu ini ! Masa ga bisa Don ! Coba cek kaca jendelanya aja !” (Dengan nada gelisah)

Gue : “Ga bisa cok ! Lewat jendela ga bisa, banyak serpihan kaca !” (Masih berjuang menendang2 pintu ini!”

PRANKKK !!!!

Danu : “Woiii buruan !!! Lama amat ! Itu ada suara lagi piring jatuh lagi !”

Kami bertiga yang rencananya hanya mau mengecek rumah kosong ini, akhirnya terperangkap di dalamnya. Pintu masuk nya tiba-tiba tertutup sendiri dan terkunci rapat, sekuat apapun usaha Victor untuk membuka pintu ini juga percuma. Gue yang mendobrak pintu ini juga ga berhasil-hasil. Padahal pintu ini hanya terbuat dari kayu dan kesannya sudah sangat rapuh, namun kok kokoh sekali ya?

Hujan turun begitu lebat, wah sepertinya kami bakal kejebak lagi di dalam rumah ini ????

Dan suara apa barusan yang terus terdengar dari arah dapur rumah ini??

 

Part-14

PENGUNGKAPAN

Gue, Danu dan Victor yang terjebak di dalam rumah kosong it uterus berusaha mendobrak pintu keluarnya, namun sepertinya tidak berhasil. Sementara hujan turun semakin deras diikuti dengan suara gemuruh yang silih berganti. Dinginnya udara di luar seolah menusuk tulang kami, ya wajar saja, jendelanya juga sudah pecah dan dinding kayunya juga berlubang-lubang.

Danu : “Uda berhasil gak sih dobrak pintunya?! Masa gak bisa-bisa sih !!!” (Uda ga sabaran)

Gue : “Iya ga mau kebuka nih. Keras amat pintunya !”

Victor : “Lu coba deh Dan klo ga caya !”

Srett… Srettt…

Gue : “Kaa.. kalian dengar suara orang berjalan dengan kaki di seret-seret gak?”

Victor : (Kaget) “Hah??? …. Yaa.. ada !!! Anjrittt suaranya dari belakang dan sepertinya makin kemari !”

Danu : (Nendang sekuat tenaga) “Nahhh uda kebuka nih, besok baru kita perbaiki deh pintunya, sekarang kita lari pulang dulu lah !”

Gue : “Ya uda cepat!”

Akhirnya pintu berhasil kebuka dan kami bertiga pun lari menembus hujan untuk segera pulang ke rumah. Tidak peduli hujan sederas apapun, pikiran kami uda ga bisa mikir apa-apa lagi. Kemarin kami sudah terjebak di rumah ini tapi dalam kondisi rumah yang bagus dan hari ini kami tidak mau terjebak kedua kalinya di rumah ini dalam kondisi rumah kosong dan adanya suara-suara aneh.
Sesampainya kami di rumah, Aldi dan para cewe heran melihat kami.

Aldi : “Bro, kalian main hujan ?! Bukannya kata Amel dan Monica kalian mau bertamu ke rumah kemarin? Ada hasil ?!”

Gue : “Gile… Rumah kemarin ga ada ! Rumahnya kosong loh !”

Laras : (Bingung) “Hah? Rumah apaan yang kosong? Kok kalian pucat gitu ?!”

Angela : “Memangnya kalian abis dari mana sih?

Para cewe yang telah tidur kemarin malam pasti tidak tahu klo kami keliling keluar dan mereka juga ga tau kalo kami ke rumah pak Kades utk bertanya hal ini. Ya ada baiknya yang tidak tau biarlah gak tau, jadi untuk saat ini yang terlibat kasus ya Gue, Victor, Danu, Aldi, Amelia dan Monica. Hanya kami ber 6 yang mengalami kejadian-kejadian aneh. Sementara 4 cewe lainnya kurang mengalami masalah karena mereka kebanyakan bersantai di rumah dan ya ga macam-macam mungkin sampai saat ini.

Victor : “Oh gapapa kok. Kami tadi Cuma main-main ketemu rumah kosong rupanya. Hehehe” (Berusaha menutupin)

Laras : “Oh gitu. Ya uda kami lanjut masak di dapur yah.”

Setelah para cewe yang tidak tau kejadian yang kami alami, mereka pun pergi ke dapur, Kami ber 6 baru berkumpul di ruang tamu dan berdiskusi.

Danu : “Eh Aldi, Lu kemarin ikut kami kan. Lu beneran lihat rumah yang bagus kemarin malam kan dan ada gadis cantiknya?!”

Monica : “Ah kalian ini terpesona ama gadis cantik pula malam-malam ! Khayalan ndak tuh ?!”

Aldi : (Terdiam) “….”

Danu : “Loh kok diam Di ?”

Aldi : “Emm sebenarnya aku malas ngomong, aku pikir Cuma aku aja yang bisa merasakan. Rupanya kalian juga diganggu ya ?”

Gue : “Maksudnya diganggu gimana?”

Aldi : “Klo bole jujur, sebelum kita keluar untuk mengecek rumah. Saat lu dan Victor terkunci di dapur, pas kami mau bukain pintunya, gue uda lihat sosok bayangan hitam di pintu itu, kayaknya dia yang megang pintu dapur sampai kalian ga bisa buka.”

Victor : “….. serius lohhh ?!” (Mulai cemas)

Danu : “Kok gue ga Nampak apa-apa?!”

Aldi : “Ya gua dari kecil emg uda bisa lihat hal beginian. Dan kejadian yg dialami Victor saat pundak pegal di bawah pohon beringin, itu memang benar ada sosok bayangan hitam yang kayak orang duduk di atas pundakmu.”

Victor : (Shock) “Lu gak lagi bercanda or nakutin kami kan ?!”

Gue : “Iya nih, serius donk. Gue yg mijat gimana ya, kepijat kakinya or pahanya gak? Hehehe” (Berusaha mencairkan suasana yang tegang)

Aldi : “Gue kurang tau, yang jelas pas lu mijat, bayangannya uda hilang, terus rumah bagus yang kalian bilang itu, sebenarnya dari kemarin emg rumah kosong, gue Cuma bisa diam. Makanya gue Cuma duduk bersandar di dinding agak luar aja.”

Danu : “Wew… Jadi cewe kemarin ?!”

Aldi : “Di mataku, rumah kemarin itu gelap banget, kalian ber2 bisa pula duduk sampai agak dalam, terus entah ngomong ama siapa. Yak lo yang di rumah, aku rasa memang kayak bayangan seorang cewe. Cuman aku ga bisa lihat dengan jelas.”

Gue : “… asemm…. Jadi kita uda ganggu mereka?”

Aldi : “Ya bisa dibilang begitu. Gua jg bingung entah kenapa bisa gitu. Mungkin ada perkataan kalian yang salah dari pertama kali datang? Gua berusaha jaga perkataan gua, jadi mgkn gua ga disamperin.”

Mendengar pernyataan Aldi. Gue , Victor dan Danu jadi flashback dan mikir-mikir apa sih perkataan kami yang mungkin bisa menyinggung mereka.
Amelia dan Monica duduk diam dan tercengang mendengar penjelasan Aldi, sepertinya mereka mau bilang sesuatu, tapi masih memendamnya….

Part-15

SILATURAHMI PERTAMA

Gue, Victor dan Danu yang merenung setelah mendengar pernyataan Aldi, terus berusaha untuk berpikir positif. Ya selama kami belum melihat sosok yang sebenarnya, terus aja deh positive thinking.

Danu : (Agak pede dan cool) “Ah udah lah, jangan terlalu disikapi dengan serius. Selama kita ga liat yang macem-macem, enjoy aja lah. Anggap aja itu halusinasi.”

Victor : “Iya ga usah terlalu lebay. Nanti malah ga betah, terus mau pulang jg ga bisa.”

Gue : “Iyeee jangan lebay dan macam-macam. Tapi kalian berdua tuh yang nekat-nekatan. Ckckckck.” (Agak sinis)

Monica : (Agak segan) “Ehhh.. Gua mau ngomong sesuatu boleh gak? Tapi ya untuk kita ber 6 aja. Yang lain jangan dikasi tau deh, sepertinya mereka gak begitu terlibat kan ?!”

Amelia : (Agak penasaran) “Apaan tuh Mon?!”

Monica : “Kurasa Dony sih uda tau, ini tentang waktu di mobil saat kita menuju ke desa ini.”

Gue : (Terkejut, dan gue lgsg kepikiran pasti yg dibilang pak supir. Gue langsung menghampiri Monica, duduk ke sampingnya dan memberi kode ga usah ceritain)

Victor : (Narik n dorong badan gue) “Eh Don, biarin aja dia cerita. Napain sih ditutup-tutupin?!”

Gue : “Aduhhh lebih baik kalian ga usah denger deh. Bikin beban pikiran aja tuh. Gue klo bisa jg mau lupain. Makanya malas gue ceritain.”

Amelia : “Mon, cerita aja biar lu gak galau sendiri or kepikiran sendiri kan?”

Gue berusaha untuk mencegah Monica agar gak menceritakan kejadian itu, tapi sepertinya teman-teman lain pada memaksa dia untuk membuka mulut. Ah sudahlah, uda ga ada harapan, biarin aja mreka dengar, entar klo uda dengar baru tau rasa pikir gue.

Monica : “Sebenarnya pas awal kita mau datang, pas kalian semua tertidur, Pak supir ada ngobrol ama Dony, dia bilang dulu pernah ada rombongan juga yang datang ke desa ini untuk mengabdi.”

Danu : “Oh klo gt baguslah. Kita kan bisa minta nomor kontak mereka ke Pak Kades untuk Tanya-tanya program desa ini, terus saran dari mereka?!”

Monica : (Menghela nafas) “Nah itu ide yang bagus, tapi realitanya tidak seperti itu. Pak supir bilang, rombongan yang mengabdi itu ga ada yang berhasil pulang dari desa ini.”

Mendengar pernyataan Monica, Victor, Danu dan Aldi langsung menatap muka gue dengan penasaran seolah-olah untuk memastikan apakah yang dibilang Monica itu benar atau tidak. Gue terdiam seribu bahasa, dan akhirnya hanya bisa membalas dengan anggukan.

Victor : “Gila !!! Masa ia sih rombongan itu ga ada yang berhasil pulang? Dengan kata lain mereka gak selamat gtu ?!

Gue : “Ya itu yang dibilang pak Supir. Gak ada yang selamat ! Makanya dari awal gue gak berani macam-macam.”

Amelia : (Raut muka menjadi semakin cemas) “Terus kalian dengar apalagi dari pak Supir ?!”

Gue : “Ya itu, rombongannya jg mahasiswa berjumlah 10 orang dan ga ada yang selamat.”

Kami semua menjadi terdiam dan semakin takut. Akhirnya ga hanya gue sendiri yang dilanda ketakutan dan kecemasan, sekarang sudah berenam yang mengetahui hal ini dan kami berusaha merasahasiakannya dari keempat cewe lainnya. Pikir aje, kami berempat cowo aja ketakutan, apalagi entar nambah 4 cewe lagi yang ketakutan. Bisa berabe nih.

Danu : “Udah deh gini aja, jangan kalian masukin ke hati. Besok kita Tanya pak Kades, nanti sore kita sosialisasi ama warga lagi deh. Okay?!”

Gue : “Okay. Tapi tolong rahasiain hal ini dari empat cewe yg di dapur itu ya?!”

Semua : “Sip.”

Sambil menunggu sore hari, Kami semua beristirahat sejenak di rumah, ada yang main game di hp. Baca novel, dll deh. Tak terasa, waktu berjalan dengan cepat, hari pun sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami mulai berdiskusi dan merencanakan kegiatan untuk bersosialisasi. Kami membagi menjadi 2 kelompok untuk mencar, karena kalo pergi barengan semua. Ini bakal sangat lama dan kurang efektif. Kelompok gue terdiri dari Gue, Victor, Monica, Amelia dan Nadya. Sisanya lagi bersama Danu dan Aldi. Hehehe, rencana ini sudah kami pikirkan matang-matang ya itung-itung bisa sklian pdkt deh ~ hehehe

Danu : “Ok, kita bagi jadi 2 kelompok ya. Kita sekedar bersilahturahmi, klo bisa jangan terlalu lama supaya ga mengganggu mereka. Nanti kalian jelasin ya klo kita sebenarnya ada 10 orang, cuman kita silahturahminya dibagi 2 biar enggak terlalu ramai dan mengganggu dan biar lebih cepat kenal semuanya. Ntar klo ada waktu, yg blum berkunjung bisa datang lagi, atau klo papas an di luar, bisa saling menyapa.”

Keluar dari pintu rumah kami langsung ketemu jalan setapak dari pasir dan tanah liat dan jalannya hanya ada ke kiri dan ke kanan. Selebihnya kebanyakan hamparan tanah kosong ditemani rumput dan pepohonan. Untuk mempermudah wilayah silahturahmi kami, Rombongan gue menuju arah kiri dan rombongan Danu menuju arah kanan yang ada rumah kosong itu.

Victor : “Okay, sekarang kita cari rumah terdekat ya. Ngomong” ntar kita mau bahas apa ya? Klo dipikir2 warga sini tatapannya selalu sinis kan ? Hahhaa” (Sambil berjalan di depan bareng Amelia dan Nadya)

Gue : “Bebas aja lah, kayak bertamu biasa, cuman agak sopan aja. Ya mungkin karena mereka lihat dari kejauhan, klo kita datengin mgkn bakal lebih ramah?”(Gue jalan di belakang bareng Monica)

Nadya : “Eh lihat tuh, di depan kita uda ad rumah tuh, Kayaknya yang tinggal di situ seorang nenek?”

Setelah berjalan lebih kurang 5 menit, akhirnya kami menemukan sebuah rumah kayu yang ukurannya tidak begitu besar, halamannya cukup luas dan ada kandang ayam di depannya sama pohon pisang. Rata-rata rumah orang di sini punya halaman yang luas sih yang biasanya digunakan untuk nanam tanaman. Dari jarak jauh sih gue uda melihat yang tinggal di sana sepertinya seorang nenek yg rambutnya uda lumayan putih sambil ngunyah sesuatu gitu, kayaknya daun sirih deh menurut gue. Nenek tsb duduk di depan pintu rumahnya.

Victor : (Dengan sopan dan sedikit membungkuk) “Permisi nek, lagi santai ? Boleh kami mengganggu sebentar?”

Gue : (Melemparkan senyuman manis kecil ke arah si nenek) “Kami dari rombongan mahasiswa yang mengabdi di desa ini, mau silahturahmi kemari. Kira-kira mengganggu gak Nek?”

Nenek ini menatap kami sambil mengunyah, kemudian dia berdiri dan kemudian masuk ke rumahnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, senyum pun enggak. Waduhhh, canggung banget rasanya. Saat nenek itu masuk ke dalam rumahnya, kami masih tegak di depan pintu rumahnya sambil melihat-lihat ke dalam rumahnya. Terlihat ruang tamu yang hanya beralaskan tikar dan ada meja kecil dan beberapa gantungan foto di dinding.

Kami terus melihat si nenek itu, sebenarnya dia mempersilahkan kami masuk apa gak sih? Kok ga ada senyum dan ga ada sepatah katapun yang diucapkan tau-tau dia uda masuk ke dalam rumahnya. Victor dan gue yang berdiri tegak di depan pintu juga menjadi kebingungan.
Setelah nenek tersebut masuk, beliau duduk di ruang tamu dan sambil menjulurkan tangannya ke sampingnya dan menepuk-nepuk ke tikar seakan pertanda menyuruh kami masuk dan duduk di dalam.

Victor : “Don, keknya nenek itu suruh kita masuk dan duduk ke dalam deh?!”

Gue : “Entahlah, coba lu masuk dikit.”

Victor : “Permisi nek, kami masuk ya?”

Mendengar ucapan Victor seperti itu, si nenek kembali menepuk tangannya ke tikar lagi dengan lebih keras. “Puk puk puk..”, ya inilah bunyi tepukan tangan si nenek ke tikar sembari ia menganggukkan kepala pertanda mengizinkan kami masuk.

Duh… Suasana silahturahminya kok canggung dan menegangkan banget sih. Sebenarnya kami ini mengganggu apa enggak sih?! Kok responnya jelek banget ya pikir gue dalam hati.

Part-16

TAMU

Kunjungan gue pertama kalinya ke rumah warga cukup memberikan kesan yang ga enak di hati gue. Ya mau gimana lagi, belum apa-apa uda ke rumah seorang nenek-nenek. Gak begitu ramah pula tuh. Dilemparkan senyuman, eh malah dibalas dengan keheningan. Ckckck. Gak tau deh nasib rombongan Danu dkk gimana. Yang jelas rombongan gue lagi menghadapi suasana ga enak banget.

Setelah si nenek terus menepuk-nepuk ke tikarnya di ruang tamu seakan menyuruh kami masuk dan duduk, akhirnya Victor memberanikan dirinya utk masuk ke dalam ruang tamunya terlebih dahulu baru gue beserta Monica, Amelia dan Nadya ngekor di belakangnya.

Kami berusaha duduk di dekat pintu masuk aja, tetapi si nenek terus menepuk-nepuk ke tikarnya seolah-olah memaksa kami duduk agak ke dalam dan deket dia. Ruang tamunya bisa di bilang cukup luas karena tidak banyak barang, namun kesannya sangat gelap alias remang-remang gitu. Hanya cahaya matahari dari luar yang masuk ke dalam menembus celah-celah dinding kayu dan jendela aja. Aneh sih kok bisa gak begitu terang, padahal di rumah kami, klo sore gini, pasti lumayan terang. Mungkin posisi jendelanya dan arah mataharinya kurang pas menurut gue.

Victor : (Membuka pembicaraan dengan sopan) “Sore Nek, Kami mahasiswa yang sedang mengabdi di desa ini.”

Monica : (Bisik ke gue) “Ko, kok nenek ini diem melulu ya?”
Gue : “Emm, gue kurang tau juga, mungkin karena dia lagi ngunyah sesuatu.”

Nenek : “Jadi kalian jumlahnya berapa orang?”

Victor : (Agak lega karena akhirnya si nenek mau ngomong) “Oh ia kami bersepuluh nek.”

Nenek : (Sembari menghitung dengan jarinya ke arah kami) “Satu, dua, tiga, empat, lima. Kenapa kalian Cuma berlima di sini?”

Gue : “Iya maaf Nek. Kami bagi 2 tempat Nek. Sebagian ke arah sebelah kiri dari rumah kami, sebagian lagi ke arah kanan.”

Nenek : “Hmm hmm. Jadi sudah berapa lama kalian di sini?”

Victor : “Baru sekitar 3 harian Nek. Belum sampai satu minggu.”

Nenek : “Oia itu yg cewe, bisa tolong ambilkan minum di dapur?” (Sambil nunjuk ke arah Monica dan Amelia)

Amelia : “Eh baik Nek. Dapurnya dimana?”

Nenek : “Lurus aja terus ke belakang, nanti belok kiri, hati-hati karena agak gelap ya.”

Amelia dan Monica hanya mengangguk membalas ucapan nenek dan langsung menuju ke belakang.

Gue : “Nek, warga di sini ga begitu banyak ya Nek? Kami jarang melihat warga di dekat daerah rumah kami.”

Nenek : (Terdiam dan hening sejenak) “Iya nak. Daerah rumah kalian tinggal memang agak terpelosok. Pemukiman warga agak ke depan. Jadi sejauh ini, kalian sudah ke berapa rumah warga?

Gue : “Belum ada Nek. Rumah nenek ini pertama kami kunjungin. Sebelumnya kami ke rumah Pak Kades.”

Setelah berbincang-bincang dengan nenek, Amelia dan Monica pun keluar dari dapur membawakan kami air putih. Dari perbincangan dengan nenek, kami mendapatkan informasi bahwa rumah kami ini ternyata memang ada di pelosok desa ini dan jarang ada warga yang mau menempatin daerah kami. Rumah yg kami tinggalin ini sebenarnya adalah rumah kosong yang sudah cukup lama ditinggalkan oleh warganya karena suatu hal (si nenek menolak untuk cerita lebih lanjut). Rumah yang ada disekitaran daerah rumah kami hanya ada 3 rumah yaitu rumah si nenek yang berjarak lebih kurang 5 menitan dari rumah kami, rumah kosong yg kami kunjungin kemarin dan katanya ada 1 rumah lagi di skitaran rumah kosong itu yang berarti akan dikunjungin oleh rombongan Danu.

Selanjutnya daerah rumah kami ini dipisahkan oleh sungai panjang dan dikelilingi bukit serta pepohonan yang cukup menjulang tinggi. Untuk sampai ke rumah pak Kades, kami membutuhkan waktu sekitar 30 menitan dan harus menyeberangi sungai ini. Ya klo dipikir-pikir setelah menyeberangi sungai barulah terlihat rumah warga yang lebih banyak daripada di daerah kami ini.

Tidak terasa berbincang dengan nenek menghabiskan waktu cukup lama dan waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kami meminta izin untuk pulang ke rumah kami.

Victor : “Nek, kami pamit dulu ya.” (Sembari membereskan gelas-gelas kami)

Nenek : “Yah kalian jangan nakal-nakal ya selama di sini. Sudah dapat pemberitahuan dari pak Kades kan?”

Gue : “Iya Nek.”

Kami pun permisi pulang ke rumah karena langit sudah mulai gelap. Silahturahmi utk warga sekitar rumah kami ternyata tidak begitu ribet. Toh Cuma ada 3 rumah dan 1 nya lagi rumah kosong, berarti tinggal nunggu informasi dari rombongan Danu aja.

Di perjalanan pulang, Monica sepertinya agak khawatir dan nanya dengan pelan ke gue,

Monica : “Ko, kata si nenek kita sudah dapat pesan dari Pak Kades, maksudnya yang jangan keluar malem itu ya?”

Gue : “Ya begitulah mungkin, toh jangan terlalu dimasukin ke hati, entar kepikiran loh.”

Victor : “Hahahaa santai aja. Gak akan kenapa-kenapa kok kalo kalian keluar. Ya intinya jangan macam-macam. Meskipun pesan pak Kades suruh jangan keluar rumah, klo kita ga macam-macam berarti kan gapapa?” (Dengan nada sok cool)

Amelia : “Iya sih, seharusnya begitu.”

Nadya : “Jangan nakal-nakal deh. Entar kalian kena ganggu baru tau rasa loh !”

Gue : “Ehhh sstt.. jangan ngomong yang enggak-enggak Nad.”

Nadya : (Sambil nyindir) “Tuh kan.. Baru di bilang gtu aja uda cemas, apalagi klo kalian macem-macem. Hahahaha…”

Di perjalanan pulang kami sembari main-main dan ngobrol-ngobrol terus lihat-lihat alam sekitar dulu deh, akhirnya ga terasa sudah maghrib, langit uda gelap dan waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, dari kejauhan kami uda melihat ke arah rumah kami.

Victor : “Eh Don ! Itu siapa ya kok keknya ada orang tegak di depan pintu rumah kita?! Apa rombongan Danu dkk tuh?” (Sambil nunjuk-nunjuk ke orang yang berdiri tegak di depan pintu rumah kami)

Gue : “Entah ya, dia cowo apa cewe sih? Gak jelas nih, kabur mata gue liatnya.” (Sambil ngucek-ngucek mata)

Monica : “Ko, Kayaknya orang tuh lagi ngetuk pintu rumah deh, tapi kok teman kita ga ada yang bukain ya?”

Amelia : “Kita susul aja yuk?”

Melihat adanya sosok seseorang di depan pintu rumah kami, kami pun mempercepat langkah kaki kami untuk segera sampai ke rumah dan menyapa orang tersebut. Dari jauh susah juga memastikan itu siapa. Yang jelas dia rambutnya agak panjang, pakai baju putih dan celana hitam. Terus kakinya gak pakai apa-apa. Emm bukan gak pakai apa-apa… Tapi kayaknya gue gak NAMPAK KAKINYA DEH !!!

 

Part-17

JALAN MALAM

Ya ampun.. Gue sempet shock melihat sesosok orang yang berdiri tegak di depan pintu rumah kami saat di perjalanan pulang. Entah itu cowo apa cewe, yg jelas gw ga nampak kakinya. Semakin kami mendekati ke arah rumah, sosok itu meninggalkan pintu depan rumah kami dan berputar ke arah belakang rumah kami. Wew… yang jelas dia seperti terbang.

Gue dkk lgsg berlari ke pintu rumah, Amel, Monica dan Nadya masuk ke rumah, sementara gue dan Victor langsung mengecek ke arah sosok tersebut berputar ke belakang rumah kami. Wahhhh… “Ga ada jejak kakinya nih!” ucap gue ke Victor.

Karena penasaran, kami mengikuti arah sosok tersebut ke belakang rumah, pintu rumah kami memang ada beberapa, ada pintu depan, pintu belakang dan pintu samping yang artinya dari sisi mana aja, kami bisa masuk ke rumah ini.

Kami tidak menemukan apapun yang mengganjal di belakang rumah, berhubung hari sudah mulai gelap, akhirnya kami masuk ke dalam rumah, mandi dan makan malam bareng, kemudian baru diskusi lagi.

Victor : “Dan, gimana hasil silahturahmi kalian ke arah kanan? Ada ketemu rumah penduduk?”

Danu : “Ada kok, kami lewatin rumah kosong itu skali lagi dan pastinya itu emg rumah kosong, terus kami ketemu rumah seorang bapak yang kira-kira mau masuk 50 dan anaknya yg sudah remaja usia 20 sepertinya.”

Gue : “Nah bagus tuh. Terus ada rumah lain lagi?”

Danu : “Gak ada, sehabis itu jalan buntu dipisahin oleh sungai. Trus lo ketemu rumah siape?”

Gue : “Kami ketemu rumah 1 doank, yg tinggal nenek yg ud mayan tua. Sendiri loh dia tinggal.”

Amelia : “Jadi artinya di sini Cuma ada 3 rumah yg dihuni ya, selebihnya di arah rumah pak Kades baru ramai.”

Gue : “Ah surem banget tempat kita. Uda sepi, rumah penduduk jarang. Banyak larangan lagi. Bosan Hahahaha…”

Danu : “Uppss, bosan Don?! Ayokkk nanti malam kita ke rumah kosong tuh lagi. Kita pastikan klo malam rumah itu berubah? MAOOOO ?!” (Dengan gaya nantang ke gue)

Gue lgsg liat ke arah Victor, Monica dan Amelia. Kalo Victor sih mukanya cool rasa-rasanya dia sih OKE. Monica dan Amelia tampak sedikit khawatir.

Amelia : “Kalian yakin malam ini mau kesana lagi?”

Danu : “Yoi. Daripada bosan kan. Kali ini kami Cuma lewat, ga masuk lagi. Lu gimana Aldi? Ikutan yuk. Ntar kalau ada apa-apa. Lu kasi tau kami aja. Kita bisa lgsg balik.”

Aldi : (Hening) “…. , ya kalo itu mau kalian, aku Cuma temenin aja klo gt.”

Danu : “OK FIXXX !!! Malam nih kita berangkat lagi. Sekarang jam berapa?”

Gue : “Masih jam 8.30 sih. Mati lampu setengah jam lagi. Vic lu mao ikut ?”

Victor : “Oh jelas… Ikut aja, tapi jangan masuk deh. Anggap aja cari angin. Toh malam jg gapapa kan?”

Gue : “Tapi bukannya pak Kades ama Nenek tu uda ada bilang klo jgn kluar malam?”

Danu : (Menyela) “Ah uda uda uda… Gak usah percaya begituan. Klo kemarin karena kita masuk ke rmh itu, mgkn kita ganggu. Kalo sekedar jalan-jalan. Berarti kita gak ganggu. Bener kan?”

Gue : “Iyeee logika sih gitu. Tapi kenyataannya ???”

Danu : “Udeee jangan byk mikir. Nanti halusinasi dan takut sendiri loe !”

Akhirnya keputusan pun di buat, nanti sekitar jam 10an malam, kami cowo ber 4 bakal berangkat jalan-jalan lagi. Tapi kali ini kami lebih hati-hati, enggak macem2 lagi, enggak masuk rumah kosong itu lagi meskipun ada godaan. Ya kali ini hanya jalan-jalan, bener deh hanya jalan-jalan.

Dalam pikiran gue sih masih kacau, meskipun uda ada larangan dari pak Kades, tapi rasa penasaran itu emg tinggi banget apalagi dihasut ama si Danu.

Monica : “Ko, gua ama Amel bole ikut jalan-jalan?!”

Gue : (Kaget) “Ehhh, gak salah lu malam-malam mau ikut jalan-jalan?!”

Victor : “Ya menurut gue sih ga perlu. Tapi klo beneran mau dan berani, ya ikut aja gapapa?!”

Amelia : “Jadi lu kira gue takut ?!”

Victor : “OH iaa donkk.. Cewe kan rata-rata penakut, paling nanti menjerit-jerit klo liat sesuatu ! Wkwkwkw” (Dengan nada menyindir)

Amelia : “Wah kurang asem lu !” (Sambil nyubit pipi Victor)

Gue : “Makan tuh Vic… Cewe emg suka menjerit, tapi mereka lebih sadis wkwkwkwk.”

Monica : “Jadi kami ikut ya Ko?” (Nepuk pundak gue)

Gue : “Eh..eh… Emm.. ya uda deh, tapi nanti jangan jauh-jauh dari kami ya?!”
Monica : (Angguk) “Okay ko. Gua ama Amel nanti bakal deket-deket koko deh klo gt hihihi..”

Aduhh… pikiran gue melayang nih. Serasa bakal jadi pahlawan deh ntar malem. Ada 2 cewe ikutan jalan, Victor sih bakal bahagia banget karena si Amel ikut, belum apa-apa aja dia uda ngerasain enaknya di cubit di pipi ama tangan cewe yang lembut nan sexy itu. Ah klo gue sih ga mikir macem-macem, yang penting bisa deket ama Monica aja uda enak banget. Ah pokoknya ga henti-hentinya gue mikir jalan bareng Monica yang punya rambut coklat panjang, kulit putih, mata mayan gede dan tentunya wanginya itu loh hahahhaha… Sayangnya si Feby ga ikut aja. Kasian si Danu jadinya…

 

Part-18

BERTEDUH LAGI

Tak terasa malam hari pun tiba. Akhirnya yang setuju utk jalan-jalan keluar adalah Gue, Victor, Danu, Aldi, Monica dan Amelia. Sebenarnya gue jg ragu untuk bawa cewek pergi jalan-jalan, tapi mau gimana lagi, mereka ini juga penasaran dan pengen tau. Tujuan kami ya kali ini untuk memastikan apakah rumah kosong itu ada atau enggak.

Victor : “Yuk kita siap-siap. Uda jam 9.30, bawa HP kalian buat penerangan ya. Soalnya mati lampu gelap banget. Cahaya rembulan doank kurang mempan.”

Danu : “Ok beres.”

Nadya : “Kalian ikutan juga Mon Mel ?” (Tanya dengan penuh kekhawatiran)

Amelia : “Iya kami Cuma ngikut liat-liat dan mastikan anak cowo ini ga macem-macem.”

Pintu rumah kami buka dan kamipun berangkat, hawa dingin dari luar terasa banget, angin malam yang berhembus sepoi-sepoi, bebas polusi udara karena daerah ini terpencil dan dikelilingi pepohonan atau bisa dibilang hutan yang rimbun, suara jangkrik dan serangga lainnya yang menemani perjalanan malam kami. Perlahan kami melangkah sambil bercanda tawa hingga kami sampai di bawah pohon beringin kemarin lagi.

Gue : “Vic, pegel lagi ndak punggung lu?” (Sambil mijat-mijat punggung Victor)

Victor : “Oh kagak donkkk hehehe.”

Danu : (Kaget dan nunjuk ke arah rumah kosong) “Eh lihat tuh. Bener kan ada rumah yang lampunya hidup ! Lihat tuh !”

Monica dan Amelia melihat dengan bingung dan penuh pertanyaan, tangan Amelia terlihat memegang tangan Victor, mungkin dia lagi ketakutan, sementara si Monica berdiri di samping gue kayak sedikit ketakutan gitu deh.

Amelia : “Itu yah rumah kemarin yang kalian maksud ?”

Victor : (Bisik pelan ke Amel) “Yup. Itu yang kemarin kami masuk. Oi Aldi, ada sesuatu yang aneh gak sampai saat ini ?!”

Aldi : (Geleng-geleng) “Belum ada bro. Entar kalo ada gue kasi tau.”

Fiuh ~ Mendengar pernyataan Aldi begitu, hati kami pun sedikit tenang, ya klo di inget malam kemarin kan ada penunggu yang duduk atau entah berdiri lah di pundak Victor. Kalau kali ini ga ada, ya bagus lah.

Saat kami sedang membahas tentang rumah yang terang itu, tiba tiba dari arah belakang kami muncul sesosok kakek tua yang sudah bungkuk, tapi hebatnya dia ga pegang tongkat, jalannya tergopoh-gopoh selangkah demi selangkah melewati kami.

Danu : (Kaget) “Astagaaa…. Datang darimana Kek?!”

Si kakek menatap ke mata Danu selama beberapa detik, kemudian berjalan lagi.

“Kek, kakek mau kemana malam-malam begini ?!” tanya Amelia

Dengan nada datar kakek menjawab “Sedangkan kalian jam segini keluar rumah untuk apa?!”

Kami terdiam mendengar pernyataan kakek tua ini, ya mungkin kami ga menghiraukan peringatan pak Kades sih.

Di saat-saat kami terdiam, kakek itu kembali bersuara dengan datar diikuti dengan ekspresi wajah yang sedikit berubah jadi suram “Kalian tau kan kalau jam segini kalian ga boleh keluar? Ini adalah jam kami !”

Gue tersontak kaget dan langsung menambahkan “Hahhh? Maksud nya jam kakek apa itu ? Karena mati lampu, makanya kami jalan-jalan keluar Kek.”

“Hmm ya sudah kalau memang kalian maunya begitu.” Si Kakek kemudian terus berjalan pergi ke arah hutan-hutan meninggalkan kami.

“Aldi, lu ada lihat si Kakek tua itu?” tanya Danu

Sambil mengangguk, Aldi menjawab “Ya ada. Dia suruh kita ga jalan-jalan keluar. Ya biar kita ga ganggu mereka.”

“Ah gak percaya begituan deh gua, kalo namanya makhluk halus, ga mungkin bisa komunikasi ama kita dengan wujud manusia deh.” Balas Danu.

Gue melihat ke Victor, “Lu percaya begituan ga Vic?!”

“Kagak begitu percaya, ya fifty-fifty deh.” Jawab Victor.

Monica yang sedikit takut akhirnya memegang tangan gue dan terkadang dia megang lengan baju gue, sedangkan Amelia daritadi terus mengikuti Victor dan sesekali memegang tangannya juga. Ya wajar aja, suasananya menakutkan gini, gue aja deg-deg-an apalagi cewe kan ?

Danu dan Aldi sepertinya sedang ngobrol berdua, sementara gue asik bercanda dengan Monica.

Gue : “Mon, klo gak nyaman, ya uda balik rumah aje, uda mau jam 11 loh. Mending kalian istirahat dan tidur.”

Monica : “Gak deh Ko, tanggung nih, uda sampai sini juga. Amel masih lanjut?”

Amelia : (Angguk) “Iya, gua lanjut aja, kalau ga beres, gua balik.”

Gue yang semakin khawatir karena rasa-rasa uda ga enak hanya bisa terdiam mendengar keinginan 2 cewe ini, gue liat ke Victor dan Victor cuman geleng-geleng seakan ga bisa menolak permintaan mereka juga.

Ga lama setelah Kakek tua itu berjalan masuk ke hutan dan akhirnya menghilang karena kami ga terus mandangin dia, tiba-tiba angin berhembus semakin kencang pertanda seakan mau ujan lagi.

“Balik yuk ! Nanti ujan nih.” Kata Monica.

“Jangannnnn !!! Justru kondisi mau hujan gini kita ada alasan untuk mampir ke rumah terang itu, bisa alasan neduh lagi.” Larang Danu.

Tes… Tes… suara tetesan air hujan sudah turun, dalam sekejap gerimis berubah menjadi semakin lebat, ga ada opsi lain lagi, kami semua berlari ke arah rumah terang itu untuk meminta izin berteduh hingga reda lagi.

Ah kacau dah dalam hati gue. Kemarin ga ketemu rumah bagus gini saat pagi/siang hari, kalau malam selalu ketemu. Dan ini pun kedua kalinya kami izin berteduh lagi, gak kepikiran deh ~

Part-19

BALIK

Tapp.. tapp.. tappp

suara langkah kami terus berlari menuju ke arah rumah terang itu. Hujan turun begitu derasnya seperti malam kemarin, namun cerita kali ini berbeda karena kami bersama 2 orang cewe anggota kami. Kalau kemarin semuanya cowo, gue masih agak tenang. Tapi kali ini kami bersama 2 cewe, rasa cemas dan khawatir tentunya menyelimuti gue dan Victor.

Danu : “Fiuhh… Capek juga lari nembus ujan gini. Kita teduh di teras aja dulu seperti kemarin, siapa tau cewe itu nongol lagi.”

Amelia : “Cewe? Ohh cewe cantik yang kalian maksud itu ya?”

Danu : (Senyum cengengesan) “Ho oh… Cakep dia kayak kalian berdua.”

Monica dan Amelia menjadi sedikit malu mendengar godaan Danu. Wah hebat juga ini Danu, masih bisa-bisanya dia tenang di suasana seperti ini. Klo kudengar-dengar sih Danu ini emg jago soal cewe. Dia tenang mah karena dia uda tau yang bakal cemas soal 2 cewe ini ya gue ama Victor.

Suara pintu rumah akhirnya terbuka dan membuat canda tawa kami terdiam.

“Loh kalian lagi ?” kata Diana si gadis cantik dengan senyuman kecilnya yang manis.

“Ehm.. Ehmm.. Iya non, maaf nih, kejadiannya kayak kemarin lagi, saat kami jalan-jalan malam, hujan turun dengan deras dan ga memungkinkan kami balik ke rumah dengan cepat.” Jelas Danu.

“Okay gak masalah kok. Kelihatannya ada tamu baru lagi yah?” tanya Diana.

“Ehh, iya maaf ganggu, saya Monica dan ini temanku Amelia.” Jawab Monica dengan sopan.

“Hihihihi, gak usah formal gitu kok. Anggap aja rumah sendiri yah, bentar ya aku ambilkan handuk yang ada dulu.” Sambung Diana

Monica dan Amelia duduk tepat bersampingan ama gua dan Victor. Sementara Danu seperti biasa duduk agak ke dalam, tapi kali ini Aldi ga duduk bersandar di luar lagi, dia sepertinya di paksa Danu utk duduk di sampingnya.

Karena gue merasa ga gt nyaman di rumah ini, akhirnya gue kembali ke posisi duduk gue seperti kemarin deket dengan pintu keluar, Monica juga ngikutin gue dan duduk samping gue sambil cerita-cerita. Gue sibuk merhatiin tingkah laku si Diana dan mantau kelakuan temen kami. Klo Victor saat ini gue rasa gak bakal macam-macam karena bareng Amelia.

“Ini handuknya Mas. Kok kalian suka jalan-jalan malam sih?” tanya Diana dengan lembut ke Danu

“Emm, ya biasa sih, karena mati lampu, rumah kami gelap dan bosan ga bisa tidur, akhirnya keluar loh.” Jawab Danu

“Gitu ya, lihat koko-koko di sana, sepertinya uda ada pasangannya, enak banget yah.” Sambil natap ke mata Danu dengan memelas dan menggoda. Gue akui sih cewe ini cantik dan sexy, gunung kembarnya juga montok apalagi sekarang dia makai tanktop putih lagi, duh menggoda banget, ini Danu gue rasa ga bakal tahan godaan cewe ini, apalagi parfum yang dia pakai menarik hati pria banget.

“Ya begitulah, mereka lagi dalam tahap PDKT tuh.” Jawab Danu

Ampun dah gue, ngelihat si Diana nempel-nempel ke Danu. Gue jadi ngiri banget, masih teringat gue rasa saat Diana deketin gue kemarin malam, enak banget.

“Don, uii ko Don ? Lihat apa sih ?” tanya Monica dengan nada sedikit menyindir.

“Iri yah lihat Danu deket-deket ama cewe cantik gitu ?” sambung Monica

“Ahhh enggak-enggak, gua cuman ngawasin dia biar gak macem-macem.” Jawab gue dengan grogi.

“Hihihi.. jangan diliatin terus donk. Kasian temen kita kayak dimata-matain. Ok?” jelas Monica

“Ah iya iya.. Sorry. Gak maksud gitu sih.” Jawab Gue

Wah malu bukan main nih gue, ketahuan banget gua iri lihat Diana yang begitu cantik nempel-nempel ke Danu. Ahhh kali ini si Diana lagi sandaran di bahunya Danu… Duhh iri banget. Tapi gapapa deh, hubungan gua ama si Monica uda makin deket, duduk dan cerita bareng dia uda asik.

Gue berusaha untuk tidak melihat ke arah Danu dan Diana, tapi yang jelas kuping gue ga boleh ilang fokus… Ya lirik-lirik dikit klo ga ketahuan is okay lah hehehe

“Mas Danu, mau nginep di sini kah malam ini?” tanya Diana sambilan menyandar di bahu Danu.

“Wahh pengennya sih gitu, tapi ga memungkinkan untuk nginep nih, nanti jadi bahan gosipan warga ga baik.” Jelas Danu.

“Warga?? Ga mgkn kok.” Jelas Diana dengan lembut dan seakan-akan menggoda utk mengajak Danu nginep.

“Lain waktu ya non. Pengen banget sih gue, tapi saat ini belum bisa nih.” Jawab Danu dengan sopan

“Gitu yah, klo gitu Diana ambilin minuman anget dulu ya di dapur?” sambung Diana

“Ok ok.” Jawab Danu

Melihat Diana sudah beranjak ke dapur, gue lirik ke arah Danu sambil senyum sinis dan nyindir dia, tapi dia balas dengan senyuman cengengesan sambil menaik-naikkan alis matanya seakan memberi kode bahwa dia berhasil menggoda cewe itu. Ya ini kode yang dimengerti sesama cowo lah, toh Monica dan Amelia yang ngeliat aja sepertinya bingung akan kode ini hehehehe

Aldi sepertinya sibuk main game di HP aja, toh dia ga begitu peduli ama Danu meskipun duduk sampingan ama Danu dan si Diana jg ga gt tertarik ama Aldi.

“Eh gue susul Diana ke dapur dulu ya, mana tau dia kesusahan buat bawain minuman anget utk kita ber 6?” kata Danu dengan suara kecil ke arah kami.

Kami Cuma mengangguk pertanda mengizinkan dia. Biarin deh si Danu mau ngapain, ga mungkin jg bisa macem-macem dalam sekejap di dapur. Ga terasa gue liat ke arah jam uda menunjukkan pukul 12 malam.

Kira-kira nunggu sekitar 5 menitan lebih, Danu keluar dari dapur dan terus berjalan ke arah luar rumah sambil bilang ke kami dengan nafas ngos-ngosan

BALIKKK !!! KITA BALIKKK !!!

Kami bingung karena masih dalam keadaan duduk santai-santai, sementara si Danu berjalan keluar pintu rumah dengan cepat.

BALIK SEKARANG ATAU AKU TINGGAL KALIAN !!!

Part-20

MAKSUD TERSELUBUNG

Danu yang berjalan keluar dari pintu rumah sambil mengajak kami untuk balik tentunya membuat kami semua heran. Perasaan dia mau temenin non Diana buatin minuman, eh ga sampai 5 menit uda ngos-ngosan jalan keluar dengan cepat. Ya niat kami sih pengen balik, tapi kami pikir ga sopan juga kalo main ninggalin rumah orang tanpa pamit.

Akhirnya gue kode ama Victor dan Aldi. Kami sepakat untuk balik aja semuanya sesuai omongan Danu. Bisa saja Danu mengalami sesuatu yang gak enak. Kami semua menembus ujan yang cukup lebat dan pulang ke rumah kami. Karena saking capeknya, sesampai di rumah kami ganti pakaian yang basah dan semuanya langsung masuk kamar dan tidur lelap.

Pagi hari pun tiba. Seusai sarapan, gue, Victor, Danu dan Aldi seperti biasa kumpul untuk jalan-jalan pagi sekitaran rumah. Ya cuacanya sejuk banget, ngomong aja sampai keluar asap gt, bisa dibayangin deh betapa dinginnya alam pedesaan ini.

“Lu kenape ngajakin pulang tiba-tiba kemarin malam Dan? Ga sopan banget loh !” tnya Gue

“Duh lupain aja tuh. Lu beneran pengen tau ?” jawab Danu

“Ya iya donk. Kami pergi bareng lu, tentu kami harus tau penyebabnya?” tambah Victor

“Di, Kemarin lu ngerasain sesuatu yang gak enak gak ?” tny Danu ke Aldi dengan tatapan serius

Aldi hanya terdiam seakan menyembunyikan sesuatu. Firasat gue sih uda ga enak kalau Aldi gak langsung jawab, ini pertanda yang ga baik nih.

“Aldi, kasi tau aja kami apa yang terjadi, biar Danu ga makin galau. Niatnya mau godain cewek cantik malah lari terbirit-birit wkwkwk.” Kata Victor dengan nada nyindir

“Broo… Seperti yang ku bilang kemarin, itu RUMAH KOSONG loh. Kalian selalu maksa untuk masuk. Setiap kali kita berteduh di depan teras rumahnya. Kalian semua selalu bertindak aneh !” jawab Aldi

“Aneh gimana Di ?!” tnya gue penasaran

“Susah jelasinnya, kalian semua uda kayak orang yang berhalusinasi bagi gue. Ngomong sendiri, ketawa sendiri, jalan-jalan sendiri, gerak-gerak sendiri.” Jawab Aldi

Kami semuanya terdiam dan hening sejenak. Wah apa kami kena hipnotis atau kena gangguan alam bawah sadar? Gak mungkin lah, toh kami semua sadar apa yang terjadi kemarin malam kok.

“Di, tapi gue sadar loh kejadian kemarin malam, terus gue jg masih inget sampai saat ini. Betul gak Vic , Dan ?!” tanya Gue

Victor dan Danu ngangguk-ngangguk memberikan jawaban setuju bahwa kami sadar keadaan kami kemarin.

“Ya benar kalian memang sadar. Tapi semua yang kalian lihat kemarin itu halusinasi. Di mata gue, itu rumah kosong yang ga ada apa-apa. Tapi kalian bertindak seakan ada seorang gadis yang lagi menyapa kalian. Betul gak? Gue ga bisa lihat dengan jelas kemarin.” Jawab Aldi

“KOK LU GAK PERINGATIN KAMI DI ? Kan gue uda kasi tau klo terjadi sesuatu yang aneh-aneh, kasi tau kami.” Tanya Danu dengan nada sedikit kesal

“Bukannya gua ga mau kasi tau lu Bro. Kalau gua kasi tau secara langsung, biasanya hal mistis tersebut bakal ga senang ama gua.” Jawab Aldi meyakinkan kami.

“Gua sebenarnya kemarin sudah ngetik di HP untuk peringatin u agar kita balik aja. Tapi lu gak hiraukan ketikan di HP gue, gue sodorin ke lu secara gak langsung biar lu baca, eh tapi lu nya terus-terusan buang muka ngehadap ke arah lain dan ngomong sendiri. Gue rasa sosok cewe yang lu maksud itu sadar akan keberadaan gue.” Jelas Aldi

“Hah? Lu ada ngarahin HP lu ke arah gue ya? Tapi gue ga perhatiin klo lu nyuruh baca sesuatu gitu.” Jawab Danu

“Ya jelas donk, uda gue bilang gue klo liat hal beginian hanya bole diam, klo gw peringatin secara langsung, hal mistis tersebut bakal gak senang ama gue. Terus lu kemarin ke dapur napain?” tanya Aldi

“Emm… Gueee.. Guee niatnya bantu nyiapin minuman sekaligus biar bisa deketin ama si non Diana yang cantik itu loh, sambil berduaan di belakang.” Jawab Danu dengan malu malu

“Dan lu lupa kalau pagi hari lu bilang rumah itu rumah kosong dan emg ga ada gadis cantik yang namanya Diana itu di sini?!” tanya Aldi

Mendengar pertanyaan Aldi, kami bertiga terdiam lagi. Dipikir-pikir bener juga yah. Kok selama gua masuk ke dalam rumah itu, gua ga teringat sama sekali tentang cerita rumah kosong dan gadis cantik ini ga ada. Gilaaa pikiran dan konsentrasi gua buyar sama sosok gadis yang cantik jelita dan berbadan sexy ini.

“Terus kenapa lu keluar dari dapur dengan buru-buru ?” tnya Aldi lagi ke Danu

“Diaaa.. Diaaa ngiris tangannya sendiri pakai pisau dan netesin darahnya ke setiap air minum yang dia buat !!!” jawab Danu dengan sedikit tertunduk.

“APAAA?!!! DARAH ??? NGIRIS TANGANNYA SENDIRI ?!! GAK SALAH LU ?!” balas gue dan Victor bersamaan

“Iya dan dia sadar ketika gue mulai masuk ke dapur dan deketin dia, dia langsung bilang ke gua dengan ekspresi wajah manisnya, ‘MINUM INI MAS SEKARANG’ !!!”jelas Danu

Astagaa… Ekspresi kami bertiga setelah mendengar penjelasan Danu menjadi cemas ga karuan.

Sepertinya Danu uda ngelihat sesuatu yang buruk deh. Ya harapan gue sih ga terjadi macam-macam lagi dan gue ga bakal mau ke rumah itu lagi deh. Rawan banget. Gak aman lagi.

Kami juga gak begitu tau sejarah desa ini dan alasan kenapa kami ga diperbolehkan keluar lewat jam 9 malam ketika listrik dipadamkan.
Kemudian rumah tempat tinggal kami di sini kenapa di wilayah terpencil. Hanya ada rumah seorang nenek tua, seorang bapak dan anaknya dan satu rumah kosong ini. Jarak antara rumah kami ini cukup jauh dan dipisahkan dengan hamparan jalan pasir dan tanah liat serta rerumputan. Pepohonan juga menjulang tinggi dan antara wilayah tempat tinggal kami dengan wilayah tempat tinggal pak desa dipisahkan oleh sungai yang lumayan besar yang dihubungin dengan jembatan kayu.

Benar-benar alam desa terpencil dan area rumah kami seperti wilayah terpencil di pedalaman hahahaha….

“Bro.. Kalian mau tau sesuatu yang ku dengar setelah Danu keluar dari dapur ?!” tanya Aldi dengan nada serius dan matanya menatap ke kami semua

“Apa itu Di ?!” tanya gue penasaran

“Guee dengarrr suara cewe dengan nada datar dan kesannya dingin banget, dia bilang ‘Satu kali aku biarkan, dua kali kita bersama’, dan diikuti suara ketawa HIHIHIHIHI, dan akhirnya kita keluar. Gue bener-bener merinding saat itu.” Jelas Aldi

Aldi yang bilang begitu aja uda buat gue merinding, apalagi kalo gue yang denger ya. Ampun deh. Btw, gue jadi penasaran maksud ucapan itu apa sih ?

“So, maksud ucapan itu apaan sih Di ?!” tanya Gue penasaran, Victor dan Danu juga keliatannya penasaran banget.

Penasaran ama maksudnya ?! Loe pikir aja sendiri apa maksudnya setelah semua yang kita lakuin !” balas Aldi dengan tegas.

Part-21

PERDEBATAN

Setelah mendengar penjelasan atas apa yang dilihat dan didengar oleh Aldi, kami mulai menjadi sedikit was-was alias cemas dan kepikiran. Ya sapa yang gak kepikiran dibilangin satu kali dibiarkan, dua kali kita bersama??? Gile ajaaa… Memang kami sudah 2 kali datang ke rumah itu, ya kalau untuk yang cewe sih baru 1 kali. Dengan kata lain gw harus mencegah Monica dan Amel untuk ke rumah itu lagi. Biar aja deh kami para cowo yang alamin, toh lebih mending daripada cewe kan ???

Semenjak kejadian malam tersebut, kami menjalani hari-hari kami dengan biasa, melakukan aktivitas dan berdiskusi. Kegiatan silahturahmi tetap kami jalankan ke rumah-rumah warga yang ada di seberang sungai, tidak ada yang begitu spesial. Sisa waktu kami habiskan untuk bersantai dan canda tawa di rumah. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, 1 minggu telah berlalu dan kini kami memasuki hari ke delapan, yapp tepat 1 minggu sudah kami berada di desa ini.

“Pagiiii semuaaa !!! Ga terasa yee uda 1 minggu kita di desa ini !” sapa gue sehabis bangun pagi ke semua teman-teman yang berkumpul di ruang tamu.

“Cepat juga bangun lu Ko?” jawab Monica dengan senyuman nyindir

“Ahhh iya juga ya… Ini baru jam 6 pagi. Biasalah kita kan ndak ada napa-napain tiap malam.” Jawab Gue

Yah semenjak kejadian malam itu, gue dan para cowo lainnya gak pernah lakuin macam-macam lagi. Kami jalanin hari dengan tenang dan biasa-biasa aja. Kapok sih sebenarnya mendengar penjelasan Aldi. Pokoknya kalau sudah mati lampu jam 9 malam, kami sudah siap-siap menuju kamar untuk istirahat. Kami memang tidak mendapat gangguan apapun sejak malam terakhir itu.

Dan akhirnya tepat sudah 1 minggu kami di desa ini, pada malam hari ke 8 ini. Sekitaran pukul 9 malam pas mati lampu.

“Dah masuk kamar lagi yah. Listrik dah padam.” Kata Victor

Kami semua masuk ke kamar kami, para cewe juga sudah masuk kamar dan bergegas tidur. Danu mulai membuka pembicaraan.

“Oi.. Lu masih kepikiran yang dibilang Aldi kemarin gak?” tanya Danu ke kami bertiga

“Jelas lah. Kalau lu tanya kepikiran, so pasti dah. Gue mau kabarin orang tua gue aja ga bisa. Apess banget bener-bener ga ada sinyal.” Jawab Gue

“Lu gimana Vic? Bahu lu masih ada pegel?” tanya Danu ke Victor

“Gak kok, Gue uda nyaman-nyaman aja. Cuman pas di bawah pohon beringin itu aja gue ngerasa pegel.” Jawab Victor dengan tenang

“Ohhh… kampret juga yah kejadian kemarin. Bikin kepikiran macem-macem aja. Lagian gua ga gitu percaya dengan apa yang gua lihat. Kalau Aldi bilang itu halusinasi, berarti semuanya GAK NYATA kan ?!” ucap Danu dengan sedikit kesal

“Jangan gitu Dan, napain cari masalah lagi. Ya biarpun itu halusinasi or enggak. Setidaknya jgn dipanjang lebarkan. Ribet ntar.” Jawab gue nenangin si Danu

“Di, Lu percaya halusinasi ? Tapi yang gue lihat itu seperti nyata loh. Tapi sebenarnya di asli, itu ga ada kan?!” tanya Danu ke Aldi untuk meyakinkan

“Gue ga bisa kasi jawaban pasti bro. Di asli memang tak ada, tapi namanya seseorang kena halusinasi, apa yang ga ada bisa menjadi ada. Ya semacam peringatan lah.” Jelas Aldi

“Terus yang lu bilang ucapan dia, dua kali kita bersama itu apaan maksudnya?” tanya Danu penasaran

“Gue kan uda nyuruh lu pikir sendiri. Jangan tanya gue deh hal beginian, gue ga suka banget ikut campur masalah begini.” Jawab Aldi agak sinis seolah-olah dia ga mau ikut campur hal beginian.

“Ya mau gimana lagi. Gue penasaran nih Di. Emangnya lu ga penasaran Don, Vic ?!” tanya Danu. “Kalau Aldi bilang itu halusinasi, berarti sebenarnya itu di asli gak ada. Sesuatu yang tak ada di asli itu berarti tidak akan berbahaya dan tidak akan kenapa-kenapa kan?” tanya Danu lagi.

“Gue juga ga nyangka gue bisa kena halusinasi, seumur hidup kagak pernah bro!” jawab Victor

“Loe pikir gue pernah kena halusinasi Vic?! Gue jg ga pernah. Memang agak ga percaya kalo dibilang halusinasi sih.” Jawab Gue

Mendengar perdebatan kami. Aldi tetap memilih diam. Selama dia tidak ditanya, dia tidak menjelaskan apa-apa. Dia Cuma memperingatkan kami untuk jaga perilaku dan ga macam-macam aja. Dari cerita Aldi, gue rasa dia memang punya bakat untuk melihat yang beginian, tapi dia selalu memilih diam dengan alasan kalau dia ikut campur terlalu jauh, biasanya hal mistis begini akan tidak senang.

Aldi jg jelasin ke kami kalau kami gak ganggu, hal-hal mistis biasanya juga gak akan ganggu. Kalaupun sesekali terlihat, itu artinya seseorang lagi sial alias imannya lagi jelek atau lagi punya niat buruk dll.

Makanya orang tua selalu bilang, kalau ngelihat sesuatu yang aneh dan di luar logika, cuekin aja dan ga usah dibawa penasaran. Lebih baik CUEK dan PURA PURA GA PEDULI daripada PEDULI dan LU KEPIKIRAN. Benerrrr Gak ???!

Malam itu kami terus berdebat tentang rasa penasaran akan halusinasi tersebut. Perdebatan kami ga selesai sampai akhirnya DANU TERDIAM TANPA SEBAB !!!

Part-22

HALUSINASI I

Kami berempat sibuk berdebat tentang masalah halusinasi yang menimpa kami bertiga sambil tidur terlentang berjejer seperti ikan asin. Aldi tetap diam dan hanya mendengarkan pembicaraan kami, namun suasana perdebatan kami tiba-tiba terhenti karena Danu terdiam dan tidak bersuara.

“Dannn…..”

“Dannn… Oe Dann…. Kenapa lu ?” tanya Gue yang heran ngelihat Danu tidur terlentang, kepala menghadap ke langit-langit dan mata melotot seakan lagi melihat sesuatu, or menyimak sesuatu or mendengarkan sesuatu gitu deh, ga ngerti gue pokoknya.

“Dan, jangan bercanda deh, uda malem gini.” Sambung Victor

Gue ngelihat ke Aldi, barangkali dia sadar akan sesuatu, namun Aldi hanya menggeleng-geleng seakan memberitahu bahwa dia tidak mengalami hal-hal aneh.

“Don, Vic, Aldi…. Kalian ada ngerasain sesuatu gak ?” tanya Danu dengan nada pelan dan mata terus ngelihat ke atas. Oia kamar kami ada jendela kecil yang terbuka alias ga ada penutupnya, hanya ditutupin oleh kain yang ada lubang-lubang kecilnya biar angin bisa masuk dan cahaya rembulan bisa masuk ke dalam kamar, makanya gue bisa lihat posisi kepala Danu.

“Gue ga ngerasain apa-apa sih, Cuma hembusan angin malam seperti biasa, sejuk dan dingin.” Jawab Gue. (Angin malam di sini dingin banget deh, gue tidur aja pakai sarung, sejuk banget pastinya, adem lagi)

“Gue juga kagak ada ngerasa apa-apa tuh. Malah gue denger suara jangkrik hahaha.” Tambah Victor sambil memecah suasana tegang

“Gak… ini beda… Gue ngerasain hawa dinginnya beda, tubuhku merasakan dingin seperti kita kehujanan.” Jelas Danu sambil terus melotot ke atas dalam posisi tidur terlentang. Ga ada pergerakan sama sekali di badan Danu.

“Dingin emang dingin, tapi gak sedingin pas kita kehujanan lah, itu gue sampai menggigil.” Jawab Gue dengan santai

“Kalian ada dengar suara nyanyian sayup-sayup ???” tanya Danu dengan nada datar….

“Gak ada bro, uda gue bilang suara jangkrik doank.” Jawab Victor agak bingung

(Dengan nada datar dan terpatah-patah) Danu tiba-tiba bernyanyi sendiri, masih dalam posisi tidur terlentang kepala menghadap ke langit-langit dan tak bergerak, mulut komat kamit “Kemariiiii……. Kemariiiii…… Kemariiiiii…. Bersamaaaakuuuuuu ~ “

“Woi Dan !!! Apa-apaan sih lu ???!!! Malam-malam begini nyanyi beginian, pakai nada datar dan terpatah-patah, bikin suasana gak enak aja !” tegas Gue agak kesel

“Udah jangan byk bercanda Dan. Gue tau lu penasaran ama hal itu. Tapi gak usah pakai nakut-nakutin deh.” Tambah Victor

Aldi hanya terdiam dan gak ikut campur, dia terus memperhatikan Danu, meskipun gua tanya ke Aldi apa yang terjadi, dia sepertinya juga ga bisa menjawabnya.

Sesudah Danu menyanyikan sepenggal kalimat itu, dia langsung berdiri tegak dari tidurnya. Tatapan matanya terus melihat ke depan. Gue, Victor dan Danu masih berbaring dan hanya melihat Danu sambil bertanya-tanya

“Lu mau napain Dan ?” tanya Gue

“Gue merasa ada yang manggil gue, nyanyian tadi adalah nyanyiannya yang ingin kuperdengarkan buat kalian.” Jelas Danu dengan nada datar

Gue heran, Danu memang lumayan nakal, tapi ga mungkin dia mau usilin kami di saat-saat begini, apa jangan-jangan dia lagi halusinasi lagi yah?

Danu tegak dan kemudian berjalan keluar dari kamar kami. Gerak geriknya agak aneh. Jalannya terpatah-patah selangkah demi selangkah, tatapannya terus melihat ke depan dan gak menoleh ke arah lain. Dia masih tetap bisa berkomunikasi dengan kami. Mungkin seperti ini juga tingkah laku kami saat berhalusinasi yang dilihat oleh Aldi.

Danu terus berjalan keluar kamar dan sesampai di ruang tamu, dia membuka pintu depan rumah kami. Gue, Victor dan Aldi ngikutin Danu dari belakang, kami berusaha menyuruh Danu untuk berhenti dan stop bercandanya, tetapi sepertinya dia ga menghiraukan kami. Kalaupun dia bercanda, ini uda kelewat batas.

Suara berisik dari kamar kami akhirnya membangunkan para cewe di kamar kedua yang diisi oleh Monica, Amelia dan Nadya.

“Ko, kalian mau napain lagi malam-malam begini? Ini uda mau jam 12 malam loh?” tanya Monica agak pelan karena baru bangun dari tidurnya.

Duh cantik juga Monica baru bangun dari tidurnya ya, rambutnya yang terurai gak karuan dan mukanya yang mulus dengan mata yang sayup-sayup karena baru bangun tidur bikin gue jatuh hati banget.

“Gapapa sih, cuman si Danu lagi bertingkah aneh. Dia lagi sleep walking deh kurasa hahaha.” Jelas gue ke Monica dan cewe yang lain biar gak penasaran.

“Kalian gak temenin dia? Dia keluar rumah loh itu sendirian ?!” tanya Amelia

“Ini kami mau susul dia.” Jawab Victor dengan cool dan langsung keluar dari pintu rumah untuk susul Danu yang berjalan terus

“Ya uda, kalian balik tidur aja ya Mon, Mel, Nad. Biar kami aja yang susul ya.” Pesan gue ke para cewe.

“Gak Ko. Gua ikut yah. Gua ikut temenin yah? Bole kan?” tanya Monica

“Aduhhhh… Gimana ya… Ya uda deh, jangan nyasar ya hehe…” ucap gue agak nyindir

“Ah enak aja lu Ko, gua kan gak bocah lagi.” Balas Monica sambil nyubit tangan gue, sakit sih.. tapi sakitnya bikin seneng hehehee. “Yukk susul, entar kejauhan Danunya. Yuk Mel ikutan !” ucap Monica

Akhirnya Gue, Monica, Aldi dan Amelia barengan pergi nyusul Danu yang terus berjalan entah kemana. Victor uda duluan nyusulin Danu.

Keluar dari rumah, kami berjalan ke arah kanan, ini berarti arah jalan ke rumah kosong atau gak ke rumah bapak dan anaknya itu. Kami terus berjalan. Hanya suara langkah kaki kami dan suara jangkrik yang terdengar di heningnya malam. Alam sekitar kami semuanya begitu gelap, hanya ditemani cahaya rembulan. Ga ada lampu penerangan jalan apalagi lampu warga, pohon-pohon yang menjulang tinggi, angin malam yang berhembus, senyapnya lingkungan sekitar, memang benar-benar perjalanan malam yang seperti di game-game lah pokoknya.

Tappp… Tap… Tappp…..

Kami pun terhenti… Ya kami semua terhenti ketika Danu berdiri tepat menghadap ke arah rumah kosong itu. Rumah yang biasanya terang, kini telah kosong di mataku. Gue tanya ke Monica, Victor, Amelia, dan Aldi. Mereka semua juga bilang kali ini rumahnya kosong. Namun Danu sepertinya sedang berhalusinasi.

Danu terus berdiri tegak sekitar 5 menit menghadap ke arah rumah kosong itu. Kami hanya diam di belakang dia, belum ada satupun dari kami yang memanggil dia. Selagi Danu ga berbuat macam-macam, kami hanya ngikutin dia untuk mencari tahu lebih jelas.

Namun, akhirnya Danu mulai melangkah masuk ke arah rumah kosong itu. Victor yang berdiri tepat di belakang Danu langsung memegang pundak Danu dan menyuruhnya berhenti.

“Dan, uda Dan, berhenti. Itu rumah kosong. Balik lagi deh !” ucap Victor pelan ke Danu.

Danu tetap melangkah masuk ke rumah kosong itu sampai tepat di depan pintu rumah kosong tersebut.

“Stop Dan. Jangan masuk kesana !” tarik gue ke pundak Danu

Danu tiba-tiba terdiam dan menolehkan kepalanya ke arah gue, badannya tetap menghadap lurus ke pintu masuk. Dia berkata :

“AKU BERSAMANYA ! BUKAN DENGAN KALIAN ! PULANG ATAU IKUTLAH BERSAMAKU !”

Part-23

HALUSINASI II

Mendengar ucapan Danu, gue yang megang pundaknya langsung terdiam dan sedikit khawatir.

“Dan, maksud lu apa ?!” tanya Gue agak pelan

“Ohhh itu suara yang ku dengar dari dalam. Gue Cuma ucapin buat kalian dengar lagi.” Jelas Danu sambil menghadap ke arah rumah kosong itu lagi

Gue yang kaget denger perkataan Danu lagi-lagi terdiam ga bisa langsung jawab, gue liat ke belakang ke arah Victor sambil ngodein pakai alis mata kalau Danu sepertinya agak aneh. Victor akhirnya deketin gue dan turunin tangan gue dari pundak Danu.

“Dan, ya uda ayuk balik kalo ga ada apa-apa.” Kata Victor

Sebenarnya gue bingung sendiri. Danu ini sedang halusinasi dalam keadaan ga sadar apa lagi sadar yah ? Dia bilang dia nyampaikan suara yang dia dengar, tapi diajak balik dianya gak mau. Duhhh bingung dan cemas nih gue. Suasana malam itu begitu dingin, maklum aja uda tengah malam jam 12 lewat gtu.

Monica yang merasa agak takut menghampiri gue dan seperti biasa dia megang baju gue sedikit biar agak tenang. Sementara Victor, Amelia dan Aldi ada di belakang gue. Gue hanya diam dan sesekali bilang ke Danu untuk balik, tapi Danu masih berdiri tegak menghadap ke rumah kosong itu.

Tapp… Tappp… Tap….

Danu mulai melangkahkan kakinya ke pintu depan rumah kosong itu. Pintunya berada dalam kondisi terbuka karena pada waktu yang lalu kami sempat menobrak pintu ini. Dengan kata lain ga ada seorang pun yang datang ke rumah kosong ini.
“Dan !!! Balik Dan, napain lu mau masuk ke rumah itu lagi !” tegas Gue

Tapp… Tapp… Tap…

Danu terus melangkahkan kakinya dan kini ia tepat berada di depan pintu masuk rumah kosong itu. Dengan posisi badan menghadap ke dalam rumah, Danu menolehkan kepalanya ke belakang dengan pelan sambil berkata “Kemarilah kalian, bermainlah bersamaku !”

Gue langsung shock dan sedikit pucat, ya gue ga bisa bedain apakah ini Danu ngomong dalam kondisi sadar apa dia sedang kerasukan. Susah jelasinnya. Gue pribadi agak ga percaya ama orang yang kerasukan. Secara logika kenapa bisa sih kerasukan yah? Kalo Danu bilang dia dengar dan dia ucapin ya masih wajar sih. Gue kodein ke Victor dan yang lain untuk maju ke tempat gue.

“Vic, lu denger kan Danu bilang apa?” tanya Gue ke Victor

“Iye Don. Mau kita tarik paksa Danu utk balik aja?” jawab Victor sambil nanya lagi ke gue

“Gue agak ragu sih mau narik balik paksa. Kita manggil aja dia kayak ga begitu respon.” Jawab Gue

“Lu mau kita ngikut dia masuk ke dalam rumah ?!” tanya Victor agak cemas

Di sela-sela gue dan Victor berdebat, Danu pun akhirnya masuk ke dalam rumah, gue lihat si Danu duduk di ruang tamu rumah kosong tersebut sendirian. Aldi akhirnya mencoba untuk maju dan masuk ke dalam rumah kosong itu. Gue dan Victor hanya nungguin di luar bareng Monica dan Amelia.

Berselang 10 menit setelah Aldi masuk ke dalam dan ngajak Danu utk ngomong, Aldi pun keluar. Tampang Aldi agak khawatir dan dia hanya menggeleng-geleng.

“Maksud loe apa Di? Kok malah geleng-geleng ?!” tanya Gue

“Gw agak bingung nih. Si Danu ini gak kerasukan keknya, tapi dia lagi halusinasi. Gue ajakin dia balik, dia malah nyuruh gue pulang dluan.” Jelas Aldi

“Terus kita harus gimana? Nungguin dia di sini? Ini uda jam 12.30 loh. Kalau dia ga mau balik-balik cem mana?” tanya Victor

“Kita tunggu 15 menit lagi deh. Kalau si Danu masih duduk terus di ruang tamu, kita tarik aja dia bareng-bareng. Okay ?” jelas Aldi.

Gue, Victor, Aldi, Monica dan Amelia akhirnya tegak-tegak di luar sambilan nunggu si Danu apakah dia uda mau balik or gimana. Ya pokoknya kalau gak macem-macem, kami biarin aja dulu deh sementara, ngelawan orang yang lagi halusinasi itu agak ribet jelas Aldi. Karena apa yang dia lihat tentunya beda dengan yang kita lihat.

15 menit telah berlalu dan Danu masih duduk bengong di ruang tamu rumah kosong itu. Aldi akhirnya ngajak gue dan Victor untuk bareng-bareng narik Danu pulang. Kami bertiga para cowo masuk ke dalam rumah kosong tersebut, sedangkan Monica dan Amelia nunggu di luar.
Saat kami mau masuk, Danu berdiri tegak dan berjalan sendiri terus ke arah belakang rumah kosong itu, sepertinya arah dapur. Kami perlahan memasuki ruang tamu rumah kosong itu untuk mengikuti langkah Danu, namun tiba-tiba dari arah luar rumah gue mendengar suara….

HIKSSS HIKSSS HIKSSS HIII ….. HIIII…. HIIII…..

Loh, suara apa itu dalam hati gue? Setau gue di luar kan Cuma ada Monica dan Amelia. Tapi kenapa ada suara tangisan gitu ?

Part-24

TANGIS & TAWA

Gue yang kaget mendengar suara tangisan dan tawa dari arah luar langsung menolehkan pandangan gue ke arah rumah.

“Kenapa tuh ?!” tanya Gue sambil melihat ke Monica dan Amelia. Sementara Victor juga terhenti menunggu gua, Aldi terus mengikuti Danu ke arah dapur.

“Ko, Amel tiba-tiba nangis dan tertawa sendiri !” sambil merangkul Amel dan sepertinya Monica sedikit ketakutan sambil manggil ke arah gue. Ya ampun ini kenapa lagi sih si Amel, bikin gue makin cemas aja, urusan Danu aja belum kelar, ditambah Amel lagi yang bertingkah aneh. Gini deh malasnya klo cewe ikut campur urusan beginian.

“Ok coba biarkan si Amel duduk dulu.” Ucap Gue ke Monica sambil menghampiri Amelia dan menyuruh Amel duduk di batu yang agak gede.

Gue lihat Victor jadi galau, dia hanya tegak di ruang tamu sambilan memperhatikan Aldi yang masuk ke dapur ngejer Danu dan Victor jg khawatir akan kondisi Amel yang disukainya. Wah posisi yang galau banget nih, sesekali Victor menoleh ke dapur, sesekali dia melihat kami di luar.

“Mel, sadar Mel. Lu kenapa sih? Pulang aja deh ya !” ucap Gue ke Amel sambil ngelus-ngelus rambutnya dan mencoba menghentikan tangisannya. Monica yang agak cemas juga megangin pundak Amel sambil berdiri tepat di samping gue.

“Ko, Amel kenapa yah? Biasanya dia ga pernah begini.” Tanya Monica agak takut

“Emm gapapa Mon. Bentar lagi dia juga sadar.” Jawab Gue.

Bener-bener bingung gue. Ini Amelia kerasukan apa halusinasi sih? Danu yang halusinasi aja ga pakai nangis dan tertawa kecil gini. Gue bener bener merinding nih apalagi angin malam begitu dingin, jujurnya badan gue gemeteran juga sih, tapi gue mesti tahan karena gua sendiri cowo di luar dan ada Monica di samping gue. Ah mau nya Victor temenin gue urus Amel, tapi kasian juga Aldi masuk sendiri.

“Mel.. uda baikan Mel?” tanya gue ke Amelia yang sepertinya uda menutup matanya mau tertidur dan dia mulai tenang.

“Nih Mon, Amel uda mulai tenang. Dia uda mulai tertidur sambil ngelus kepala Amel, gue sodorkan bahu Amel yang bersandar di dada gue ke Monica. Lu jagain Amel bentar ya, gue temenin yang lain ngejer Danu.” Ucap gue ke Monica

Setelah menenangkan Amel, gue pun menuju ke dalam rumah kosong itu lagi, Gue kodein ke Victor kalo semua nya uda beres. Victor juga merasa lega. Akhirnya gue dan Victor mau nyusul Aldi lagi ke dapur.

Namun ketika kami mau masuk ke dapur, Monica teriak manggil-manggil kami lagi.

“Koooo… Kooo… Kooo Dony Ko Victor !” teriak Monica

Gue dan Victor kaget saat mendengar teriakan Monica, baru aja kami masuk ke dapur, uda ada teriakan dari Monica lagi. Gue lgsg menoleh keluar lagi.

“Kooo, Amel tiba-tiba nangis dan tertawa sambil berlari ke arah hutan!” jawab Monica sambil menunjuk ke arah pepohonan rimbun tempat Amelia berlari.

“Lu gak tahan dia Mon?!” tanya gue sambil berlari keluar dari rumah kosong itu. Victor juga nyusulin gue. “Aldi, gue tinggalin lu ya, lu jaga Danu bisa kan? Di luar Amelia lagi lari gak karuan ke hutan tuh!” teriak gue ke arah dapur.

“…..”

Ya ampun, Aldi ga menjawab teriakan gue, kemana sih Dia? Ini posisi benar-benar galau deh. Kalau suruh Victor susul Aldi, kayaknya ga memungkinkan kalau gua jaga 2 cewe sekaligus. Kalo Victor ikut gue, Aldi dan Danu gimana yah?
Ah daripada bingung, tergantung keputusan Victor aja deh.

“Vic, jadi gimana? Gue susul Amel, lu jaga Monica dan Aldi atau gimana?” tanya gue ke Victor

“Gue susul Amel lah. Gila lu mau sendirian masuk hutan? Masih mending Aldi ngejer Danu di rumah kosong ini aja. Toh mereka juga 2 cowo. Aldi kan juga pandai hal beginian. So don’t worry. Cepat kejer Amel sebelum hilang dia !” tegas Victor

“Okay ! Mon, lu tinggal di sini nungguin Aldi, atau mau pulang atau ikut kami nih?!” tanya Gue ke Monica.

Jujur kalau kalian diposisi gue pasti bingung banget nih buat ambil keputusan. Setiap keputusan yang diambil pasti ada risiko yang menunggu. Berdiam dan mikir terlalu lama, bisa-bisa kehilangan jejak Amel, biarin Monica nungguin di sini sendirian juga ga memungkinkan, Gue ngejer Amel sendirian ke hutan, nasib gue entar gimana?

Ya udahlah, akhirnya kami mutusin Monica ikut bareng gue, Victor temenin gue juga karena Amel terus berlari ke arah pepohonan yang rimbun, agak susah bagi gue klo ngejer sendiri apalagi kondisi Amel yang sedang nangis dan tertawa gak jelas.

Sebelum kami pergi mengejar Amel ke dalam pepohonan, gue teriak lagi ke dalam rumah.

“Aldi ! Kami susul Amel dulu yah. Hati-hati di dalam Di ! Nanti kami susul lagi, klo kelamaan, lu balik aja bareng Danu ke rumah. Ok ?!!” teriak gue ke dalam rumah kosong

Wahh.. Kalo di kota, teriakan gue begini pasti uda dimaki warga, cuman karena ini di desa terpencil yang alamnya begitu luas dan banyak pepohonan yang menjulang tinggi di sekitaran kami. Suara gue seakan-akan ga ada yang merespon sama sekali. Angin malam yang berhembus begitu dingin, cahaya rembulan yang remang-remang dan suara jangkrik yang menemani malam kami yang mencekam ini.

Ampun dah ! Gue galau banget. Victor dan Monica juga kelihatan cemas.

Kami terus berlari mengejar Amel yang masuk ke dalam semak-semak dan pepohonan yang rimbun. Seingat gue dulu pernah ada kakek-kakek yang jumpai kami di bawah pohon beringin kemudian menghilang sesaat ia berjalan ke arah hutan kan??? Lah kenapa Amelia berlari ke arah situ ?!!

Part-25

PENGEJARAN AMELIA

Amel yang terus berlari menuju ke arah hutan yang sepertinya itu adalah arah di mana kakek tua dulu yang pernah gue temui di bawah pohon beringin menghilang. Perasaan resah gelisah takut cemas dan ga karuan menyelimuti diri gue, tapi gak mungkin lah gue berhenti ninggalin teman dan menyerah. Dalam posisi begini memang jelas ga berdaya, tapi naluri untuk menolong teman jauh lebih tinggi dicampur dengan rasa penasaran tentang apa yg sebenarnya terjadi di desa ini.

Victor berlari lebih cepat dari gue karena gue mesti bareng Monica. Kami mulai memasuki pepohonan rimbun ini. Cahaya rembulan agak susah untuk tembus ke dalam pepohonan ini, gue terpaksa nyalain flash dari handphone gue, Victor jg demikian. Selama perjalanan kami terus meneriakin Amel utk berhenti, namun ga ada hasil.

“Mel, lu mau kemana Mel? Lu sadar gak sih lu sembarang jalan bisa kesasar ?!” teriak Gue ke arah Amel.

Meskipun gue teriakin, Amel tidak memberikan respon apapun, berbeda dengan Danu yang masih memberikan respon meskipun dengan nada datar. Amel hanya terus menangis dan tertawa hihihihihi.. Suaranya yang melengking di tengah kesunyian malam membuat bulu kuduk ku merinding.

Kami terus berjalan menelusuri semak-semak yang lumayan lebat di dalam pepohonan ini, wajar aja, daerah ini kan jarang dilewati warga. Sedangkan daerah rumah kami ini aja warga yang tinggal sdikit dan jarang dikunjungi warga, apalagi daerah pepohonan rimbun begini kan ?

Pengejaran berlangsung lebih kurang 30 menitan, dan gue lihat ke arah jam di handphone gue, ini uda menunjukkan pukul 1 pagi. Kalau pak kades tau kami keluyuran di jam yang dilarang untuk keluar rumah. Bisa gawat, tapi mau gimana lagi. Segala sesuatu yang terjadi malam ini, hanya boleh disimpan dalam hati kami ber enam.

Pengejaran akhirnya terhenti ketika kami melihat Amel berdiri terdiam menghadap ke suatu tempat. Gue dari kejauhan ga begitu nampak apa yg dilihat Amel karena terhalang oleh semak-semak yang cukup lebat dan tinggi. Victor yang berlari lebih cepat langsung menyusul Amel dan menggenggam tangannya.

“Mel, lu baik-baik aja ?” tanya Victor sambil menatap wajah Amel dengan penuh kegelisahan.

Gue yang berlari di belakang Victor hanya berdiri tegak agak jauh dari mereka. Ya itung-itung biarin aja deh Victor yang nunjukin kepahlawanannya di depan Amel. Gue temenin Monica aja.

“Ko, kita ga temani ko Victor dan Amel ?!” tanya Monica pelan ke Gue sambil menggenggam tangan gue. Wah gue ga sadar entah sejak kapan gue mulai menggenggam tangannya, entah gue yang genggam, apa dia duluan ya? Pokoknya sentuhan kulit tangannya begitu lembut membuat hatiku cenat cenut hehehe

“Gak usah lah Mon. Biarin aja Victor yang tenangin dia. Kita tunggu sini aja, toh juga ga begitu jauh, lagian kita juga bisa dengar apa yg mereka bicarakan. Kalau aneh-aneh nanti Victor jg manggil kita kesana.” Jelas Gue ke Monica

Gue hanya mandangin Victor yang sedang berbicara dengan Amelia, namun kelihatannya Amel masih belum sepenuhnya sadar. Badannya masih tergolong cukup kaku, tangis dan tawanya masih ia ekspresikan sekali-kali. Victor terus mandangin ke wajah Amel sambil berusaha menyadarkannya, namun ga berhasil. Sampai akhirnya Amel mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke depan ke arah pandangan matanya tertuju. Victor yang sebelumnya ga fokus dengan lingkungan sekitar, akhirnya menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Amel.

Wahhhhhh …. !!!” teriak Victor sedikit kaget. Dia langsung menghindar beberapa langkah dari tempat ia berdiri saat itu. Amel hanya tertawa kecil “HIHIHIHIHI” melihat Victor yang sedang kaget dan cemas.

“Vic, lu kenapa?” tanya Gue sambil mendekati Victor bareng Monica.

Don ! Awas langkah kakimu !” teriak Victor sambil menunjuk ke tanah

“Maksud loe apa? Lu baik-baik aja kan? Mel lu gimana?” tanya Gue sambil terus melangkah tepat ke depan Amel alias tempat Victor berdiri tadi.

“Don jangan berdiri di sana !” ucap Victor ke gue. Gue agak bingung ama ucapan Victor, memangnya gue berdiri di sini kenapa? Toh bawahnya juga tanah biasa? Gue arahin flash HP gue sekilas juga ga nampak apa-apa di kaki gue sampai akhirnya Monica juga bilang ke gue.

“Ko, geser ko, pokoknya geser, jangan berdiri di situ.” Ucap Monica ke gue agak pelan, sepertinya Monica uda sadar, cuman gue yang masih ga sadar karena gue lagi fokus ke Amel yang kepalanya tertunduk dan mengeluarkan suara tangis HUHUHUHU dan diikuti HIHIHIHI dari nada pelan sampai melengking.

Gue yang mencoba untuk berpindah dari posisi berdiri gue karena teguran Victor dan Monica, malah kesandung sesuatu dan membuat gue terjatuh dan terduduk ke tanah. Entah apa itu, kurasa tanah yang bergelombang atau ada batu yang bikin gue tersandung saat melangkah ke tempat lain.

“Aduhhh… Sialan, bikin celana gue kotor aje. Bantu gue donk Victor, sakit nih pantat.” Kata gue.

Victor bukannya langsung nolongin gue berdiri, dia malah nyinarin flash Handphonenya ke arah gue dan ke sekitar gue. Kemudian arah Flash handphone Victor terdiam menyinari ke satu arah.

“Don, lihat ke arah flash gue.” Ucap Victor dengan pelan.

“Hah ?” ucap Gue heran sambil menolehkan kepala gue ke arah cahaya handphone Victor.

ASTAGAAAA !!!! Lu kok ga bilang dari awal kalo ada ini !” ucap Gue langsung buru-buru tegak dan pindah dari tempat gue berdiri dan terjatuh tadi. Gila tempat apaan ini, gue masih shock dalam hati atas apa yang terjadi.

Amelia yang tadinya berdiri tegak tiba-tiba menuju ke arah tempat gue terjatuh tadi. Dia diam untuk beberapa menit kemudian berlutut dan tertunduk menghadap ke arah cahaya flash handphone Victor tadi.

Dalam posisi tertunduk, suara Amelia berubah menjadi agak berat dan berkata kepada gue dan Victor.

KALIAN MASUK TANPA DIUNDANG, PERMISI PUN TIDAK ! KALIAN AKAN BAYAR ATAS APA YANG KALIAN PERBUAT !” ucap Amelia dan diikuti suara tawa HIHIHIHI nya yang melengking…

Part-26

NGECEK LAGI

Amelia yang tiba-tiba mengucapkan suatu kalimat bahwa kami telah memasuki kawasan hutan ini tanpa permisi dengan suara berat tentunya sangat mengejutkan gue, Victor dan Monica. Yah memang bener dalam pengejaran Amelia tadi, gue ga ada permisi sama sekali pas menginjaki tanah di hutan ini.

Gue tanya ke Victor dengan nada pelan“Vic, lu emg ada permisi tadi sebelum masuk? Gue emg bener ga ada permisi sama sekali.”

Victor hanya menggelengkan kepala pertanda dia juga lupa permisi. Wah kacau dah. Amelia yang dalam posisi berlutut dengan kepala tertunduk tiba-tiba mulai hilang kesadaran dan hampir terjatuh. Untung aja Victor berada di dekat Amelia dan dia langsung menahan pundak dan kepala Amelia di dada nya biar gak jatuh ke tanah langsung.

“Don, Kayaknya kita uda bisa balik lagi. Amel kayaknya hilang kesadaran dikit, kita rangkul aja dia ke rumah.” Ucap Victor

“Ya uda. Mon, lu bantu Victor ngerangkul Amel ya biar ga kesusahan Victor jalannya. Btw tadi gue kesandung apaan ya? Gue cek lebih jelas lagi bentar.” Jawab gue

“Udahlah, lupain aja, ga usah cek-cek lagi. Bilang permisi aja.” Tegur Victor ke gue

“Ah tanggung Vic. Gue permisi sekalian lihat lebih jelas lagi. Gue ga bakal macam-macam seperti kalian kok. Tenang aja.” Balas Gue

“Buruan yah, gue ama Monica turun pelan-pelan. Lu cepetan ga usah lama-lama.” Ujar Victor

Sebenarnya waktu tadi gue terduduk ke tanah, gue uda sadar ini seperti ada kuburan, soalnya tanahnya ada menonjol dan bergelombang gitu. Tapi kok bisa ada kuburan sih di tengah-tengah hutan gini. Emangnya warga yang meninggal di desa ini di kubur di dalam hutan ? Wah angker banget klo misalnya bener. Gue kepengen tanya ke kepala desa tapi gak enak banget. Nanti pasti ditanya kalian tau darimana? Terus kok bisa nyasar sampai masuk ke hutan ?

Gue hanya jongkok-jongkok di sekitaran tempat gue terjatuh tadi sambil nyinarin flash Handphone. Kalo ini kuburan, berarti pasti ada nisannya, bisa jadi nisan dari kayu or apa gitu.

Gue cari cari mungkin ada sekitar mau 5 menit, tapi ga ketemu apa-apa. Cuman ada tanah yang bergelombang kayak nguburin sesuatu gitu aja sih. Dalam hati gue, “Ahh gara-gara tadi suasana mencekam sampai bikin gue kaget banget. Victor pasti juga gitu tuh. Tanah bergelombang menonjol aja sampai dikirain kuburan, nisannya aja ga ada sama sekali. Ga usah mikir terlalu macem-macem deh. Anggap aja ini tanah biasa yang ga datar.” Sambil nenangin diri gue klo tadi itu sebenarnya ga terjadi apa-apa.

“Woiii Don ! Lu ngapain lama-lama? Mau gue tinggal beneran?” teriak Victor yang uda mulai menjauh

“Iya-iya gue kesana” jawab Gue sambil tegak dan berlari kecil nyusulin mereka

Saat gue berlari kecil, tiba-tiba kayak ada kain putih terbang di sebelah kanan gue, ya jaraknya emg ga begitu deket, tapi kain tersebut terbang dengan cepat di sisi kanan gue. Gue langsung menoleh ke sisi kanan gue dan ke arah belakang, tapi ga nampak apa-apa sih. Ya bisa jadi ini Cuma imajinasi ga nyata deh karena biasanya kalo lagi kepikiran, cemas dan takut. Pasti hal-hal ga wajar gini bisa terjadi. Bulu kuduk gue ya merinding dikit, tapi ah udahlah ga usah dibahas panjang lebar, uda berlalu. Hehehe

Setelah keluar dari pepohonan yang rimbun, Amelia akhirnya mulai tersadar.

“Mel, uda sadar Mel ? Kita balik lagi yah?” ucap Victor

“Emm.. Gue kok agak pusing yah. Kenapa?” tanya Amel sambil lepasin pegangan Victor dan Monica dari pundaknya dan ia mulai jongkok.

“Oh gapapa Mel. Tadi kamu kayaknya pingsan dan kecapekan, jadi dirangkul mereka.” Jelas Gue berusaha untuk nyembunyiin sesuatu yang dia ga tau. Ya sepertinya klo orang yang lagi hilang kesadaran pasti ga tau apa yang terjadi kan ? Lebih baik dia ga tau deh. Daripada nanti jadi masalah baru.

“Iya Mel, tadi lu agak oleng aja hehe. Untung ada Victor di deket lu, jadi dia langsung nahan lu biar ga jatuh.” Jelas Monica ke Amel.

“Ehmm.. iya iya.. kebetulan tadi hahaha.” Balas Victor dengan malu-malu dan tetep stay cool

Kami pun balik menuju ke rumah kosong, klo ngeliat jam sih uda sekitaran jam 1.30 pagi. Sebenarnya badan gue uda agak pegel juga, biasanya mah uda ngantuk apalagi kena udara dingin gini, tapi di saat gini, pikiran lagi dagdigdug, ngantukpun hilang ckckck

“Diii.. Aldi… Dannn !” teriak Gue ke dalam rumah kosong

“Eh Vic, mana mereka? Kok ga ada jawaban ?” tanya Gue ke Victor

“Lah gue mana tau, kita kan bareng-bareng ngejer ke hutan tadi. Lu cek ke dalam lah sana!” jawab Victor sambil nyindir ke gue

“Ah taik lu. Enak aja gue, mending lu aja yang cek sana. Lu kan berani. Gue kan cufu” balas Gue

Monica ama Amel cuman senyum-senyum aja lihat perdebatan gue ama Victor.

Kami nungguin sekitar 10 menit tapi ga ada respon dari dalam rumah kosong itu.

“Ya udah Vic, kita balik aja ke rumah.” Ucap Gue

“Lahh lu balik ke rumah, klo misalnya mereka belum pulang, terus kita balik ke sini lagi ? 2 kali kerjaan lah, jauh juga jalan kaki dari rumah ke sini.” Jelas Victor

“Terus mau nya gimana? Kita ngecek berdua ke dalam? Ga mgkin kan.” Tanya Gue

“Gini aja. Kita SUIT aja yok ! Yang kalah ngecek ke dalam buat mastiin biar kita ga bolak balik. Tanggung banget kita uda sampai di sini. Yang menang nungguin di luar aja, jangan ninggalin. Fair kan ?” Jawab Victor sambil nantangin gue

“Ahhh… Emmm… “ gue agak bingung mau jawab gimana. Ini yang kalah sial banget nih rasa gue.
Gue liat ke arah Monica dan Amel, sepertinya mereka setuju nih kalo kami nge-suit, ga ada yang kasi saran lain. Ckckckck

“Ya udalah SUIT deh SUIT !” jawab Gue agak kesel dan pasrah ama kesepakatan ini.

Suram nih, yang kalah ngecek ke dalam jam segini, gelap-gelap sendirian ! Doain gue ga kalah suit deh ~ Fiuh ~

Part-27

GAK HOKI

Halahhhh ~ penentuan yang ngecek ke dalam rumah kosong ini mesti banget sih pakai suit. Uda tau gue paling males begituan. Tau kan kenapa ? Gumam gue dalam hati

Gue pun ngambil posisi kuda-kuda biar ketegangan hilang dan sedikit pede ~

Ciattt gunting batu kertas… Cussss…. Gue keluarin Kertas, Ehhh si Victor juga kertas

Gue keluarin Batu… Eh lagi-lagi Victor juga Batu

Akhirnya gue pakai strategi keluarin kertas lagi, eh sialnya Victor keluarin GUNTING !!!!

Ohhh suramnyaaaa.. Kalah suit di saat-saat genting begini.

“Hayo lu Don ! Sesuai janji, Lu masuk dan cek ke dalam yeee.. Gue tunggu di luar bareng Monica dan Amelia !” sindir Victor sambil senyum kecil ngeselin banget

“Eeeee… Ga bisa doo kita cek bareng-bareng aja ? Masa mesti sendiri neh ? Klo siang or sore hari that’s ok la. Ini di jam terlarang neh !” jawab gue

“Ohhh no no no pigi sanaaa !!” ucap Victor sambil dorong gue.

Sial… Gue dipaksa masuk ke dalam rumah kosong itu sendiri, mereka nunggunya jauh pula tuh, bukannya nunggu di depan pintu rumah kosong itu, parah ! Ah palingan mereka takut tuh, gumam gue dalam hati sambil nenangin pikiran gue. Gue pun melangkah masuk ke dalam rumah kosong itu.

“Koooo !!!” teriak seseorang dari belakang gue. Gue pun langsung noleh ke belakang

“Ehhh Mon ! Lu bikin gue kaget aja pakai acara manggil tiba-tiba.” Jawab gue

“Kan gapapa Ko? Daripada lu masuk sendiri ke rumah kosong ini. Mending gue temenin kan?” jelas Monica sambil memegang pundak gue

“Emmm… iya sih. Si Victor biarin u masuk? Bukannya tadi dia suruh gue masuk sendiri?” tanya Gue ke Monica. Sebenarnya enak sih ditemenin cewe masuk ke tempat serem-serem gini. Mana tau entar cewenya ketakutan trus gue di peluk kan ? Bayangan yang selalu timbul di benak para lelaki nih hehehe

“Iya ko. Gue susul lu langsung, biarin aja dah mereka.” Jelas Monica

Ya udahlah pikir gue. Gue juga ga liat ke arah Victor lagi, pandangan gue sih tertuju ke Monica yang begitu cantik dan gemesin aja nih. Ditemenin cewe cantik tentunya enak banget lah.

Gue yang uda berada di ruang tamu rumah kosong itu sambil teriak-teriak.

“Aldii… Dannnnn ! Masih di dalam kalian ? Keluar donk. Kami uda sampai.” Teriak Gue. Dalam hati gue coba aja ada sinyal Handphone, napain ribet-ribet gini. Klo di kota mah tinggal by phone uda beres. Mana ada cerita kehilangan orang

“Ko… Gak cek ke dapur nya ?” tanya Monica sambil genggam tangan gue

Wihhhh sudah genggaman tangan nih… Biasanya cuman pegang pundak aje. Hati gue jadi dag dig dug. Entah cemas entah takut entah senang. Bercampur jadi satu.

“Emmm coba tunggu di sini dulu deh. Klo mereka ga ada respon baru kita cek ke dapur.” Jawab Gue ke Monica dengan tenang.

Gue bukannya ga mau cek ke dapur langsung, tapi mengingat cerita Danu yang bilang ada sosok gadis yang ngiris tangannya hingga keluar darah, kemudian waktu kami terkunci di rumah kosong ini terdengar suara benda jatuh dari arah belakang. Di saat-saat mencekam begini, pikiran pasti melayang entah kemana-mana deh. Apalagi ini masih di jam terlarang jam 1.30an.
“Dan.. Aldi… Kalian masih di sini apa udah balik? Jawab donk oeee!” teriak Gue sekali lagi. Duhhh.. suram… Klo ga ada jawaban, mesti banget gue cek ke dapur ye ? Kalo ga di cek, tanggung pula klo misalnya terjadi apa-apa kan ?

“Ko, ayuk kita cek ke dapur !” ucap Monica

“Oh iya iya.. Yuk kita cek ke dapur.” Jawab Gue. Duh si Monica ini daritadi maksa gue ke dapur. Gue jadi harus nunjukin sosok cool gue deh dan berusaha tenang. Padahal klo dalam hati gue, pas cek sendiri, palingan klo ga ada jawaban, gue lirik ke dapur bntr trus balik aja. Klo bareng Monica, terpaksa cek lebih dalam. Ini Monica kok ga ada takutnya sih, malah penasaran n ngajak gue cek melulu.

Gue pun melangkahkan kaki gue dengan pelan-pelan dari ruang tamu ke arah dapur. Rumah kosong ini cukup berantakan dan kotor, puing-puing kayu dan batu masih betebaran, ada beberapa barang rumah ini yang sepertinya uda gosong akibat terbakar seperti bingkai foto, kayak ada kursi kayu kecil dll.

Akhirnya gue sampai di dapur. Ruangannya lebih gelap dari yang gue perkirakan. Ya wajar, uda malam hari terus ga ada jendelanya. Hadehhh. Gue berusaha untuk tenang dulu sambil hidupin lampu flash HP gue. Tanpa cahaya, ngelihatnya gelap banget. Klo di ruang tamu masih mending cahaya rembulan tembus dikit.

“Ko… ga usah hidupin flash HP deh. Kita cek biasa aja langsung lebih enak kan?” ucap Monica sambil menggenggam tangan gue dengan erat dan nempelin badannya ke gue.

“Ehh.. susah nih, gue ga pernah ke dapur rumah ini, ga tau letak-letak barangnya, entar ada benda tajam or kita nabrak sesuatu kan ga lucu pula.” Jelas Gue. Ini Monica bikin pikiran gue buyar. Jarang-jarang banget dia nempel ke gue sedekat ini, apa karena kami Cuma berdua ya ? Jadinya ga ada yang lihat, dan dia gak malu-malu ? Hehehehe

“Yukk Ko… Jalan aja. Kita jalan pelan-pelan kan juga ga akan kesenggol apa-apa.” Jelas Monica ke gue dengan posisi kepala bersandar di pundak gue sambil menggenggam.

Duh wangi banget Monica ini, tangannya juga begitu lembut, pengen deh ku belai rambutnya yang terurai dan wangi ini. Tapi gimanapun juga gue ga nyaman nih jalan dalam kegelapan. Mau nyari Aldi ama Danu makin susah lah klo gelap-gelap, lagian ruang dapur ini luas or enggak, gue kan juga ga tau.

“Bentar Mon. Gue nyalain Flash Handphone dulu deh. Susah banget gue jalannya.” Ucap Gue sambil ngelepasin genggaman tangan Monica di tangan kiri gue. Soalnya HP gue dikantong celana sebelah kiri neh.

Namun Monica ga mau lepasin genggaman tangannya dari gue, Ia berkata “Ko.. Lu ga mau deket gue dalam keadaan begini? Gue tau jalannya kok. Ikut bareng gue aja yah?”

“HAAAAAHHHH?!!”

Part-28

SIAPA ITU YA?

Gue yang sedikit kesusahan untuk mengambil handphone gue dari kantung kiri gue terpaksa berjalan tanpa penerangan, hanya cahaya rembulan yang begitu remang yang bisa menembus masuk hingga ke ruang dapur. Kalo ruang tamu mah masih oke cahayanya lumayan terang.

Karena tadinya tangan gue terus digenggam ama Monica, akhirnya gue ga jadi masukin tangan gue ke saku lagi. Gue biarin tangan kiri gue lurus ke bawah seperti orang lagi berjalan. Gue terus berjalan pelan-pelan sambil meraba-raba. Karena hati gue ga begitu tenang, gue pun lepasin genggaman tangan Monica, biarin aja deh Monica pegang baju gue, soalnya gue mesti raba-raba biar ga ketabrak sesuatu.

Mungkin ada beberapa menit gue berjalan begitu pelan dan sambil meraba-raba, pokoknya ga enak banget deh. Akhirnya gue uda ga tahan, makin jalan ke dalam makin gelap. Makin susah. Gue pun langsung aja masukin tangan gue ke kantung untuk segera ambil dan nyalain flash HP.

Flash HP uda gue idupin, gue sinarin ke sekeliling gue, sepertinya hanya ruangan kosong penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Kayunya juga ada yang uda menghitam, lapuk, rusak, patah dan lain-lain. Ada kayak kursi kayu dan beberapa perangkat yg terbuat dari kayu yg susah gue jelasin, pokoknya peralatan dapur deh yang uda rusak. Setelah menyinari sekeliling gue, barulah gue tanya ke Monica.

“Mon, ga ada apa-apa nih. Uda sampai sini aja, ga mungkin mereka sampai belakang kali kan?” ucap Gue ke Monica. Sebenarnya masih ada pintu belakang lagi. Tapi pintunya juga sepertinya dalam kondisi tertutup. Ga mungkin lah mereka masuk sampai ke belakang kan.

“…”

“Eh Mon?” ucap Gue skali lagi sambil balik badan ke belakang.

Loh kemana nih Monica. Kok ga ada sih? Masa dia kabur duluan pikir gue. Lagian tadi pas gue lepasin genggaman tangannya, gue masih kerasa deh. Apa mungkin dia takut or dia liat sesuatu ampe kabur duluan? Tapi kok gak bilang-bilang yah..

Gue sedikit bingung. Untung aja di saat itu pikiran gue gak kaget dan kepikiran yang macem-macem. Gue matiin flash gue karena uda liat ga ada apa-apa di dalam. Gue pun berjalan balik ke ruang tamu.

Tiba-tiba di saat gue jalan ke ruang tamu, di arah belakang gue terdengar suara piring jatuh lagi.

PRANKKKKK !!!!

Duhh.. ini nih yang bikin gue dag dig dug dan cemas ga karuan. Ini kan suara kayak dulu kami ke rumah kosong ini. Ahh… dalam hati pengen banget gue idupin flash dan lihat ke belakang lagi. Penasaran sebenarnya ada apa. Tapi jangan deh, gue lanjutin langkah kaki gue pelan-pelan ke ruang tamu lagi.

PRANKKKK !!!!

Duhhh… lagi lagi suara piring jatuh dari arah dapur. Gue makin penasaran dan pikiran ga karuan. Antara takut dan penasaran bercampur aduk. Gue terdiam beberapa detik sambil nungguin masih ada suara piring jatuh lagi gak ya???

Uppss… sayangnya ga ada suara piring jatuh lagi karena sengaja gue tungguin. Rasa penasaran gue mengalahkan rasa cemas gue utk kabur. Ah udahlah pikir gue, sinarin dan ngecek ke belakang deh.

Gue hidupin flash HP gue lagi, gue sinarin ke seluruh ruangan dapur, rasanya ga ada apa-apa deh. Trus datang darimana suara ini ya. Dah lupain aja. Gue balik badan dan matiin flash HP untuk berjalan keluar dari rumah kosong ini.

Tap… Tap.. Tappp….

Gue melangkahkan kaki keluar dari rumah kosong ini. Saat gue melangkahkan kaki keluar dari rumah kosong ini, sepertinya ada udara dingin yang terhembus di belakang gue. Tiba-tiba aja bulu kuduk gue merinding sendiri. Gue sadar tapi gue ga begitu peduli. Udahlah palingan itu angin malam yg dingin aja.

Akhirnya gue berjalan terus sampai di luar rumah.

“Loh, Mon, cepet banget lu uda sampai di luar? Kabur nih ye ?” sindir gue ke Monica

“Hah? Apaan sih Ko, gua daritadi di sini loh. Nungguin lu loh ko di sini.” Jelas Monica dengan lembut.

“Em… yang bener aja lu?” tanya gue agak bingung.

“Beneran deh Don. Daritadi kami bertiga di sini loh.” Jelas Victor

“Whattt !!!”

Part-29

HARI YANG TENANG

Gue yang baru sampai di luar dan menemukan bahwa Monica tidak ada masuk ke dalam rumah kosong sama sekali tentunya membuat gue terkejut dan ngirain dia bercanda. Namun Victor juga membenarkan bahwa Monica di luar menemani Amelia.

Hmmm… Gue bingung, ga mungkin sih Victor dan Monica boong, tapi perasaan dari awal gue masuk ke rumah kosong ini, Monica uda mulai ikut deh.
Astagaaa, Monica mulai ikut pas gue menginjakkan kaki gue masuk ke dalam rumah kosong ini, terus gue juga ga ada liat ke arah luar lagi tempat Victor berada. Gue Cuma menoleh ke belakang dan lihat ke arah Monica datang doank.

“Kenapa lu Don? Kok malah pucat setelah masuk ke dalam? Ketemu sesuatu?” tanya Victor sambil cemeeh gue

“Berisik lu. Udah gapapa, balik aja deh. Besok-besok aja baru kita bahas.” Balas gue sambil jalan balik ke arah rumah kami

Berselang beberapa menit, kami tiba di rumah kami, kira-kira uda jam 2 subuh. Badan gue uda pegel banget, tapi sayangnya mata gue masih ga ngantuk. Maklum pikiran lagi melayang-layang gimana mau tidur cepat. Kami masuk ke rumah dan berpisah masuk ke kamar masing-masing. Monica dan Amelia lgsg menuju ke kamar mereka dan Gue ama Victor juga masuk ke kamar kami.

“Noh Vic, Aldi ama Danu uda terkapar tuh di kamar. Kurang kerjaan ajalah suruh gue masuk ngecek rumah kosong itu !” ucap gue agak kesel

“Hahaha… Lu pikir gue tau mereka uda sampai rumah? Ini kan prinsip berjaga-jaga biar gak 2 kali kerja. Terus lu kenapa di dalam tadi? Kok pucat?” tanya Victor

“Kan uda gue bilang. Tadi gue ditemenin ama Monica loh. Tapi lu bilang Monica ga ada temenin gue ! Serius lu?!” tanya Gue meyakinkan
“Lah iya serius. Lu kira gue orangnya bercandaan pas lagi genting-genting gini?” jelas Victor

“Ah udahlah. Mau dia Monica asli or jadi-jadian or halusinasi gue aja. Gak peduli ah. Yang penting enak berduaan tadi.” Jawab Gue sambil nenangin hati gue

“Lu enak gitu berduaan ama hantu?!” sindir Victor

“PA****, KI*** !!! Jangan ngingetin lagi lah !” jawab gue dengan kesel.

Sapa yang gak kesel coba. Gue lagi berusaha hilangin pikiran macam-macam, malah diingetin yang begituan. Kalo uda nyangkut n trauma di pikiran, bakal susah hilanginnya. Makanya gue selalu masukin hal-hal positif.

Nang ning nung ~

Hari telah berganti, pagi pun telah tiba. Kami sudah memasuki hari ke 9, berarti lebih kurang sudah berjalan 1 setengah minggu lah. Gara-gara si Victor ngingetin macam-macam, tidur gue jadi ga tenang, so pasti kepikiran terus klo gue ditemenin hantu or apalah itu.

Gue keluar dari kamar, si Victor mah masih ngorok di samping gue, maklum ini jam 7 pagi. Danu dan Aldi uda ga ada di kamar. Gue samperin mereka di ruang tamu.

“Eh Dan, gimana kabar lu kemarin? Kami kemarin ngecek lagi ke rumah kosong itu, tapi kalian uda ga ada.” Tanya gue ke Danu penasaran

“Ohhh selow lah brader… Ga ada masalah apa-apa. Enjoy aja.” Jawab Danu dengan santai

“Lu kerasukan apa kena halusinasi ato apa sih? Kok jalan-jalan sendiri?” tanya gue makin penasaran. Soalnya gue ga pernah ngalamin sih

“Emm, klo lu tanya soal itu, gue sebenarnya juga bingung jawabnya. Yang pasti gue denger suara. Terus gue ulangin aja suara yang gue denger itu ke kalian. Biar sama-sama dengar loh.” Jelas Danu

Ini anak kok santai banget ya dalam pikiran gue. Memang sih Danu ini sifatnya pemberani. Dari gayanya sih uda keliatan dia juga ga gitu percaya hal beginian dan orangnya juga penasaran. Ya moga-moga aja dia punya batasan gak macam-macam. Gue juga tipe orang penasaran hampir mirip dengan Victor. Cuman gue masih ada batasan karena takut terjadi macem-macem di daerah orang.

“Di. Lu kemarin bareng Danu kan? Ada sesuatu yang terjadi saat kami pergi?” tanya Gue ke Aldi buat mastiin lagi.

“Ga ada apa-apa Don, waktu kalian kejer Amel dan Danu terus masuk ke dapur. Gue temenin si Danu terus di belakang. Lagian lu main tinggalin gue sendirian ! Ckckck.” Jawab Aldi sambil ngeskak gue

“Eh eh sorry bro. Mau gimana lagi. Itu yang di luar tiba-tiba nangis. Gak mungkin dibiarin kan? Lagian lu cowo. That’s fine lahh hehehe.” Jawab Gue sambil bikin mood happy lagi.

“Udah. Masalah gue ga usah dipanjangin, kemarin abis sampai dapur gue balik lagi kok. Suaranya uda hilang jadi gue pun balik lagi.” Jelas Danu nenangin rasa penasaran gue

“Iya, tapi kok gerak gerik lu aneh banget malam itu bro?” tanya Gue lagi

“Kalo soal gerak gerik gue yang aneh. Gue mah ga tau. Anggap aja lah gerak gerik gue biasa.” Jelas Danu seolah dia ga peduli lagi apa yang terjadi kemarin.

Ya udah deh. Akhirnya masalah kemarin malam uda kelar dan ga ada yang kenapa-kenapa. Syukur sih. Masalah yang terjadi ini tetep kami rahasiain dari Pak Kades. Siang ini kami memang ada rencana ke rumah Pak Kades untuk bahas program kerja kami. Ya akhirnya kami mutusin akan melakukan beberapa kegiatan seperti penyuluhan kesehatan oleh teman kami Angela yang jurusan kedokteran. Terus ada yang ikut kerajinan ibu PKK (di desa ada nih, di kota gue ga tau). Danu dan Aldi lebih fokus ke komunikasi dengan warga, mereka yang bertugas untuk cari info tentang apa yang dibutuhkan warga di sini. Cewe lain ikut kegiatan PKK dan klo yang tugas piket kebanyakan beres-beres rumah.

Lahhh terus Gue dan Victor ngapain nih ??? Hayoooo tebak… Gue jurusan ekonomi dan Victor jurusan komputer…

Nahhh klo pagi sampai sore hari. Biasanya suasana aman damai tentram sentosa banget deh. Jarang banget terjadi masalah dalam beberapa hari ini klo di jam segini. Wajar yah, kata orang klo kita pagi, dunia lain itu malam, jadi mereka lagi tidur barangkali ya ? hehehe

Kalo uda malam, apalagi lewat jam 9. Gawat deh ! Termasuk malam di hari ke 9 ini ~

Part-30

KEBELET

Berhubungan pagi sampai sore hari aman-aman aja. Kami semua bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Gue dan Victor akhirnya cuman buka les privat aja, alias ngajarin anak-anak desa untuk bahasa inggris, matematika dan beberapa pelajaran yang ingin mereka ketahui. Gue ngajarnya sih bukan di rumah kami, melainkan kami disediakan satu rumah yang berukuran sederhana di deket tempat pak kades.

Awalnya gue sih bilangnya biar para anak datang ke rumah kami aja. Soalnya males banget gue harus jalan ke rumah pak Kades. Jauh banget. Tapi entah kenapa para orangtua desa menolak untuk membiarkan anak mereka datang ke rumah kami. Mau gimana lagi ah pasrah deh ~

Akhirnya malam pun datang…

Seperti biasanya kami makan bersama dan kumpul-kumpul di ruang tamu. Kadang sambil main kartu dll deh. Pokoknya kami ngabisin waktu sampai jam 9 malam deh. Jam mati lampu yang tentunya bikin kami harus masuk ke kamar kami untuk istirahat. Di sini tanpa pakai kipas aja uda dingin banget loh. Rumah dari kayu, byk pepohonan. Adem deh pokoknya.

“Don, lu masih kebayang yang kemarin malam katanya u barengan ama Monica di rumah kosong itu ?” tanya Victor buka pembicaraan. Sebenarnya gue agak kesel asal malam diajak cerita beginian, tapi mau gimana lagi. Inilah topik pembicaraan yang enak dibahas selama tinggal di sini hehehe

“Enak sih enak bro. Tapi sayangnya itu bukan Monica beneran. Kata lo Monica bareng lu kan?” jawab Gue

“Iye emg bareng gue kok. Amel ama Monica nungguin u di luar. Lagian yang bener aja lu, mana mungkin Monica berani masuk malam-malam gitu hanya utk nemenin u?” jawab Victor nyindir gue

“Ahhh berisik-berisik. Udah deh istirahat. Ga usah macem-macem lagi. Masih 81 hari ini kita di sini.” Jawab Gue. Gue emg selalu ngitung hari biar bisa pulang dan cepat-cepat bebas dari masalah ini. Meskipun gue ga begitu percaya hal beginian sih.

Di antara para cowo, kami bertiga ga ada yang begitu percaya hal beginian. Bisa dibilang Cuma Aldi yang lebih percaya ke hal beginian, ya mungkin karena dia bisa lihat hal-hal gaib ya. Kadang klo cerita ama Aldi, gue, Victor dan Danu kadang agak ragu. Maklum lah, kami ga pernah lihat, klo dibilang ada sosok begini begitu, sapa yang percaya kan ?

Kami akhirnya terus bercerita selama beberapa jam hingga akhirnya Danu buka pembicaraan.

“Oeee… Gue sakit perut neh. Temenin gue yuk ke belakang?!” ucap Danu ke kami

“Ah pergi sendiri lah Dan. Lu kan cowo. Masa sendiri aja takut !” jawab Gue nyindir Danu

“Ehhh bukan takut bro. Tapi kata pak Kades kan harus ditemenin, lagian bosan gue boker sendiri di belakang.” Ngeles Danu. “Lu yakin ga mau temenin gue? Entar suatu waktu lu kebelet, ga ada yg temenin loh?” ucap Danu menskak gue.

“Hmm.. hehe. Ya udalah. Yuk.” Jawab Gue. Ya itung-itung cari angin malam sih bagi gue.

“Eh gue ikut donk. Aldi ikutan gak?” tambah Victor.

Aldi hanya menggelengkan kepala. Sepertinya dia agak capek karena tadi seharian mereka berkomunikasi dengan warga. Lagian ini juga uda jam 11.30an malam. Si Danu kebeletnya di jam segini pula ckckck

Akhirnya hanya kami bertiga yang keluar ke belakang utk temenin Danu boker. Perlahan kami keluar dari kamar kami, lihat ke kamar cewe sepertinya semuanya uda tidur. Ga ada suara. Ya mungkin pada capek keknya, soalnya uda jalanin program kerja kami.

Kami keluar lewat pintu belakang yang dulu pernah terkunci sendiri tu. Berjalan agak beberapa menit, akhirnya kami sampai di toilet belakang. Letak toilet ini dikerumunin ama pepohonan gitu deh. Kalo gue temenin sendiri, bakal serem soalnya sekeliling gue hutan, ga ada rumah warga, suara serangga terdengar jelas, angin malam yang menusuk tulang bisa membuat bulu kuduk merinding. Cahaya rembulan yang redup cukup untuk membuat kami dapat melihat sekitar kami.

“Oe kalian jangan jahil ye. Gue pengen boker beneran.” Ucap Danu sambil masuk ke dalam toilet dan ngunci pintu toiletnya.

“Iye cepet aja. Napain kami iseng.” Jawab Gue

Sebenarnya gue sih emg ga ada niat ngisengin si Danu, tapi si Victor nih yang mulai mancing ke gue.

“Don, kita bikin suara aneh-aneh yuk?” ajak Victor ke gue

Ya namanya cowok, usilan gini pasti sering terjadi. Awalnya sih gue ga pengen, tapi mikir-mikir hal begini kan ga begitu ekstreem jahilinnya. Kalo jahilinnya masih wajar gue oke sih. Tapi kalo uda ekstreem. Gue ga pengen banget.

Untuk ngerjain Danu, kami muter ke arah belakang toiletnya (bertolak belakang ama pintu masuknya), otomatis kami harus masuk ke semak-semak di sekitaran toiletnya biar seolah-olah suara usilan kami datang dari arah berbeda. Kalo kami bikin suara dari arah pintu, tentunya ketahuan banget itu kami.

Victor mulai bikin suara seremnya

“Huuuuuuu……….” Dengan nada agak berat dari Victor

Kemudian gue terusin dengan suara sedikit melengking gaya cewek

“Hiiiiii Hiiiiii Hiiiiii…..”

“Don, Vic, ga usah bercanda deh. Gak lucu neh. Eek gue jadi kesangkut nih.” Ucap Danu dari dalam toilet.

Wakakakakak… Gue yang denger ucapan Danu jadi pengen ngakak. Gue liat ke Victor, dia juga senyum dan tutup mulutnya biar gak ketawa. Eek kesangkut alias keluar n masuk lagi wakwkawkak

Setelah tawa kami berhenti, Victor lanjutin bikin suara yang agak berat kek tadi lagi dan gue ngikutin dengan suara

“Hiiiii Hiiiiii Hiiiii…”

“HIIIIIII HIIIIII Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…….” Dengan nada lengkingan yang lebih tinggi lagi

Sehabis gue bikin suara lengkingan gitu, gue liat ke Victor, si Victor kok kayak nutup kupingnya yah, gue pun bisik ke Victor

“Lu napain pakai tutup kuping segala? Emang lengkingan gue tinggi kali ampe nyakitin telinga u?” tanya Gue

“Iye.. Melengking dan nyaring banget, bikin gue merinding aje !” jelas Victor

“Ahhh lu kan tau sendiri, suara gue rendah, melengking ga bisa tinggi banget.” Jawab Gue

“HIIII Hiiiiii hiiiiii……”

“Udah deh stop Don, jangan tinggi-tinggi amat melengkingnya, telinga gue berdenging jadi gak enak !” tegur Victor

“BUKAN GUE TAU !!!” jawab Gue yang juga dengerin suara itu

Part-31

BERTEMU LAGI

“Don, udah deh. Jangan melengking tinggi-tinggi amat. Bising juga nih.” Bisik Victor ke gue.

Gue yang juga mendengar suara lengkingan yang begitu tinggi juga uda bilang ke Victor kalo itu bukan suara gue. Mana mungkin suara cowo bisa sampai melengking setinggi itu, sangat jarang.

“Serius bukan lo Don?” tanya Victor sedikit khawatir dan lirik kiri kanannya

“Ya jelas bukan gue Vic!” jawab Gue meyakinkan

Karena suasana mulai ga enak, gue dan Victor pun kembali ke posisi awal kami nungguin Danu di depan pintu toilet. Niat kami untuk ngerjain Danu lebih lama jadi terhenti. Saat bersembunyi di semak-semak sekitaran toilet itu, malah mendengar suara aneh. Bikin ga tenang deh. Gue rasa uda ada sekitar 5 menitan si Danu di toilet, kok belum siap-siap ya.

“Oe Dan. Masih lama gak sih ?! Dingin juga nih lama-lama. Buruan donk, da mau jam 12 juga neh.” Teriak gue ke dalam toilet

“Iyooo bentar lah. Nyangkut dia neh.” Jawab Danu sambil mengejan.

Hahahaha.. Lucu bagi gue klo denger nyangkut nih, entah efek karena kami takutin tadi or karena apa. Gue ama Victor akhirnya gak jadi ngerjain Danu lagi. Kami hanya nongkrong di depan pintu sambil ngobrol-ngobrol.

“Gimana Don? Uda ketemu bunga desa di sini? Yang kira-kira cantik kek si Diana ?!” tanya Victor

“Ga ada ! Mana bisa fokus gue liatin yang begituan di sini.” Jawab Gue

“Ah elooo… Masa iya ga ada? Coba tanya Danu ama Aldi entar, mereka kan bagian hubungan dengan warga, biasanya bisa ketemu yang cantik-cantik kan? Hehehe. Kek Diana tuh. Aslinya cantik itu.” Ucap Victor menggoda gue

“Udah ah. Lu napain bahas-bahas Diana lagi. Jangan macem-macem.” Jawab Gue

“Lahh.. Gue kan Cuma bilang biar u bisa imajinasikan klo cewe yang cantik itu seperti fisiknya Diana. Gitu loh.” Jawab Victor dengan enjoy

Ga berselang beberapa lama, tiba-tiba kami melihat sosok ibu tua atau bisa dikatakan nenek tua yang berjalan agak bungkuk, tanpa menggunakan alas kaki apapun dan juga ga memegang tongkat. Dari kejauhan sih keliatannya rambut nenek ini uda putih semua.

“Eh Vic. Itu bukannya kayak nenek tua yang pertama kali kita lihat saat nemenin Monica dan Amel?” tanya Gue ke Victor

Victor pun berbalik badan ke belakang untuk melihat ke arah nenek tua itu.

“Emm.. Iya Don, itu nenek kemarin. Dia lagi berjalan kemari tuh. Kali ini kita cegat dan kita sapa yuk? Kalo kemarin kita kasi dia lewat dan senyum, tapi dia gak hiraukan kita loh?” ajak Victor

“Ah yang benar aja lo pakai cegat-cegat. Kasi dia jalan dan senyum biasa ajalah. Suka-suka dia mau balas senyum or gak. Ini kan tengah malam. Nanti dikirain kita macem-macem.” Jawab Gue membantah ajakan Victor

“Uda gapapa. Kita pura-pura tutup jalannya aja. Dia klo berjalan ke arah belakang sana kan harus lewati kita. Lagian jalan setapak ini kan Cuma satu, selebihnya semak-semak dikiri kanan. Gak mungkin dia muterin kita kan?” ajak Victor meyakinkan gue

“Ah suka lu deh.” Jawab Gue

Si nenek tua itu pun berjalan tergopoh-gopoh dengan perlahan. Satu demi satu langkah kakinya menapak ke jalan setapak yang terbuat dari semen biasa. Wajah nenek tua ini tidak begitu terlihat dengan jelas karena sebagian tertutup oleh rambutnya karena ia berjalan dengan posisi membungkuk dan sedikit menunduk.

Ketika si nenek tua sudah mulai mendekati kami….

“Brakkkk….!!!”

“Anjriiittt….!” Teriak Gue kaget dan melihat ke samping gue. Ah rupanya si Danu yang baru siap dari toilet, buka pintunya kasar amat sampai ngagetin gue. Sebenarnya keras kali sih enggak, tapi karena lagi hening, jadi kesan suaranya jadi gede.

“Ah lu bisa bikin gue jantungan aja Dan !” ucap Victor yang juga ikut kaget

“Lahhh lagian kalian pakai acara isengin gue bikin suara-suara aneh. Lu kira gue takut apa ?” tantang Danu

“Udah… Ga enak ribut sekarang. Tuh ada orang depan kita loh.” Jawab Gue

“Manaaaaaa???! Ada siape ??? Dari awal gue keluar juga ga nampak apa-apa.” Tanya Danu agak bingung

“Hehhhh??? Lohhh tadi ada nenek-nenek tua loh yang agak bungkuk-bungkuk jalannya. Kemana dia ya?” ucap Gue agak kebingungan

Gua yang kebingungan berusaha untuk melihat kiri kanan untuk menemukan ke arah mana nenek itu pergi. Rasanya Cuma ada jalan setapak ini deh. Ga mungkin banget nenek ini motong kami lewat semak-semak kan? Gue tanya ke Victor, Victor juga kaget, tadi dia juga lihat nenek itu dan sekarang hilang tiba-tiba.

“Ehhh itukan nenek nya Don?!” ucap Victor sambil nunjuk ke arah belakang gue.

“Lohhh iya loh itu neneknya. Rambutnya putih, jalan agak membungkuk dan begitu pelan dan tak pakai sandal. Uda pasti itu nenek tadi. Kok bisa sampai di belakang gue ya? Dia lewat mana donk?” jawab Gue agak heran

Kalo di ibaratkan, jalan setapak ini gak begitu besar, terus sekeliling kami ini semak-semak. Jalan setapak ini menghubungkan rumah kami ke toilet dan selanjutnya menuju ke hutan-hutan gitu. Jalan setapak yang ke arah hutan itu jarang banget kami lewatin karena ga pernah ada tujuan ke sana. Mentok-mentoknya ya kami sampai ke toilet ini doank. Trus si nenek ini tadi lewat mana kok bisa sampai ke arah hutan ya tanpa nyenggol or permisi dari kami ?

“Mana sih neneknya Don? Yang uda berjalan ke arah hutan itu ya? Uda mayan jauh juga loh. Yakin lu itu nenek-nenek yang jalannya pelan-pelan? Masa dalam sekejap uda sampai sejauh itu?” tanya Danu makin penasaran

“Ya jelas itu neneknya. Siapa lagi coba !” jawab Gue

“Yuk kita samperin. Tanyain nenek itu mau kemana?! Berani gak kalian?!’’ ajak Danu nantangin gue ama Victor

Gue sebenarnya agak malas dan gue lihatin ke arah jam di handphone gue, ini mah uda mau jam 12. Ahhh gak enak nih, moga-moga aja Victor nolak. Kalo Victor nolak, gue nolak juga, pasti beres. Kalo gue nolak, Victor mau ngikut, ah kacau pasti ujung-ujungnya ikut. Gue tatap ke mata Victor seakan memberi kode kalo lebih baik ga usah ngikutin nenek itu deh.

“YOK !!! Kita susul ! Gue juga penasaran ama nenek ini. Dulu gue pernah ketemu, uda gue kasi senyum, tapi nenek ini Cuma jalan aja. Kali ini kita sapa yuk ?!” jawab Victor

“Ahhhhhhhhhh !!!! Suram !!! Ini anak ga ngerti kode gue apa !!!” caci gue di dalam hati

“Ya uda fix ya ! Kita susul nenek itu, yuk bareng. Gak usah takut lah. Kita hafalin jalan setapak ini aja. Lu kira ini jalanan di kota yang bisa bikin lu tersesat banyak zigzag nya? Ini mah Cuma jalan setapak. Kalo ketemu persimpangan bikin bingung, kasi tanda aja. Gak bakal hilang lu ! Okay ?!” jawab Danu nenangin Gue yang keliatannya agak resah.

Mau dibilang takut banget sih enggak, tapi gue khawatir aja klo nanti berurusan lagi dengan hal-hal yang aneh. Kalo kesesat mungkin kecil sih kemungkinannya, soalnya ini kan jalan setapak doank. Gak bakal nyasar kalo ngikutin jalan ini, klo uda bingung tinggal balik. Yang gue khawatirkan ini ya masih omongan pak Kades tentang jangan keluar malam, tapi apa daya. Rasa penasaran mengalahkan Gue, Victor dan Danu.

Part-32

TERTABRAK

Gue, Victor dan Danu akhirnya sepakat utk mengikuti jejak langkah si nenek tua yang berjalan ke arah hutan melalui jalan setapak yang ada di dekat toilet kami tersebut. Suasana begitu gelap karena jam sudah menunjukkan pukul 12 dini hari dan sekeliling kami dikerumunin oleh pepohonan yang membuat cahaya rembulan sulit utk menembusnya. Kami ngikutin dengan pelan-pelan agar tidak mengagetkan si nenek tua tersebut.

Tap… Tapp… Tap…

Kami terus berlangkah mengejar nenek tersebut, entah kenapa kami ga bisa menyusul nenek itu.

“Vic, itu nenek jalannya cepet banget apa kita yang lambat ? Kok ga kesusul terus, rasanya dia kan jalan bungkuk-bungkuk dan tergopoh-gopoh gitu ?!” tanya Gue ke Victor

“Entahlah ! Buruan, nanti neneknya hilang !” jawab Victor sambil berlari (uda gak pakai jalan lagi, soalnya gak kesusul terus)

Tapp… Tappp… Tappp….

“hoshhh… hoshhh….” Nafas gue sesak. Gila mau nyusul nenek ini utk nyapa aja setengah mati.

“Eh Don, neneknya hilang tuh? Kemana lagi tuh?” tanya Danu sambil ngeliatin ke depan kami

“Kalian cari nenek ?!” tiba tiba kami mendengar suara yang begitu berat dari arah belakang kami. Secara spontan kami bertiga langsung balik badan dan lihat ke belakang.

“Lohhh itu kan si nenek tua yang ada di depan kita ?! Kok dia bisa di belakang kita tiba-tiba?!” ucap Gue agak kaget.

Nenek tua itu berjalan ke arah kami secara pelan-pelan.

Tappp.. Tappp… Tappp…

Yaaaa suara kaki nenek itu terdengar jelas di tengah kesunyian ini, kami bertiga berusaha menutup jalan nenek ini agar kami dapat menyapanya. Gue di sisi kiri, Victor di sisi kanan dan Danu di tengah-tengah jalan setapak itu.

“Buat apa kalian ngikutin nenek ? Bukankah jam segini kalian seharusnya di rumah ?” ucap nenek tua ini dengan suara yang berat dan agak gak jelas.

“Emm kami hanya mau nyapa nenek nih.” Jawab Danu dengan santai

“Nyapa ???” jawab nenek tua itu sambil senyum menyeringir gitu

Si nenek tua terus berjalan dengan perlahan-lahan ke arah kami, karena Danu yang berada di tengah jalan setapak itu, mau ga mau si nenek harus berhenti dan menunggu Danu utk geser baru ia bisa jalan.

Namunnn……

“Uhuuk-uhukkk.. Oekkkk !”

Astagaaaa !!! Si nenek berjalan terus menabrak dan menembus tubuh Danu dan kemudian menghilang ! Gilaaa, hal ini membuat gue dan Victor begitu kaget.
Gue langsung kucek-kucek mata gue untuk memastikan kejadian ini benar-benar terjadi atau hanya sebatas ilusi ! Gue ga gitu percaya ! Seseorang berjalan menabrak tubuh orang lain dan menembusnya dan kemudian menghilang begitu saja !

Gue lihat ke sekeliling gue, nenek tua itu uda hilang. Gue juga baru menyadari kalau kami sudah berjalan terlalu dalam ke arah hutan ini.

Sepiii… Sunyii… Gelappp..

Ya hanya itu yang bisa kujelaskan ke dalam kata-kata. Sekeliling gue pepohonan semua. Rumah warga ga ada satupun, semak-semak, genangan air dan rumput-rumput liar memenuhi sekitaran gue.

Danu yang ditabrak oleh nenek tua itu langsung terbatuk-batuk dan seluruh wajahnya berubah menjadi pucat. Danu yang biasanya ceria dan berani akhirnya berubah menjadi sosok yang diam.

Gue dan Victor akhirnya menopang bahu Danu utk segera balik ke rumah…

Kejadian ini menjadi awal dari segala sesuatu yang akan mengusik tempat tinggal kami di sini…

Part-33

TERROR

Semenjak kejadian malam itu, sifat Danu berubah 180 derajat. Dia yang biasanya usil, periang, ceria, nakal dan suka penasaran kini telah berubah menjadi sosok yang begitu pendiam, penyendiri, murung dan berperilaku agak aneh. Gue, Victor dan Aldi sempat khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan Danu. Tapi syukurlah dalam beberapa hari ini, dia hanya menjadi pendiam dan tidak berbuat yang macam-macam.

Hari-hari kami lewati seperti biasa, jam 9 malam tidak keluar rumah dan baru beraktivitas di pagi hari. Semua ini dikarenakan Danu yang biasanya suka penasaran dan nantangin kami menjadi pendiam.

Yuppp… Ga terasa ini sudah memasuki minggu kedua, kalo gue itung hari, ini uda hari ke 15. Berarti sudah setengah bulan kami tinggal di desa ini. Setelah beberapa hari Danu tidak bertindak aneh dan kami tenang-tenang aja. Barulah mulai hari ini Danu berulah.

“Pagiiiii… !!!” sapa gue ke semua temen-temen serumah yang sebagian ada di ruang tamu dan sebagian di dapur.

“Pagi Ko. Gimana program kerja mu? Beres?” sapa Monica dengan senyuman manis.

“Oh beres donk. Gue kan slalu ngajar. Ga ada masalah kok. Lu Mon?” balas Gue

“Kami yang cewe lebih sering gabung ama kegiatan ibu PKK, mereka bikin kerajinan tangan, arisan dll deh. Kami bantu susunkan sistem dan ngaturnya aja.” Jawab Monica

“Eh Don, itu Danu kenapa ya akhir-akhir ini ?” tanya Feby ke gue

“Entahlah… Gue juga bingung lihat dia. Biasanya dia selalu ceria kan? Akhir-akhir ini dia murung. Kami ajak bicara dia juga kebanyakan diam atau kadang jawabnya juga ga jelas gitu.” Jawab Gue

Memang semenjak kejadian malam itu, terutama saat Danu tertabrak oleh nenek tua itu. Danu berubah drastis. Gue, Victor dan Danu sudah berusaha membujuk dan ajak Danu utk bercerita tentang apa yang dia alami, namun dia lebih sering diam dan murung. Gue tentunya tanya Aldi yang bisa lihat hal beginian, namun Aldi juga bilang dia gak tau apa-apa soal Danu.

Kejadian yang menimpa Danu sebenarnya hanya kami ceritain ke Monica dan Amelia. Cewe yang lain masih kami biarin ga tau. Kami hanya bilang Danu lagi ada masalah jadi jangan terlalu diganggu.

Tidak terasa malam pun tiba. Seusai makan malam, Danu keluar dari rumah dan duduk di pekarangan rumah sambil tertawa sendiri, ngomong-ngomong sendiri.

“Hi hii hiii hahahaha… Hiksss… Main-main lah ke rumah ku….” Ucap Danu sambil tertawa, sedih dan ngomong sendiri gitu di pekarangan rumah kami.

Para cewek yang kaget akan perilaku Danu, semuanya jadi ikut menengok dari jendela rumah kami. Ga ada satupun yang berani manggil Danu.

“Ko, lu lihat Danu tuh ? Dia akhir-akhir ini kenapa ?!” tanya Laras penasaran. Cewe yang lain juga bertanya-tanya.

“Kok Danu kayak orang gila gitu yah ? Agak gak jelas gitu deh.” Sambung Feby.

“Eh.. jangan bilang gitu Feb. Pasti ada yang ga beres ama Danu tuh. Coba kita cari nomor HP orang tuanya, besok gue cari sinyal untuk hubungi orang tuanya deh.” Tegur Gue ke Feby dan yang lain.

Gue dan Victor berusaha mencari HP Danu. Setelah ketemu gue cek isi kontak HP nya.

“Loh ! Kontak di HP nya kok ga ada sama sekali ? Nomor HP gue dan kita semua juga ga ada loh. Isi message juga kosong smua?” ucap Gue heran.

Masa iya sih dia delete semua kontak yang ada di HP nya ? Apa dia mau putus hubungan dengan semua orang yang dia kenal ?
Duhhh pikiran yang aneh-aneh mulai bermunculan lagi di kepalaku…
Teringat lagi soal cerita pak Supir yang nganterin kami saat datang ke desa ini kalau tidak ada yang selamat. Yang bener aja..

“Hii hiii hahaha… Gilaaa… Siapa sih yang gila??? Temenin kakak cantik itu main yuk hihihi !” ucap Danu dari arah luar rumah

Gue yang mendengar ucapan Danu cukup terkejut dan merinding, ini Danu lagi ngomong ama sapa sih? Para cewe yang juga kaget melihat tatapan Danu dan senyuman menyeringirnya menjadi takut dan masuk ke kamar mereka. Entah sapa yang ditarget oleh Danu, tapi sepertinya malam ini bakal gak beres.

Aldi yang melihat ke arah luar rumah juga sempat pucat dan mulai takut. Ini berarti pertanda ada sesuatu yang gak beres nih. Victor yang berada di samping Aldi juga terbawa suasana. Raut wajah Victor mulai khawatir melihat tingkah laku Danu dan ekspresi dari muka Aldi yang cemas.

“Aldi, lu lihat sesuatu ?!” tanya Victor dengan pelan

“Iii…iiiyaaa…” jawab Aldi dengan pelan dan mengangguk. Keringat bercucuran dari muka Aldi. Dia tampak takut dan pucat. Biasanya Aldi utk hal beginian dia lumayan berani karena uda terbiasa.

“Lu lihat apaan Di?” tanya Gue yang juga takut dan penasaran. Setidaknya gue dan Victor harus tau juga apa yg dilihat Aldi dan apa yang terjadi dengan Danu. Kalo enggak, kami bakal bingung ngadepin ini dan ceritain masalah ini ke pak Kades jika sudah keterlaluan.

“Iiii…ituuu… ada cewe berambut panjang yang menutup wajahnya dan berpakaian putih panjang hingga ke tanah. Yang jelas kakinya uda gak kelihatan !” ucap Aldi sedikit ketakutan…

“Loh, kenapa lu takut Di? Bukannya hal ini lu uda biasa lihat? Gimana cara ngusirnya dari Danu?” tanya Gue

“Engg..enggak tauu…” jawab Aldi

Para cewek yang berada di dalam kamar menjadi semakin ketakutan, suara tawa Danu ga berhenti-henti dari tadi. Rumah kami juga jauh dari rumah warga sehingga mau minta bantuan di malam hari agak sedikit kerepotan. Jam juga sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pemadaman listrik pun dimulai. Saat lampu tiba-tiba mati, para cewe tentunya langsung menjerit ketakutan. Kaget, takut, cemas, panik semua bercampur jadi satu.

“Ko, kami mesti gimana?” tanya Monica mewakili temen-temen yang lain.

Duh… perasaan gue kacau. Gue sendiri juga takut. Victor juga takut. Aldi yg biasannya paling tenang aja juga sampai cemas gak karuan.

“Kalian diam di kamar aja. Istirahat seperti biasa, kalo ada apa-apa nanti panggil kami aja. Kami tidur di ruang tamu deh. Okay ?!” jawab Gue nenangin Monica

“Kyaaaaaaaaaa !!!” jerit seseorang dari kamar pertama

“Apa tuh? Siapa yang menjerit ?” tanya Victor yang langsung masuk ke kamar pertama

“Feby Ko….” Ucap Laras yang juga takut.

Gue lihat Laras dan Angela berusaha nenangin Feby yang ketakutan entah karena apa. Monica ada di samping Gue, Amelia dan Nadya juga di deket Monica. Kami semua takut dan cemas. Sementara Danu masih aja di luar rumah tertawa sendiri dan ngomong gak jelas sendiri. Entah gimana caranya mau ngajak Danu masuk ke dalam rumah, tentunya kalo dengan perilaku seperti ini, dia berada di dalam rumah malah akan lebih menyeramkan kan? Kalo dibiarkan, kami khawatir terjadi apa-apa.

“A…adaaa sosok cewe putih tinggi ko, melihat dari arah jendela kamar kami.” Jawab Feby gemeteran

Yahhh, jendela kamar para cewe termasuk kamar kami hanya berupa lubang yang di tutupin dengan kain gorden gitu, klo ditiup angin ya terbuka dan bisa lihat ke luar.

“Kyaaaa… !!!!” jerit Feby lagi.

“Febbb kenapa Feb? Ada gue di sini kok, ada temen-temen yang lain juga. Jangan takut.” Ucap Victor yang megangin pundak Feby sambil nenangin.

“Cewe itu melihat lagi ke aku dari arah luar jendela. Aku hanya nampak satu matanya. Selebihnya ditutupin oleh rambutnya yang begitu panjang dengan pakaian yang putih!” jawab Feby sambil menangis dan menutup matanya dengan tangannya.

Victor berusaha nenangin Feby terus. Gue yang di dekat Aldi langsung berbisik ke Aldi.

“Lu ada lihat sosok itu Di ?” tanya Gue

“Yaaahh itu yang kubilang di deket Danu tadi.” Jawab Aldi sambil mengangguk

Part-34

NGECEK YUK

Feby yang ketakutan di malam itu dan Danu yang masih berkeliaran di luar rumah dan bicara serta tertawa sendiri membuat malam ini sangat menakutkan. Para cewe di kamar pertama yang paling dekat dengan pekarangan rumah berusaha untuk menemani Feby. Victor juga terus berusaha nenangin Feby yang katana melihat sosok penampakan gadis berambut panjang dan berpakai putih di jendela kamarnya.

“Kyaaaaaaaaa…..!!!” teriak Feby lagi. Sepertinya Feby masih melihat sosok gadis itu. Feby hanya bisa tertunduk dan menutup matanya terus. Setiap kali dia membuka matanya pasti dia melihat sosok gadis yang menyeramkan itu.

Gue yang gak bisa lihat tentunya bingung banget. Yang bisa lihat cuman Aldi dan Feby, untung aja cewe-cewe yang lain kagak bisa lihat. Klo pada bisa lihat, bakalan berabe nih kondisi rumah kami malam ini.

Gue masih berjaga-jaga di ruang tamu untuk melihat kondisi Danu di luar, sementara Monica dan Amelia berada di samping gue.

Selang beberapa menit, Feby masih terus menutup pandangan matanya karena takut, tiba-tiba gue melihat ke arah Danu, Danu mulai berjalan ke arah rumah kami sambil tertawa dan bicara sendiri. Entah apa yang dia omongkan, gue kurang jelas untuk menafsirkannya ke dalam kata-kata. Yang jelas senyuman menyeringirnya sangat membuat gue merinding.

“Hahahaha…. Hihihii….” Yah kira-kira beginilah tawa si Danu yang gak membuat gue merinding.

Para cewe yang melihat Danu yang bertingkah aneh semakin ketakutan. Monica yang berada di samping gue langsung menggenggam erat tangan gue. Amelia juga bersembunyi di belakang gue. Sementara cewe yang lain beberapa ngumpet di kamar.

“Kooo…. Itu bang Danu kayak gak jelas. Gimana nih? Kalo dia masuk bakal makin seram !” ucap Monica pelan ke gue.

Gue yang setuju dengan omongan Monica akhirnya langsung menutup pintu rumah kami agar Danu enggak masuk ke dalam rumah. Selama dia belum stabil kondisinya, lebih baik jangan sampai masuk ke rumah deh. Bisa-bisa kacau dan ga tenang ini menurut gue.

“Dukkk…Dukk…Dukkk….” Suara ketukan pintu depan rumah kami yang diketuk terus menerus oleh Danu

Semakin diketuk semakin keras. Gue juga semakin cemas. Moga-moga aja pintunya ga sampai di dobrak. Kalo sampai di dobrak, ini kejadiannya uda bener-bener ga beres.
Ketukan pintu yang berulang diikutin suara tawa dan ocehan Danu membuat suasana rumah kami semakin mencekam.
Para cewe bakalan ketakutan ini sepertinya, gue aja dag dig dug banget.

“Vic, gimana nih? Aldi ?” tanya Gue minta pendapat cowo lainnya.

“Uda biarin aja ditutup pintunya. Tunggu ampe dia diam dan sadar or stabil lah !” jawab Victor dari dalam kamar Feby

“Elu Di?” tanya Gue ke Aldi

“Ya biarin di luar aja. Dia kayaknya lagi ga karuan pikirannya. Susah entar kalo dia bikin ulah dalam rumah kan ?” jawab Aldi meyakinkan gue

Karena semua cowo setuju untuk biarin Danu di luar, ya uda deh. Pintunya gue biarin terkunci. Meskipun diketuk berulang kali dengan keras. Kami berusaha nenangin para cewe agar gak ketakutan.

Sialan, klo rumah kami deket rumah warga, uda bisa minta tolong nih…

Setelah diketuk berulang kali hingga hampir setengah jam. Tiba-tiba suara ketukan di luar sudah berhenti. Gue yang penasaran langsung melihat dari jendela untuk memastikan bahwa Danu uda pergi.

“Sreetttt….” Gue buka kain gorden yang menutup jendela rumah kami dengan perlahan…

“Hmm… sepertinya Danu uda pergi entah kemana. Dia uda ga ada di depan rumah kita.” Ucap Gue ke temen-temen serumah.

“Feby uda tenang blum?” tanya gue ke Victor dan Feby

“Udah Don, udah agak tenang dia. Feb coba buka matamu lagi donk. Uda jangan nangis lagi ya. Ga perlu takut lagi. Kami ada di sini kok jagain kamu.” Ucap Victor gentle banget deh.

Feby yang berani membuka matanya, langsung memeluk Victor sambil ngeluarin air mata dikit deh

“Koo.. Makasih banget yah. Feby takut banget lihat hal begituan. Temanin Feby ya ko…” ucap Feby dengan nada lembut.

“Ii.iiyaa Feb. Tenang aja.” Jawab Victor agak shock dan malu ketika dipeluk tiba-tiba.

Wahhh enak banget si Victor dapat kesempatan dalam kesempitan. Body Feby ini mah mayan sexy deh. Ukuran itunya agak wow… Dapat kesempatan ngelus-ngelus body Feby lagi enak banget.

Ah sudahlah… Yang penting keadaan uda mulai tenang. Tapi kasian juga ya ama Danu, dibiarin terkunci di luar. Tapi mau gimana lagi. Gue lihat ke arah jam, wahh uda mau jam 11an.

Kami semua sepakat untuk biarin Danu berada di luar rumah dulu utk malam ini, palingan klo dia uda mulai sadar nanti dia bakal balik sendiri, nah baru kami biarin masuk, sementara jangan deh. Gue, Victor dan Aldi juga ngecek-ngecek dari jendela depan rumah kami untuk memastikan bahwa Danu uda ga ada di depan rumah lagi… Namun…

“Haiiii !!!! Cari gue ya ? Mau ditemanin main bareng ama mereka ?” ucap Danu begitu dingin yang tiba-tiba nongol dari pintu penghubung dapur dengan ruang tengah rumah, ke arah Gue, Victor dan Aldi sambil tertawa dan menunjuk ke sampingnya yang sepenglihatan gue ga ada siapa-siapa di sampingnya.

“Ohhh… Shiittt… Nongol darimana dia ?!” ucap Gue kaget.

“Anjrit Don… Kita terlalu fokus kunci pintu depan rumah sampai-sampai lupa kunci pintu belakang di dapur itu !” ucap Victor sambil ngelihat ke arah cwe lainnya yang sepertinya juga kaget melihat Danu tiba-tiba sudah nongol di dalam rumah kami.

“Bosan yah main ama nona nona cantik itu? Main ama abang-abang itu aja yuk ?!” ucap Danu sambil tertawa dan menunjuk ke arah Gue, Victor dan Aldi. Sambil menunjuk ke kami, Danu juga ngomong dengan sampingnya.

Part-35

TERROR 2

Danu yang tiba-tiba nongol dari pintu belakang rumah kami dan kini ia berada tepat di ruang tengah rumah kami tentunya sangat membuat jantung gue terkejut dan berdetak dengan kencang. Alih-alih ingin mengunci dia di luar biar malam ini bisa tidur tenang, malah dia sudah berada di dalam sekarang.

Para cewe yang ketakutan melihat Danu yang sudah masuk ke dalam rumah langsung bersembunyi di dalam kamar. Hanya sisa gue, Victor dan Aldi yang ada di ruang tamu.

Danu hanya tertawa dan tersenyum sendiri selama beberapa menit setelah mengucapkan kata kata terakhir itu dan selanjutnya dia pun pingsan. Gue dan Victor langsung menggendong dan menidurkan badannya di kamar kami. Nah yang jadi problem sekarang posisi tidur kami gimana? Pasti kagak ada yang mau tidur tepat di samping Danu, termasuk gue pun takut hehehe. Akhirnya kami memutuskan Danu kami baringkan secara horizontal dan kami tidur bertiga secara vertikal dengan posisi kaki kami ke arah badan Danu semua.

Semenjak Danu mengucapkan kata itu, perasaan Gue menjadi semakin gak tenang. Keesokan harinya, selama gue menjalankan aktivitas gue, gue selalu merasa diikutin seseorang namun kagak pernah terlihat. Entah kadang saat gue lagi berjalan sendirian, tiba-tiba ada angin berhembus. Saat gue lagi duduk bengong kayak ada yang manggilin nama gueee “Donnn….”
Terkadang saat gue berjalan ke toilet belakang juga mendengar suara langkah kaki yang pelan, padahal sudah jelas kagak ada orangnya.

Terkadang saat malam hari gue mau tidur, terdengar suara tangisan anak kecil “huhuhu” dari arah jendela kamar kami. Gue akui selama beberapa hari semenjak kejadian itu, rasanya uda ada yang gak beres, tapi ya untung aja gue kagak pernah liat penampakan sedikitpun. Gue masih nyimpan rasa janggal ini sendiri tanpa menceritakannya kepada siapapun.

Berselang 5 hari semenjak kejadian itu, tepatnya pada hari ke 20. Pada malam harinya suatu kejadian aneh muncul lagi.

“Hiiikkssss huhuhuhu” suara tangisan yang terdengar dari arah ruang tamu.

“Ko.. Feby nangis sendiri lagi !” ucap Monica ke gue

Victor yang ada di deket ruang tamu langsung menghampiri Feby.

“Kenapa Feb? Kamu melihat sesuatu lagi ?” tanya Victor dengan nada sedikit khawatir

“Iyaaa kooooo… huhuhu..” jawab Feby sambil menangis terus. “Sudah hampir 5 hari, setiap malam aku melihat sosok wanita berambut panjang berpakaian putih tegak di jendela kamar ku terus. Dia terus tersenyum dan tertawa melihatku, hanya tampak mulutnya saja, matanya gak nampak. Aku udah gak tahan ko !!!!” tambah Feby sambil memeluk Victor

Ya ampun…. Ternyata Feby juga diterror selama 5 hari ini. Gue kira gue doank yang mengalami hal aneh. Padahal selama 5 hari terakhir ini kami beraktivitas seperti biasa. Kegiatan aneh-aneh juga kagak kami lakukan karena Danu sementara ini berubah menjadi begitu pendiam, pemurung dan kebanyakan bengong di kamar kami. Kami biarkan Danu untuk istirahat saja dan tidak ikut turun aktivitas. Kami juga menyembunyikan masalah ini dari Pak Kades biar kagak semakin heboh. Ya soalnya semua salah kami yang melanggar ucapan pak Kades sih.

“Hikksss huhuuuuu. Ko…. Aku takut banget.. Aku takuttttt…. Taakuttttt…” ucap Feby kagak henti-hentinya ke Victor

Gue dan Aldi hanya berdiri tegak di belakang Victor bersama Monica dan Amelia untuk berjaga-jaga sementara para cewe lain berusaha menghibur Feby juga.

“Mon, selama beberapa hari semenjak kejadian Danu kemarin, Lu ada ngerasain aneh-aneh ?” tanya Gue ke Monica dengan pelan

“Enggak Ko. Gua biasa aja. Kenapa tuh ?!” tanya Monica penasaran

“Gapapa sih. Kok gue merasakan hal-hal aneh gitu ya. Kayak ada yang ngikutin gue, ngeliatin gue, ada suara-suara aneh, dll lah.” Jawab Gue

Aldi yang di samping gue yang mendengarkan pertanyaan gue ke Monica langsung menyambung “Don, lu tau selama beberapa hari ini apa yang lu alamin?!” tanya Aldi

“Kagak tau pastinya Di, Gue Cuma aneh aja. Perasaan gue kayak gak tenang gitu. Semacam diawasi orang dan sering merinding.” Jawab Gue

“Lu tau gak klo kita bertiga sedang dihantuin ?!” jawab Aldi agak pelan

“WHATTT ?!!! Dihantuin ???!” ucap Gue agak keras karena kaget

Victor yang kaget mendengar teriakan gue langsung memperhatikan ke arah Gue, termasuk para cewe lainnya.

“Ya dihantuin, semenjak ucapan Danu malam itu, sepertinya kita bertiga para cowo uda dihantuin oleh sosok yang susah gua jelaskan rupanya. Bersyukur aja klo selama ini kalian belum pernah melihat wujudnya, mungkin hanya merasakan kehadirannya. Termasuk Feby yang juga dihantuin.” Jelas Aldi

Suasana malam itu menjadi semakin menakutkan. Para cewe langsung tertunduk diam mendengar ucapan Aldi. Feby masih terus menangis pelan sambil menutup matanya. Dia ga berani membuka matanya karena dia selalu melihat sosok wanita dengan rambut panjang menutupi wajahnya yang hanya tampak mulutnya terus tersenyum. Kejadian aneh ini paling sering dialamin setiap mati lampu pukul 9an hingga subuh.

“Terus apa ada cara utk mengatasi hal ini Di? Emg lu ga alamin apa-apa ?!” tanya Gue

“Ya gak ada. Selama kita masih di daerah ini terutama di rumah ini. Ya kejadian seperti ini gak bakal bisa hilang.” Ucap Aldi. “Gue jujur ya pasti ngalamin hal seperti ini. Ngerasain hal aneh juga sering tapi sudah menjadi suatu kebiasaan. Klo melihat wujud rupanya terkadang bisa terkadang enggak.” Tambahnya

Kami semua hanya terdiam di malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

“Yuk Feb, uda ke kamar lagi yuk istirahat ? Sini koko temanin.” Ucap Victor sambil berusaha melepaskan tangan Feby yang menutup matanya

Feby yang sudah terlihat sedikit capek akhirnya menurunkan kedua tangannya yang menutup matanya itu, namun…

“Aaaaaaaaaa…..” teriak Feby lagi.

“Kenapa Feb ?!” tanya Victor yang sedikit merinding karena kaget. Wajah Victor juga semakin pucat. Akhirnya gue pun juga menghampiri si Feby untuk menenangkannya

“Kami di sini kok Feb. Uda tenang aja.” Tambah Gue

“Dii… di belakang ko Victorrr… Wanita itu tegak sambil tertawa dan tersenyum melihatmu Kooo.” Ucap Feby sambil menutup matanya dan menunjukkan tangannya ke arah belakang Victor

“…….”

Victor dan Gue begitu kaget sampai kami kehilangan kata apapun untuk menenangkan Feby. Para cewe yang menemani Feby langsung menjauh dan berlindung di belakang Gue. Monica dan Amelia yang berada di belakang Victor juga langsung menghindar dan bersembunyi ke arah Gue.
Aldi yang juga berdiri di belakang Victor langsung memfokuskan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Feby. Gak berapa lama, Aldi hanya terdiam, tertunduk dan menghindari Victor.

“A…ada apa di belakangku ?!” tanya Victor sedikit ketakutan dan dia belum berani melihat ke arah belakang badannya.

“Waniiitaaa ituuu Ko… Dia mengelus-ngelus pundakmu dari tadi sambil tersenyum bibirnya…” ucap Feby terpatah-patah.

Victor yang kaget setengah mati mendengar perkataan Feby hanya tetap terdiam. Dia kagak berlari or melangkah sedikitpun. Victor hanya tetap bertahan dalam kondisi sedikit jongkok seperti saat sedang menghibur Feby.

Bulu kuduk gue merinding banget, angin yang dingin serasa berhembus di dalam rumah kami. Suasana menjadi begitu hening dan hanya dipenuhi dengan suara jeritan dan ketakutan para cewe.

Monica yang ketakutan hanya menggenggam tanganku. Ya meskipun badan gue merinding dan angin yang dingin serasa menembus tulangku, setidaknya tangan dan hatiku sedikit mendapat kehangatan dan ketenangan deh dari Monica.

“Vic.. Lu menjauh deh dari posisi lu sekarang !” ucap Aldi agak keras ke Victor.

“I..iya.” jawab Victor yang sedikit tertunduk dan keringat mulai bercucuran dari wajahnya yang terlihat sedikit pucat.

“Buruan Vic ! Jangan di situ terus.” Teriak Aldi yang semakin cemas

“Ughhh….”

Victor tampaknya sangat cemas, takut dan gelisah sampai-sampai dia sulit untuk bergerak. Ya itu sih yang ada di benakku.

“Woi Vic, jangan main-main lah !” teriak Gue

“Bangs**, gue serius kaki gue gak bisa digerakin sama sekali, badan gue tertahan nih !” jawab Victor dengan nada tinggi penuh kegelisahan.

Gue yang cemas dan ga sabaran langsung menghampiri Victor dan mendorong badannya untuk berpindah tempat.

“Aghhh….” Teriak Gue…

Sial… Setelah gue mendorong badan Victor yang ga bisa digerakin, entah dia ketakutan sampai lemas atau entah kenapa, yang jelas gue terpelanting ke lantai dengan posisi badan terlentang, kepala gue menghadap ke arah langit-langit rumah.

“Aduhhhh…” jerit gue. Gila sakit banget badan gue tercampak begini. Gue mendorong Victor pergi tapi sepertinya gue di seret sesuatu dan dicampakkan ke lantai. Gue berusaha untuk bangun…

Loh kok sepertinya badan gue sama sekali ga bisa digerakin, tangan gue juga ga bisa gerak. Posisi badan gue hanya terlentang dengan kepala menghadap ke atas terus. Gue berusaha untuk memerintahkan otak gue untuk menggerakkan anggota tubuh gue, tapi sepertinya usaha ini sia-sia. Sama sekali kagak bisa digerakin.

Pandangan mata gue kok jadi sedikit buram ya… Pandangan mata gue ga begitu fokus. Apa gue pingsan? Paralysis ? Ya rasa ini seperti sleep paralysis yang pernah gue alamin. Gue terus berusaha untuk menggerakkan badan gue, ehhh suara apa itu ?!

“Hiii hiiii hiiii… Mainnn mainnnn mainnnn…. Hiii hiiii hiiiii…..”

Ahh gilaaa suara ini… Begitu melengking dan tinggi. Badan gue merinding semua, tapi sama sekali ga bisa digerakin…

Ya ampun, temen-temen gue mana ya, kok gak ada yang kagetin or bangunin gue. Biasanya paralysis begini bisa tersadar ketika dikagetin or dibangunin.

“Hiiii…. Hiiii….”

Suara ini kagak berhenti-henti. Gue mencoba untuk menutup mata gue dan tertidur aja namun usaha gue gagal. Saat gue membuka mata gue, pandangan gue sudah lebih jelas dan kagak buram lagi.

Astagaaaa apa itu yang ada di langit-langit kayu rumah ini !
Ada seperti sepasang bola mata mengintip dari celah-celah langit rumah ini. Yang benar aja, bola matanya begitu merah seperti bercampur darah. Kepala gue bisa digerakin sdikit, namun badan gue kagak bisa. Gue melihat ke arah teman-teman gue. Semuanya diam bagaikan patung !!!

Teruss… Terusss… Kok di setiap belakang badan mereka ada sosok hitam gitu. Apaan itu ?!!!

Ah gilaaa… Gue mimpi atau kenapa nih ! Teman-teman gue terdiam bagaikan patung dan di temani oleh sosok bayangan hitam di belakang mereka ?!! Whatt the…. !!!

Part-36

TERROR 3

Gilaaa…. Benar benar gilaaa…. Badan gue tetep gak bisa digerakin… Dan apa sih bayangan hitam yang ada di belakang temen-temen gue ?
Gue mencoba untuk teriak dan menyadarkan temen-temen gue…

“Aaa..aaaa..” jerit gue

Astaga suara gue ga bisa keluar sedikitpun. Berulang-ulang gue paksa untuk teriak tapi tetep aja sia-sia. Gue hanya bisa memandang bayangan itu dan sesekali gue lihat ke langit-langit rumah gue. Bola mata merah yang ada di celah-celah papan semakin lama semakin membesar.
Pupil hitamnya yang bercampur darah kian lama membesar dan keluar dari celah papan tersebut.

“Aaa..aaa….” gue mencoba menjerit lagi dan tetep gagal. Bayangan hitam yang tadinya berada di belakang badan temen gue kini telah menutupi semua badan temen gue. Bola mata yang penuh darah itu juga semakin membesar dan melototin mata gue. Darah dari bola matanya seakan-akan menetes jatuh ke wajah gue.

Ampunnn…. Gue ga sanggup melihat terus, gue pun menutup mata dan…

“Donnn !!! Sadar Don !!!” teriak seseorang..

Gue pun tetep merem karena takut, sampai akhirnya gue mencoba membuka mata gue perlahan dan gue dapatin Victor dan Monica ada di samping gue.

“Woi Don ! Lu ga apa-apa? Tadi lu terpelanting dan ga sadarkan diri beberapa menit !” ucap Victor ke gue

“Hah??? Gue ga sadarkan diri ?!” tanya gue bingung. Rasanya apa yang gue lihat tadi itu nyata banget. Ya syukur sih klo ternyata itu Cuma ilusinasi.

“Iya kooo… Kamu terpelanting dan ga sadarkan diri. Daritadi kami panggil-panggil kamu ga merespon juga.” Sambung Monica sambil memegang tangan gue dan mengusap kepala gue yang tadi terantuk sedikit ke lantai.

“Ya udah udah… Kaga apa-apa gua. Gimana si Feby ? Uda baikan dia ?!” tanya Gue yang uda mulai sadarkan diri

“Blum Ko.. Feby masih ketakutan dan belum berani membuka matanya. Tiap x dia membuka mata, pasti dia melihat sosok gadis berambut panjang itu.” Ucap Monica

Gue pun tegak dan menghampiri Feby bareng Victor dan Monica. Cewe yang lain masih tetep bersama Feby.
Gue perhatikan ke arah jam, uda pukul 12 malam. Tak terasa juga. Duh ini malam yang paling serem deh selama gue di sini.

“Feb. Masih ngelihat sesuatu itu Feb ? Belum hilang ?” tanya Gue pelan

“Belum Ko, tadi waktu kamu tercampak ke lantai, cewe berambut panjang yang seram itu menindih badanmu Ko. Dia tegak tepat di atas dada mu, dan kepalanya menunduk sambil senyum-senyum sendiri, matanya melotot melihat ke arahmu terus.” Jelas Feby agak gemeteran

Wahhh… Yang benar aja penjelasan Feby ini ? Kok sepertinya masuk akal yah ? Padahal gue uda berusaha menganggap ini Cuma Sleep-Paralysis. Tapi apa yang disebutin Feby ini ada kaitannya dengan bayangan hitam yang gue lihat di belakang temen-temen gue, bola mata berdarah yang melotot dan kondisi badan gue yang ga bisa bergerak sama sekali.

“Terus, di mana cewe seram itu sekarang Feb?!” tanya Victor yang penasaran

Wah taik ini Victor, ngungkit soal cewe seram ini lagi. Harusnya kagak usah diungkit lagi, syukur-syukur klo uda pergi kan.

Feby mencoba membuka matanya lagi dan dia melihat ke sekitaran kami.
Kemudian Feby hanya menggeleng-geleng.

“Kagak ada lagi Ko.” Ucap Feby agak tenang

Wah syukurlah klo uda ga ada lagi. Kami pun mengajak para cwe untuk tidur di kamar mereka masing-masing. Feby yang sepertinya semakin nyaman dengan Victor menjadi semakin dekat dengan Victor.

“Ko, temanin Feby terus yah kalo ada kenapa-kenapa?!” ucap Feby

Victor menggangguk dan mengusap rambut Feby seperti memperlakukannya seperti adiknya sendiri. Sementara Monica juga senyum ke gue. Ah mayan lah…

Gue, Victor dan Aldi juga balik ke kamar gue untuk istirahat. Seperti biasa Danu masih duduk sendiri dengan kondisi murung di dalam kamar kami. Kejadian heboh seperti tadi tidak membuat Danu penasaran dan ikut nimbrung.

“He…he….heee… Seru banget yah tadi kawan ?!” ucap Danu yang murung sambil tiba-tiba tersenyum

Kami bertiga kaget bukan main. Anjrit juga nih anak, kirain uda tenang. Rupanya masih aja berkelakuan aneh. Kami bertiga ga menghiraukan pertanyaan dari Danu itu.

“Heee.heeeee.heeeee…. Seru enggakkkk ????!” ucap Danu sekali lagi

Wah lagi lagi… Klo kondisi seperti ini, gimana bisa tidur barengan dengan Danu nih. Kondisi nya masih ga beres.
Pikiran gue berpikir macem-macem. Jujur aja deh dalam kondisi seperti ini, elo bakal ngapain ?

Yang jelas gue kepikiran klo seseorang lagi gak beres gini, bisa aja nanti pas kami tidur semua, dia berbuat macem-macem seperti memukul kami dengan sesuatu or dia ngelakuin sesuatu yang aneh-aneh kan ?
Terus solusinya apa???

Part-37

LEMARI CERMIN

Malam itu gue, Victor dan Aldi sedikit kebingungan untuk tidur. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 12an lewat, tapi mata dan otak kami belum bisa untuk tenang. Why ? Ya semua karena si Danu yang bertingkah aneh. Sampai saat ini, kondisi dia belum sepenuhnya sadar. Mau hubungi orang rumahnya, semua kontak di HP nya sudah dihapusnya. Mau lapor ke pihak kampus, entar ujung-ujungnya semua dari kami dibatalkan dan terpaksa ngerjain skripsi. Males banget lohhh.

“Vic, gimana nech? Ga mungkin kita berjaga semaleman?!” tanya Gue ke Victor dan sekaligus menatap ke Aldi.

“Ya uda gini aja, kita ganti-gantian jaganya mao ? Masing-masing dari kita tidur 4 jam, terus kita ganti-gantian. Lu tidur dulu Don, gue yang jaga, terus gue tidur, Aldi yang jaga, terus baru elo sampai pagi? Ok ?” saran Victor

“Oke deh klo gt.” Ucap gue setuju dan Aldi juga setuju.

Akhirnya kami menjalani beberapa malam kami dengan cara tidur dan berjaga bergantian. Beberapa hari ini memang agak tenang, Danu tidak berbuat macam-macam dan kejadian aneh juga kagak terjadi, hingga hari ini tepat hari ke 22 kami berada di desa ini.

“Vic, lu tahan kita mesti jaga Danu tiap malam? Kurang tidur terus perasaan ga tenang melulu?!” tanya Gue ke Victor sambilan berjalan-jalan mengitari lingkungan sekeliling rumah di sore hari.

“Entah, gue sebenarnya agak pusing juga. Apa mau kita lapor ke pak Kades sama minta bantuan orang tua yang bisa hal-hal begini?!” jawab Victor

“Emm, ini susahnya, entar pak Kades tau klo kita berbuat macam-macam kan makanya bisa terjadi hal beginian ?!” ucap Gue

“Mau nya di bawa untuk didoain aja ye… Tapi di deket rumah kita ga ada musholla pula, mau di bawa ke tempat deket rumah pak Kades, Danunya ga mau.” Jawab Victor

“Emang klo kita doain ga mempan?” tanya Gue penasaran

“Kurang tau ya, tapi kadang gue doain dia dalam hati ga mempan tuh. Gue pernah denger orang bilang klo kita yang gangguin or cari masalah duluan dengan hal beginian, ngelepasnya susah nih.” Jelas Victor

“Emm.. Gitu ya? Ya udah lah. Sementara kita jaga begini aja lah. Masih lama loh 2 bulanan lagi kita di sini.” Jawab Gue

“Iya udah gt aja. Eh balik yuk, gerimis nih, langit mendung, uda gelap juga.” Balas Victor sambil lihat ke langit yang mendung, berangin dan sepertinya nanti akan turun hujan lebat.

“Kooooooo !!!” teriak Monica dari dalam rumah saat kami mau balik pulang

“Eh kenapa tuh Mon? Kok teriak-teriak?” tanya Gue yang baru balik dari keliling sore dengan bingung

Gue dan Victor langsung berlari masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang tengah gue lihat Danu sedang meronta-ronta dan sambil nangis “Huhuhuhu hiksss”.
Aldi berusaha untuk menenangkan Danu dan sepertinya kesulitan karena rontaan Danu begitu kuat. Para cewe hanya bersembunyi di ruang tengah karena ketakutan.

Danu terus menangis dan sesekali dia terdiam dan matanya melotot melihat ke arah para cewe dan juga gua, kemudian lanjut menangis lagi dan meronta-ronta. Wah ini makin gak bener aja nih si Danu, ekstreem juga ya. Gue masih bingung, ini lagi kerasukan or dia lagi stress or kenapa ya.

Gue dan Victor akhirnya juga bantu tenangin si Danu, sesekali gue kena tendang karena rontaan dia, kadang tangan Danu menampar pipi gue yang lembut dan halus. Bikin berjejak merah deh. Tapi itu semua gue maklumin karena kondisinya yang ga beres gini.

“Aldi, kenapa Danu bisa begini?” tanya Gue ke Aldi yang tadinya dia yang sedang berjaga memperhatikan Danu

“Kurang tau gue Don, tadi dia tiba-tiba melihat ke arah lemari kaca di ruang tengah dekat kamar kita dan dia melihat ke cermin yang ada di pintu lemari itu, terus tiba-tiba dia nunjuk-nunjuk ke cermin itu dan kemudian nangis dia.” Jawab Aldi agak bingung

Oia, memang ada lemari kaca yang pintunya terdapat cermin di ruang tengah kami. Biasanya kami sering bercermin di lemari itu sehabis mandi or saat mau bepergian. Lemari ini memang agak aneh, uda tua banget terus di dalamnya ada foto keluarga yang kami gak kenal entah siapa-siapa aja. Mau tanya ke pak Kades juga agak segan. Terus lemari ini kagak bisa dibuka. Kadang gue coba untuk buka, tapi ga bisa, sepertinya terkunci, alhasil kami biarin aja dari kemarin.

“Lu gak lihat apa apa Di di cermin itu?” tanya Gue ke Aldi yang biasanya dia bisa lihat hal beginian.

“Gak Don, Gue ga pernah bercermin dan ga pernah mau peduliin lemari itu.” Jawab Aldi agak pelan, wah pasti ada yang ga beres nih klo Aldinya uda ngomong agak pelan.

“Kenapa Di? Ada sesuatu yang aneh di cermin or lemari itu?” tanya Gue penasaran

“Gak tau Don, tapi saat pertama kali kita sampai di rumah ini, Gue lewat di cermin itu, sekilas gue lihat bayangan gue ada 2. Semenjak saat itu gue ga pernah mau peduliin or bercermin di cermin lemari ini lagi.” Jawab Aldi pelan sambil nunduk mungkin karena kepikiran hal-hal aneh.

Astagaaaa… Salah pertanyaan gue. Kalo kondisi lagi suram begini. Ditambah kita tau hal hal bermasalah di rumah ini, makin gak enak deh.
Uda ada Danu yang bermasalah, ada penampakan cewe rambut panjang yang sering tersenyum sendiri. Sekarang nambah lagi ada lemari angker. Ndeeeeeeeeeehhhh suram…

Nah kali ini yang dengar curhatan Aldi ini bukan hanya gue, tapi seisi rumah termasuk para cewe pun mendengarkan cerita Aldi. Hal ini mah bakal makin suasana rumah ini gak nyaman dan perasaan takut akan menyelimuti kami semua.

”Huhuhuuuuu tolong… tolonggg… hentikan !”

“Dan, sadar Dan… Lu kenape??? Ada sesuatu yang aneh?” tanya Victor yang lagi pegangin Danu

“Tolongg.. hentikan suara itu… Hentikan !! Aku muak !!!” teriak Danu sambil menangis

Suara apa sih yang dia dengar? Gue juga bingung. Klo dilihat-lihat sepertinya Danu uda mulai sadar, tapi entahlah, bisa jadi dia masih kerasukan kan?

“Hentikaaaannn… Hentikaaannn suara itu…” Danu terus berteriak dan sambil menunjuk ke arah cermin lemari itu. Ya tempat tidur kami emg ga jauh dari ruang tengah dan tentunya dekat dengan cermin itu juga. Tapi kira-kira suara apa sih yang di dengar Danu dari lemari itu yahhh?

Part-38

NGECEK YUK

Danu yang terus berteriak karena mendengar suara yang gue pun ga tau seperti apa suaranya dari arah lemari cermin itu tentunya membuat kami semua takut. Para cewe hanya berani melihat dari kejauhan dan menghindari deket-deket ama lemari cermin itu, sementara gue, Victor dan Aldi berusaha untuk menenangkan Danu dan mencari tau apa sebabnya.

“Bro, jadi gimana bagusnya si Danu ini? Kita bawa ke pak Kades aja? Gak kelar-kelar masalah kita klo gini terus.” Tanya Gue ke Victor dan Aldi

“Gue rasa emg harus lapor ke pak Kades, tapi gue malesnya nanti kita di cap nakal makanya sampai bisa begini. Atau kita lapor aja klo Danu tiba-tiba begini setelah lihat lemari cermin ini yah?” bisik Victor ke gue dan Aldi

“Wah ide bagus tuh ! Ga usah bahas yang lain-lain, fokus aja ke lemari cermin ini penyebabnya kan.” Jawab Gue senang

Aldi juga hanya mengangguk tanda setuju. Nah klo masalahnya uda begini, kami bisa datangin pak Kades dan minta solusinya. Setidaknya penyebabnya bukan karena kenakalan kami keluar malam or karena kami macem-macem, tapi karena lemari cermin yang ada di rumah kami ini yang membuat Danu menjadi setengah sadar gini deh.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Danu mulai menenangkan diri dan kembali diam seperti biasa. Dia hanya duduk menung di dekat ruang tengah dan sesekali ke kamar tidur kami. Danu akhir-akhir jadi jarang bicara ama kami atau kumpul-kumpul, ya kami bisa maklumin lah.
Para cewe juga kembali ke kamar mereka masing-masing dan ada yang menyelesaikan tugas mereka.

Pada malam harinya, Gue ama Victor duduk di teras luar rumah, masih sekitar jam 8an lah, belum mati lampu….

“Eh Don, lu gak penasaran ama tuh lemari cermin?!” tanya Victor ke gue

“Penasaran sih, tapi gue ga nyadar klo ada masalah dengan lemari cermin itu. Toh biasanya gue juga bercermin di situ. Emg lu merasa ada masalah?” tanya Gue ke Victor balik

“Gw jg gak kenapa-kenapa. Tapi si Aldi kok bilang ada lihat 2 bayangan yah? Mungkin karena dia bisa lihat dan kita gak bisa lihat kali yah? Eh lu pernah tes buka lemari itu gak? Kan ada beberapa pintu lemarinya yg bisa dibuka?” tanya Victor

“Gak lah ! Lemari orang gue ga pernah isengin utk buka-buka lah. Paling gue Cuma lihat foto-foto yang terpajang di rak lemari kacanya aja. Kayak foto keluarga gitulah. Tapi gak gitu jelas gambarnya.” Jawab Gue

“Yuk kita cek buka lemari cerminnya !” ajak Victor sambil narik gue masuk ke dalam rumah.

Wah kampret ini Victor, penasaran pula dia ama lemari cermin itu. Gue jg penasaran sih, klo ga ada kejadian begini, mgkn ga ada kepikiran utk cek cek lemari cermin ini juga. Tapi sudahlah Cuma ngecek doank kok.

“Eh kalian mau napain Don? Vic?” tanya Aldi yang kaget saat kami berdua mendekati lemari cermin ini.

“Oh biasa Di, Penasaran ama lemari ini, mau lihat isi dalamnya ada apa gitu aja kok. Ga dimaling or dikacaukan kok.” Jelas Victor

“Eh lebih baik jangan deh. Rasa-rasanya gak enak gitu. Lagian kan uda kubilang kemarin klo gue liat sesuatu gt di lemari cermin itu.” Jelas Aldi melarang kami

“Iya kamu ngelihat bayangan gitu kan di cerminnya, gue ama Dony kagak lihat apa-apa kok. Ya mana tau di dalamnya ada simpan barang aneh kan yang bikin temen kita terganggu?” jelas Victor lagi

“Ah udah gak jadi deh Vic. Mendingan gak usah coba-coba klo gt.” Sambung gue

“Udah gapapa!” jawab Victor sambil menarik pegangan pintu lemari yang ada cerminnya itu.

“Ehhh kagak bisa kebuka.” Ucap Victor yang lagi berusaha narik pegangan pintunya

Wahhh anak ini tiba-tiba aja ngetes narik buka pintu lemarinya, padahal uda diperingatin jangan. Memang rasa penasaran ini hebat banget.

“Ah lemah lu, sini coba gue yang buka deh.” Tambah gue karena juga ikut penasaran masa buka pintu lemari cermin kecil gini aja ga kuat sih. Hehehe

“Ughh…… Keras nech…” jawab Gue yang kesusahan utk ngebukanya juga

“Dah lupain tuh pintu lemari cermin, kita cek rak-rak yang ada di lemari ini juga, sekalian lihat-lihat foto keluarga di lemari ini aja.” Jawab Victor

Gue, Victor dan Danu akhirnya jadi ngecek-ngecek itu lemari cermin. Gue buka rak-rak kecilnya, paling gue dapatkan isinya kayak buku yang uda berdebu, terus ada kayak pahatan patung binatang kayak burung yang entah jenis apa yang terbuat dari kayu, pahatan orang-orangan dr kayu. Klo yang buku, gue ga ngerti isi tulisannya apa. Kayak tulisan cakar ayam sih menurut gue trus bahasanya jg bukan bahasa indo. Mgkn bahasa daerah sini atau apalah.

“Tuh kan ga ada apa-apa sebenarnya di lemari cermin ini. Kita uda periksa rak-raknya dan isinya Cuma begini doank.” Ucap Victor mencairkan suasana yang sempat menegangkan dari tadi.

“Iya sih ga ada apa-apa. Uda pintu lemari cermin yang ga bisa dibuka itu lupakan aja.” Jawab Gue

“Ya. Besok kita ke rumah pak Kades deh. Kita tanyain masalah ini. Trus inget jangan ungkit masalah apapun selain lemari cermin ini yah supaya kita ga kena masalah.” Ucap Victor

Akhirnya gue dan Aldi juga setuju dengan ide Victor. Malam pun semakin larut dan jadwal pemadaman listrik juga terjadi seperti biasanya.

Berhubung besok mau ke rumah pak Kades, kami para cowo istirahat lebih cepat.

“Eh bentar, besok gak mungkin kita bertiga yang pergi ke rumah pak Kades. Pasti ada 1 dari kita yang jaga Danu lah, biar gak kenapa-kenapa, soalnya para cewe kan byk yg tinggal di rumah?” ucap Victor yang tiba-tiba terbangun dari posisi tidurannya.

Suasana hening sebentar, sepertinya di antara kami ga ada yang mau ngejagain Danu deh. Mungkin agak malas or ribet kali ya, terus tanggungjawab nya juga besar klo misalnya kenapa-kenapa.

“Aldi, lu mau temenin Danu or ikut nih? Lu Don?” tanya Victor karena kami semua diam

……………….

“Hahaha, ya udahlah, kayaknya di antara kita ga ada yang mau tinggal di rumah ya. Ya uda karena bertiga, kita hompimpa aja sekali. Yang keluar, berarti dia yang tinggal di rumah ya biar cepat?!” ucap Victor

“Hmm… Yang berdua sama, itu yang pergi yah? Oh boleh lah !” jawab Gue

Klo yang hasil hompimpanya sama, misalnya ada 2 hitam dan 1 putih, berarti yang hitam pergi. Wah chance amannya kan lebih tinggi, no problem lah bagi gue… Hehehe

HOM …. PIM …. PAAA….. bla bla bla ~ (ada lanjutannya sih sebenarnya)

Part-39

TANGISAN

Hompimpa pun dilakukan dan… yah gue keluarkan telapak tangan gue terbuka, sedangkan mereka berdua telapak tangannya tertutup ke bawah. Artinya gue kalah.. Shittt men…

Ah.. tapi uda ga heran kok kalo masalah beginian, entah kenapa gue selalu dapat jatah yang ga enaknya, tapi percayalah, semuanya akan indah pada waktunya emoticon-Big Grin

Akhirnya diputuskan kalo besok, Victor dan Aldi yang akan pergi ke rumah Pak Kades. Gue yang akan tinggal di rumah jagain Danu. Beberapa cewe akan keluar untuk kegiatan program kerja mereka.

Esok paginya…

“Woi Vic, Buruan balik yah, gak usah lama-lama di sana. Ceritain aja intinya yang ttg lemari cermin itu, ga usah ungkit yang lain-lain, terus cepat lgsg balik ya ! Gue agak susah klo ada apa-apa nih!” ucap Gue ke Victor dan Aldi yang akan siap-siap berangkat jalan kaki.

“Iya selow lah. Gw ga bakal lama, lagian itu Monica dan Amel keknya tinggal di rumah tuh. Terus ada Nadya juga tuh. Yang lain uda keluar yah?” balas Victor sambil nanya balik ke gue

“Keknya iya. Mereka entah ada penyuluhan apa gitu deh. Buruan ya.” Balas gue

“Ok.” Jawab Victor dan mereka berdua pun berangkat ke rumah pak Kades kira-kira jam 8 pagi ini.

Setelah Victor dan Aldi berangkat ke rumah pak Kades. Gue hanya ngabisin waktu gue duduk di teras depan rumah, baca buku yang gue bawa, main game di HP yang offline, waktu itu main Flappy Bird nih yang bikin kesel banget klo kejeduk kepala burungnya hahahaha ~

Sesekali gue masuk ke dalam rumah utk ke toilet sekalian liatin Danu. Ya syukurlah Danunya duduk tenang aja di ruang tengah, kagak ada tindakan aneh-aneh deh pokoknya. Cewe lainnya lagi beres-beres di dapur dan bersih-bersih.

“Eh Ko. Lu yang tinggal di rumah ya jagain kak Danu? Victor dan Aldi uda beli?” tanya Monica yang tiba-tiba nyamperin gue di teras depan rumah.

“Emm.. Iya nih. Kami kemarin hompimpa dan gue kalah, jadi gue yang tinggal di sini.” Jawab Gue agak kesel mengingat hompimpa kemarin.

“Oh ya? Hahaha. Lain kali jangan pakai undian gitu donk, gak hoki lu Ko. Haha. Eh geser dikit donk.” Ucap Monica lembut sambil ngejek gue.

Oia, di depan teras rumah ini ada tempat duduk dari kayu gitu sih. Ya panjangnya kira-kira muat untuk duduk tiga orang lah. Gue pun geser dan Monica duduk tepat di samping gue. Wah pokoknya nikmat deh masa-masa berdua begini. Wanginya, ngobrolnya asik banget. Apalagi alam di desa kan tenang, ga ada gangguan hehe… Palingan klo nginget kondisi rumah dan seramnya desa ini aja yang bikin gak enak.

Karena keasikan ngobrol, gue pun lupa waktu dan tiba-tiba Victor dan Aldi uda balik dari rumah pak Kades dan membawa semacam kain yang ukurannya lumayan gede juga.

“Ehmm … ehm….” Ucap Victor dari kejauhan saat melihat gue lagi duduk ama Monica

Wah kampret nih anak, mau cemeeh gue nih. Gue lgsg tegak dan nyamperin Victor.

“Eh Vic. Cepat juga lu balik yah. Lu bawa apaan tuh?” tanya Gue utk alihkan pembicaraan biar Monica ga begitu sadar

“Halaahhh. Cepet apaan… Gue uda kelaparan neh.. Uda mau jam 1 lu bilang cepat? Elo nya aja yang lupa waktu.” Balas Victor

Hmm.. iya juga yah. Maklumin yah. Kalo berduaan ama cewe yang cakep, emang terkadang waktu serasa berputar begitu cepat yah hahaa.

“Ahh.. Sorry-sorry, gue ga sadar. Trus itu kain buat apaan?!” tanya Gue

“Entahlah, tadi pak Kades kasi kain ini, katanya utk tutup lemari itu biar ga keliatan yang macem-macem gitu.” Jawab Victor sambil ngelemparin kain putih ini ke arah gue.

“Wew… kain apaan nih warna putih gede? Macam kain kafan aje. Lu gak tanya pak Kades kok mesti kain beginian yang dikasi?” tanya Gue

“Entah. Gue aja ga cek tdi itu kain apa, dikasi kek gitu, disuruh bawa pulang, gue aja baru tau klo mirip kain kafan warna putih gitu, soalnya tadi di sana kan ga dibuka lagi. Cuma liat kain putih gitu doank utk nutupin tuh lemari.” Balas Victor yang juga kaget ngelihat kain itu.

“Oia, terus nih ntar tempelin or letak di lemari itu kata pak Kades.” Ucap Victor sambil ngelemparin ke arah gue secarik kertas yang entah bertuliskan apa, tapi ya semacam jimat gitu lah klo gue lihat.

“Apa nih? Penangkalnya yah? Lu uda ceritain ke pak Kades masalah lemari ini smua?” tanya gue

“Uda. Pak Kades bilang jangan terlalu dipikirkan. Terus jangan terlalu ganggu lemari itu, tempelin aja tuh kertas di lemari itu, terus tutupin lemari itu pakai kain biar kalian gak terganggu. Katanya sih biar gak terbayang akan kejadian-kejadian kemarin.” Jelas Victor

“Terus masalah Aldi yang lihat ada 2 bayangan?” tanya Gue yang teringat lagi

“Lupain aja Don katanya. Pak Kades juga ga gitu jawab pertanyaan gue yang itu.” Balas Aldi

Ya udah deh. Karena hasil penjelasannya begitu, gue pun ga begitu penasaran lagi. Tapi mesti ya makan waktu ampe lebih kurang 4 jam di rumah pak Kades hanya bahas begituan ckckck

Kami bertiga akhirnya nempelin kertas itu di cermin yang ada di lemari itu. Terus kami tutupin deh dengan kain putih gede yang dikasi oleh pak Kades.

Hari pun menjelang sore. Sekitaran pukul 6, para rombongan cewe lain Angela, Feby dan Laras akhirnya balik dari kegiatan penyuluhan mereka.

“Eh. Sejak kapan lemari ini ditutupin kain putih?!” tanya Laras yang agak terkejut saat melewati ruang tengah.

“Biasa, tadi disuruh pak Kades tutupin pakai kain putih biar ga keliatan yang aneh-aneh.” Jawab Victor

Ya mudah-mudahan aja sih dengan ditutup begini jadi ga ada aneh-aneh lagi. Tapi yang jadi masalah, si Danu belum beres nih. Ini pak Kades juga belum ada kasi solusi ke Victor dan Aldi.

Setelah selesai makan malam kira-kira jam 8, gue, Victor dan Aldi duduk di kursi teras kami dan sambil ngebahas soal di tempat pak Kades tadi.

“Oe Vic, jadi apa solusi utk Danu yang bermasalah gini? Masa ga ada solusi dari pak Kades sama sekali?” tanya gue penasaran

“Hmmm… susah jelasinnya Don, kami uda ceritain masalah Danu ke Pak Kades. Tapi pak Kades bilang si Danu biasa aja tuh, mungkin orangnya memang begitu. Kalo yang kemarin suara yang di dengar Danu dari lemari itu, katanya di tutup aja pakai kain putih dan tempelin jimat tadi itulah.” Jelas Victor yang juga sepertinya pusing karena ga ketemu solusi utk Danu

“Terus menurut lo gimana Aldi? Ada efek ditutup pakai kain tuh?” tanya Gue ke Aldi yang biasanya dia lebih sensitif utk hal beginian

“Belum tau Don, harusnya ya ngefek, klo uda ditutup kan setidaknya cerminnya uda ga mantulin bayangan kita. Jadi ga liat macam-macam lagi. Kalo suara gue ga tau sih.” Jawab Aldi

Tak berapa lama kemudian, pemadaman listrik pun terjadi, ya biasalah uda pukul 9 malam.
Kami para cowo masih duduk di teras rumah sambil ngobrol ditemanin sinar rembulan dan angin sejuk.

“Eh… Itu Danu lagi nangis ya?” tanya Gue. Soalnya gue denger ada suara orang hikss huhuhu kayak gitulah dari arah dalam rumah. Suaranya sih samar samar gak jelas gitu, tapi pokoknya kayak suara orang sedih lagi nangis tersedu-sedu.

“Apaan? Entah, coba lu cek sana Don.” Jawab Victor yang kayaknya ga peduli

Gue pun masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar gue, sampai di kamar gue, gue lihat Danu lagi tidur sih, ga ada napa-napain. Terus suara tangisannya juga uda hilang.
Gue pun balik ke teras rumah lagi utk lanjutin ngobrolnya

“Huhuhu… hiksss…”

“Eh kan ada suara orang nangis lagi. Lu ga denger tuh dari dalam rumah?” tanya Gue yang denger suara tangisan sayup-sayup gitu.

“Mimpi lu Don? Cek lagi sono !” jawab Victor agak bingung

Gue balik ke kamar gue dan ngecek buat mastiin lagi. Loh memang Danu lagi tidur pulas tuh kayaknya. Ga ada suara apapun tiap kali gue masuk ke dalam rumah.

“Mon, lu ada denger suara orang nangis?” tanya gue ke Monica yang kamarnya deket dengan kamar kami.

“Ga ada Ko. Daritadi biasa aja tuh. Suara jangkrik doank ama suara daun pohon yang ketiup angin. Biasalah.” Jawab Monica yang agak heran dengan pertanyaan gue.

Hmm iya juga sih.. Kalo ada suara tangisan, pastinya para cewe yang di dalem rumah uda manggil kami lah. Tapi kayaknya ga ada apa-apa tuh.
Gue pun balik lagi ke teras depan rumah

“Huhuhuuuhuu… Hiksss…”

Astaagaaaaaa… suara tangisan ini, tiap kali gue ke teras rumah. Pasti ada denger suara tangisan. Ampun… Gue fokuskan pikiran utk ga peduliin suara tangisan ini dan lanjut bercerita dengan Victor ama Aldi.

“HUHUHUUUUU…. HIKSSS HIKSSSS….”

“HUHUHUHUHU….. HIKSSSS HIKSSSS HUHUHU ……”

Ampuuuuuuunnnn… Suara ini terngiang-ngiang di telinga gue terus. Gue berusaha ngomong lebih keras dari biasanya biar suara tangisan ini hilang, tapi semakin keras gue ngomong utk ngilangin suara itu, semakin keras pula suara tangisan itu…

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Ampunnnn…” jerit gue dalam otak gue. Ini suara terus terdengar di telinga gue…

“Don… Oe Don… Lu kenape pake teriak-teriak gitu ngomongnya?” tanya Victor yang agak kaget melihat suara gue makin keras.
“Santai ui.. Gue ga budek kale..” tambah Victor lagi.

Part-40

KETUKAN

Ampun woi ampun !!! Ya itu yang gue pikirkan terus. Gila ini suara tangisan orang ga hilang-hilang dari kepala gue… Yang jadi masalah ini, sekarang entah suara benerannya sudah hilang, tetapi memori suara itu masih terngiang-ngiang di kepala gue, atau suara ini masih tetep ada. Entahlah. Gue mulai sedikit panik dan stress di malam itu.

“Vic… Tolong gue Vicc….. Lu ga ada dengar suara orang menangis sama sekali ?!” tanya gue sambil melihat ke Victor dengan raut muka gue yang mungkin sangat cemas

“Gak Don ! Lu kenapa Don? Suara gimana sih?” tanya Victor sambil tenangin gue

“Lu gimana Aldi? Gue serius nih ga bercanda. Daritadi suara ini gak hilang-hilang !” tegas Gue meyakinkan klo gue ga lagi candain mereka.

“Entah Don. Gue ga denger apa-apa juga. Coba kita cek ke dalam deh.” Ajak Aldi

Akhirnya gue bareng Aldi dan Victor masuk ke dalam rumah untuk ngecek ke kamar kami.

“Jadi lu dengar arah suaranya dari mana Don ? Kamar kita ?” tanya Victor

“Gua ga bisa mastiin Vic. Pokoknya dari dalam rumah. Tapi klo gue uda masuk ke dalam rumah. Suaranya menghilang lagi. Klo gue balik ke teras, terdengar lagi suara orang nangis. Tangisannya kayak suara cewe.” Jelas Gue

Kami semua hening sebentar. Jam uda menunjukkan pukul 10 malam saat gue melihat ke arah jam HP gue. Ya klo gue di dalam rumah. Suara tangisan itu memang menghilang. Jadi ibaratnya asal gue di luar rumah, pasti ada suara tangisan kecil gitu.
Di saat kami sedang berkumpul di ruang tengah, tiba-tiba Angela, sosok cewe berambut panjang lurus warna hitam, dengan poni dora, berkulit putih dan tentunya mayan montok datang menghampiri kami.

“Oi… !” Sapa Angela tiba-tiba ke Victor yang lagi duduk berpikir

“Astajimm astajimm ~ Wah kentut lu… Nyapa nya pakai ngejutin segala !” jawab Victor yang kaget bukan main lihat cewe berambut panjang dan putih di samping dia

“Ahahaha.. Ah gitu aja kaget lu. Kalian lagi napain sih?!” tanya Angela yang heran lihat kami berkumpul di ruang tengah dan kayaknya lagi serius bahas sesuatu.

Oia, sosok Angela ini lumayan imut sih dan dia orangnya juga agak usil. Cantik juga, manis dan biasanya gue suka sharing ama dia soal hal-hal aneh gitu, kayak misteri-misteri gitu, bukan hantu yaaa ~

“Ah kagak apa-apa Ngel… Cuma ada sesuatu hal yang mengganjal aja. Tapi udah lupain aja. Lagian lu mau napain lewat ruang tengah ?” tanya Victor

“Oh biasa, gue lagi mau ke belakang nih.” Jawab Angela dengan santai

“Eh berani lu ke belakang sendiri ? Ga ajak temen gitu ?” tanya Victor yang agak kagum ama keberanian Angela

“Ya beranilah. Ya jangan mikir macem-macem.” Jawab Angela

“Eh lu tau gak, di sini serem loh, ad suara-suara aneh, ada penampakan cewe baju putih serem gitu.. hihihi…” ucap Victor sambil gangguin Angela dengan gaya-gaya nya yang menyeramkan

Secara spontan Angela lgsg nyubit ke Victor, dan ya biasalah Victornya senyum-senyum gitu kayak pura-pura kesakitan.
Ah si Victor sempet-sempetnya nakutin cewe, ntar kena karma baru tau rasa.
Gue lagi tobat nih, ga berani isengin orang. Padahal sebelum berangkat begini, pas di kota, gue mah mikirnya enak bisa gangguin cewe, trus cewe nya jadi nempel ama kita karena takut.
Tapi…
Klo lihat kondisi seperti ini dan yang gue alami… rasanyaaaa agak gimana gitu…

“Nah Vic, gue jadi kepikiran nih ! Asem lu. Temenin gue lah klo gtu ! Tapi awas aja klo lu ngintip !” ucap Angela yang jadi sedikit takut.

“Ahhh elo Ngel.. Tadi katanya berani, sekarang takut ! Plin plan deh !” sindir Victor

“Diem lu, cepetan temenin gue deh !” jawab Angela sambil narik tangan Victor ke belakang

Fiuh ~ Akhirnya sisa Gue ama Aldi deh di ruang tengah. Si Victor mah nemenin Angela ke kamar mandi yang dalam rumah doank. Klo yang di luar rumah mana mungkin Victor berani sendiri hehehe ~
Ya lumayan lah, suasana mencekamnya jadi sedikit cair karena candaan Angela dan Victor tadi. Gue berusaha untuk hilangin pikiran dan rasa takut tadi, tapi sayangnyaaaa…..

“Dukkk.. Dukkk….Dukkk…”

Loh sepertinya ada suara ketukan gitu deh pikir gue dalam hati. Emm bisa jadi itu suara dari luar rumah mgkn…

“Dukkkk…Dukkk…Dukkkk…”

Eh bukan bukan ! Kayaknya ini bukan suara dari luar rumah. Ini suara dari ruang tengah !!!
Gue mulai memfokuskan pendengaran gue untuk memastikan arah datangnya suara ini, padahal tadi gue uda mulai ngelupain suara tangisan, eh sekarang datang lagi suara ketukan gitu.

…..

“Aldiii… Kali ini lu dengar suara ketukan gitu?!” tanya gue ke Aldi yang sama-sama ada di ruang tengah bareng gue

Aldi menjawab sambil geleng-geleng, “Ga ada Don.”

Halahhhh… Lagi-lagi Cuma gue yang dengerin suara ini. Suara apaan sih daritadi… Sebentar tangisan, sebentar ketukan.
Gue coba duduk tenang dan dengerin kembali arah datangnya suara itu…
Eh sepertinya dari DALAM LEMARI CERMIN itu !!!

Part-41

MIMPI ATAU NYATA

Dukkk…Dukk…Dukkk…

Ya ampun, suara ini ga mau hilang-hilang. Kali ini suaranya beneran deh, bukan dari kepala gue, tapi kayaknya beneran dari arah lemari yang ditutupin kain putih ini. Meskipun gue cuekin, tapi suara ini terus terdengar seakan-akan mengundang gue untuk membuka lemari itu.

Yah setau gue, lemari cermin ini kagak bisa dibuka deh pokoknya, kemarin kan uda pernah dicoba, terus saat ini kan sedang ditutupin kain putih juga.

“Aldi. Ada denger suara ketukan kali ini?” tanya gue agak penasaran

“Hah? Ga ada Don, lu kenapa akhir-akhir ini? Kok banyak amat dengar suara-suara aneh?” balas Aldi

“Gak tau nih. Kemarin aku denger suara tangisan, hari ini denger suara ketukan, tapi kayaknya dari dalam lemari nih.” Jawab Gue dengan sedikit cemas

“Uda sini Don, jangan duduk terlalu deket ama lemari itu, biar ga kedengeran deh. Hahhaa.” Canda Aldi sambil nenangin gue

Akhirnya gue menjauh dari lemari cermin itu, ya moga2 aja suaranya juga makin sayup-sayup. Aldi sepertinya uda mulai ngantuk dan dia mau tidur duluan, klo si Danu sih uda tertidur duluan.

Dukkk…dukkk…dukkkk….
DUKKK…. DUKKKK….

Ya ampun suara nya masih aja kedengaran nih, jelas banget, karena gua bener-bener terganggu dan penasaran ama suara ini kok ga mau hilang-hilang. Gue beraniin diri gue deh utk deketin ke arah lemari cermin itu dan gua pengen coba buka lemari itu…

Sreett…..

Gua geser dan angkat kain putih yang nutup lemari cermin itu. Kini bayangan gua uda bisa gua lihat di cermin itu. Perlahan gua arahkan tangan gua ke pegangan pintu lemari cermin itu… dan….

“Oi Don ! Ngapain lu buka-buka kain penutup lemari cermin itu?!” tanya Victor yang kaget melihat tindakan gua. Angela sih ngekor di belakang Victor

“Eh… Gapapa Vic. Ini suara ketukan daritadi ga mau hilang, kayak ada yang minta dibukain gitulah pokoknya.” Jelas Gue yang makin galau karena denger suara ketukan ini terus

“Ga usah nakal deh Don. Pak Kades uda nyuruh tutupin ini lemari, terus ga usah sembarangan buka deh.” Jawab Victor biar gua ga buka

“Tapi Vic… Gua keganggu banget loh.” Balas Gua

“Gini aja, lu tidur dulu lah sana. Biar gua yang jaga malam ini dulu, ntar gua bangunin lu klo gue uda ngantuk, atau ntar gue bangunin Aldi deh. Beres kan? Lu percaya ama gua lah. Gua jagain, ga mungkin ada apa-apa. Okay?” ucap Victor tenangin gua

“Eh Ngel, temenin gue jaga bntr la. Bosan nih pastinya. Gua kan uda temenin lu ke belakang tadi. Hahaha.” Ucap Victor ke Angela biar ada yang temenin dia

“Oh.. Okay lah… Tapi klo uda ngantuk gua lanjut tidur ya. Mati lampu gini ga bisa napa-napain agak bete jg emg.” Jawab Angela

Ya udah lah. Kalo kondisinya begini, gua pasrahin utk tidur aja, ga peduli suara ketukan itu masih terdengar atau enggak. Gua paksain mata gue utk tutup dan tidur.
Victor dan Angela keliatan duduk di ruang tengah sambil cerita-cerita tentang kehidupan mereka sebelum kemari, ya syukurlah suara ketukan itu agak samar-samar.
Syukurlah Gua belum ngebuka pintu lemari cermin itu. Kalo sempat gue buka, entar malah kena masalah apa lagi. Tapi tadi pikiran gue emg galau banget gara-gara suara ketukan yang ga henti-henti…

……………

“Nggrrooookkk…… Nggrooookkkk……”

Gue terbangun dari tidur lelap gue…

“Ahhh jam berapa ini? Tumben tumben gua terbangun subuh gini.” Gumam gua dalam hati, biasanya gua klo tidur jarang terbangun subuh, pasti ampe pagi.

Duh terbangun di jam segini, pasti gara-gara suara ngorok temen gue nih. Ganggu banget. Kalo terbangun di subuh gini, bawaannya pasti mau ke belakang. (Buat yang cowo pasti ngertilah klo rasa terbangun di subuh itu, bawaannya pasti pengen ke wc)

Sbelum gua keluar dari kamar gua, gua lihat temen ke sekeliling gue.

“Loh, Cuma Aldi dan Danu yang lagi tidur. Si Victor emangnya belum tidur yah? Ini jam berapa yah? Oh jam 2 subuh.” Gumam gua sambil ngecek handphone gua.

Gua akhirnya keluar dari kamar gua dan gue lihat Victor lagi duduk sambil tertidur di ruang tengah, Angela sepertinya uda balik tidur ke kamar dia deh, soalnya gua ga nampak batang idungnya.
Duh.. Kasian juga lihat Victor tertidur di ruang tengah, klo lihat kondisi malam ini, sepertinya Danu ga macam-macam deh, baiknya sih gue suruh Victor tidur di kamar aja deh ya. Ah tapi nanti deh, gue mau ke toilet dulu.

Gua buka pintu dapur utk ke toilet, Cuma utk BAK sih, fiuhh ~ udaranya dingin banget, gua nyalain flash HP gua buat lihat-lihat sekitar, soalnya gelap banget.

Ahhh lega ~

Selesai dari toilet, gua mau balik ke ruang tengah dan mau tutupin pintu dapur. Eh Victor kemana??? Tadi kan dia di ruang tengah, kok sekarang ga ada?!

“Don….. Don….” (suara sayup-sayup memanggil nama gue dari arah toilet)

“Hah?? Siapa tuh?!” Gue langsung jawab spontan

Astaga !!! Gua baru teringat, kata orang tua klo ada yang manggil lu tiba-tiba tanpa lu sadari siapa itu orangnya, sebaiknya jangan dijawab. Pokoknya pantang banget deh kata orang tua.
Gua lupa dan gua baru teringat ketika uda gua jawab. Halahhhh ~

Berhubung gua uda jawab, gua pun memberanikan diri untuk balik badan gue dan melihat ke arah toilet…

….

“Loh ga ad orang deh.” Gumam gua dalam hati. Rasanya tadi ada suara manggil-manggil gue, gue sambil nyinarin flash HP gue ke sekeliling gua.

Ah sudahlah, salah dengar gua mungkin lagi ngantuk, gua pun balikin badan gue lagi ke depan untuk masuk ke ruang tengah.

“Hahahaha…. Lagi ngapain Don ?! Ayo bukaaaaa bukaaaaa ini !!!”

“Eh Victor ? Woi jangan Vic, napain lu mau buka pintu lemari cermin itu. Tadi kata lu jangan buka.” Respon gua kaget karena melihat Victor lagi jongkok di depan lemari cermin itu sambil narik-narik pegangan utk pintu lemari cermin itu.

“HAHAHAHAHAHA….. HAHAHAHAHHAA…. BUKAAA BUKAAAA HAHAHAHAH….”

“Ahhhh jangan Vic jangan !!!” teriak gua sambil mencegah Victor untuk ngebuka pintu lemari itu. Entah kenapa wajah tawa Victor seram banget. Mulutnya tertawa sampai terngaga begitu lebar. Matanya Melotot dan Suaranya menyeramkan banget..

…………

“Don… Don… Bangun Don… Kenapa Lu ? Ngingau?”

“Engg…Enggg…. Ahh…” teriak gue kecil karena kaget…

Ohhh… hanya mimpi toh… Gua sedikit lega ketika gue terbangun dan gue sadar klo itu Cuma mimpi belaka. Anjrittt… Tapi kok kayak nyata banget sih mimpinyaaa.. Surem deh klo itu kejadian asli.

“Tumben lu sampai ngingau? Kepikiran soal suara tangisan dan ketukan yah?” tanya Victor

“Ah iya.. Vic.. Mimpi gua kayak nyata banget… Asem.” Ucap Gue sambil ngelap keringat gua karena cemas.

“Oia, btw, sekarang jam berapa sih? Lu belum tidur Vic?” tanya Gue ngelihat Victor yang sepertinya belum tidur daritadi

“Hah? Sekarang jam 2 subuh Don, nih gua mau ke toilet dulu, terus uda mau tidur lagi. Kayaknya kondisi malam ini aman deh, Danu juga lagi tenang-tenang kan?” ucap Victor ke gua

“Lu mau ikut gua ke toilet dulu gak?” tambah Victor.

EHHHHHHHHHHHHHHH……..????!!!!
Rasanya kok aneh yah… Kebetulan apa gimana???

Part-42

PENAMPAKAN

Eh…. Ini kebetulan apa kagak sih? Kok rasanya seperti yang terjadi di mimpi aku barusan yah? Ah sudahlah… Lupain aj..

“Gak deh Vic. Lanjut aja. Gua mau tidur lagi ya.” Ucap Gue menolak ajakan Victor

Ya gua berharap dengan gua tidur, ga kedengaran suara ketukan or apa terjadi dalam mimpiku seolah menjadi nyata deh.

…..

Hari demi hari pun berlalu. Kami melakukan aktivitas seperti biasa, namun tepat pada hari ke-25. Kami akhirnya memutuskan untuk membawa Danu ke orang pintar di desa yang diberitahukan oleh pak Kades. Jadi begini alasannya kenapa kami memutuskan untuk membawa Danu ke orang pintar.

Tepat sehari setelah gua bermimpi buruk itu, yaitu hari ke-24, tingkah laku Danu mulai meresahkan kami lagi.

Di malam hari ke-24 saat mati lampu. Danu enggak seperti biasanya duduk atau tidur di kamar. Dia mulai kembali berjalan-jalan dan ngomong-ngomong sendiri.

“Hahaha… Mari main, ayo ikut denganku.” Ucap Danu ke arah ruang tengah dan kemudian ia berjalan keluar rumah. Kejadian ini terjadi tepat sesaat setelah pemadaman listrik jam 9-an

Gua ama Victor yang sedang asik-asik duduk di luar sempat kaget karena mendengar jeritan dari cewe dalam rumah yang terkejut akibat tingkah laku Danu.

“Bruuukkkkkk !!!”

Pintu depan rumah kami dibuka dan ditutup dengan cukup kuat oleh Danu dan kemudian Danu langsung jalan ke arah kanan dari rumah kami. Ya kalo di ingat-ingat arah kanan ini kan ke daerah pohon beringin, rumah kosong dan rumah bapak dan anak itu. Lah, napain sih dia tiba-tiba kesana. Padahal kemarin-kemarin kan uda tenang Danunya.

“Vic, gimana? Kita kejer Danunya apa kagak ? Kasian nih. Mana bisa tenang nih kita.” Tanya Gua ke Victor yang lagi duduk santai di luar bareng gua

“Entahlah.. Gua pun capek lihat tingkah laku Danu. Gua besok ada kegiatan ke tempat pak Kades, padahal gua rencana mau tidur cepat nih.” Balas Victor

“Jadi kita gimana? Biarin aja Danunya? Btw, coba kita tanya Aldi deh.” Ucap Gua

Gua pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke arah ruang tengah. Beberapa cewe uda ada yang mulai tidur-tiduran di kamar dan cuekin masalah Danu barusan, dan ada beberapa cewe yang masih ada di ruang tamu yaitu Monica, Angela dan Laras yang sedang membahas proker mereka besok, namun terhenti karena melihat tindakan Danu tadi.

“Ko, Danu kenapa lagi nih?” tanya Monica ke arah gua dengan suara pelan dan sepertinya khawatir karena sudah beberapa hari ini Danu tidak berulah

“Iya nih Ko, dia daritadi komat kamit sendiri di ruang tengah, kami sih ga peduliin, tapi pas dia keluar, jadi bikin resah gitu.” Tambah Angela

“Iya. Nih gua lagi mau tanya Aldi yang kebetulan di ruang tengah juga.” Balas Gua

Gua pun menuju ke ruang tengah dan menghampiri Aldi.
Tapi…
Astagaaa….
Aldi lagi duduk terdiam dengan kondisi badan tegak dan mata melotot ke arah lemari cermin yang kain putihnya uda terangkat ke atas dan tentunya bayangan kita uda bisa terlihat lagi di cermin.
Gua sempat terdiam dan kaget melihat tingkah laku Aldi yang duduk melotot menatap ke arah cermin di lemari itu. Gua berusaha tenang dan ga membuat suara berisik agar para cewe yang di ruang depan ga kedengaran.

“Eh… Aldi.. Lu kenapa? Lihat apaan lu?” tanya Gua sambil menggoyangkan badan Aldi.

“Wah badannya dingin, kayak orang ketakutan. Kaku dan gemeteran gitu deh.” Gumam gua dalam hati. Dia kenapa sih.

“Don… Don.. Lu lihat gak, coba lihat ke arah cermin itu. Kok sepertinya di arah kamar kita ini banyak banget penghuninya?!” ucap Aldi dengan pelan dengan mata tetap melotot ke arah cermin.

“Hah? Maksud lu apaan Di? Jangan nakutin gitu lah, gua baru mau tanya lu soal keadaan Danu yang tiba-tiba keluar rumah, mau kita susul gak sih?! Terus dia kenapa bisa tiba-tiba keluar?” tanya Gua

“Oh Danu, tadi dia ngomong sendiri sambil ngangket kain putih yang nutup cermin lemari ini, kemudian dia melihat ke cermin dan ngomong-ngomong sendiri terus keluar ke depan.” Jawab Aldi

“Terus elu? Napain pelototin nih cermin? Uda ah tutup aja, seram loh.” Balas Gua

“Jangan Don, tadi sehabis Danu ngomong sendiri ama cermin ini, gua penasaran dan gua juga ikut liatin ke cermin itu.” Jawab Aldi

“Terus? Apa yang lu lihat? Kok kayaknya lu ketakutan gitu?”

“Emmm… Ada bayangan yang terlihat di cermin itu. Seorang gadis berambut hitam panjang menutupi wajahnya memakai pakaian putih sedang berdiri tegak di kamar kita, seorang nenek tua yang berada di dekat ruang tengah ini dan seorang bocah kecil tanpa busana sedang berkeliaran di kamar kita. Semuanya sedang menatap gua yang sedang lihat ke cermin dan mereka tertawa kecil.” Ucap Aldi dengan pelan dan agak patah-patah.

“Apaaa??!”

Part-43

HARUSKAH MELAPOR?

Aldi yang mengatakan bahwa ia melihat ada beberapa sosok makhluk gaib melalui cermin yang ada di lemari di ruang tengah itu sempat membuat gua takut. Gua lebih memilih untuk tidak melihat ke cermin itu daripada entar terlihat yang aneh-aneh. Gua hanya memanggil Victor yang masih di teras rumah untuk ke ruang tengah. Para cewe beberapa ada yang peduli dan ada yang tetap di kamar, cewe yang peduli ya seperti biasanya lah ada Monica, Feby, dan Angela. Kalo Amelia entah kenapa akhir-akhir kagak begitu ikut campur. Mungkin masih trauma or takut akan kejadian-kejadian kemarin.

“Ada apa sih? Kok ribut-ribut di ruang tengah ampe manggil-manggil segala?” tanya Victor yang baru datang dari teras rumah

“Vic. Lu coba lihat ke cermin ini deh. Kata Aldi dia terlihat sosok bayangan gitu dari cermin ini. Gua malas lihat. Ntar kebayang-bayang.” Ucap Gue

“Ah parah. Penakut banget sich loe. Lihatin aja kan gapapa.” Jawab Victor agak sok cool

Victor pun berjalan mendekati ke arah cermin. Gua dan Aldi hanya standby di deket Victor dan memilih untuk ga liat ke cermin itu. Feby, Monica dan Angela juga ikut berkumpul di ruang tengah namun jg ga berani melihat ke arah cermin.

“Ko, memangnya ada masalah apa lagi dengan cermin itu? Kok kalian buka sih kainnya?” tanya Monica dengan suara pelan

“Gak tau Mon, bukan gua yang buka, tadi Danu yang buka kain itu. Terus si Aldi ngelihat macam-macam deh dari cermin itu.” Jawab Gua

Victor yang uda berada di depan cermin dan melihat ke arah cermin tetap tenang-tenang aja. Dia melihat ke arah cermin, kemudian melihat ke arah belakang dia dan kemudian menoleh ke kami lagi.

“Dah gua bilang. Ga ada apa-apa kok. Kebanyakan halusinasi karena ketakutan tuh. Jangan terlalu dipikirkan lah.” Ucap Victor menenangkan suasana

“Aaaaaaaaaaaaaa….!” Jerit seseorang dari samping gua

“Hahhh??? Kenapa Feb??? Ada sesuatu yang terjadi ?” tanya Gua ke Feby yang ada di antara cewe-cewe itu.

Monica dan Angela langsung merangkul Feby yang tiba-tiba langsung jongkok sambil menutup matanya dengan kedua lututnya dan tangannya menutup kedua kupingnya. Wah ini uda ga heran nih, pasti dia melihat or mendengar sesuatu yang aneh-aneh nih.

“Feb, tenang Feb. Kami ada bareng kamu kok.” Ucap Victor nenangin Feby

Monica dan Angela juga lumayan sedikit ketakutan. Para cewe yang lain yang ada di kamar juga akhirnya keluar dan ikut berkumpul di ruang tengah. Suasana malam ini kembali mencekam lagi. Setelah sekian lama jarang terjadi masalah lagi.

“Kooo… Sosok gadis rambut panjang dengan mulut tersenyum menganga yang berbusana putih panjang itu nongol lagi Ko !!! Dari arah jendela kamar kalian !” ucap Feby sambil menangis karena ketakutan.

Badan Feby terasa dingin dan gemetar saat gua merangkul dia dan menenangkan dia.

“Ya uda Feb, ayo masuk ke kamar mu aja dulu. Supaya ga terpengaruh ama hal-hal aneh di ruang tengah. Sini koko temenin deh ya.” Ucap Gua sambil merangkul Feby ke kamarnya.

Victor dan yang lainnya masih berkumpul di ruang tengah. Aldi menceritakan apa yang dilihatnya kepada para cewe juga. Setelah mendengar cerita dari Aldi, para cewe mulai ketakutan dan makin gak tenang. Wah salah juga sih sebenarnya Aldi ceritain ke mereka. Pasti suasana makin kacau lagi. Tapi gapapalah, ada baiknya juga kalo semuanya tau, biar gak jadi beban bagi kami aja.

Gua sebenarnya mau ngelarang Aldi untuk cerita, tapi mau gimana lagi, gua lagi di kamar bareng Feby. Lagi temenin Feby yang sedang ketakutan dan saat ini dia sedang bersandar di pundak gua sambil memegang erat tangan gua karena ketakutan. Ya gua Cuma bisa ngelus-ngelus rambutnya sambil merangkul dia agar tetap tenang aja.

“Jadi gimana menurut kalian? Kita lapor ke Pak Kades aja soal keadaan Danu dan lemari cermin ini?” ucap Victor memecahkan suasana hening itu.

“Iya deh. Mending lapor aja. Kasian juga Danu jadi ga karuan gini. Kita harus cari solusinya nih. Terus ga tenang jg kalo kita diganggu gini kan?” jawab Laras

“Iya deh. Lapor aja. Kami setuju.” Tambah cewe-cewe lainnya.

Malam itupun kami akhirnya mengambil keputusan utk ngelaporin masalah ini ke Pak Kades lagi. Ya wajar aja sih. Klo kondisi terganggu seperti ini, pasti akan menghambat proses kerja kami dan yang lebih gawatnya bisa mempengaruhi mental dan kejiwaan kami nih.

Danu yang daritadi keluar ke arah kanan rumah kami sampai sekarang sekitaran pukul 11an malam aja belum balik. Ini juga menjadi beban bagi kami. Mau nungguin dia apa mau biarin aja?

Entahlah…

Feby yang tadinya ketakutan dan menangis akhirnya mulai tenang juga, gua keluar dari kamar Feby dan nyerahin Feby ke para cewe sekamarnya.

“Oe. Vic, tadi Feby cerita ke gua, kalo dia slalu ngelihat sosok cewe aneh di kamar kita loh, entah di kamar kita or entah dari jendela yang ada di kamar kita itu. Pokoknya gua jadi kepikiran dan ga tenang nih.” Ucap Gua

“Hahahhaa santai ajalah. Lu takut apaan sih ama begituan? Jarang-jarang deh. Setau gua lu di kota mana ada peduli ama hal begituan?” jawab Victor

“Iya gak Aldi? Lu yang bisa lihat begituan aja ga peduliin kan? Ada yang mengganggu emangnya?” tambah Victor nenangin gua

“….” Aldi hanya mengangguk

Part-44

MENCARI SOLUSI

Setelah melewati malam yang cukup menyeramkan bagi gue dan temen-temen lainnya. Akhirnya pada pagi hari ke-27, gue dan Victor memutuskan untuk pergi ke rumah Pak Kades untuk meminta saran dan menemui orang pintar di desa. Ya biasalah, klo di desa, biasanya selalu ada orang pintar yang ahli dalam hal beginian.

“Yok Vic, berangkat lagi kita?” tanya gue ke Victor.

“Mau kemana Ko? Jadi ke rumah pak Kades?” sela Monica ke gua

“Iya Mon, kenapa? Kami mau bahas masalah Danu sih ama minta saran atas kejadian di sini.” Jawab Gue

“Ko, gua ama Feby boleh ikut gak? Feby juga pingin minta saran ama pak Kades.” Jawab Monica

“Ok, klo gitu barengan aja.” Jawab Gue

Akhirnya kami menuju rumah pak Kades dengan berjalan kaki pada pagi hari itu. Masih seperti biasa, setiap kali kami lewat depan rumah warga, selalu saja tatapan mereka begitu tajam memperhatikan kami. Gua sedikit terganggu juga, ini orang apa kagak pernah lihat orang kota datang ke desa kali yah? Kok sampai dilihat melulu.

Kami berempat terus berjalan dan cuekin pandangan orang-orang desa tersebut. Ya klo dibilang terganggu sih uda pasti terganggu lah. Tapi mau gimana lagi, palingan klo saling menatap, gue lemparin senyuman manis gue aja ke mereka, tapi sayangnya GA PERNAH DI RESPON MEREKA.. ckckckck

“Pagi, Pak. Ini kami yang mengabdi di desa ini loh. Maaf ganggu bentar Pak.” Ucap Victor ke pak Kades yang lagi duduk santai di teras depan rumahnya.

“Oh iya. Mari mari silahkan duduk aja. Ada apa nih pagi-pagi uda kemari?” tanya Pak Kades yang heran karena kami datang sekitaran jam 9 pagi.

Kami mulai basa-basi dan canda tawa sampai akhirnya pembicaraan kami mulai masuk ke poin yang penting.

“Emm begini Pak. Masih seputar masalah yang kemarin.” Ucap Victor membuka pembicaraan yang serius ini.

“Yang soal lemari cermin kah?” tanya pak Kades sambil mengingat

“Iya Pak. Masih masalah lemari cermin, namun diikuti beberapa masalah lainnya nih yang cukup memusingkan kami.” Jelas Victor

“Apa tuh?” tanya pak Kades

“Begini Pak. Selain penampakan yang dikeluhkan oleh teman-teman yang melihatnya. Salah satu dari teman kami yang cowo juga mengalami sedikit keanehan. Namanya Danu, dia sudah seperti ga sadarkan diri Pak, seperti kerasukan, suka berbicara sendiri, bengong-bengong sendiri, kadang keluyuran sendiri.” Jelas Victor

“Oh ia Pak, teman kita yang cewe ini (sambil nunjukin ke arah Feby), dia juga sering melihat sosok wanita gitu di arah luar rumah.” Tambah Gue

“Hmm… Kamu bisa lihat juga?” tanya pak Kades ke gue

“Eh.. Klo saya ngelihat langsung sih enggak, paling Cuma merasakan aja, misalnya kedengaran suara aneh-aneh gitu.” Jelas Gue

“Hmmm…. Kalau masalah begini sepertinya uda mulai kelewatan. Sebenarnya bapak malas cerita ke kalian panjang lebar, nantinya kalian malah akan semakin gak tenang, mengingat masih 2 bulan kalian harus mengabdi di desa ini kan? Kemudian ga ada rumah kosong lain yang lumayan bagus dan layak dihuni oleh orang sebanyak kalian ini.” Jelas pak Kades dengan suara agak pelan yang sepertinya juga cemas dan bingung akan masalah kami.

“Begini saja deh. Bapak sarankan kalian bawa teman kalian itu ke orang pintar yang akan bapak kasi alamatnya deh (Pak Kades gambarkan denah untuk menuju rumah orang pintar itu). Orang pintar ini sudah cukup berumur, terus nanti kalian harus sopan yah sama beliau, dia orang yang dituakan alias dihormati oleh masyarakat desa ini. Mungkin dia bisa jelaskan lebih lanjut soal masalah kalian ini.” Jelas Pak Kades sambil nyerahin denah ke gue

“Pak, memangnya ada masalah apa yah? Kok sampai seperti ini ?” tanya Victor

“Saya rasa kalian ada melakukan suatu kesalahan. Coba kalian renungkan dan kalian ceritakan saja deh sama orang pintar itu yah.” Jelas Pak Kades yang sepertinya dia menyimpan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan kepada kami.

Mendengar penjelasan dari Pak Kades yang kurang memuaskan hati kami berempat. Akhirnya kami memutuskan untuk bertamu ke rumah orang pintar itu, ya mumpung masih jam 10 pagi.
Kami mengikuti denah yang diberikan oleh pak Kades.

….

Kami terus berjalan dan sepertinya rumah bapak orang pintar ini juga terpelosok juga, kiri kanan kami sudah pepohonan rimbun, padahal daerah ini bukan di daerah kami yang memang rumah warga hanya sedikit. Kami berjalan dengan pelan dan akhirnya kami menemukan rumah yang terbuat dari papan yang berukuran cukup sedang, tidak besar dan tidak terlalu kecil, halaman rumahnya juga cukup luas dan dipenuhin dengan berbagai jenis tanaman, ya klo gue liat sih seperti tanaman obat-obatan gitu deh.

“Permisiii…” ucap Victor sambil mengetuk pintu rumah yang terbuka

“Iya mari masuk. Bapak lagi keluar sebentar.” Ucap seseorang dari dalam rumah yang kedengarannya seperti suara seorang ibu-ibu yang uda berumur.

Part-45

PENGUNGKAPAN MISTERI -1-

Suara dari dalam rumah yang mempersilahkan kami masuk terdengar begitu kecil, sayup2 dan pelan. Ya agak deg-deg-an juga sih mau masuk, apalagi bagi kami sebagai orang yang lebih sering tinggal di kota, mikirnya pasti macam-macam saat mau masuk rumah orang pintar di desa gini.

Kayak gua aja pasti kepikiran jangan-jangan banyak penangkalnya, terus banyak peliharaannya, banyak pantangannya, harus hati-hati dan waspada. Pokoknya rasa curiga menghantui diri gua saat mau masuk.

“Ayo Don, Lu kebanyakan bengong lihat sana sini, yuk uda dipersilahkan masuk!” ajak Victor sambil narik gue

“Iyaaa… sabar, lagi lihat-lihat aja tadi.” Jawab Gua

Akhirnya gua dan yang lain masuk ke rumah. Ternyata di dalam ada seorang ibu-ibu yang sudah cukup berumur mungkin 50an. Memakai penutup kepala gt.
Kami duduk di ruang tamunya yang bisa di bilang lumayan luas. Rata-rata rumah orang desa sini ruang tamunya luas luas, ya meskipun hanya beralaskan karpet aja sih.

“Adik-adik darimana yah? Apa yang dari kota seperti yang dibilang pak Kades?” tanya Ibu itu

“Ohh maaf Bu mengganggu. Kami memang benar dari kota yang ditugaskan mengabdi di desa ini selama 3 bulan.” Ucap Victor sambil memperkenalkan diri kami berempat.

“Ohhh bgitu. Kalian lagi cari Bapak yah? Disarankan dari pak Kades?” tanya Ibu itu.

Pandangan Ibu itu saat melihat gua dan Feby agak lain, dia terus menatap gua dengan tatapan kosong selama beberapa menit, sementara ke Victor dan Monica biasa aja.

“Vic, ibu nih kok natap gue melulu yah?” bisik gue ke Victor

“Lu tanya gue? Gue mana tau, tanya aja ibu tuh lgsg.” Sindir Victor

“Ah gila loe. Mana mgkn gua tanya ke ibu itu lgsg.” Jawab Gue yang agak kesal

Setelah bergumam dengan Victor, tiba-tiba ibu itu menyela pembicaraan kami.

“Nak, kalian kemari pasti mengalami sesuatu yang gak enak kah selama tinggal di desa ini?”

Wah… sekejap kami terkejut dan terdiam. Ini ibu pasti uda tau maksud kami nih. Gak kepikiran kalo kami hanya mau silahturahmi, lgsg ketebak klo mengalami masalah hahaha

“Ehh. Iya Bu. Benar.” Jawab Gue

“Sudah ibu duga. Uda berapa lama diganggunya? Kemudian gangguan seperti apa? Ibu Cuma bisa melihat saja, kalau untuk membersihkan diri, bapak lebih bisa untuk hal beginian.” Ucap Ibu ini ke gue

“Begini Bu, hal-hal aneh yang terjadi banyak. Klo saya lebih sering merasa diikuti oleh orang dan suka mendengar suara-suara aneh. Kalo temen cewe kita yang satu ini (sambil nunjuk ke Feby), dia lebih sering melihat sosok wanita berambut panjang. Kemudian ada teman kami yang seperti kerasukan dan berlaku tidak seperti sebelumnya. Tingkah lakunya berubah.” Jelas Gue

“Oh…” jawab Ibu itu sambil melihat ke arah gue, tapi arah pandangannya malah bukan ke gue, sepertinya tatapan bola matanya lebih tertuju ke atas kepala gue dan terkadang ke belakang gue, hal ini sama terjadi utk Feby juga.

“Maaf Bu, ada apa di atas dan belakang saya?” gue memberanikan diri utk bertanya.

“Hmm… kamu sering merasa risih dan terganggukah nak?” tanya Ibu itu ke gua

“Yah terganggunya karena sering mendengar suara tangisan dan kadang-kadang merinding aja Bu.” Jawab saya

“Soalnya ibu lihat ada bayangan hitam mengikuti kamu terus. Sosoknya ibu gak bisa lihat dan ibu juga ga bisa mengusirnya. Entar Bapak yang akan usirkan, dan adik perempuan itu juga sama. Ada yang mengikuti juga, namun sosoknya lebih besar dan tinggi. Ya mungkin itulah yang dia lihat.” Jelas Ibu itu dengan nada datar dan pelan.

Gua yang mendengar pernyataan Ibu ini, membuat gua benar-benar cemas dan takut. Perasaan gua menjadi gelisah tak menentu dan tak tenang. Lahhh masuk akal juga kan klo dibilang diikutin oleh sosok bayangan hitam gitu. Otak gue terus berpikir yang macem-macem, klo begini, entar gua mao boker gimana? Klo pas gue sendirian gimana? Ah mestinya tadi gue ga tanya ke Ibu itu. Kepo membawa masalah aja kan.

Gue lihat ke arah Feby, si Feby juga jadi tertunduk dan sedih. Victor yang didekatnya berusaha membujuk Feby dan menenangkannya. Entar ada Bapak yang bisa membersihkannya kok.

Tak berapa lama kemudian, Bapak yang dikenal sebagai orang pintar itupun datang.

“Wah wah… Ada apa ini ramai-ramai kemari dik ?” sapa Bapak ini dengan ceria

“Haha. Maaf mengganggu Pak, ya ada sedikit masalah yang mungkin ingin kami tanyakan ke Bapak dan siapa tahu bapak bisa membantu kami.” Ucap Victor sambil mengenalkan diri kami lagi.

Nama Bapak ini sih Pak Anto, tapi kami jarang memanggil namanya, kebanyakan manggil Bapak aja lebih sopan.

Setelah menjelaskan panjang lebar seperti yang kami jelaskan ke Ibu tadi. Pak Anto inipun mulai mengkerutkan dahinya.

“Duhhh duhhh…. Kalian di sini ada berbuat macam-macam yah? Ada nakal? Ada melanggar aturan? Harusnya pak Kades ada memperingatkan kalian. Apa jangan-jangan pak Kades lupa peringatin kalian kali yah sampai masalah jadi seribet begini?” tanya Pak Anto

Waduh… gawat juga nih menurut gue. Klo soal larangan yang dilanggar banyak dah, berbuat ulah jg bnyak dah. Mau jelasin gimana juga bingung. Gua natap ke Victor, eh si Victor malah natap balik ke gua. Monica dan Feby hanya diam diam saja menunggu kami yang berbicara. Gua pikir pembersihan itu sebentar saja klo masalahnya ga ribet, tapi kayaknya ini ribet nih.

“Emm… iya pak. Pak Kades ada peringatin kami, tapi memang beberapa ada yang kami langgar, berbuat macam-macam sih ada, tapi ga banyak.” Ucap Gua dengan nada agak pelan serasa bersalah.

“Coba sebutkan aja deh, kalian melanggar apa aja?” tanya Pak Anto

“Kenapa Pak? Ada beberapa sih. Apa saya mesti sebutkan semuanya? Apa masalah ini gawat pak?” tanya Victor yang juga sedikit cemas. “Maaf atas pertanyaannya Pak, soalnya kami cemas juga, teman kami ada satu orang yang lebih bermasalah dari kami.”

“Iyah bapak juga gak enak bilangnya. Tapi masalah yang kalian hadapin cukup ribet sih. Kalau sekedar kerasukan, keteguran biasa yang tidak disengaja, itu sebentar aja. Tapi kalian ini, sepertinya kalian yang mencari masalah. Jadi bukan keteguran yang tidak disengaja, tetapi yang disengaja. Sepenglihatan saya begitu.” Ucap Pak Anto

“Emm.. Kalian pernah keluar saat mati lampu adik-adik? Pak Kades pastinya uda peringatin kalian tentang hal ini. Semua warga di desa ini memang dilarang untuk keluar rumah pukul 9 malam saat mati lampu.” Tanya Pak Anto

Gue dan yang lain hanya terdiam aja. Ya wajar. Jelas-jelas kami belum apa-apa uda keluar malam pas baru tiba. Terus uda keluyuran, main-main ke rumah gadis dengan nama Diana. Terus nyasar ke hutan gitu dan masih banyak deh.

“Sebenarnya pak Kades juga ga ingin ceritakan hal ini buat kalian soal jam malam, karena pasti akan membuat kalian lebih gak tenang. Tapi kalau sekedar diperingatkan, mungkin bakal dilanggar yah. Hahaha, maklumlah jiwa anak muda pasti mudah penasaran.” Ucap Pak Anto sambil mencairkan suasana kami yang terdiam dan kemudian ia melanjutkan pembicaraan yang lebih serius lagi.

“Desa ini termasuk desa yang keramat, adat istiadat kuat dan peraturan serta larangan dan pantangan juga masih banyak. Bagi adik-adik yang dari kota, mungkin hal seperti ini terdengar aneh dan ga masuk akal kan? Tapi selagi kita di daerah orang lain dan terpencil seperti ini, ada baiknya percaya saja pada larangan yang disampaikan.”

“Adik-adik mungkin belum tau kenapa kalian dilanggar keluar malam. Di desa ini saat jam mati listrik, dari dulu sering terjadi keanehan. Para orang-orang yang sudah meninggal di desa ini terkadang akan bangkit dari kematian mereka dan berlaku seperti orang hidup. Ini sudah menjadi misteri dari desa ini. Jadi bisa dibilang seperti arwah gentayangan. Bagi adik-adik yang sedang sial, bisa saja kalian melihat penampakan itu.”

“Kalau sekedar terlihat, ya lebih baik tidak saling menyapa. Cuekin saja dan tetap berjalan seperti biasa. Itupun kalau terpaksa keluar yah. Para arwah yang gentayangan tengah malam itu bisa berlaku seperti manusia kalau kalian bertemunya secara spontan dan terbawa suasana. Jadi susah dijelaskan. Bagi orang lain mungkin bisa melihatnya, dan bagi sebagian orang mungkin tidak bisa melihatnya. Yang bisa melihatnya termasuk kategori yang sedang sial. Penampakan mereka juga beragam. Ada yang wujudnya seram, ada yang wujudnya seperti saat mereka masih hidup.” Jelas Pak Anto

Wahhh.. Gua baru tau tentang masalah ini. Victor, Feby dan Monica yang mendengarkannya juga sedikit shock dan terkejut. Kami ga nyangka kalau larangan utk tidak keluar malam itu adalah karena masalah ini.

Terus kalo di flashbackk….. Berarti selama iniiii yang kami alaminnnn ??????

Part-46

PENGUNGKAPAN MISTERI -2-

Penjelasan Pak Anto mengenai larangan untuk tidak keluar malam saaat mati listrik cukup membuat hati gue dan temen gue lainnya dag dig dug. Siapa yang nyangka kalau itu adalah penyebabnya. Yah kalo gua pikir-pikir, memang ada benarnya, entah kenapa setiap kali kami keluar malam, selalu mendapatkan masalah yang tidak mengenakkan. Sementara kalau pagi ampe sore biasa aman-aman saja. Lagipula pada malam hari saat mati listrik, memang ga ada satupun warga yang berkeliaran. Malingpun ga ada hahaha

Oia, sebenarnya saat itu gua jadi teringat suatu hal, pas pertama kali datang saat kami belum ada maksud nakal. Kami kan sempat bertemu dengan seorang nenek-nenek yang berjalan tanpa alas kaki. Penasaran sih, gua pun mencoba untuk bertanya dan memperjelas soal itu.

“Maaf Pak, kemarin pas awal datang kami sempat keluar malam untuk ke toilet belakang rumah kami. Terus kami bertemu dengan seorang nenek-nenek yang uda cukup tua, berjalan tanpa alas kaki, tapi saat kami sapa, dia tidak menjawab.” Tanya Gua

“Hmm.. Terus kalian hadapinnya gimana? Apa kalian cuekin aja?” tanya Pak Anto agak penasaran

“Yah kami sapa, kami panggil beberapa kali, tapi respon pun ga ada.” Jelas Gue

“Ya uda, kalo begitu kenapa dipermasalahin? Kan uda bapak sampaikan, kalo melihat hal aneh-aneh, cuekin aja. Apa jangan-jangan kalian usil?” tanya Pak Anto seolah-olah curiga ama kami dan ingin membongkar rahasia kami.

…..

Gua dan Victor sempat terdiam karena kami sadar apa yang pernah kami lakuin. Masih ingatkan? Pertama kali gue bareng Victor, Monica dan Amelia utk ke toilet dan kami menyapa namun dicuekin, yang kedua kalinya gue bareng Victor dan Danu ke toilet dan cegat nenek tua itu, Danu tertabrak oleh nenek itu dan selanjutnya sampai sekarang Danu jadi berubah.

“Gapapa Pak. Kami kemarin nyapa, tapi selalu dicuekin, lihatpun tidak, senyum pun tidak Pak.” Tambah Victor

“Ya klo begitu baguslah, berarti kalian hanya melihat saja, tidak sampai diganggu. Bukannya uda bapak kasi tau tadi, ada arwah yang bisa terlihat dan ada arwah yang tidak menampakkan diri. Ada arwah yang mau berkomunikasi dengan manusia jika ia terganggu untuk memberi peringatan, dan ada jg arwah yang tidak begitu peduli.” Jelas Pak Anto

“Loh, berarti maksud bapak, itu nenek tua juga bukan penduduk asli di sini? Kami pikir dia warga di sini yang mungkin sudah agak pikun atau bermasalah dengan pikirannya sehingga jalan-jalan gak tau waktu.” Jawab Victor

“Hussh.. Ngomong apaan lu Vic. Ga sopan tuh !” tegur Gue sambil berbisik ke Victor

Monica dan Feby hanya duduk terdiam dan mendengarkan penjelasan pak Anto dengan seksama.

“Yah iya… Pokoknya kalau malam hari, sangat susah untuk membedakan mana penduduk asli dan mana penduduk asli yang telah meninggal atau yang kita sebut sebagai arwah gentayangan. Makanya itu, penduduk di sini, kalau sudah jam mati listrik, gak bakal keluar rumah. Itu juga sebagai peringatan. Kalo soal maling, di sini gak bakal ada maling. Rata-rata yang berniat jadi maling pasti bernasib buruk.” Jelas Pak Anto

Gua dan Victor dan Monica yang pernah bertemu dengan nenek tua itu sempat kaget dan saling bertatap muka. Gila aja. Berarti nenek itu bukan orang asli donk, pantesan pertama kali kita sapa, dia cuekin kita, namun kedua kalinya kita yang nakal sampai ngejar dan cegat nenek itu. Aduhhhhhhhhhhhhhhhh

“Pak kalo boleh tau, nenek itu sebenarnya siapa? Apa bapak tau?” tanya Gua

“Nak, sebenarnya daerah rumah kalian itu cukup rawan dan bisa dibilang cukup angker. Posisinya lebih terpelosok dan terpencil, rumah warga juga sangat sedikit. Tapi kalo soal keamanan, pastilah aman dari maling dan sebagainya. Untuk makhluk halus ataupun dunia gaib, sebenarnya kalau kalian tidak mengganggunya, semestinya kalian tidak akan diganggu. Pak Kades dari awal pasti sudah peringatkan kalian, cuman kami tidak mau menjelaskan lebih lanjut supaya kalian tidak takut. Tapi apa bole buat, nasi sudah menjadi bubur, sepertinya kalian uda terlalu mengusik mereka kali ya? Dari raut muka kallian, Bapak bisa nebak sih.” Ucap Pak Anto yang memperhatikan raut muka kami yang berkerut-kerut, berkeringat dan ga tenang sambil saling menatap satu sama lain.

“I…iyaaa Pak. Kami ada berbuat nakal karena kami tidak nyangka kalau yang kami hadapi itu bukan orang asli.” Ucap Gua sambil tertunduk. Victor dan lainnya jg terdiam karena merasa bersalah.

“Nenek yang kalian maksud mungkin tetua desa ini. Nenek itu termasuk cukup pendiam dan mengerti ilmu-ilmu gaib. Nenek itu, menurut warga, dia banyak mempelajari ilmu hitam, namun ia tidak mengganggu warga di sini, ya meskipun demikian, warga kan resah juga akan keberadaan nenek itu, jadi agar sama-sama tidak merugikan, nenek itu kami biarkan tinggal di daerah dekat rumah kalian. Karena hanya di sana lah yang daerahnya agak sepi dan tidak meresahkan warga. Kemudian beberapa tahun yang lalu, nenek itu meninggal dan banyak warga yang tidak tahu, sampai akhirnya ditemukan dan jenazahnya sudah mulai membusuk. Akhirnya kami kubur di hutan (hutan yang dimaksud adalah hutan yang pernah kami masukin dulu yang sekitaran pohon beringin).” Jelas Pak Anto

Wahhh astagaa…. Nenek tersebut belajar ilmu hitam? Gak bener nih. Sial banget berarti kami kemarin sampai usilin nenek tersebut. Terus nasib Danu gimana yah? Entahlah…
Saat ini kami pengen tau penjelasan dari Pak Anto. Maka berbagai pertanyaan pun kami ajukan.

“Oia Pak, saya juga mau tanya, Sy juga pernah mengalami masalah aneh, saat duduk di pohon beringin di dekat rumah kami, pundak saya pegal-pegal, kata teman saya yang bisa melihat, katanya ada sosok aneh di pundak saya. Kalao itu apa Pak?” tanya Victor

“Hmm.. maksud kamu pohon beringin yang dekat dengan rumah yang terbakar itu?” tanya Pak Anto

“Iya Pak. Oia sekalian tentang rumah yang kebakaran itu Pak. Apa di sana ada penghuninya? Soalnya kami pernah bertemu dengan seorang gadis yang masih muda dan lumayan cantik loh Pak. Tapi hanya di malam hari, siang hari ga pernah ada. Malahan rumah terbakar itu pas malam hari, kami lihatnya lumayan bagus.” Tambah Victor

“Wah wah… Ternyata kalian uda bertindak cukup jauh juga ya. Memanglah anak muda agak susah diatur, kalau belum seperti ini, kalian memang tidak akan kapok-kapoknya yah?!” ucap Pak Anto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dulu, ada rombongan anak kecil yang suka main-main di pohon beringin itu, ya biasalah anak kecil suka manjat-manjat pohon tersebut ramai-ramai. Kemudian ada salah satu anak kecil yang kepeleset dan jatuh dari ketinggian pohon beringin itu, kepalanya tepat jatuh ke tanah terlebih dahulu yang menyebabkan mukanya hancur dan meninggal seketika di bawah pohon beringin itu. Yah kemungkinan besar yang manjat dan duduk di atas pundakmu seperti yang dibilang oleh temenmu itu adalah anak kecil tersebut.”

“Kalau rumah yang terbakar di depan pohon beringin itu, memang beberapa bulan yang lalu sebelum kalian kemari, pernah terjadi peristiwa kebakaran hebat. Ada anak gadis yang masih remaja yang terkunci di dalam rumah tersebut. Saya ga begitu ingat nama anak gadis itu, tapi kalau ga salah, namanya itu Diana. Gadis itu sebenarnya ceria dan baik, namun dia hanya tinggal sendirian.” Jelas Pak Anto

“Loh kenapa bisa ada anak gadis yang masih muda dan hanya tinggal sendirian?” tanya Gua

“Hmm… Ya sebenarnya dia punya orang tua, bapaknya telah meninggal duluan kemudian ia tinggal bersama ibunya. Tetapi ibunya sempat kepergok melakukan perzinahan dengan lelaki lain. Warga di sini sangat melarang hal demikian dan mereka mengusir ibunya dan mengucilkan ibunya juga. Setiap hari mendapat cemooh, ejekan dan sebagainya dari warga sampai akhirnya ibu tersebut memutuskan untuk bunuh diri. Mayat ibu Diana ini ditemukan dalam kondisi rambut panjang terurai ga karuan, mulut berbusa-busa dan mata melotot. Penyebab kematian kami ga tau dan kami hanya menguburkannya saja.”

“Gak berapa lama kemudian, gadis remaja yang ceria dan baik itu kian hari makin menjadi pemurung. Kesehariannya hanya ia habiskan untuk berdiam diri di rumah. Dia sebenarnya sangat kesepian, warga di sini sangat cuek terhadapnya ya mungkin karena sosok ibunya dulu yang bermasalah. Sampai suatu hari rumahnya kebakaran dan tidak ada seorang pun warga yang tau. Setelah beberapa waktu baru ada yang sadar ketika ada asap menggumpal tinggi dan saat warga datang, gadis kecil itu sudah gosong dan meninggal di tempat. Kami juga tidak tau alasannya kenapa, apa mungkin pintu rumah terkunci, terkurung, tidak sempat keluar atau motif bunuh diri karena depresi. Entahlah.” Jelas Pak Anto

……

Tak kusangka kalo penjelasan pak Anto begitu masuk akal dan mengerikan sekali. Victor, Monica dan Feby hanya terdiam. Siapa yang nyangka kalau desa ini begitu rawan sekali. Memang kata orang kalau tinggal di desa, pasti akan banyak hal mistisnya. Lebih baik dicuekin dan tidak ikut campur. Namun bagi kami orang yang lama tinggal di kota, pasti sangat mudah penasaran akan hal seperti ini. Apa boleh buat, benar kata pak Anto, nasi sudah menjadi bubur. Kami sudah terlalu dalam mengusik kehidupan mereka. Jadi sekarang lebih baik bagaimana?

“Pak, jujur, kami saat ini merasa cukup terganggu akan keberadaan mereka. Mungkin ini salah kami juga. Kami mungkin ada melakukan kesalahan dan mengganggu mereka. Jadi apa yang sebaiknya kami lakukan agar terbebas dari gangguan ini?” tanya Gua

“Oh iya, Pak. Salah satu teman kami yang bernama Danu, sampai saat ini kondisinya sangat menyedihkan Pak. Dia hidup tapi tidak seperti hidup. Mau dibilang kerasukan juga tidak sepenuhnya kerasukan, hanya kondisinya tidak sadarkan diri secara sempurna. Seperti lagi halusinasi dan dirasuki begitu.” Tambah Victor

“Begini saja, Langkah pertama, kalau kalian merasa hal yang kalian ganggu tidak begitu berat, cobalah datang ke tempat yang bersangkutan, doakan mereka dan minta maaflah dari dalam hati kalian kepada mereka. Contoh hal yang tidak bgitu berat misalnya kalian tidak sengaja menginjak kuburan mereka, tidak sengaja tersenggol barang mereka, tidak sengaja menghina dan membicarakan mereka tentang aib atau hal-hal yang tidak menyenangkan bagi mereka. Pokoknya hal yang dilakukan tidak secara sadar, lakukanlah permintaan maaf. Biasanya masalah akan menjadi lebih baik ketika kalian meminta maaf secara tulus.” Jelas Pak Anto

Syukurlah ada solusi dari pak Anto. Gue liat ke arah Victor dan Feby yang pernah merasakan gangguan ini, mereka juga keliatan agak lega. Berarti kami hanya tinggal melakukan permintaan maaf kepada mereka aja ya? Tapi itukan untuk kesalahan yang ringan dan tidak ada unsur dilakukan secara sengaja dalam keadaan sadar?
Ah biarlah. Kita coba dulu entar…

Part-47

PENGUNGKAPAN MISTERI -3-

Akhirnya kami mengetahui juga beberapa hal mistis dan aneh yang sebelumnya kami bahkan tidak begitu memperhatikannya. Dimulai dari cerita tentang Nenek tua yang berjalan tengah malam yang kami sapa namun tidak memberikan respon, kejadian tentang punggung Victor yang pegal di bawah pohon beringin, rumah kosong dan bahkan gadis cantik bernama Diana.

Ah entahlah… Kenapa baru sekarang terungkap. Kami uda bertindak terlalu jauh. Saran dari Pak Anto ini entah berhasil apa tidak, katanya sih kami harus mendoakan mereka. Ya mudah-mudahan saja berhasil pikir gue.

“Baiklah Pak. Makasih atas sarannya, nanti akan kami coba doakan mereka.” Ucap Gue

Gue lirik ke Victor, sepertinya Victor juga setuju dengan cara ini. Ya kagak sopan juga kalo kita minta pengusiran makhluk gaib kayak di tv tv gitu kan? Pakai acara ritual dan sebagainya? Hahaha

Masalah Danu sampai saat ini masih belum terpecahkan, karena solusi dari Pak Anto hanya suruh berdoa dulu. Akhirnya kami pamit dan kembali ke rumah kami.

“Oia Don, btw tadi lu gak jadi tanya ama Pak Anto soal bayangan gede yang ada di belakang dan di atas badan lu sperti yang dilihat ama istrinya?” tanya Victor ingetin gue saat kami lagi berjalan pulang

“Astagaaa…. Lu kok baru ingetin gue sekarang sih ! Bukannya daritadi !” gumam Gue

“Lah gua baru keinget sekarang, mau gimana lagi. Lagian emang lu merasa terganggu dengan adanya bayangan itu? Kagak kan? Kalo kaga kenapa2 ya udahlah. Cuekin aja deh.” Saran Victor

Wah brengsek juga nih Victor. Padahal tadi gue uda lupa, eh malah diingetin, trus setelah diingetin malah disuruh lupain. Kurang ajar banget ya???

Ya mau gimana lagi, kami juga uda berjalan cukup jauh dari rumah Pak Anto, klo balik lagi rasanya agak ribet. Kami pun terus berjalan pulang ke rumah, hari uda mulai menjelang sore hari. Sesampai di rumah, setelah istirahat sejenak. Gue dan Victor memulai pembicaraan dengan Aldi dan Danu.

“Aldi, kami uda ke tempat Pak Anto. Solusinya malah kami disuruh berdoa aja. Oia, btw coba lu lihat si Dony ini. Ada nampak sesuatu ga?” tanya Victor

“Hmmm??? (sambil ngelihat-lihat ke arah gue) Auranya gelap aja sih sepertinya.” Ucap Aldi dengan pelan

Apaan sih maksud aura aura itu? Gua mah taunya aurat doank hahaha.. Klo aura di game itu kan seperti kekuatan di dalam tubuh seseorang ya? Inner power deh bahasa gaulnya.

“Apaan tuh aura gelap?” tanya Gue utk lebih jelasnya

“Hmm susah jelasinnya, biasanya kalau aura lg gelap itu pertanda ga bagus, bisa jadi kayak ada masalah, diganggu, atau entah kenapa pokoknya negatif deh. Gua ga gitu ngerti juga.” Jelas Aldi

“Oia, kita pergi berdoa n doain di tempat rumah kosong itu dulu yuk. Soalnya kita kan pernah berbuat masalah di sana?” ajak Gue biar masalah ini cepat kelar.

Setelah gua ngajakin Victor dan Aldi utk pergi ke rumah kosong itu, mereka sih langsung setuju. Nah problemnya ini sekarang di Danu, dia ini mau ikut apa kagak ya? Terus kalo ikut, apa dia bisa berdoa secara tulus? Gua mah ragu, ku pikir pak Anto bakal melakukan pengusiran or semacam ritual gitu deh utk membersihkan Danu, tapi ga ada pula.

“Dan, yuk ikutan kami ke rumah kosong Diana kemarin itu utk kita doain, biar kagak diganggu.” Ajak Gue

Danu hanya duduk diam di kamar tengah kami sambil menggelengkan kepala.
Ah sudahlah pikir gue. Kayaknya masalah Danu belakangan aja deh diselesaikan, kami coba bersihkan kami dulu deh.

Gue, Victor dan Aldi akhirnya berangkat bertiga menuju rumah kosong sore hari itu juga sekitaran pukul 4 sore.

“Kita singgah pohon beringin kemarin dulu deh ya.” Ajak Victor ke kami berdua

“Okay. Lu doain tuh, kemarin lu entah salah ngomong apa kali or keganggu makanya pundak lu pegel2 kan?” ucap Gue

Kami akhirnya memutuskan singgah di pohon beringin itu. Kami bertiga ya berdoa sesuai kepercayaan masing-masing deh. Gua mah doa nya simpel aja. Minta maaf dan mohon utk tidak diganggu dan kami juga ga akan mengganggu. Itu deh intinya. Aldi dan Victor entah ngomong apa gua jg ga tau.

Selanjutnya kami menuju ke rumah kosong yang kebakaran itu, ya kalau sore hari sih blm pernah rumah ini berubah jadi bagus sih.
Kami ga masuk ke dalam sih utk rumah kosong ini, ya niatnya mau minta maaf, ntar sembarang masuk malah nambah perkara.

Saat kami sedang berdoa di depan rumah kosong ini, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil kami.

“Ko…. Uda siap doa nya? Ayo buruan balik!” ucap Monica yang ngos-ngosan abis berlari, di samping monica ada Amelia yang ngikut juga.

“Loh ada apa buru-buru gini Mon?” tanya Gue yang kaget

“Danu Ko, mulai macam-macam lagi. Ngomong dan teriak-teriak gak jelas. Ngadep ke lemari cermin itu dia.” Jelas Monica

“Loh terus yang di rumah tinggal sapa aja?” tanya Victor yang khawatir karena sisanya cewe semua.

“Feby ama Nadya pergi panggil Pak Anto, soalnya Feby yang tau tempat Pak Anto. Angela dan Laras yang di rumah. Tapi mereka ga di dalam rumah kok, mereka standby di luar aja takut kenapa-kenapa.” Jelas Monica lagi

“Waduh… Ayo balik deh buruan. Takutnya Danu kesurupan or entah kenapa pula. Tadi kami ngajak dia utk ikut berdoa dia ga mau soalnya.” Ucap Gue

Wahhh.. ada gerangan apalagi sih Danu ini, masa sore-sore gini bisa kumat? Biasanya mah dia lebih sering bertindak aneh di malam hari pas mati lampu. Di luar jam itu jarang banget sih. Tapi entahlah, moga-moga Pak Anto cepet datang deh.

Part-48

PENGUNGKAPAN MISTERI -4-

Ya ampun… Meskipun ada kejadian heboh begini, kagak ada warga yang datang, ya wajar sih, rumah di desa ini jauh banget jaraknya. Mau gimana lagi. Gue dan kawan2 lain bergegas untuk segera balik. Ya moga-moga kagak terjadi apa2 deh, soalnya Cuma sisa Angela dan Laras. Mudah2an juga pak Anto cepat tiba.

Selang 15 menitan, gua dan yang lainnya tiba di rumah. Angela dan Laras masih nampak berdiri di luar, sedangkan dari dalam rumah terdengar suara Danu lagi ngomong sendiri dan kadang komat kamit entah ngomong apa.

“Gimana kondisi Danu Ngel?” tanya Victor yang duluan sampai.

“Gak tau Ko. Dia tiba-tiba ngomong sendiri tadi, terus entah kenapa dia mulai bertindak aneh-aneh. Dia lagi duduk di dekat lemari cermin tuh. Asal kami liatin dia, dia selalu tatap mata kami terus. Jadinya kami ga berani lihat lama-lama.” Jawab Angela

“Buruan masuk Ko. Tenangin si Danu tuh.” Ucap Laras

Fiuh ~ Untung aja Victor yang disuruh tenangin, jujur gua pribadi bingung mau lakukan apa supaya Danu bisa tenang, soalnya jarang banget dia tiba-tiba menjadi aneh di sore hari gini. Biasanya kalao malam hari ketika dia bertindak aneh, ntar dibiarin juga tenang lgi dan biasanya kalao malam hari ya juga jarang bukan setiap malam. Paling kalau dia bertindak aneh di malam hari yang ga ekstrim, palingan Cuma jalan-jalan, komat kamit gitu aja. Ga mengganggu deh pokoknya.

“Don, masuk sana. Bacain doa ke si Danu, mana tau dia bisa tenang.” Ucap Victor ke arah gue

“Eh??? Lu yakin dia bisa tenang dengan di doain? Biasanya klo malam hari kita biarkan jg tenangkan?” jawab Gue sambil ngelirik ke dalam ngelihatin Danu lg napain dengan lemari cermin itu.

“Ya klo malam hari biasanya kan dia Cuma aktivitas sendiri dan ga sampai mengganggu kita. Kali ini kayaknya dia agak sensi deh. Lu lihat aja tuh, lu ditatapin terus gara-gara ngeliatin dia.” Balas Victor sambil nunjuk ke arah Danu yang pelototin gue.

Astaga… menyeramkan banget sih dipelototin orang tanpa berkedip sedikitpun. Ah mood gua jadi ilang, klo kondisi gini, mau tenangin Danu macam mana yah?

“Jadi bagusnya gimana Vic? Aldi ada saran?” tanya Gue ke mereka, namun mereka berdua Cuma diam dan geleng-geleng aja.

Ah sudahlah… Kayaknya kami jadinya mantau dia aja dari luar. Daripada sembarangan, entar malah bermasalah or ketularan ga beres kan.

Kira-kira lebih kurang setengah jam, Pak Anto datang bersama Feby dan Nadya. Syukurlah. Gua merasa lega, kami berbincang dan menjelaskan keadaan terlebih dahulu sebelum pak Anto masuk ke dalam rumah.

“Pak, ini yang kami maksud dengan teman kami yang berkelakuan aneh. Kejadian ini sudah beberapa hari sih. Cuman biasanya terjadinnya malam, kali ini terjadi di siang hari. Jadi kami ga tau mesti gimana.” Jelas Victor

Pak Anto hanya mengangguk dan dia melihat ke arah Danu. Danu yang sedang membuka paksa lemari cermin itu sempat terdiam dari melakukan aksinya dan langsung mempelototin wajah Pak Anto. Gue dan teman teman lainnya Cuma bisa curi-curi pandang alias ngintip-ngintip aja deh, soalnya agak seram juga dipelototin gitu.

“Ohh… Jadi ini rumah kalian rupanya yah? Saya baru sadar.” Jawab Pak Anto

“Hah??? Maksudnya? Iya Pak, dari awal kami tinggal di sini karena ga ada rumah kosong yang dapat dihuni pak.” Jawab Gua

“Oh gapapa, yuk kita beresin masalah temanmu ini dulu. Tolong ambilkan saya air putih segelas ya.” Ucap Pak Anto ke gua

Gua, Victor dan Aldi ikutan masuk ke dalam rumah bersama Pak Anto untuk menenangkan Danu. Para cewe yang lain masih tetap standby di luar, sebagian dari mereka takut utk melihat, palingan yang agak penasaran cuman Monica dan Amelia.

Danu yang melangkah mundur ketika kami mulai mendekatinya, akhirnya terdesak sampai ke dinding kayu rumah kami. Karena tidak ada jalan lagi, akhirnya Pak Anto bisa mendekatinya.
Pak Anto mengusapkan air putih ke muka Danu dan membacakan beberapa doa kepada Danu.

Gua dan yang lainnya kurang mengerti. Palingan gua Cuma tanya ke Aldi apa yg dibacakan pak Anto dan Aldi jg bilang itu hanya semacam doa saja.

Gak kerasa untuk nenangkan Danu butuh waktu yang cukup lama juga. Ketika gue ngelihat ke arah jam tangan gue. Wah ini uda sekitar pukul 6 sore…

“Duh… Kepala gue pusing… Loh ada apa ini pada ngumpulin gue?” tanya Danu yang sedikit tersadar.

“Uda sadar Dan?” tanya Gue yang masih ragu apa Danu uda beneran sadar apa masih fifty2 yah.

“Arggghhhhhh…….”

Loh jeritan siapa itu dari luar ???

“Kooo… Pak Anto….. Tolong !!” teriak seseorang

Part-49

SEBENARNYA INI APA?

“Kooo.. Pak Anto…. Tolong…!”

Yah ini terdengar suara jeritan seseorang dari luar rumah. Ah ada apalagi sih. Rasanya baru aja beresin masalah Danu, padahal gua mah berharap semuanya uda tenang dan beres. Tapi kok kayaknya ada sesuatu yang ga beres lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, tapi masalah belum beres. Apa Pak Anto masih mau membantu terus yah?

Gua, Aldi, Victor, Danu dan Pak Anto bergegas keluar dari dalam rumah utk melihat apa yang teradi di luar.

“Ada apa Dik?!” tanya Pak Anto

“Feby Pak… Feby tiba-tiba jadi aneh dan lari ke arah rumah kosong sana!” ucap Monica

“Loh, kalian gak tahan dia supaya ga kabur?” tanya Victor

“Sorry Ko, kami ga kuat, tenaga dia kuat banget, tadi kami uda coba tahan.” Jelas Laras

“Ya uda, 2 orang cowo tetap tinggal di sini yah, Bapak sama 2 lagi yg ngejar adik Feby. Ok? Dony ama Victor ikut bapak deh ya. Adik Danu istirahat dulu.” Ucap Pak Anto

“Okee…” jawab kami berempat

Akhirnya masalah Danu sepertinya uda mulai kelar. Dia uda bisa jawab seperti biasa. Uda kagak kayak orang linglung lagi. Gua dan Victor ngikutin Pak Anto untuk ngejar Feby yang sepertinya kerasukan.
Lebih kurang 10 menit akhirnya kami sampai di rumah kosong itu dan hari sudah mulai gelap.

“Febb… Febyy…. Lu dimana?” teriak Gua

“Huuuuhuuuuhuuu..”

“Sepertinya Feby di dalam rumah kosong itu Pak.” Ucap Gua

Gua, Victor dan Pak Anto akhirnya masuk ke dalam rumah kosong itu untuk mencari asal muasal suara tangisan yang terdengar barusan.

“Feb… Kamu baik-baik aja? Uda sadar Feb?” ucap Victor yang menemukan Feby sedang jongkok di tengah-tengah ruang tamu rumah kosong itu.”

“……..”

Feby hanya diam dan hanya menangis sendiri…
Pak Anto menghampiri Feby dan kemudian membacakan beberapa ayat-ayat doa hingga akhirnya kesadaran Feby mulai kembali. Yah syukurlah ga ada yang aneh-aneh. Kami pun akhirnya balik ke rumah kami.

Tidak terasa hari semakin malam dan waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Kami merasa sedikit segan karena membuat Pak Anto begitu sibuk karena masalah kami. Kami mencoba menawarkan makan malam bersama kepada Pak Anto, namun beliau menolak. Ya sebagai gantinya, gua dan Victor memutuskan untuk menemani Pak Anto pulang saja deh.

“Oia Pak. Tadi saat bapak datang dan melihat rumah kami, sepertinya bapak sedikit kaget? Memangnya ada apa dengan rumah tempat kami tinggal yah?” tanya Gua yang sedikit penasaran

“Hahaha… Gapapa gapapa. Oh iya, besok baru kita bersihkan rumah adik ya. Terutama soal lemari kaca yang adik bilang, hari ini sudah terlalu malam, bapak takut nanti ga sempat. Jadi besok pagi bapak akan luangkan waktu untuk ke tempat adik. Oke?” jawab Pak Anto

Hmm.. Kalo firasat gue pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Pak Anto nih mengenai rumah tempat kami tinggali ini, tapi entahlah, entar di perjalanan pulang, gue mau coba tanyain Pak Anto lagi. Victor jg kelihatannya sedikit penasaran.

“Ya uda. Bapak pamit pulang dulu yah semua. Ingat pesan pak Kades, sebisa mungkin jangan keluar rumah deh pas malam hari. Terus kalau melihat ataupun mendengar sesuatu yang aneh. Jangan terlalu dihiraukan. Jangan terlalu kepo deh. Tau kepo kan dik?” ucap Pak Anto sambil candain kami yang lagi tegang

“Hahahahaha…” suara canda tawa terdengar dari kami semua. Feby dan Danu sudah kembali normal seperti sebelumnya. Sifat asli Danu yang sedikit nakal dan cepat penasaran sudah kembali seperti biasa lagi. Yang gua heran, ini Danu apa ga sadar sama sekali tentang apa yang terjadi pada dirinya selama beberapa hari ini kali yah?

Di perjalanan pulang menemani Pak Anto ke rumahnya yang lebih kurang memakan waktu 20 menitan, gua dan Victor menanyakan beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran kami.

“Maaf Pak. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Danu dan Feby tadi yah? Kami kurang mengerti hal seperti ini.” Ucap Victor sambil membuka pembicaraan

“Wah.. wah… Kalian ini penasaran banget yah? Sebenarnya lebih baik kalian enggak perlu tahu, tapi klo kalian terus bertanya, bapak rasa bapak harus memberitahu kalian? Apa kalian gak masalah klo kalian tahu hal begini? Bukannya entar malah jadi kepikiran?” ucap Pak Anto sambil senyum kepada kami

Gua dan Victor saling bertatapan. Sebenarnya kami agak takut sih untuk mengetahui kebenarannya. Tapi masih seperti biasa, rasa penasaran kami mengalahkan segalanya.

“Iya gapapa Pak. Beritahu kami aja, barangkali kami bisa lebih berjaga-jagan dan lebih berhati-hati klo tau masalah ini.” Ucap Gua

“Oh Oke. Jadi sebenarnya begini, masih ingatkah cerita saya tentang tetua di desa ini yang merupakan seorang nenek-nenek yang dulunya ia mempelajari ilmu hitam ?” tanya Pak Anto

“Oh masih ingat Pak. Bukannya nenek itu sudah meninggal dan yang bersangkutan juga tidak pernah mengganggu masyarakat meskipun ia mempelajari ilmu gelap?” tanya Victor

“Yap benar. Nenek tersebut sudah meninggal dunia dan dia memang tidak mengganggu orang lain asalkan tidak ada orang yang mengganggunya. Yang jadi permasalahan, Danu itu sebenarnya ditegur dan dipermainkan oleh nenek tersebut.” Ucap pak Anto

“Whattt??? Apa??? Kok bisa Pak?!” ucap Gua sambil terkejut

“Ya tentu saja bisa. Sebenarnya rumah tempat kalian tinggal itu adalah rumah nenek tetua tersebut. Hanya rumah dia yang masih kosong dan jarang dibersihkan. Banyak warga yang tidak mau mengusik ataupun mengunjungi rumah tersebut. Jadi dibiarkan begitu saja. Barang-barang dan peralatan nenek tersebut juga masih ada di rumah tersebut.” Ucap Pak Anto

“Jadi lemari cermin itu punya nenek itu juga?” tanya Victor

“Ya jelas… Seisi rumah, seluruh perabotan dan barang-barang yang tertinggal di rumah tersebut adalah milik nenek tua tersebut. Pokoknya kalian kagak perlu sembarangan utak atik or bongkar-bongkar dan sebagainya deh. Jalani seperti biasa aja.” Ucap Pak Anto menenangkan kami yang kaget

“Terus lemari cermin itu isinya apa Pak? Kenapa rasanya ada hal aneh dari dalam lemari tersebut? Teman kami Danu juga sering ngomong ama lemari cermin itu.” Ucap Gua

“Yah besok saja baru kita lihat apa isi dalam lemari cermin itu yah. Pokoknya ada sesuatu hal yang aneh dengan lemari cermin itu.” Ucap Pak Anto

Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Pak Anto. Kami pun izin pamit pulang. Jalan setapak di desa ini sangat gelap, wajar aja karena tidak ada lampu penerangan sedikitpun, kami hanya ditemani sinar rembulan dan angin sepoi-sepoi, ya untunglah gua barengan ama Victor pulangnya.

Perasaan gua juga sedikit gak karuan gara-gara shocked mengetahui kenyataan bahwa kami tinggal selama ini di rumah nenek tua tersebut yang katanya mempelajari ilmu hitam. Kalo diingat-ingat pantesan aja kami sering bertemu dengan nenek tua saat kami pergi ke toilet di luar rumah kami. Haduhhh….

Lengkap sudah masalah yang kami hadapi, tinggal di rumah nenek tetua itu, berbuat hal yang sepertinya sempat menyinggung perasaan nenek tua itu, main-main ke rumah gadis cantik nama Diana, belum lagi mengetahui kebenaran bahwa setiap malam hari, banyak arwah yang bergentayangan yang memiliki wujud menyerupai manusia.

Kepala gua terasa berat, ya sepertinya pikiran gua sedang kacau balau setelah mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Pusing… Pandangan gua menjadi sedikit kabur dan buyar. Gua ngerem langkah kaki gua sejenak. Duh… Apa ini efek gua kelelahan atau karena gua terlalu stress sampai pusing kepala gua.

“Vic tunggu bentar donk, kepala gua pusing mendadak nih.” Ucap Gue ke Victor yang jalan bareng gue

Gue coba tenangkan diri gue, hilangkan semua pikiran stress, lupakan apa yang diucapkan Pak Anto. Ya lebih kurang sekitar 5 menit, pusing gue uda mulai hilang dan pandangan gue uda jelas kembali. Kalo tadi seperti tiba-tiba mendadak gelap, terus di deket area mata nyut-nyut dan kepala belakang kayak berat banget dan nyeri. Tapi sekarang udah kagak.
Eh mana Victor, sialan gue ditinggalin, bukannya ditungguin, padahal gue uda suruh dia tunggu gua.

“Woi Vic !!! Tunggu gue nape… Kepala gue tadi mendadak pusing. Lu kagak dengar apa?!” ucap Gue sambil berlari mengejar Victor yang sudah beberapa langkah di depan gue. Kurang ajar emang nih anak, main ninggalin gua sendiri

“Oi Vic. Sabar donk. Capek nih gua pakai lari ngejer lu.” Ucap Gue sambil megang pundak Victor

“…….”

Lohhh… Tangan gua yang gua letakkan di bahunya tiba-tiba terjatuh. Kok rasanya aneh, Victor terus berjalan tanpa memperhatikan gue. Gw perhatikan dari belakang, arah kepalanya terus dalam posisi tegak dengan tatapan mata tertuju ke depannya tanpa lihat ke kiri dan ke kanan dan bahkan kagak menghiraukan gue.

Gue terpaksa ngejer dia lagi dan berusaha untuk bertatapan muka langsung untuk menyuruh dia berhenti ngerjain gue. Awas aja klo dia ngerjain gue di saat lagi tegang-tegang begini. Damn…

“Woi taik… Stop donk main-mainnya. Lu kira gua ga capek nih !” ucap gua dengan nada tinggi karena sedikit jengkel

Ugh…. Gua tepat berada di depannya sekarang. Namun gua merasakan sedikit kejanggalan. Meskipun gua tegak di depan dia, dia tetap terus berjalan dan menabrak gua, matanya tidak berkedip sama sekali, mukanya juga sepertinya agak putih pucat, tatapan matanya terus lurus ke depan. Ahh… Apa dia kesurupan? Yang benar aja? Rasanya tadi baik-baik aja…

“Vic, lu mau jalan kemana? Arah rumah kita gak disitu kali?!” ucap Gua sambil narik tangan Victor

Namun Victor terus berjalan ke arah hutan, tarikan tangan gua tidak dapat membuat dia berhenti, malah gua yang terseret. Gilaaa kuat banget. Perasaan gua makin campur aduk, antara takut, penasaran dan bahkan gua bingung gua mesti lakuin apa?! Masalahnya gua sendiri, apa gua mesti ngikut Victor ke utan, barangkali dia sadar di sana? Atau gua balik ke rumah dan minta teman lain temenin gua dulu ?

Gua mesti gimana???!!!

Part-50

PENGUNGKAPAN LEMARI CERMIN

Perasaan gua mulai bingung dan ga menentu. Victor yang tiba-tiba berjalan sendirian dan ga sadarkan diri terus melangkah ke arah hutan yang tentunya bukan arah jalan pulang ke rumah kami. Gua mesti gimana yah? Kalo gua pulang rumah duluan terus ngajakin Aldi, Gua bakal kehilangan jejak Victor nih. Aaaahhh….

Akhirnya gua mutuskan untuk kejar Victor aja deh.

“Vicccc !!!! Oi sadar oi kemana arah jalanmu !” teriak Gua

Victor masih terus berjalan dengan begitu cepat tanpa menghiraukan panggilan Gua.

“Viccc !!” teriak Gua lebih keras lagi sambil gua memotong jalannya dan melihat ke arah wajahnya.

“Aaaaaaaahhhhhh………” gua sontak kaget dan terkejut karena wajah Victor tiba-tiba berubah menjadi wajah nenek tua yang pernah kami temui di jalan belakang rumah kami. Wajah nenek ini begitu menyeramkan, pupil matanya begitu kecil dan bagian putih matanya begitu banyak. Keriput di wajahnya, senyumannya bibirnya yang sangat membuat ku merinding.

Entah kenapa sesaat setelah gua berteriak kaget, pandangan mata gua menjadi buram….
Gelapppp…. Yahhh gua ga merasakan dan melihat apa-apa lagi… Hanya wajah nenek tua yang menyeramkan itu yang terlihat oleh gua….

…………..

“Koo…. Kooo Dony….. Uda mendingan belum?” ucap seseorang yang suaranya begitu lembut

“Ughhh….” Gumam Gua. Kepala gua sedikit pusing dan berat… Duh di mana gua ya? Perasaan tadi gua di perjalanan pulang bareng ama Victor. Terus tiba-tiba Victor bertingkah aneh dan gua dikagetkan ama wajah nenek tua yang muncul.

Gua mencoba membuka mata gua pelan-pelan, duh pusing banget gua.

“Ko Dony uda sadar? Halooo…?” suara yang begitu lembut terus memanggil gua

“Eh… Monica? Ini di mana? Gua uda di rumah yah?” tanya gua pelan-pelan. Gua masih dalam posisi baring karena kepala gua masih berat.

“Iya Ko. Tadi Victor nuntun lu pulang. Soalnya tiba-tiba lu pingsan tadi.” Jelas Monica sambil mengelus kepala gua yang masih agak berat dan pusing. Enak sihhh…

“Sekarang jam berapa Mon? Yang lain ke mana?” tanya Gua

“Uda mau jam 11 malam Ko. Yang lain uda pada tidur. Gua Cuma nungguin koko bangun aja. Soalnya kelihatannya koko kurang enak badan.” Jawab Monica dengan pelan sambil mengelus-ngelus kepala gua seperti membelai kucing deh… hehehe

“Iya Mon. Thanks ya… Oia, kamu uda boleh tidur lagi deh. Besok Pak Anto mau datang lagi untuk periksa lemari cermin itu. Gua juga mau tidur lagi yah.” Ucap Gua ke Monica.

“Ok Ko… Tapi cerita-cerita bentar lah apa yang terjadi. Gua pengen tau juga nih.” Rayu Monica

Ah… moment yang enak nih.. Akhirnya malam itu gua bercerita berdua ama Monica sampai kira-kira mau jam 12 malam. Yang lainnya uda pada tidur dan ga ganggu gua. Enak banget deh.

………………

“Pagii nakk.” Ucap seseorang dari luar pintu rumah kami

“Ahhh.. Pak Anto, cepat banget datangnya. Uda sarapan Pak? Baru jam 8 nih.” Jawab Victor

Gua baru bangun dari tidur gua karena kemarin begitu pusing. Gua pergi cuci muka dan langsung ikut bertemu dengan Pak Anto. Aldi dan Danu sepertinya uda pada bangun dan uda duduk bercerita bareng pak Anto di ruang tamu. Para gadis ada yang sibuk di dapur dan Amelia dan Laras membuatkan minuman utk Pak Anto.

“Gimana kemarin kalian pulangnya nak Victor dan Dony ? Ada kesesat? Hahaha..” sindir Pak Anto

“Ah kesesat sih kagak Pak. Tapi si Dony satu nih pingsan di tengah-tengah perjalanan pulang.” Cemeeh Victor

“Eh apaan sih gua pingsan? Gara-gara lu tiba-tiba ga sadarkan diri dan wajah lu berubah jadi nenek tua itu makanya gua kaget.” Jawab Gua

“Hahahhaa… sudah sudah… Danu dan Aldi gimana kondisinya? Ada hal aneh-aneh yang terjadi?” tanya Pak Anto

“Klo saya ga ada apa-apa Pak.” Jawab Aldi dengan sopan

“Gua juga ga ada apa-apa Pak. Biasa aja sih bagi gua. Memangnya ada apa sih Pak? Kok tumben tanya beginian?” jawab Danu sekaligus bertanya lagi.

Danu sepertinya gak begitu ingat dan sadar akan apa yang terjadi selama ini saat dia ga sadarkan diri. Ahh… Gua agak kesel nih, perasaan gara-gara dia yang menimbulkan banyak masalah, makanya terpaksa nyari Pak Anto.

“Bagus deh klo ga terjadi apa-apa. Para teman cewe ada masalah?” tanya Pak Anto lagi

“Ga ada pak.” Jawab cewe-cewe yang jg ikut mendengarkan di ruang tamu, ada Monica, Amelia, Angela, Laras, Nadya dan Feby

Selang beberapa menit sehabis Pak Anto minum teh dan ngobrol bareng kami. Akhirnya Pak Anto mengajak kami untuk membongkar isi lemari itu.

“Ok deh.. Kalian uda siap? Kita coba buka dan bongkar isi lemari cermin itu deh ya yang katanya mengganggu kalian?” ucap Pak Anto

Tiba-tiba Danu menyela pembicaraan “Loh, memangnya ada apa dengan lemari cermin itu Pak? Kok mau dibongkar?”

“Oh gak apa-apa. Ikuti saja ya nak.” Jawab Pak Anto yang tau kalo Danu emang ga sadar akan hal aneh yang terjadi selama ini

“Ayo tarik lebih kuat pintunya… Kok keras banget yahhh…” ucap Gua yang ditugaskan untuk membuka pintu lemari cermin ini, sementara Pak Anto sibuk membaca doa-doa. Aldi dan Victor sibuk membersihkan lemari ini yang sudah cukup kotor karena ga pernah kami sentuh

“Ah Don, lemah banget lu, sini biar gua buka paksa aja deh.” Ucap Danu

“Eh jangan Dan, bukanya pelan-pelan aja.” Cegat Gua, tapi apa boleh buat, Danu tiba-tiba langsung menarik dengan sekuat tenaganya. Akhirnya pintu lemari itu terbuka namun ya agak sedikit lecet karena dibuka dengan paksa.

“Nohhh lihat. Beres kan? Lu buka pelan-pelan, ya kagak kebuka-buka lah !” ucap Danu

……

Gua ga bisa ngomong apa-apa, uda terlanjur dibuka paksa ama Danu, gua buka dengan hati-hati karena gua takut terjadi hal yang ga enak aja sih.

“Coba kalian bongkar dan lihat ada isi apa aja di dalam lemari itu?!” ucap Pak Anto

Gua, Victor, Aldi dan Danu yang membongkar dan mengecek isi di dalam lemari itu, Pak Anto hanya duduk bersila sambil membaca doa dan melihat barang-barang yang kami keluarkan dan tunjukkan kepada dia.

“Ada gelang kayu Pak, ada boneka hitam dari jerami, ada pengikat kepala, ada kain, ada kertas bertuliskan yang aneh-aneh, ada bunga yang sudah layu, ada beberapa foto-foto yang agak buram, ada pernak pernik aneh, ada kuku macan gitu, terus ada bulu-bulu entah dari binatang apa gitu deh.” Ucap Gua dan Victor yang membongkar, sementara Aldi dan Danu hanya ikut melihat-lihat dan mengecek.

“Eh ini gelang kayunya buat gua aja ah… Cakep nih… Keren lagi.” Ucap Danu sambil mengambil dan memakai gelang kayunya di pergelangan tangannya.

“Woiii jangan macam-macam Dan. Ini barang peninggalan orang nih.” Ucap Gua dengan nada tinggi. Victor dan Aldi juga sempat melarang Danu.

“Ah tar tar… Kan gua Cuma coba aja doank. Soalnya keren dan pas banget nih di pergelangan tangan gua.” Balas Danu sambil menghindarin tangan gua yang lagi mau ngambil gelang itu.

“Nak Danu, jangan sembarang dipakai barang peninggalan rumah ini, terus jangan sembarang sentuh or ngecek tanpa permisi dulu.” Jelas Pak Anto dengan pelan

“Oh… Sorry Pak. Memangnya kenapa sih? Ini kan barang peninggalan orang, artinya udah ga ada yang pakai lagi. Mau buat apa sih?” tanya Danu agak penasaran

Pak Anto menatap ke arah Gua, Victor dan Aldi.

“Kalian belum cerita ke Danu soal hal ini yah?” tanya Pak Anto

“Belum Pak. Dia juga baru sadarkan diri beberapa waktu lalu kan. Jadi belum kami jelasin panjang lebar.” Ucap Victor

“Oi… Apaan sih maksud kalian gua ga sadarkan diri? Jelas-jelas gua selalu sadar kok. Apaan yang ga sadar-sadar?” ucap Danu agak penasaran dan bingung

“Lu tau gak klo rumah ini milik rumah nenek tua yang pernah kita ketemu?” jelas Gua ke Danu

“Hmm??? Rumah nenek tua yang mana? Yang kita ketemu di jalan toilet itu yang pas gua sapa dia sombong banget sampai-sampai ga mau negur gua? Ah payah tuh nenek. Uda tua, sombong pula lagi. Uda mending kita sapa kan. Kata pak Kades kalo ketemu warga di sini ya di sapa, tapi giliran di sapa, malah dicuekin.” Gumam Danu agak kesal saat dia mengingat waktu itu.

…….

Gua ga bisa berkata apa-apa mendengar pernyataan dari Danu ini. Ini anak benar-benar ga ingat kejadian apa-apa kali yah.. Kok santai banget asal ngomong gini.

“Terus apa lagi yang lu ingat setelah kejadian itu?” tanya Victor sambil menskak Danu

“Hah? Ya abis itu kan pulang tidur, terus ya kemarin gua bangun dan kaget lihat kalian kerumunin gua. Emang kenapa sih?” tanya Danu makin penasaran

Wahh wahhh… Gua, Victor, Aldi dan pak Anto saling bertatapan dan geleng-geleng. Ah sudahlah. Berarti selama beberapa waktu itu, Danu emang ga sadarkan diri dan ga tau apa-apa. Tapi herannya dia kok masih bisa beraktivitas ya? Apa itu yang namanya kerasukan ? atau apa sih ?

“Eh lihat nih, ada boneka jerami yang lucu kayak dipakai dukun-dukun di film-film tuh… Hahahhaa… Tau kan kalian?” ucap Danu sambil ngambil dan maenin boneka yang dibuat dari jerami yang diiket-iket gitu.

“Wah, ada pakunya segala loh, uda macam beneran aja. Ternyata di desa memang ada yang beginian yah? Baru tau Gua… Hahaha..” ucap Danu sambil ngutak ngatik boneka jerami itu

“Dan… jangan usil deh. Uda kita Cuma lagi ngecek dan lihat isi lemari ini aja. Jangan aneh-aneh.” Ucap Gua sambil mau ngambil boneka jerami itu.

Kami ngecek lemari cermin ini karena Danu sering bertindak aneh seperti berbicara dengan lemari cermin ini sendiri, terkadang terdengar suara tangisan orang dan masih banyak hal-hal aneh lainnya deh.

“Wah… Bentar gua coba dulu. Kan kita lagi ngebongkar, ya sekalian tes-tes hal beginian kan gapapa. Soalnya di kota mana mgkn bisa ketemu barang ginian.” Ucap Danu sambil ngeluarin paku yang di ikat bareng ama boneka jerami itu.

“Nih lihat, kayak di film-film nih, coba gua tusuk arah pantat boneka ini yah.” Ucap Danu sambil nancepin paku ke boneka jerami yang dia pegang. “Coba aja klo boneka jerami itu nenek tua yang sombong itu, nih gua tancepin paku ke pantatnya”

“Cusss….”

“Nak jangan ngomong macam-macam ama praktekin yang aneh-aneh!” ucap Pak Anto yang kaget setelah menyadari tindakan Danu yang benar-benar kelewatan batas, kirain Cuma ngecek-ngecek barang, tapi malah sampai nancepin paku segala.

“Aaaaaaaaaaawwwwwwwwwwwhhhhhhhhhhhh !!!! Aduhhhhh….!!!!” Terdengar jeritan seseorang yang begitu keras.

Part-51

NENEK OH NENEK

Awwwwww !!!!

Yah itu suara jeritan yang terdengar dari samping gua. Gua langsung noleh ke Danu, soalnya dia yang lagi nakal dan maenin boneka jerami itu.

“Kenapa loe Dan?” tanya Gua yang kaget melihat Danu yang megang pantatnya.

“Sialan ! Di lantai rumah kok bisa ada paku payung sih ?! Nancep ke pantat gua nih, berdarah gak oe?” Ucap Danu sambil ngelus-ngelus pantatnya dan turunin celananya dikit buat kasi gua ama Victor liat

“Kagak berdarah kok. Santai aja.” Ucap Victor sambil jijik lihat pantat Danu yang tiba-tiba disodorin ke arah muka Victor

“Eh tunggu tunggu ! Coba buka lagi Dan! Itu kok kayaknya ada memar sih?” tanya Gua yang melihat ada bercak merah bulat gitu di pantat si Danu

“Ah masa iya? Ambilin cermin donk?!” ucap Danu yang penasaran sambil ngelus-ngelus dimana sih bercak merahnya itu

“Loe langsung aja bercermin ke lemari kaca itu, napain suruh ambilin cermin lagi!” ucap Victor yang agak jijik liat Danu nunjukin pantatnya tadi.

“Hmmm….” Danu terus bercermin dan menurunkan celananya agar bisa ngelihat ke pantatnya.
Para cewe yang sedang memperhatikan kami semuanya pada buang muka karena merasa risih dengan tindakan Danu yang gak tau malu atau mungkin dia kagak sadar kali yah klo ada cewe yang lagi perhatiin.. Hahahaha

“Oee Dan, udahan belom liat pantatmu? Tuh para cewe risih tuh!” tegur Victor

“Ooopsss oia hehehe.. Jadi malu deh… Lupa gua.. Refleks bro sorry-sorry. Soalnya pantat gua sakit banget.” Ucap Danu sambil tersenyum malu sambil nutupin celananya.

“Makanya nak Danu. Jangan sembarangan maenin barang-barang peninggalan orang. Ntar kena masalah loh.” Tegur Pak Anto dengan lembut “Yuk kita lanjutin periksa barang-barangnya, sekalian cek keanehan yang dibilang ama Dony.”

“Hah? Emang apaan yang aneh Don dengan lemari cermin ini? Isinya Cuma barang peninggalan gini. Lagian emang ada hubungannya gua tusuk pantat boneka jerami ini dengan pantat gua yang kena paku ?” gumam Danu

“Udahlah Dan, Loe diem aja, jangan macem-macem or bikin ulah. Nyusahin aja ntar klo ada apa-apa!” ucap Gue yang agak kesel

“Lahhhh… Emangnya gua pernah berulah or bikin masalah? Mana pernahhhh broooo !” ucap Danu.

Daripada berdebat kagak jelas. Gue, Victor, Aldi dan Pak Anto ga menghiraukan Danu, kami ngelanjutin meriksa isi lemari cermin ini, tapi rasanya memang kagak ada barang-barang yang aneh or sesuatu yang menghasilkan suara tangisan gitu.

“Ko, coba lihat foto ini deh.” Ucap Monica sambil nyodorin gua foto yang udah agak buram yang di dapat dari dalam lemari cermin itu.

Gue pun langsung beranjak ke samping Monica dan memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Monica ke gue. Wow ! Rupanya foto ini menggambarkan sosok nenek tua yang pernah kami temui pas malam hari kami ke toilet. Meskipun fotonya uda agak buram, namun sosok nenek itu kagak asing, memang benar ini wajah nenek ini yang kami temui.

“Pak, coba lihat foto ini. Ini yah nenek pemilik rumah ini?” ucap Gue sambil nyodorin foto ini ke Pak Anto dan dilihat bareng oleh Victor dan Aldi.

“Nah benar Nak. Ini nenek pemilik rumah ini dan pemilik barang-barang di sini. Beliau sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Beliau tiba-tiba meninggal di dalam rumahnya.” Jawab Pak Anto

“Oiii.. Kalian lihat foto apaan sih? Gua juga mau lihat donk!” sahut Danu yang langsung menghampiri kami dan ikut melihat foto nenek tua itu

“Ohhhh foto nenek ini.. Tuh orangnya lagi tegak di pintu dapur liatin kita daritadi !” jawab Danu dengan santai

Ohhh shittt…. Kami semua sontak terdiam dan kaget. Para cewe yang tadinya ikut melihat barang-barang peninggalan di lemari cermin ini mendadak menjadi pucat dan cemas. Sebagian dari mereka pergi ke luar rumah untuk tenangin diri. Monica mendekati gua karena agak cemas. Amelia dan Feby mendekati ke Victor karena mereka lebih akrab dengan Victor. Aldi tetap diam dan sambil melihat ke arah yang ditunjuk oleh Danu. Pak Anto hanya tetap fokus melihat barang-barang peninggalan nenek tua itu tanpa menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Danu.

“Loh kalian kenapa diam tiba-tiba? Itu nenek yang ada di foto, daritadi dia lagi liatin kita bongkar-bongkar barangnya. Kalian uda permisi tadinya? Terus kok kalian bilang barang peninggalan? Peninggalan almarhum suaminya?” tanya Danu yang seperti orang polos tak tau apa-apa.

…………………….

“Vic, Di, kalian ada nampak sosok nenek itu emangnya di pintu Dapur?!” bisik gue pelan-pelan

Victor dan Aldi hanya geleng-geleng kepala. Bahkan Aldi pun gak bisa melihat sosok nenek tua itu. Lah ini Danu kok bisa lihat sih? Terus Pak Anto sepertinya daritadi hanya fokus lihat barang-barang peninggalan tanpa menoleh ke arah nenek tua yang ditunjuk oleh Danu.

Kami masih terdiam cemas dan tak bersuara. Kami hanya menunggu aba-aba dari Pak Anto. Soalnya beliau yang lebih berpengalaman soal hal mistis begini. Kalau mau dibilang, sebenarnya kami belum ngecek semua barang yang ada di dalam lemari ini sih. Soalnya banyak banget dan kami terhenti gara-gara ulah Danu ini.

“Nak. Mari kita simpan barang-barang ini ke dalam lemari cermin ini lagi yaah. Ini uda mau jam makan siang. Bapak mau pamit pulang makan siang dulu nih.” Ucap Pak Anto sambil menunduk dan memberes-bereskan barang-barang peninggalan ini. Pak Anto keliatan gelisah dan berkeringat tiba-tiba

“Pak, makan bareng kami aja di sini yuk? Daripada capek-capek balik kan?” tawar Monica dan Feby

“Ahh… Makasih Nak, tapi maaf yah. Bapak mau balik dulu. Kapan-kapan kita lanjut lagi.” Ucap Pak Anto yang bersiap-siap untuk balik

Loh… tumben nih Pak Anto gelisah hadapin beginian? Gue agak bingung sih. Gue juga tanya ke Victor dan Aldi bagaimana bagusnya. Tapi mereka juga bilang biarin aja deh Pak Anto balik. Mungkin ada sesuatu yang mengganggu dia dan bikin dia ga tenang, ntar klo uda tenang baru datang lagi mungkin.

“Mari Pak, kami antar balik.” Ucap Gue.

“Kagak usah Nak, kalian temenin temen kalian aja. Oh ia, Bapak juga mau pesan. Kalian perhatikan gerak-gerik temen kalian yang namanya Danu itu ya. Orangnya agak iseng dan nakal. Usahakan jangan sampai berbuat macam-macam, daripada semuanya makin ribet entar. Terus perhatikan juga teman-teman kalian yang perempuan yah. Usahakan jangan ditinggal sendirian. Oke?” jelas Pak Anto yang bergegas balik.

“Kenapa Pak?” tanya Gue

“Udah itu aja yah. Sampai jumpa Nak.” Jawab Pak Anto dan beliau langsung jalan balik tanpa menoleh ke belakang.

Ahhh… bingung gue. Mau minta solusi dari Pak Anto, malah suruh kami jaga temen-temen kami. Jadinya penyelesaiannya juga gak ketemu nih. Tapi paling gak uda mendinglah, kami uda tau isi lemari kaca itu ada apa-apa aja, ya meskipun belum semuanya.
Eh btw, Danu dibiarin di dalam rumah sendirian deket lemari kaca. Jangan-jangan dia ngebongkar lagi karena penasaran.

“Oe Dan… Uda siap beres-beresnya?” tanya Victor yang duluan sampai

“Belum nech. Lagi nunggu kalian. Tadi gua lagi ngobrol ama nenek tua itu.” Ucap Danu

………..

Kami semua terhening lagi setiap kali Danu bilang seperti ini karena kagak ada satupun dari kami yang menyadari keberadaan nenek tua yang dimaksud Danu itu. Lagian nenek tua itu kan aslinya sudah meninggal seperti kata Pak Anto.
Gue langsung bertanya ke para cewe lain seperti Laras dan Angela yang kebetulan tadi tetep berada di dalam rumah dan jawaban mereka juga sama. Mereka ga melihat apa-apa dan Danu hanya ngomong sendiri.

Nah jadi makin ribet nih….

“Dah dah… Yuk masukin lagi barang-barang yang kita bongkar tadi.” Ucap Victor

Kami mulai membereskan barang-barang yang kami keluarkan tadi ke dalam lemari cermin.

“Eh ada yang nampak boneka jerami tadi gak?” tanya Gue yang daritadi ngecek barang peninggalan yang dimasukin dan kagak ngelihat boneka jerami yang dimainkan Danu.

“Oh boneka jerami yang gue tusuk tadi? Uda gue kasi ke nenek tua barusan tuh. Dia minta tadi.” Jawab Danu dengan santai sambil ngelanjutin beres-beresnya

………………

What the f*** !! Hati dan pikiran gue jd gak karuan. Ini Danu bercanda apa serius. Apa beneran nenek tua itu bisa ngambil barang itu? Entah lah…

“Lu kasi nya kapan dan di mana?” tanya Gue

“Lah barusan waktu kalian ke luar temenin Pak Anto pas beliau mau balik itu donk.” Jawab Danu. “Emangnya kenapa sih? Kok kalian daritadi kaget melulu setiap kali bahas tentang nenek itu? Uda mendingan tuh neneknya, kemarin sombong banget kan, sekarang uda ramah dia, paling gak dia uda mau senyum ke gue.”

Hmmmm…. Hopeless nih nampaknya. Danu jadi bisa ngelihat hal-hal aneh…
Gue bisik ke Victor dan Aldi, bagusnya gimana kita hadapin Danu. Akhirnya kami bertiga duduk sejajar menghadap ke Danu. Rencananya kami mau jelasin ke Danu tentang masalah nenek itu.

“Dan, lu tau gak nenek tua yang lu maksud itu siapa?” tanya Victor ke Danu sambil membuka pembicaraan serius.

“Nenek yang sering keliaran di sekitar rumah ini kan pas kita ke toilet? Palingan orang desa ini juga. Emang kenapa?” tanya Danu agak bingung

“Dan… Nenek itu sebenarnya uda meninggal loh dan beliau katanya belajar ilmu hitam. Jadi lu sebaiknya jangan terlalu deket ama nenek itu deh.” Jelas Victor

“Bener Dan, apa yang di bilang Victor itu benar. Nenek itu juga sudah meninggal loh beberapa waktu yang lalu. Jadi sebenarnya apa yang lu lihat itu tidak nyata dan kami semua tidak ada yang melihat sosok nenek tua yang lu maksud itu.” Tambah Gue

“Lu juga jangan macam-macam Dan, jangan nyentuh barang sembarangan, jangan ngomong sembarangan, jangan keluyuran or berbuat yang aneh-aneh lagi deh.” Tambah Aldi meyakinkan

“Kalian bercanda ama gue ya? Lagi mau nakut-nakutin gue? Kagak mempan lah. Mana mungkin gue takut ama lelucon beginian?” jawab Danu sambil ketawa

………………..

“Dan ! Lihat kami baik-baik deh. Kami ini lagi serius. Kalo lu gak percaya kami, lu tanya semua cewe di rumah ini. Kagak ada satupun yang ngelihat nenek tua itu. Nenek itu uda meninggal Dan ! Beliau belajar ilmu hitam dulunya ! Jadi jangan terlalu berbuat aneh-aneh lah. Apalagi nyentuh-nyentuh barang peninggalannya ! Ngerti gak?” jelas Victor yang uda mulai emosi

“Udah lah Dan. Kita masih ada waktu 2 bulan harus mengabdi di desa ini. Lu pengertian dkit lah. Kami semua uda bilang jangan macam-macam. Loe bandel banget. Loe mao pamer apaan di sini coba? Mau bangga gitu karena lu paling berani macam-macam di sini?!” tambah Aldi yang ikut kesal

“Oke oke… Gua ngerti. Tapi tolong gak usah banyak bercanda deh. Apaan maksud kalian nenek tua yang di foto itu uda meninggal ???!” tanya Danu yang sepertinya mulai memahami maksud kami yang serius

“Pokoknya ini rumah nenek tua itu. Nenek itu sudah meninggal beberapa waktu lalu. Lu klo gak caya, kita tanya pak Kades atau tanya Pak Anto tadi deh !” jelas Gue

“Owhh.. terus yang di belakang kalian itu siapa?!” jawab Danu sambil senyum-senyum karena dia merasa kami lagi ngerjain dia.

“HAHHHH???! Maksud loe apaan? Belakang kami?” tanya Victor yang khawatir dan cemas.

“Iya belakang kalian. Tuh NENEK YANG LU BICARAIN LAGI TEGAK DI BELAKANG KALIAN TUH ?! Lu mau ngerjain gua ? Bilang-bilang nenek itu uda meninggal, gak sopan banget sih !” jawab Danu sambil nunjuk ke arah belakang kami.

“OH SHITTTT MEN !!!”

Gua, Victor dan Aldi saling menatap dan saling memberi kode utk melihat ke belakang… tapiiii…. Kami ga berani lihat….. F*ck him. I hate this feeling damn !

Part-52

KONFLIK

“Bro, belakang lu bro belakang lu ! Hahahaha… Jelas-jelas itu nenek yang kalian bilang kan?!” sindir Danu

What the Helll Man !!! Kami bertiga sontak terdiam, kaget, merinding dan perasaan pastinya kagak karuan deh. Apa mungkin Danu sedang bercanda apa beneran ada sosok nenek di belakang kami ?

“Vic, lihat belakang lah coba. Gua deg-deg-an nech!” bisik gue ke Victor

“Elo aja lah!” bales Victor

Kami sempat terdiam beberapa menit, ya bulu kuduk gue serasa naik nih. Jantung berdetak dengan cepat. Ga ada satupun dari kami yang berani menoleh ke belakang.
Duh… tiba-tiba tercium bau kemenyan gitu. Bercampur bau wangi-wangian bunga yang gak jelas darimana. Ahhh masa siang bolong gini bisa ada penampakan ?!! Gak mungkin lah !!!

“Eh uda udah. Kalian kok takut amat sih liat nenek tuh ! Udah pergi kok dia!” ucap Danu sambil nenangin kami dan senyum-senyum.

“Lu bercanda apa serius sih? Bikin gue shock dan kaget aja. Dah dibilangin itu nenek uda meninggal !” ucap Gue

“Ya beneran lah bro. Napain juga gua ngerjain kalian? Emang gue kek kalian mau nakut-nakutin gue? Makanya sadar donk, lu lagi nakutin siapa ! Gua mah ga percaya hal beginian kaleee…” jelas Danu agak sombong

Gue memberanikan diri melihat ke belakang gue, yah ternyata emang udah ga ada apa-apa sih. Tapi entalah ya… Kata orang kalau bulu kuduk naik dan merinding, tandanya ada sesuatu di dekat kita. Tapiiii… itu mitos apa bukan ???

“Eh Don, liatin pundak gue donk! Kok kayak perih-perih gini ya tiba-tiba?” ucap Victor tiba-tiba ke arah gue sambil ngarahin pundaknya yang sebelah kanan ke arah gue.

“Mana? Perih gimana? Ohhhh… iya Vic, kok kayak memar dan kulitnya ngelupas dikit ya ? Kuman tuh? Lu mandi gak bersih ?” sindir Gue

“Kagak Don, ini tiba-tiba aja barusan ini !” jelas Victor

Gue dan Aldi ngecek pundak Victor dan ya memang terlihat memar, merah dan kulitnya agak mengelupas dan menyerupai bentuk telapak tangan, ya begitu jelas sih tidak, tapi pola kulit yang mengelupas menyerupai bentuk telapak tangan orang yang menempel.

“Masa ia mengelupas Vic? Coba gue liat? Barusan? Tadi barusan emang nenek itu pegang pundak loh sih!” sela Danu tiba-tiba

Hahhhhh ???? Gue gak abis pikir, yang benar aja dipegang nenek tua itu bisa ninggalin jejak kayak memar gitu? Biasanya kalo keteguran itu kan jadinya membiru gitu, ada yang bilang kecubit setan, ketabrak setan, dll deh. Tapi kalo jadi memar dan mengelupas ya kagak tau.

“Nih ko, pakai salep aja deh!” tawar Amelia yang mendengar percakapan kami

Akhirnya Victor dan Amelia kami tinggalin berdua di ruang tengah, Amelia lagi olesin salep ke pundak si Victor, sementara gue, Aldi dan Danu pindah ke ruang tengah untuk lanjut ngobrol.

“Dan, sekali lagi gua infoin deh Dan. Tolong jangan berbuat aneh-aneh lah. Terus kalo lu ketemu nenek tua itu, tolong cuekin dan jangan hiraukan dia. Beneran deh. Itu nenek uda meninggal loh ! Lu apa gak percaya kami ? Apa perlu kami bawa lu ke Pak Kades or Pak Anto lagi ?” ucap Gue

“Ya ya ya… Terserah deh nenek itu uda meninggal apa kagak. Toh gua ga percaya begituan. Kalo gua nampak dia dan dia nyapa gua. Ya pasti gua sapa balik lah. Makhluk gaib kan harusnya gak mungkin bisa nampakin wujudnya dalam bentuk manusia ?” jelas Danu

Ahhh.. percuma nech jelasin ke otak bebal kek Danu. Lama-lama gua keki juga jelasinnya. Terserah dia deh. Eh btw, itu gelang kayu kok ada di tangan Danu, dia beneran pakai yah? Gue uda coba tegur, tapi ujung-ujungnya dia bilang pinjam pakai selama di sini aja. Ahhhhhhhhhhhhh…. Lebih baik gue cuekin dia daripada emosi gue ga terkontrol lama-lama.

…………………..

Hari berganti hari. Kagak kerasa hari ini sudah memasuki hari ke-31 yang artinya kami sudah sebulan tinggal di desa ini dan sisa 2 bulan lagi, maka pengabdian kami akan berakhir dan nilai skripsi kami langsung A deh.
Sejauh ini program yang sudah kami lakukan yah seperti ngajar anak les, ngajar ke sekolah, bantu ibu PKK, sosialisasi kesehatan, lebih kurang keseharian kami begitu.
Nah yang kagak kalah menariknya ya pengalaman kami selama 30 hari tinggal di rumah yang katanya milik rumah nenek tua yang belajar ilmu hitam, yang pastinya kagak ada seharipun hari yang benar-benar tenang, pasti ada aja kejadian yang membuat jantung berdetak kenceng. Kagak semua kejadian yang terjadi setiap hari diceritakan ya misalnya seperti tiba-tiba ada terdengar bunyi dari dapur yang jelas kagak ada orang, terdengar suara tangisan orang tiba-tiba, penampakan bayangan putih sekilas, penampakan sosok orang yang lagi duduk dalam wujud bayangan hitam, lampu yang mati idup tiba-tiba, suara teriakan histeris orang. Ya pokoknya banyak banget deh pengalaman yang dialami temen-temen di sini dari yang biasa saja sampai yang luar biasa.

…………………….

Tepat di malam hari, hari ke-31.

“Bro.. Jalan-jalan keluar yok. Bosan nih mati lampu. Lagian kalian napa sih akhir-akhir ini jadi kayak cewe, tiap malam gak berani keluar, ngurung dalam rumah?!” ucap Danu sambil sindir kami bertiga.

“Ah payah lah, dulu kita kan pernah keluar bareng-bareng, cewe aja berani kemarin. Kok sekarang pada ga ada yang bersuara, rasanya awal datang semangat banget kalian.” Tambah Danu

“Gak usah Dan, ga guna. Lagian uda diperingatin, klo lewat jam 9 malam harus stay di rumah. Udah patuh aja deh.” Jawab Victor

Ckckck… Dalam hati gue kesel juga di cemeeh dan disindir begini, gua aslinya kalo ditantang gini pasti gue hadapin, tapi ya mau gimana lagi. Si Danu emang kemarin benar-benar kagak sadar kalo ada kejadian yang benar-benar menyeramkan dan mencekam yang bikin kami shock dan kagak berani macem-macem di sini.

“Eh klo kagak ada dari kalian yang berani, gue mau cabut pigi jalan-jalan dulu yah !” ucap Danu

“Woi jangan Dan ! Loe kalo pergi jalan, gak usah balik lagi deh ke rumah. Bikin masalah aja !” sela Victor

“Maksud loe apa Vic?!” jawab Danu dengan nada agak meninggi yang merasa seperti tersinggung.

“Lu bisa dibilang gak sih ?! Malam hari gak usah keluar kalo sudah mati lampu. Bisa patuh gak sih *** !” jawab Victor dengan nada yang juga meninggi karena kesal

“Eh lo banci ya banci aja. Ga berani keluar ya diem aja, buat apa ngelarang-ngelarang gue? Emangnya gue keluar malem ada ganggu loe ? Gue kan bawa kunci rumah juga. Emang gue ada bangunin loe?” balas Danu

Suasana pun mulai memanas. Gue berusaha melarang Victor yang keliatannya uda mulai terpancing emosinya agar tidak berantem di tempat orang. Sementara Aldi juga berusaha menahan Danu agar kagak memperpanjang masalah. Para cewe yang di dalam kamar yang mendengar keributan kami di ruang tamu akhirnya pada keluar dan memperhatikan kami. Salah seorang dari mereka membuka pembicaraan.

“Dan, lu dengerin aja deh mereka. Gak usah keluar malam. Kalo terjadi apa-apa ama loe. Kami gak mau nanggung dan ga mau kena getahnya.” Ucap Feby yang tiba-tiba keluar dari kamar. Ya wajar aja sih, Feby kan mengalami kejadian yang tidak enak juga.

“Iya benar tuh. Kita di tempat orang, ikuti aturan mereka aja. Lu dapat masalah, kami juga kena. Mungkin lu belum alami kejadian-kejadian aneh aja nih makanya lu niat banget keluar !” jelas Amelia

“Loh loh loh… Ini para cewe kok ngebelain banci-banci yang takut keluar malem sih? Selow aja deh, gak akan kenapa-kenapa pokoknya klo keluar malam! Loe semua pada takut hantu ? Pada takut penampakan ? Halah, gue ini dari kecil juga besar di desa bro. Beda ama kalian yang dari kecil Cuma di kota !” jawab Danu

“Woiii an**** loee ! Loe mao keluar ya keluar sana. Ada apa-apa gak usah cari kami loe. Gue anggap loe ga ada di kelompok aja. Klo mau penyelesaian, tunggu kita di kota aja, gue jabanin loe!!” ucap Victor

“Udah udah Vic, kagak guna loe hadapin orang bebal begini. Pepatah uda bilang, orang banyak bicara artinya ilmu gak ada. Dia itu belum pernah ngalamin kejadian apa-apa. Makanya ngeyel dibilangin.” Bisik gue dan Aldi untuk ngeredain emosi Victor

“Yah udah. Loe stay aja di rumah. Gue mao pergi jalan-jalan malam dulu. Gue buktiin ke loe semua klo kagak ada masalah apa-apa dengan berjalan malam. Kagak ada penampakan, kagak ada hantu, pokoknya kagak ada.” Ucap Danu sambil ngambil jaketnya dan bergegas keluar rumah dari pintu depan.

Ga berselang beberapa lama, suasana rumah mulai mereda dan tenang. Danu sudah pergi jalan keluar, gue lihat ke arah jam, ya malam itu sudah pukul 11. Gue penasaran dan sedikit kesal aja sih mendengar ucapan Danu yang begitu sok-sok-an. Moga aja dia dapat pengalaman yang kagak enak biar cepat tersadar dia.

“Oee.. si Danu beneran keluar, terus gimana? Menurut loe dia bakal pulang dengan aman? Atau malah keteguran lagi, ya klo dipikir-pikir dia pernah berjumpa ama nenek tua itu kemarin.” Ucap Aldi membuka pembicaraan

“Entahlah Di, suka-suka dia aja. Gue kurang mau ngurus lagi. Kalo dia kenapa-kenapa ya biarin aja. Urusan dia deh, pokoknya gak mengganggu kami. Ya gak Vic?” ucap Gue sambil bertanya ke Victor

“Matiii… mati aja dia… mampus sekalian. Yang jelas gue kagak peduli. Suka-suka dia mau diapain. Jangan harap gua bantu dia sama sekali!” ucap Victor yang masih ada sedikit emosi

Ya sudahlah pikir gue, gue menuju kamar tidur dan istirahat aja deh. Terserah… Terserah aja deh… Gue gak peduli… Sebisa mungkin gue kagak peduli……
Tapi apa benar Danu kagak pernah mengalamin kejadian menakutkan apapun selama di sini?
Apa dia benar-benar ga membawa masalah lagi gara-gara dia keluar malam ini ????

Entah… entahlah…..

Part-53

KEJUTAN

Setelah perdebatan antara kami dengan Danu. Danu akhirnya tetap memutuskan untuk keluar malam. Lebih kurang pukul 11 malam Danu keluar untuk jalan-jalan karena ingin mencari angin malam yang sejuk dan segar.

“Jadi gimana Vic? Kita lanjut tidur aja yuk, pintu rumah kita kunci aja deh.” Saran Gue.

“Iya lah Ko. Kunci aja pintu rumah. Kami juga ga tenang klo pintu rumah dibiarin ga terkunci, entar ada apa-apa lagi.” Tambah Laras

“Dah.. Yuk tidur aja lagi. Ntar klo ada yang ketuk pintu, baru kami bangun bukain deh, atau kalau kalian dengar ada yang ketuk pintu, kasi tau kami ya. Oke?” jelas Gue

Kami semua pun akhirnya menuju ke kamar masing-masing. Ya hari itu terasa melelahkan sekali. Gue yang biasanya susah tidur, pada malam itu dapat terlelap begitu cepat.

………………….

“Tokkk…. Tokkk….. tokkkk…..”

“Tokkkkk….. Tooookkkkkk… Toooookkkkkkk”

Suara ketukan pintu depan rumah kami semakin lama semakin keras…
Tapi itu semua hanya ketukan tanpa ada suara panggilan orang…
Victor terbangun dan dia membangunkan gue juga.

“Don, Danu balik tuh keknya. Cek sana.” Ucap Victor

“Ah. Lu cek lah, gue masih oyong nih, lu bangunin tiba-tiba. Sekarang jam brapa? Jam 12 pas ya?” ucap Gue sambil ngelihat ke arah jam tangan gue

“Iya… Buka sana. Bareng deh bareng.” Ucap Victor

Gue dan Victor beranjak dari kamar gue dengan cepat tanpa memperhatikan skitar kami, soalnya berisik banget suara ketukan pintu depan ini.

Sesampai gue dan Victor di deket pintu depan rumah. Suara ketukan itu menghilang.

“Loh… ga ada orang keknya di depan. Manggil pun enggak.” Ucap Gue ke Victor dengan nada pelan karena seisi rumah semua lagi tidur

“Lu coba buka kain gorden lah. Cek dulu. Jangan langsung buka pintu.” Saran Victor

………………………………

Agak deg-deg-an juga nih karena suara ketukan tiba-tiba menghilang dan ditambah lagi kok ga ada suara Danu yang manggil kami dari luar. Yaaa sedikit pun gak terdengar suara samar-samar.

Gue buka gorden perlahan-lahan sementara Victor ikut mengintip dari belakang gue. Asem emang.

“Ga ada orang nih Vic.” Ucap Gue yang agak cemas karena pintu diketuk namun tak ada seorangpun yang tegak di depan pintu rumah.

“Ah udah lah. Cuekin aja. Yuk balik tidur.” Jawab Victor

Gue dan Victor akhirnya berjalan meninggalkan pintu depan rumah kami karena tiba-tiba saja suara ketukan itu menghilang dan kamipun tidak melihat siapapun di depan pintu rumah kami, namun…..

“Tookkkk…. Toookkkk….. Toook…..!!!!!”

Suara ketukan dari pintu depan terdengar semakin keras.

“Vic. Lu yakin kan tadi gak lihat siapapun di depan? Denger ketukan lagi?” tanya Gue yang kaget

“Ya bro… Coba cek lagi sana.” Ucap Victor sambil dorong gue. “Coba buka pintu aja lah langsung!”

Gue pun berjalan pelan-pelan dan mencoba membuka pintu depan rumah yang terkunci.

Kreeekkkkk…..
Suara pintu depan rumah yang gue buka pelan-pelan….

Oooppsss…. Ga ada siapapun di depan rumah…
Gila aja.. Tengah malam pukul 00.00 gini ketuk pintu rumah orang. Mustahil ada orang kurang kerjaan, kalaupun binatang, mana mungkin ada yang sampai bisa ngetuk…

“Geser-geser… Coba Gue cek ke depan dikit. Ada orang?” ucap Victor dari belakang.

“Ah taik lu, giliran suruh buka pintu deg-deg-an suruh gue, pas uda ga ada apa-apa baru berani nongol lu. Emang kampret.” Ucap Gue agak kesel

Gue akhirnya juga ikut Victor keluar sebentar. Kami ngecek sekeliling rumah ya mana tau ada orang usil yang ngetok-ngetok pintu kami. Atau barangkali si Danu yang lagi kesurupan.

“Eh Vic… Coba lu liat ke arah sana!” ucap Gue sambil nunjuk ke arah pepohonan rimbun yang ada di samping kanan rumah kami.

“Apaan sih?!” tanya Victor yang mulai melototkan matanya ke arah yang gue tunjuk

“Itu kayak ada seseorang yang berjalan kemari, tapi gak jelas. Itu Danu ?” ucap Gue

“Entah, coba kita tunggu bentar.” Jawab Victor

Kami menunggu di depan pintu rumah sekitar beberapa menit sampai wujud orang yang gue lihat di deket semak-semak

“Astagaaa yang mendekat itu nenek-nenek tua penunggu rumah ini !!!!”

 

Part-54

BOLEHKAH GUE KABUR?

“Woiii Vic !!! Coba lu lihat baik-baik tuh yang mendekat !” ucap Gue yang agak kaget dengan apa yang gue lihat

“Mana? Mana???!! Apaan sih?!” tanya Victor

“Itu lah lihat ke arah pohon-pohon seberang rumah kita itu. Itu ada orang renta bungkuk-bungkuk gitu jalan mendekat kemari!” ucap Gue sambil ngarahin tangan gue ke arah nenek itu tapi kagak pakai nunjuk yeee…

Berkali-kali gue arahin tangan gue ke arah nenek tua itu, tapi si Victor kagak nampak apa-apa.
Apa Cuma gue aja yang bisa lihat? Ah gak mungkin…

…….

“Tokkk tokkk tokkk…. !!!”

Gileee… Ada suara ketukan pintu lagi… Darimana sih… Gue ama Victor masih di pintu rumah depan nungguin sosok nenek yang kagak jelas itu, tapi tiba-tiba malah ada ketukan dari arah lain.

“Tokkkk… Tokkkkk !!!”

Suara ketukan pintu semakin keras.. Sepertinya dari arah belakang rumah deh… Ya pintu belakang rumah ini pastinya. Yang jadi masalah ini gelap-gelap di dalam rumah agak ribet dan menegangkan banget.

“Vic, kali ini lu dengerkan suara ketukan yang sepertinya dari belakang rumah ?!” tanya gue ke Victor

“Yah denger. Lu cek sono yang belakang, biar gue yang jaga yang depan ini.” Jawab Victor sambil dorong gue ke dalam rumah.

“Eh enak aje loe. Loe kan ga nampak apa-apa yang di depan ini, mending lu yang cek ke belakang lah!” bales gue kesel karena gue selalu dapet jatah yang ga enak.

Lagian menurut gue si Victor ga nampak apa-apa yang di depan, masa sekarang yang belakang harus gue yang cek sendiri, lebih serem nech. Harus buka pintu tengah dulu, terus menuju ke dapur yang gelap-gelap, terus baru buka pintu belakang rumah. Ah males banget.

“Temenin gue deh ke belakang, yang depan ini tutup aja.” Ucap gue sambil balik badan ke dalam rumah dan ngajakin Victor buat bareng.

“Eh, mana sosok nenek itu yah ?!” ucap gue secara spontan saat mau nutup pintu rumah depan.

“Huh?” sela Victor yang heran ke gue soalnya dia daritadi gak ada liat apa-apa.

“Ah udahlah, yok liat siapa yang ngetok di belakang aja. Daritadi ga berhenti-henti ngetoknya!” ucap Gue

Gue dan Victor pun nutup pintu depan rumah dan kami bergegas menuju ke ruang dapur rumah untuk mengecek siapa yang ngetok pintu belakang terus menerus. Kami kagak ada bangunin siapapun di dalem rumah biar ga ada yang ketakutan dan nambah ribet. Aldi juga masih tertidur.

Kami buka pintu ruang tengah perlahan, berjalan perlahan memakai flash HP menelusuri ruangan dapur yang begitu gelap gulita karena mati lampu.

“Tokkk… tok… tokkk.. !!!!”

“Vic, suara ketukannya masih ada terus nih. Tadi yang di depan pas kita sampai, suara ketukannya uda ilang. Lu yang buka ajalah nih pintunya. Ga enak nih feeling gue.” Ucap Gue yang agak merasa ga enak karena suara ketukannya masih terasa begitu kuat.

“Ah.. Loe penakut amat sih ! Buka pintu aja ragu-ragu !” jawab Victor yang sok pede mau buka pintu.

Victor maju ke depan gue, dia mulai menggenggam pegangan untuk menarik pintu agar terbuka dan kemudian…..

“Tokkkk… Tokkkk.!” Suara ketukan masih terdengar terus tanpa henti

“Eh Don. Loe aja deh yang buka. Feeling gue juga rasa rasa gak enak nih.” Bisik Victor yang sepertinya juga dag-dig-dug cemas.

“Ah mati lah… Daritadi dia Cuma ngetok ga ada manggil apa-apa. Klo Danu uda pasti manggil lah. Giliran lu lah Vic. Gantian !” ucap Gue sambil dorong bahu Victor biar dia yang buka aja

“Hoiiiii !”

………
………..
…………………..

“Eh Vic, ada yang manggil tiba-tiba !” ucap Gue ke Victor yang kaget. Victor juga sepertinya kaget karena badannya tiba-tiba kayak ngeloncat kecil (gaya orang terkejut tiba-tiba)

“Kalian napain sih jam segini krasak krusuk. Bukannya tidur? Gue mao ke toilet nih !” ucap Aldi yang nongol tiba-tiba dari ruang tengah.

“Bijik lu Di ! Bikin kami shock aje. Loe ga denger daritadi ada yang ngetok pintu ?!” tanya Gue yang agak kesel dan kaget tapi sedikit lega karena rupanya itu Aldi.

“Kagak, gue baru aja kebangun karena denger suara orang di belakang, terus gue jg lg kebelet mao ke wc. Pipis doank sih.” Ucap Aldi dengan tenang.

……………….

Saat kami bertiga sedang ngobrol. Suara ketukan pintu juga mereda dan menjadi sunyi. Kagak ada ketukan apa-apa dari pintu depan maupun pintu belakang tempat kami berada.

“Don. Suara ketukan uda hilang. Loe cek lagi sana !” ucap Victor sambil dorong gue

“Ah kampret loe. Giliran loe lah. Daritadi gue melulu. Gue mending ke wc dulu deh. Dag-dig-dug bikin kebelet pipis aja.” Jawab Gue

…………..

Saat gue dan Aldi barengan mau ke toilet, sementara Victor juga ikutan ke toilet bareng. Tiba-tiba suara pintu belakang terketok lagi…

“Tokkk… Tokkk…” Suara ketukannya begitu keras dan beruntun

Kami bertiga yang sedang berjalan menuju ke toilet terdiam sesaat ketika mendengar suara ketukan itu.

“Vic, cek dulu Vic. Gue makin sesak nih gara-gara gak tenang !” ucap Gue

“Ah gua dari gak kebelet jadi kepengen pipis. Geser dulu lah!” bales Victor

Gue kencing dengan buru-buru, bulu kuduk gue jadi merinding gara-gara toilet belakang ini sedikit terbuka, jadi angin malam bisa masuk dan menusuk ke tulang. Victor dan Aldi juga kencingnya kagak tenang, ya semacam buru-buru dan merinding deh. Fiuhhh ~

“Woi siram WOI !!!!” ucap Gue karena Victor dan Aldi buru-buru ninggalin gue di wc

“Udah buruan cepat, cek pintunya !” jawab Victor yang nungguin gue karena lagi nyiramin tempat pipis mereka.

……………

“Aldi, lu coba buka deh pintu belakangnya !” ucap Victor ke Aldi.

“Oke.” Jawab Aldi dengan santai, ya meskipun kayaknya dia sedikit cemas, tapi dia memberanikan diri. Gue dan Victor hanya celingak-celinguk di belakang Aldi karena kami lebih deg-deg-an, apalagi gue yang nampak sosok nenek tua berjalan kemari.

“Lohhhh kosong ~” ucap Aldi ketika membuka pintu belakang rumah dan melangkahkan kakinya ke depan rumah.

Gue dan Victor juga ikutan keluar untuk melihat keadaan…

Fiuhhhhh~ Angin malam berhembus begitu dingin dan membuat kami merinding…

“Eh Vic, lu megang bahu gue? Jangan nakut-nakutin gue lah !” ucap Gue yang merasa bahu gue dipegang seseorang seperti di toel gitu

“Kagak lah ! Loe liat aje jarak kita berdiri dimana, gue di depan lu kali!” jawab Victor yang kaget mendengar pertanyaan gue.

Gue baru sadar kalo gue berada di paling belakang, Victor dan Aldi ada di depan gue. Kagak mungkin kan ada yang bisa megang bahu gue tanpa gue sadari???

“Tapppp… Tapppp… Tapppp…”

Suara langkah kaki dari dalam rumah terdengar begitu jelas di telinga gue secara tiba-tiba.

“Bro. Kita masuk ke dalam rumah lagi yuk. Gue denger ada suara orang di dalam rumah. Apa mungkin para cewe jadi terbangun gara-gara kita ribut-ribut gini?!” ucap Gue ke Victor dan Aldi

……………..

Pintu belakang rumahpun kami tutup dan kami bertiga bergegas masuk ke dalam rumah lagi. Gue masih bingung, daritadi ada ketukan namun kagak ada orangnya. Kagak mungkin bisa sembunyi harusnya.

“Eh !!!” seru Victor yang kaget saat masuk ke dalam rumah duluan

Suasana rumah kok jadi begitu dingin seperti ada angin yang masuk.

“Don, Aldi. Pintu depan rumah terbuka sendiri ? Lu uda kunci tadi Don?” tanya Victor yang was-was

“Udah lah. Kagak mungkin gue gak kunci !” jawab gue dengan tegas.

“Don. Sepertinya kali ini gue ada lihat sosok nenek tua di deket semak-semak depan rumah yang lu maksud tadi. Nenek itu berjalan kemari dengan langkah yang begitu cepat!” ucap Victor yang badannya merinding dan kaku karena cemas.

“Apaaaa???? Serius Loe???!!” jawab Gue kaget banget

“Bro… Gue juga denger suara tawa wanita tua begitu jelas dari belakang rumah kita loh. Eh bukan belakang rumah, sepertinya di RUANGAN KITA SEKARANG !” ucap ALDI yang tiba-tiba melotot di samping gue dan juga merinding kakuu….

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Gila GILA GILA !!
Kalo bisa kabur, uda kepengen KABUR GUE DARI SINI !

Part-55

HILANG

“HIHIHIHIHI……….. HIHIHIHI………………….!!!”

Ya Tuhan… Suara tawa cengengesan dan melengking ini terdengar banget di telingaku selama beberapa menit. Pastinya kagak hilang-hilang.
Pintu depan rumah yang terbuka juga membuat angin dari luar rumah berhembus masuk dan menusuk tulangku.

“Don, Lu cek coba ke depan rumah. Pintunya kok kebuka sendiri? Tadi lu bilang ada nampak nenek-nenek tua itu kan?” ucap Victor sambil mendorong gue untuk maju

“Ah gila lu Vic, ga mau ah gua. Di ruangan ini aja gue lagi denger suara tawa seseorang. Lu denger gak?” tanya gue ke Aldi dan Victor

Aldi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan Victor hanya diam.

“Loe kenapa Vic? Lu ada dengar suara itu gak?” tanya gue yang heran melihat Victor yang hanya diam.

“Engg..eng… Gak Don… Tapi bahu gua kayak ada yang megang nihhh…. Terusss….” Ucap Victor terpatah-patah sambil menggigil.

“Terus apaan sih?” tanya Gue yang agak shock

“Terusss.. Itu di depan pintu kita, ada nenek tua itu lagi berdiri dan berjalan mendekati ke arah kita!” ucap Victor agak gemetar.

Apaa???? Gue sih kagak ngelihat apa-apa, cuman denger suara tawa aja, sementara Victor melihat sosok nenek tua tersebut berjalan mendekati pintu rumah kami alias uda mau masuk deh, sedangkan Aldi hanya diam saja dan tidak tahu apa-apa.

“Vic, tenang aja Vic. Lu kan biasa kagak penakut, kok jadi cemen nih lu. Tutup pintu sana, pura-pura gak lihat!” ucap Gue sambil nyuruh Victor yang nutup pintu karena gue pribadi juga agak males hehe

“Bukan gue ga mau nutup Don ! Badan gue kagak mau gerak nih! Berat banget!” jawab Victor yang terlihat diam dan kaku entah kenapa.

“Hikksss…. Hiksssss…..”

Sekilas terdengar suara tangisan dari dalam kamar pertama para perempuan. Si…siaaappaaaa yang nangis lagi dari kamar pertama? Pikiran gue lgsg tertuju pada Feby. Biasanya Feby yang paling sering diganggu.

“Don, lu mau kemane?” tanya Victor yang heran melihat gue tiba-tiba maju sendiri

Yah gue juga bingung, badan gue refleks sendiri menuju ke kamar pertama karena mendengar suara tangisan itu.

Tapp…tappp…tap….

Gue melangkahkan kaki gue pelan-pelan menuju ke kamar pertama…

“Hiiiksssssss………….”

“Ya ampunn !” jerit gue karena terkejut.

Sesosok makhluk berbaju putih dan berambut panjang sedang berdiri tegak tepat di belakang Feby. Sementara Feby sedang berada dalam posisi tidur namun sambil menangis terisak-isak. Yang gue herannya, temen-temen sekamarnya kagak ada yang terbangun. Ini mimpi apa bukan yah?

Gadis berbaju putih itu seperti ingin masuk dan merasuki ke dalam tubuh Feby. Mukanya kagak kelihatan begitu jelas, hanya terlihat satu bola matanya yang begitu bulat besar, pupilnya begitu kecil dan tajam, warna bola matanya yang putih dipenuhi dengan noda berwarna merah seperti darah. Rambutnya yang terurai panjang menutup sebagian wajahnya.

Badan gue juga sempet kaku dan terdiam merinding. Ini mimpi gak? Gue berusaha nyubit pipi gue sekeras mungkin. Tapi hasilnya?
Ya sakitttt…. Ini bukan mimpi…

Gue terdiam beberapa menit melihat gerak-gerik sosok gadis berambut panjang itu…

Ga berapa lama kemudian, Feby terbangun dari tidurnya. Menangis tersedu-sedu. Kemudian tersenyum sendiri…
Tertawa kecil….
Hihii….hiihiii…..
Kemudian menangis tersedu-sedu lagi… huuu.huuuuu…….

Gue yang sedang melihat aksi Feby hanya bisa merinding, gue pengen manggil dia, namun gue ragu karena sosok gadis menyeramkan tersebut terus memandang ke arah gue.
Badan gue juga terasa kaku atau lebih tepatnya lemas seperti yang dirasakan oleh Victor.

……………….

Setelah menangis tersedu-sedu dan tertawa kecil…
Feby kemudian berdiri, melangkahkan kakinya perlahan, jalannya sempoyongan tidak seperti biasanya…

Ia berjalan perlahan keluar dari pintu rumah sambil bernyanyi kecil…
“naaa….naa….nanana…..”

Ya kira-kira seperti itulah suaranya yang terdengar di telinga gue ketika dia keluar dari pintu kamarnya melewati gue…

Gue ga bisa gerakin tubuh gue…
Rasanya ingin gue tahan dan gue cegat dia agar kagak pergi kemana-mana
Tapi apa daya sepertinya sia-sia.
Tatapan sosok gadis dari dalam kamar itu tidak lepas dari gue.

Matanya terus menatap tajam ke gue, meskipun hanya sebelah mata saja, itu sangat membuat gue merinding dan tak dapat bergerak. Ya mitos mengatakan badan kita bisa menjadi kaku ketika bertatapan dengan hantu. Entah itu iya apa gak, tapi inilah yang kurasakan sekarang.

“Don ! Itu Feby mau kemana? Cegat dia !” ucap Victor dan Aldi yang melihat gue membiarkan Feby berjalan sendiri.

Gue mendengar teriakan suara Victor dan Aldi. Namun badan gue tetap belum sinkron dengan pikiran gue. Gue ga bisa gerakin tubuh gue.
Sesaat setelah Feby berjalan keluar dari pintu rumah….

“Brukkkk….”

Suara pintu rumah tertutup dengan sendirinya. Gue yang kaget mendengar suara pintu yang tertutup langsung membalikkan kepala gue ke arah pintu, saat gue menoleh kembali ke kamar, sosok gadis menyeramkan itu telah lenyap.
Badan gue uda bisa digerakin seperti biasa. Gue langsung bergegas membuka pintu rumah.

Gue lihat keluar rumah. Gue cek kiri kanan rumah dan tentunya ke arah semak-semak tempat gue melihat sosok nenek tua itu.

Semuanya kosong…. Gak ada apa-apa. Hanya pemandangan biasa yang gua lihat…

Ohh.. Shit… terus kemana itu Feby???
Bukan Cuma Danu yang hilang, tapi Feby juga hilang?!

…………………

Tiba-tiba pundak gua merasakan ada sosok tangan yang menempel…
Suara panggilan nama gue… “Don….”

Ahhh… Siapa ini? Gue hanya diam dan tidak langsung menoleh ke belakang….
“Donn….”
Tangan yang ada di pundak gua masih tetap terasa…
Gue pun akhirnya menoleh perlahan ke belakang ~

“Don… Kemana mereka?!” ucap Victor dengan nada begitu pelan yang tentunya bikin gue kaget setengah mati. Gue pikir siapee…

“Brengsek Loe !!! Di saat begini, lu manggil gue pakai acara megang pundak dan nempelin tangan loe di pundak gue !” geram gue

Gue kesel setengah mati… Uda lagi kondisi deg-deg-an, ditambah cara manggil Victor yang bikin gue makin kaget. Ckckckck
Terus sekarang bagusnya gimana yah?
Danu hilang, Feby hilang begitu saja….. Terus siapa lagi?

Part-56

DUNIAKU

Terus… Kita harus bagaimana ???? Ya.. itulah yang ada di pikiran gue saat ini. Feby dan Danu tiba-tiba berlari keluar dari rumah tepat tengah malam begini. Terus mau cari kemana coba? Ya syukur-syukur aja klo Feby larinya ke rumah gadis yang bernama Diana itu, kalo Danu? Ah Danu sih gue dan yang lainnya kagak begitu peduli, mau hilang ya hilang deh. Tapi kalo Feby…..

“Terus kita gimana nih Vic ?!” tanya Gue ke Victor biar dia bantu mikir, otak gue uda buntu nih.

“Hmm..hmmm…” gumam Victor

“Woi ! Jawab donk, malah hmm hamm hmm… Lu susul mreka aje ! Gue jaga rumah !” ucap Gue

“Loh enak banget loe? Suit ajalah, yang kalah pergi cari berdua bareng Aldi, gak mungkin kan yang nyari sendiri doank? Klo jaga rumah sendiri gapapa lah ! Deal ?!” tanya Victor

Kampret deh… Kalo nginget masalah suit, gue paling malas banget. Bisa dibilang 1 : 100 kemungkinan gue menang hahhaahaha… Entah kenapa tangan gue ga hoki amat sih… Ada cara biar hoki gak ya ?

…………..

Gue pun ngesuit dengan Victor dengan cepat dan ga heboh, dan hasilnya ya uda tau lah…
Oooppsss… kali ini gue menang cui ~ wkakakaak

“Yeah… Gue menang bro, gue jaga rumah, Lu ama Aldi pergi cari mereka yah. Kalo Feby gue rasa paling nyasar ke rumah gadis Diana itu lagi.” Ucap Gue sambil senyum-senyum karena gue jarang menang suit.

“Ah setan lu. Ya uda, kami pergi, lu tidur di ruang tamu ya nunggunya, biar entar kami manggilnya lu kedengeran. Awas lu jangan macam-macam !” ucap Victor

“Iye. Gila aja loe macam-macam. Cepetan, lama-lama uda mau jam 1 subuh juga nich !” balas gue

…………………..

Victor dan Aldi pun bergegas keluar dari rumah menuju ke arah rumah Diana untuk mencari Feby dan Danu, sementara gue tinggal sendirian di rumah. Ya badan gue capek dan ngantuk, makanya gue pengen banget istirahat di rumah. Lagian cewe-cewe ini juga pada lagi tidurkan. Jadi aman…

………………….

Berselang beberapa menit kemudian, gue pun tertidur lelap di ruang tamu.
Namun…. Antara sadar dan ga sadar, gue merasa nama gue dipanggil melulu dari arah belakang…

“Don….. Donnnn…. Donnnnyyyy ~” nada panggilan nama gue ini beralun-alun seperti seseorang lagi bernyanyi gitu…

Astaga… berisik banget ini suara, mata gue masih tertutup dan berusaha melanjutkan tidur gue, tapi suara ini kagak hilang-hilang.

“Donnnnn………Donnnyyyyyyyyyyy ~ “

Arghhh… Suara ini makin terdengar di telinga gue… Klo suara ini beneran keras, harusnya para cewe uda terbangun donk. Tapi ini kok ga ada yang terganggu sih? Apa Cuma gue lagi yang denger suara beginian ?!

Gue yang berusaha untuk cuekin suara ini namun kagak bisa. Suaranya terus terdengar sampai akhirnya gue memutuskan untuk bangun dan duduk dulu di ruang tamu memastikan arah datangnya suara ini.

…………………….

“Donnnnnnnn ~”

Suara ini masih terdengar dari arah belakang…
Ah udahlah, gue mesti ngecek juga nih, dibiarin kagak hilang-hilang. Macam mana gue bisa istirahat. Gue langsung berdiri dan menuju ke arah dapur rumah tanpa memperhatikan kamar para cewe, soalnya gue lagi jengkel banget ama suara ini…

“Sreeeettttt……” suara gue membuka pintu dapur

Seperti biasanya gue nyalain lampu flash HP gue karena rumah lagi mati lampu.
Gue arahin cahaya flash HP gue ke arah WC tempat mandi, ga ada siapa-siapa
Gue arahin cahaya flash HP gue ke arah tempat memasak…
Astaga !!!

Ada sosok nenek tua yang lagi membungkuk sedang berdiri membelakangi gue di tempat masak !
Kaki gue jadi lemas, badan gue agak gemeteran, mau menghindar pun agak susah karena melangkah aja begitu lemas.

……………………..

“Duugggg…. Dugggg… duggg….” Suara detukan jantung gue jadi terasa bener, keringat mulai keluar karena hati gue yang ga tenang. Tangan gue yang memegang HP juga terus merinding dan sedikit bergetar.

Ya ampun ! Nenek tua itu seakan sedang mulai mau membalikkan badannya ke arah gue

Ughh…ughh… Gue terus berusaha menggerakkan kaki gue untuk menghindari posisi tempat gue berdiri sekarang, lampu flash HP gue terus gue sorot ke arah nenek tua itu, ya jaga-jaga supaya dia kagak menghilang terus nongol tiba-tiba.

Gue terus berjuang menggerakkan kaki gue, akhh akhirnya berhasil gue menggerakkan kaki gue.
Gue langsung nutup pintu ruang tengah menuju dapur.
Gue bergegas menuju ke ruang tengah, gue sempetin ngelihat ke arah kamar cewe yang kedua.

“Oh my GOD !!! Ga ada satu orang pun di kamar ! Ke…kemana mereka ?” gumam gue

Gue mencoba masuk ke dalam kamar kedua tersebut, gue arahin flash gue ke berbagai sudut ruangan yang gelap.

Aaaaaaa….. !!!

Anjritt… ada sosok cewe berbaju putih dengan rambut panjang sedang berdiri tegak menatap gue di sudut deket jendela kamar.
Muuu…mukanya gak kelihatan…
Sosok berbaju putih itu hanya berdiri diem sambil mengangguk anggukkan kepalanya dan melantunkan sedikit suara hiii…hiiii…hiiii…

Gileeee… Lama-lama bisa gileee…. Gue serasa berada sendiri di dalam rumah ini…

………………..

Perlahan-lahan gue berjalan mundur untuk keluar dari kamar tersebut.
Gue mencoba berjalan menuju ke ruangan tengah tempat istirahat gue..
Tapi….

“Huuuu…huuuu….”

Sebelum gue sampai ke ruang tengah, saat gue baru keluar dari kamar kedua, gue mendengar suara tangisan kecil dari ruangan tempat tidur gue.
Niat gue untuk ke ruang tengah akhirnya hilang..
Pikiran dan perasaan gue kacau balau…
Gue seperti sedang di terror….
Entah ini nyata atau mimpi atau apalahhhh…
Tapi gimana cara gue keluar dari sini !!!!!!!!

Argghhhh… !!!!

Gue terus mendengar berbagai macam suara, dari suara Donnn…. Don….. suara tangisan Huuuu….Huuu…. Suara tawa Hiiii…..Hiiiiii…… Ampun dah ampunnn !!!

Gue yang uda habis pikiran, akhirnya kembali ke ruang tamu, Gue duduk di sudut ruang tamu yang berbatasan dengan dinding untuk bersandar.
Ya meskipun suara ini gak pernah hilang dari telingaku… Biar dah… Gue hanya duduk sambil menutup mata gue di antara lutut gue…

…………………..

Lama kali Victor dan Aldi balik ! Memang ditinggal sendiri di saat begini gak enak banget. Serba salah…
Gue yang menutup mata dan berusaha cuek dari segala suara yang gue dengar….

Tiba-tiba ada suatu suara yang rasanya ada di depan gue yang berbunyi….

“Donnn… Tertawalah bersama kami… Ayooo tertawa…Hiii….Hiiiii……”

Pikiran gue yang udah kacau dan ga menentu, akhirnya supaya gue gak stress ketakutan…
Gue hanya melanturkan suara tawa kecil yang gak ikhlas “Hiiii….Hiiii…” kira-kira begitulah suara tawa kecil gue yang gak begitu ikhlas…..

…..
Kemudiannn terdengar lagi suara di depan gue

“Donn… Sedihhhh…. Tertawamu begitu kecil… Menangislah bersama kami… Huuu…Huuu….”

Yah.. suara tawa gue memang kecil karena gue hanya untuk menghilangkan stress… Gue ngelakuinnya juga sambil menutup mata gue dan kepala gue tertunduk di antara lutut kaki gue. Gue akhirnya juga melanturkan suara tangisan tersedu-sedu hanya untuk menenangkan hati gue “Huuuu…Huuu….”

………………………..

“Mariiii.. mariii bernyanyi bersama kami… Na…naaa..nanana….. ~ Ayo keluar dan bermainlah !”

Gue yang berada dalam kondisi kacau balau, antara stress dan takut, segala perasaan bercampur aduk. Akhirnya gue pun mengikuti nyanyian mereka “naaaa..nnaaa..naaananaa….”
Secara spontan badan gue berdiri, kepala gue terangkat dan badan gue berjalan bersendiri menuju pintu keluar rumah sambil bernyanyi kecil naa.naaa.naaa….

Saat gue menuju pintu keluar… Gue mendengar suara panggilan kecil dari dalam rumah….
“Kooo…. Koo Donnyyyy… !”

Entahlahh… Ada berbagai macam suara panggilan yang gue dengar daritadi… Gue ga bisa mastikan mana panggilan sebenarnya atau panggilan dalam dunia imajinasi gue…
Yang pasti gue tenang dan nyaman dalam kondisi gue saat ini….

Ya… Kondisi sedang berjalan keluar rumah, sambil bernyanyi kecil “naaa..naaa…nananaaa”

Part-57

GUE DIMANA

Gue yang berjalan selangkah demi selangkah dengan perlahan sambil bernyanyi “naa.naaa.naaanaa..” menuju pintu keluar rumah terus mendengar adanya panggilan nama gue.

“Kooo…. Kooo.. Dony…. !”

Entahlah, kepala gue bener-bener pusing. Gue seakan kagak bisa membedakan mana panggilan yang benar ataupun panggilan halusinasi.
Beragam panggilan telah gue dengar, dari tangisan, tawa, panggilan nama gue dan bahkan ucapan samar-samar yang bahkan gue ga ngerti apa itu.

Gue terus melangkah keluar rumah sambil bernyanyi kecil. Semua panggilan nama gue, gue cuekin. Pandangan gue sedikit kabur seperti tidak sadarkan diri.

Tapi…..

Gue masih heran. Kenapa di luar rumah begitu ramai??
Gue melihat ada anak-anak kecil sedang berlari dan bermain di depan rumah kami.
Yang bener aja? Ini kan tengah malam???

Entahlah….

Badan gue seakan gak bisa gue kendalikan…
Badan gue berjalan sendiri terus…
Sekeliling rumah tempat tinggal gue yang seharusnya sepi dan hening di tengah malam seperti ini, sekarang terlihat begitu ramai di pandangan gue.

Ada orang sedang berjalan, ada anak-anak kecil yang sedang bermain dengan riang gembira, ada orang tua yang berjalan dengan bungkuk-bungkuk, ada yang duduk di dekat pohon, dsb.

Kenapa??? Kenapa begitu ramai???

Badan gue terus berjalan hingga gue terdiam di sebuah rumah yang terlihat cukup besar…
Rumah iniiii… Rumah iniii sepertinya gue pernah lihat ?!

Astaga… Ini kan rumah gadis bernama Diana !!!
Tapi… Kenapa rumahnya terlihat begitu bagus? Bukannya sebenarnya rumahnya sudah hancur terbakar ?!

Kaki gue bergerak sendiri dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah Diana ini.
Hati gue bingung dan takut. Pikiran gue kacau.

Gue sebenarnya kagak mau masuk, tapi gue ga bisa menahan dan mengendalikan badan gue sendiri.

Apa.. apa ini yang namanya kerasukan ??? Atau gue terbawa halusinasi berlebihan ???

…………………………

Gue pun masuk di dalam rumah Diana ini.
Seperti biasa, sosok gadis cantik yang berambut panjang hitam dan lurus, wangi tubuhnya yang membuat perasaan gue luluh dan nyaman, membuat hati gue menjadi tenang berada di dalam rumah ini.

Diana yang menyapa gue dengan lembut, semua omongannya benar-benar masuk ke dalam pikiran gue.

“Mas Dony, sudah lama tidak kemari ? Diana kangen loh !” ucap Diana dengan suara yang begitu lembut sambil menggenggam tangan kiri gue.

Gue yang dalam keadaan oyong-oyong, secara spontan gue juga membalas ucapannya “Ya Diana. Mas juga kangen dengan mu!”

Diana yang terus nempel di badan gue, kepalanya di sandarkan di bahu gue. Wangi badan dan rambutnya bener-bener membuat gue semakin luluh.
Gue membiarkan dia bersandar di bahu gue, sementara gue hanya duduk diam.

Gue ga tau sudah berapa lama gue di sini, tanpa disadari gue tertidur lelap. Mungkin karena capek.

Malam itu gue lewatin bersama Diana di rumahnya.

………….

“Ko Dony !!!” teriak seseorang dr luar

Gue yang mendengar teriakan itu sedikit kaget dan terbangun dari tidur lelap gue. Badan gue serasa capek banget, padahal perasaan gue kagak ada ngerjain apa-apa.

“Lu kok bisa sampai tidur di sini Ko?! Kami cari lu gak ketemu kemarin malam !” ucap Monica yang menghampiri gue bersama Amelia dan Victor

“Woi Don ?! Lu gile apa lu ga sadarkan diri? Napain lu tidur di sini?!” ucap Victor yang heran.

Kepala gue yang masih berat dan pusing membuat gue terdiam sejenak dan bingung.
“Gue dimana yah? Bukannya ini di rumah?!” ucap gue dengan pelan sambil melihat sekeliling gue yang rasanya begitu aneh.

“Eh kok rumah kita berantakan dan rusak begini? Ada masalah apa?!” ucap Gue yang kaget karena sekeliling gue hanyalah barang rongsokan yang sudah gosok, berantakan dan penuh debu.

“Gileee loe Don ! Loe sekarang di rumah gadis yang bernama Diana. Rumah yang sudah terbakar itu ! Loe lupa?” ucap Victor nyadarin gue

Perasaan gue bingung dan kacau. Kok gue bisa sampai ke sini yah? Gue masih sedikit susah mengingat kejadian kemarin malam, mungkin gue masih terlalu lelah.

“Ya udah, ayuk balik Ko ! Feby uda ketemu, tapi Danu blom ketemu.” Ucap Monica sambil narik tangan gue biar bangun

…………..

“Loe tau apa yang terjadi kemarin ama gue Vic? Mon? Mel?” tanya gue yang masih belum mengingat semua kejadian yang gue alamin.

“Tau ko, Kemarin tengah malam, mungkin sekitar jam 12an lewat, lu entah kenapa nangis sendiri, tertawa sendiri, terus bernyanyi sendiri keluar rumah. Kami uda berusaha memanggilmu dan mencegatmu, tapi gak kamu hiraukan !” ucap Monica menjelaskan ke gue dengan serius

“Terus.. Lu ga cegat gue?” tanya gue heran, kok gue dibiarin jalan terus sich

“Sorry Ko, bukannya kami gak mau cegat, tapi kamu jalan begitu cepat dan disampingmu seperti ada sosok aneh gitu berwarna putih. Kami sudah manggil dan menahanmu saat mau keluar rumah, tapi kamu ga menghiraukan kami.” Ucap Monica sambil tertunduk minta maaf

…………………

“Ah udahlah Don. Loe nya doank yang gile. Masa bisa gak sadarkan diri sih? Kerasukan loe?” ucap Victor

“Berisik Vic. Gue aja ga tau apa-apa nih. Tar gue coba inget-inget kejadian apa yang gue alamin kemarin, Kepala gue masih agak pusing. Ntar yeee..” ucap Gue

“Ya uda ayo balik rumah. Itu Pak Anto ntar mau datang ke rumah, tadi kami ada singgah rumah dia, minta bantuan dia untuk nenangin Feby.” Jelas Monica

“Memangnya kenapa dia?” tanya gue heran

“Entahlah Ko, Feby jadi aneh gitu, murung sendiri, makan gak mau, sibuk dengan dunianya sendiri gitu.” Jelas Monica dan Amelia yang lebih tau karena mereka nemenin Feby katanya

“Unn..untung lu kagak kenapa-kenapa Ko.” Jawab Monica sambil megang tangan gue saat kami kami berjalan berdua di belakang, sedangkan Victor dan Amelia di depan kami.

Part-58

SURAT

Setelah gue sadarkan diri dari tidur lelap gue di rumah Diana, gue pun berjalan pulang bareng Victor, Amelia dan Monica. Monica yang berada di samping gue sambil memegang tangan gue cukup membantu meredakan resah gelisah gue.

Hati gue kacau, pikiran gue juga ga tenang. Gue ga nyangka gue bisa pindah tempat ketika tidur, ya kata orang gue berjalan sendiri, tapi gue ga sadar. Hal ini benar-benar di luar dugaan sich.

…………………

Pagi ini, Pak Anto datang ke rumah kami. Seperti biasa, kami semua bener-bener berharap Pak Anto bakal memberikan solusi kepada kami atas masalah yang kami hadapi di desa ini.

“Pak, jadi menurut Bapak, sebenarnya apa yang terjadi pada kami? Kenapa banyak banget hal-hal aneh yang terjadi ?!” tanya Victor membuka pembicaraan

“Hmm… Entahlah Nak. Sulit untuk Bapak menjelaskan ke kalian. Kalian ini sepertinya sudah ditandain oleh nenek yang tinggal di rumah ini. Mungkin kalian terlalu mengganggu dia.” Ucap Pak Anto sambil tertunduk

Awal-awal gue kagak begitu menyadari gerak gerik Pak Anto, namun lama kelamaan gue makin heran. Kok Pak Anto yang katanya mengerti soal mistis begini, natap gue aja kagak berani, ngomongnya selalu tertunduk. Kenapa sich ???

Gue pun mencoba bertanya, “Pak, kok Bapak ngomongnya sambil tertunduk terus? Ada apa?”

“Gapapa nak. Oh iya, kalian segera selesaikan aja KKN kalian, masih berapa lama lagi? Kalau bisa, secepatnya tinggalkan desa ini aja yah.” Pesan Pak Anto

Loh… Maksud bapak ini gimana? KKN kami rasanya tinggal sebulan lagi, kagak terasa sih 2 bulan uda berlalu. Tapi masih ada sebulan dan itu tergolong masih lama. Apalagi kok makin banyak hal-hal yang gak enak sih yang terjadi.
Apalagi Danu yang hilang belum ketemu…

“KKN kami tinggal sebulan lagi Pak lebih kurang.” Jawab gue
“Oia, ngomong-ngomong temen kami yang namanya Danu, yang Bapak tolong kemarin, menghilang lagi Pak, kami gak ketemu jejaknya.” Sambung Victor jelasin ke Pak Anto

“Kalo soal Danu, saya lepas tangan nak. Sy pun gak bisa begitu membantu.” Jelas Pak Anto dengan pelan.

“Kenapa Pak?” tanya Victor yang penasaran

“Percuma Nak. Apa Danu bertingkah lagi? Soalnya kemarin waktu Bapak bantu itu, itu sudah susah banget lepasinnya. Kalau dia bertingkah lagi. Bapak uda angkat tangan.” Jelas Pak Anto

Mendengar pernyataan Pak Anto. Kami semua hanya terdiam dan hening. Gak ada satupun kata yang bisa terucap dari mulut kami.
Pak Anto aja nyerah nolongin Danu, nah terus kami bisa apa?

“Oia Nak Dony, Bapak juga mau pesan ke kamu.” Ucap Pak Anto sambil tertunduk setiap kali mau berbicara denganku.

“Ah maaf nak, tolong ambilkan bapak secarik kertas dan pena saja.” Jelas Pak Anto yang tiba-tiba tidak jadi ngomong.

Entahlah… Bingung deh gue dan yang lainnya. Monica hanya bantu ngambilin kertas dan membiarkan Pak Anto menulisnya terlebih dahulu.

…………..

“Ini nanti dibaca ya Nak, bacalah bareng Victor biar kamu gak terkejut nantinya. Bapak pamit dulu yah. Kalo kalian bisa balik lebih cepat dari desa ini. Usahakan balik saja yah.” Ucap Pak Anto sambil bergegas balik dari rumah kami.

Heran aja sih keliatannya. Kok sampai segitunya Pak Anto. Biasanya kan kalo orang pinter itu, pasti bisa membantu. Tapi ini malah Cuma ngasih surat, bukannya solusi.
Ah mudah-mudahan ada solusi di surat ini.

“Don, coba buka suratnya deh. Apa sih yang ditulis Pak Anto?” tanya Victor

………………

Gue dan Victor akhirnya mencari tempat yang agak sepi untuk baca surat ini…

Astagaaaaaaaa isi nyaaaaaaaaaa !!!

Part-59

SUARA DAN PENGLIHATAN

Gue dan Victor mencoba mencari tempat yang agak sepi dan sunyi untuk membaca surat yang diberikan oleh Pak Anto. Yah mungkin ada sesuatu atau maksud terselubung dari surat itu makanya sampai disuruh baca berdua.

……..

Gue dan Victor akhirnya memutuskan untuk membaca di jalan setapak kecil di belakang rumah kami yang dekat dengan wc. Di sana lumayan sejuk dan nyaman.
Gue buka lipatan kertasnya, gue baca pelan-pelan yang isi suratnya :

“Nak, Mohon maaf karena bapak tidak bisa membantu kalian untuk masalah ini.
Kalian diganggu dikarenakan kalian yang memancing, bukan karena tidak sengaja.
Bapak sudah coba berkomunikasi dengan nenek yang mengganggu kalian, tetapi beliau tetap tidak mau melepas kalian.
Permintaan maaf juga percuma.
Bapak tertunduk ketika berbicara dengan mu karena sosok nenek tersebut terus berada di belakangmu.
Temanmu Danu juga memakai salah satu barang peninggalan nenek yang seharusnya dikembalikan pada tempatnya.
Satu-satunya solusi adalah kalian pergi dari desa ini agar masalah ini kelar sebelum terlambat.
Semakin lama kalian berada di sini, masalah akan semakin susah.
Ada banyak makhluk halus yang mengikuti kalian.
Percayalah…”

Surat yang isinya cukup pendek namun sangat mengejutkan gue dan Victor.
Secara spontan Victor langsung kaget dan menghindari gue. Victor langsung fokus dan memperhatikan sekeliling gue, sementara gue jadi merinding sendiri.

“Vic… Perhatikan gue baik-baik. Ada yang aneh di sekitar gue gak?” tanya Gue merinding ke Victor

“Bentar Don bentar.” Ucap Victor sambil natap gue terus.

“Gue sih kaga liat ada apa-apa. Entah lah, mungkin Aldi ngerti soal beginian kali ya?” ucap Victor nambahin.

Gue dan Victor akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di belakang rumah, menelusuri jalan setapak kecil yang dikerumuni pepohonan yang rimbun.

“Vic, lu tau kaga kenape kita bisa diganggu ama nenek tua itu? Terus katanya banyak makhluk lain yang ngikutin?” tanya gue ke Victor

“Loe masih nanya ke gue jg Don? Loe lupa apa aja yang kita lakuin di sini?” ucap Victor ngeskak pertanyaan gue.

Ya jujur sih gue tau banyak kesalahan gue dan temen-temen yang lain.
Entah itu melanggar aturan desa sini yaitu keluar di atas jam 9 malem. Masuk ke rumah kosong, terus banyak iseng dan penasaran.
Gue nyesel sih karena kenakalan gue.
Tapi apa daya, nasi uda jadi bubur.
Solusinya kami harus ninggalin desa ini secepatnya kata Pak Anto.

Tapi….
Mustahil lah !
Ntar nilai SKRIPSI gue macem mana??? 2 bulan gue di sini sia-sia donk???
Kalo gue mau pulang, emangnya yang lain mau ???

“Vic, menurut loe, kita pulang aja gak biar bebas dari masalah ini, jujur gue takut juga ntar berbelit-belit malah kagak dilepas kayak Danu.” Tanya gue ke Victor

“Gue klo bisa pulang gue jg mao pulang bro. Tapi ini sisa sebulan loh! Lu mau nilai skripsi kita gak dapet apa-apa? Terus 2 bulan yang kita jalanin gak worthed banget?” balas Victor yang keliatannya juga galau antara mau lanjut atau kagak.

Kami terus berjalan menelusuri jalan setapak ini semakin dalam, berhubung cuaca mendung dan angin sepoi-sepoi yang berhembus, siang hari pun tidak terasa begitu panas.
Kagak terasa, kami sudah nyasar entah sampai sedalam di jalan setapak ini.

“Cui, uda sejauh mana kita jalan ini? Gue kagak konsen karena kepikiran terus isi surat Pak Anto. Gue ngikutin jalan setapak ini terus daritadi.” Ucap Gue yang sedikit tersadar karena kami kagak pernah sampai di daerah ini.

“Astaga. Untung loe ngingetin bro. Gue juga gak gt konsen, pikiran jg melayang bro. Kita uda jalan berapa jauh sih? Ya uda balik yuk ! Ikutin aja jalan setapak ini!” ucap Victor yang kaget

……………….

Beberapa saat setelah kami memutar haluan untuk menuju jalan pulang, langit yang mendung tiba-tiba mulai berawan, berangin, kilat dan akhirnya turun hujan lebat secara tiba-tiba !

Gue dan Victor berusaha untuk mencari tempat berteduh. Kami berlari mengikuti jalan setapak yang kami lewati, berharap agar cepat sampai ke rumah !

“Buruan bro !” teriak gue mimpin jalan.

“Hoshhh…hoshhh.hoshhhh…..” Napas gue mulai terengah-engah.

Baju gue basah semua, surat dari Pak Anto yang gue simpen di saku gue pun basah kuyup, padahal rencananya surat ini setelah kami baca, mau gue kasi ke para cewe utk baca juga, biar mereka juga ngerti akan keadaan yang dialami sekarang.

“Don, Loe mimpin jalan kemana?! Kok gak sampai-sampai. Uda puluhan menit kita berlari nembus ujan, kok kagak sampai ! Emang kita jalan kaki tadi sejauh mana?!” tanya Victor yang juga kecapekan lari nembus ujan

“Gak tau bro, jalan setapak ini Cuma satu dan kagak bercabang, gue uda ngikutin jalan kita datang. Masa gak sampai-sampai!” jawab Gue sambil membungkuk ngambil napas di tengah ujan deras.

“Ya udah cepat lanjut lari lagi. Mao teduh di mana ujan-ujan gini di tengah pepohonan!”

“JEDEEERRRRR !!!!!”
Kilat bercampur petir yang datang tiba-tiba. Entah menyambar kemana, tetapi serasa dekat banget dengan posisi kami.

Ya wajar saja. Di desa ini alam terbuka, banyak lapangan terbuka, petir bisa nyambar ke mana-mana.

“Vic. Kita teduh aja dulu di bawah pohon, ada petir gini rawan juga loh!” ucap Gue sambil membungkuk istirahat karena capek

“Oe Vic…! Kok diem lu?!” tanya Gue

“Don….Don…” suara Victor gemeter dan agak shock

“Kenapa lagi lu? Kenape suara mu ? Sesak napas? Asma loe?” tanya Gue yang heran ngelihat ekspresi muka dan suara Victor

“Tadi pas kilat, pas gue liat ke arah pepohonan di samping kita, gue lihat wajah seseorang tertawa, rambut panjang baju putih, bersembunyi di balik pepohonan gitu, Tapi senyumannya terlihat begitu jelas!” ucap Victor sambil membungkuk dan ngos-ngosan.

“Ah yang bener aja loe? Jangan ngaco ah. Mending kita teduh aja!” ajak Gue sambil berlari menuju ke pohon yang agak menjulang tinggi dan rimbun.

Ya air ujannya sih tetep tembus, tapi kagak begitu banyak dibanding kagak berteduh, deras banget nih ujan. Badan gue aja menggigil

“JEDERRRR !!!!”
Suara gemuruh disertai kilat yang begitu terang datang tiba-tiba lagi. Ahh bisa copot jantung gue gini.
Ngeri-ngeri sedap juga berada di alam terbuka ketika ujan begitu lebat.
Setiap kali ada suara gemuruh, diikuti sambaran petir yang seakan begitu dekat bikin gue kagak tenang.

“Donnn !!!! Sosok wanita itu makin mendekat… Semakin mendekat dan bersembunyi di balik pepohonan di seberang kita !” ucap Victor yang makin shock.

Raut muka Victor semakin cemas, biasanya anak ini paling tenang. Tapi entahlah, kenapa kali ini dia ketakutan begitu?
Gue malah kagak ngelihat apa-apa kali ini….

“Don, lari aja terus Don, Gak usah teduh lagi. Buruan !” ajak Victor sambil narik tangan gue utk nembus ujan lagi, kali ini si Victor yang mimpin jalan.

……………………..

Gue berlari dan terus berlari menembus ujan…
Mata gue kaga bisa buka dengan lebar karena percikan air ujan begitu deras dan menyakitkan.
Gue nutup mata gue dengan tangan gue, pandangan gue begitu buram.
Kaga berapa lama kemudian…..

“Sampai kita Don di rumah. Ah stress gue, capek !” ucap Victor agak lega sambil neduh di teras belakang rumah kami.

Gue juga neduh dulu di teras belakang rumah karena badan gue yang basah, entar masuk ke dalam rumah malah kena repetin ama cewe-cewe yang lain.

Sambilan neduh, gue sambilan cerita ama Victor.

“Loe lihat apaan tadi sih? Kok pucet ampe cemas gitu?” tanya Gue penasaran

“Ah entahlah Don, gue jarang banget ngelihat hal beginian, ya jelek-jeleknya juga ngerasain kaga enak gitu aja. Tapi ini tadi terlihat jelas banget, entah sosok siapa itu ngeliatin kita!” ucap Victor sambil nenangin nafasnya yang ngos-ngosan.

“Gue kagak liat apa-apa kali ini. Oh iya, surat Pak Anto di jemur dulu dah, pasti luntur nih tulisannya.” Jawab gue sambil ngeluarin kertas surat dari pak Anto dengan hati-hati biar kagak sobek

“Wahhhhhhhhhhhh !!!! Vic lihat ini !” teriak gue kaget

“Isiiii suu..suraatttnyaaa jadi wajah nenek tua itu…!!!” teriak Gue

Gilaaaa…. Isi suratnya yang tadinya tulisan, malah berubah jadi lukisan kabur dan samar-samar wajah nenek tua itu. Yang jelas seram banget !!! Bayangin aja dah… Gue shock, Victor yang ngelihat surat itu langsung narik dari tangan gue dan dirobek sampai hancur.

Gue nenangin diri gue dulu. Victor juga berusaha untuk nenangin dirinya. Ujan masih turun begitu deras.

Tiba – tiba…….

“Sreeett…….” Suara pintu belakang rumah kami yang tiba-tiba terbuka sendiri

“Loe buka pintu belakang rumah Vic?” tanya Gue kaget

“Kagak lah ! Loe gak lihat gue di samping loe terus?!” jawab Victor dengan ekspresi wajah cemasnya

“Hoi, sapa yang buka pintu ? Kok gak nongol?” teriak Gue kesel, mana tau diusilin ama temen yang lain kan.

……………………

Hening…..
Kaga ada respon apapun dari dalam rumah…
Gue jadi ragu mau masuk ke dalam rumah sendiri….
Entahlah… Perasaan kagak nyaman…
Sepertinya rumah kami ini jadi terasa asing…
Bukan seperti rumah kami biasanya….

………………………

“Masuk gak Don? Apa mau di luar terus kita?!” tanya Victor yang nyuruh gue masuk duluan.

“Loe aja masuk duluan bro. Gue ngikut dari belakang.” Jawab Gue

“Ya uda barengan masuk aja cepetan!” ucap Victor.

Gue dan Victor barengan melangkahkan kaki gue untuk masuk ke rumah kami…
Namun…
Saat langkah kaki pertama gue menginjak lantai dalam rumah…

“Aduhhhhhh…”
Telingaaaa Gueee… Berdenginggggggggg
“Ngingggggggg………”

Suara dengingan ini terasa begitu kuat di telinga kanan gue, kemudian disusul di telinga kiri gue…

“Tunggu Vic… Tunggu…” ucap Gue sambil berdiem sejenak dan loncat-loncat untuk ngilangin dengingan di telinga gue…

Kata orang tua…
Kalau mendengar suara dengingan di telinga….
Ada sesuatu yang gak benar…

Kata orang lain….
Suara dengingan adalah pertanda suara dari setann….

Kata orang lain lagi….
Suara dengingan adalah pertanda suara orang mati….

Pikiran gue mulai kacau… Berbagai pikiran aneh terlintas di kepala gue hanya karena dengingan ini…

“Kenape Don?” tanya Victor

“Telinga gue Vic, tiba-tiba berdenging tinggi banget bunyinya. Biasanya kagak setinggi itu dengingannya.” Jawab Gue yang uda mulai tenang karena dengingannya sudah hilang.

“Kemariilahh… Masuklah……”

“Suuu…suaraaa siapa yang manggil itu Vic ????” ucap Gue kaget

“Hah? Suara apalagi ?” tanya Victor heran..

“Hihihi… Ayo masukkk… Bermainlah….”

Iniiiii menyeramkan banget bagi gue… Gue mendengar begitu banyak suara halus… Percakapan antar beberapa orang di dalam rumah, panggilan orang dan masih banyak lagi…
Setelah suara dengingan ini, telinga gue jadi mendengar suara-suara aneh, padahal sebelumnya enggak.
Tapi Victor kagak denger apa-apa?

Teruss…. Semua suara ini dari dalam rumah…
Apa gue mesti masuk ?
Ini kan rumah tempat tinggal kami ?
Mau kemana kalau gak masuk ke dalam rumah ?

Tapi…. Suara ini menyeramkan banget !!!!!!!!!!!!!!

Part-60

MASUK ATAU KAGAK ?

Suara yang terdengar dari dalam rumah begitu jelas di telingaku, namun bagi Victor, ia tidak mendengar suara apapun.
Entahlah….. Gue bingung, hujan turun semakin deras, tapi gue ragu untuk masuk ke dalam rumah tempat tinggal kami sendiri.

“Udahlah Don, masuk aja. Gak usah banyak mikir lagi !” ucap Victor sambil ngedorong gue untuk masuk ke dalam rumah

Tanpa disangka, kaki gue uda menginjak lantai dalam rumah. Gue pun mulai masuk lebih dalam lewat dapur. Selangkah demi selangkah perlahan gue tempuh.

Gue mendengar begitu banyak suara bisikan yang kagak jelas apa yang disebutkannya.
Gue terus melangkah lebih dalam tanpa berani sekalipun menoleh ke belakang, yang gue percaya, Victor ada di belakang gue sehingga gue aman.

“Hiiiihiiii…. Masuklah …. Masuklah ke dalam……”

“Huuuuhuuuuu…. Penghuni baru……”

“Hiiii….hiiiii…….”

“Ha….haaaaa….haaaa…..”

Seperti inilah kira kira suara yang gue denger. Semua campur aduk. Rumah gue ini serasa banyak orang, namun kagak ada satupun wujud yang gue liat.

Setidaknya gue masih bisa bersyukurlah karena gue ga ngelihat apapun, namun tetep aja suara ini begitu menyeramkan bagi telinga dan pikiran gue.

Perlahan gue melangkah,akhirnya gue sampai di perbatasan ruang dapur dan ruang tengah tempat kami tidur. Rumah ini begitu gelap, lampu yang tidak menyala (mungkin efek dari mati lampu karena hujan yang deras) dan cuaca yang mendung gelap membuat rumah ini terlihat semakin angker.

Angin yang berhembus yang masuk melewati celah-celah rumah kayu ini juga semakin menambah sensasi mencekam yang membuat bulu kuduk semakin berdiri.

“Donnnn…..”

“????”

“Donnnnnnn….” Suara orang memanggil gue dengan lembut

Gue yang daritadi kagak mau liat ke belakang, akhirnya harus melihat ke belakang juga karena suara panggilan ini.

“Vic, kenapa loe ? Kok loe jalan sambil merem gitu ?” tanya gue yang baru saja menoleh ke belakang ke arah Victor

“Don…. Temen kita yang lain mana ?” tanya Victor dengan suara pelan, sambil menutup matanya dan berpegangan pada pundak gue.

“Gak tao, ga ada suara mereka sama sekali. Gue malah entah dengar suara apa aja yang gak jelas gitulah.” Jawab gue yang kagak jadi masuk ke dalam ruang tengah gara-gara dipanggil Victor

“Loe ga merinding sama sekali Don? Loe kagak ngelihat apa-apa sama sekali ?!” tanya Victor dengan pelan lagi, nada suara Victor terasa agak berbeda karena ia dalam kondisi cemas

“Gue ga liat apa-apa Vic. Gelap. Cuman banyak suara ! Emang kenapa?!” tanya gue yang heran

“Loe…loeee dengar suara apa Don ?!” tanya Victor yang masih tetep merem

“Banyaklah. Macam ada keramaian gitu deh di rumah ini. Ada yang bilang suruh masuk ke dalam rumah lebih dalam lagi, ada yang tertawa, ada yang bilang penghuni rumah baru, ada yang sedang murem nangis tersedu-sedu gitu. Kenapa?!” tanya Gue ke Victor sambil ngejelasin ke dia soal apa yang gue denger.

“Don…. Kita keluar aja dulu yuk dari rumah ini !” ucap Victor sambil memegang semakin erat pundak gue.

“JEDERRRR !!!” Suara gemuruh yang begitu kuat tiba-tiba terdengar

Angin yang berhembus semakin kencang di luar di tambah kilatan yang begitu terang malah memperburuk suasana kami di dalam rumah.
Pintu belakang rumah tempat kami masuk tadi tiba-tiba jadi tertutup karena angin yang begitu kencang tadi. Seisi rumah menjadi begitu gelap dan hanya cahaya remang-remang yang masuk lewat celah-celah lubang kayu rumah.

“Don. Gue ngelihat begitu banyak orang di dalam rumah ini. Pakaiannya serba putih semua Don. Wajah mereka terlihat begitu pucat dan mengerikan. Rambut semuanya kagak terurus ! Semua pandangan mereka tertuju pada kita !” ucap Victor dengan nada yang mulai terpatah-patah dan nafas yang tidak stabil

“Beneran loe ?! Gue kagak melihat apa-apa, tapi suara ini mengerikan !” tambah gue

“Ya beneran, gue Cuma bisa lihat, tapi gue ga mendengar apapun, tapi karena lu barusan bilang lu dengar seperti ini, gue semakin cemas Don. Soalnya gue melihat mereka dengan gerak gerik mereka yang hampir sama dengan apa yang lu dengar. Ada yang di posisi tertawa sendiri. Ada yang duduk manis diam dan lain-lain Don !” ucap Victor yang sangat jarang terlihat takut seperti ini.

“Terus kita harus gimana ? Mao keluar rumah? Loe mao kemana ujan-ujan gini ?!” tanya Gue

“…………………..”

Victor hanya terdiam. Dia juga bingung mesti gimana.
Di satu sisi Victor jadi bisa ngelihat penampakan beginian, sementara gue Cuma bisa mendengar suara-suara aneh.
Entah itu harus disyukuri apa kagak karena gue ga bisa ngelihat apa-apa, tapi tetap aja mendengar itu menyiksa juga !!!

“Ya udahlah, kita masuk ke ruang tengah aja, lagian kok sepi amat ini rumah !” ucap gue

“Bentar Don!” Victor menahan langkah kaki gue, dia mencoba membuka matanya sedikit untuk melihat ke dalam ruang tengah. Sekejap dia membuka matanya, terus dia menutup nya lagi !

“Woi kenape lagi lo? Ada yang aneh ?” tanya Gue heran

“Don.. Bagus kita keluar deh ! Gue ngelihat di depan loe, tepat di pintu masuk ruang tengah yang ada lemari cermin itu, Nenek tua itu sedang menunggu kita !” ucap Victor yang badannya mulai gemeter tidak karuan.

“Gila Loe? Yang bener ajalah !” ucap Gue yang jadi cemas

“Beneran !” suara Victor mulai terengah-engah, dia pun mulai melangkah mundur perlahan dengan gemeteran.

Waduhhhhhhhh….
Posisi gue pribadi juga jadi takut.. cemass…. Semua jadi satu…
Gue mesti masuk apa kagak ?
Tapi Victor bilang ada sosok nenek tua depan pintu ruang tengah ?
Gue kagak melihat apa-apa…
Namun ekspresi dan tingkah laku Victor, sepertinya dia kagak lagi bercanda….
Gile aja klo dia masih bisa bercanda di saat seperti ini..
Terusss….
Terusss gue mesti napain ?
Tetep masuk kagak ?
Tapi hati gueeee kagakkkk tenang !!!!
Argh !

Part-61

AKU HILANG

Victor yang ketakutan karena melihat sosok nenek yang berdiri tepat di pintu masuk ruang tengah membuat ia kehilangan akal sehatnya.
Pikiran Victor terlihat begitu kalut, ekspresi wajahnya yang gelisah terlihat meskipun di kondisi cahaya remang-remang.
Nada suara, intonasi dan nafasnya yang terengah-engah karena rasa takut nya membuat suasana hati gue jadi ikut gelisah.

“Vic ! Loe mau kemana?!” ucap gue sambil narik dan nahan tangan Victor. Victor terlihat berjalan mundur dengan cepat dan berbalik arah menuju pintu belakang yang tertutup karena hembusan angin tadi.

“Gue mau keluar Don. Gue mau keluar !!! Ga tahan gue di dalam rumah !” ucap Victor dengan suara yang terpatah-patah sambil terus melepaskan genggaman tangan gue.

“Loe kenapa Vic ?! Jelasin ke gue !” jawab gue sambil maksa.

“Udah lepasin gue. Bisa stress gue, gue mending tenangin diri di luar dulu. Ini semua di luar logika gue !!!” balas Victor dengan tegas sambil melepas genggaman tangan gue dan membuka pintu belakang rumah dan menutupnya dengan kuat.

Gue yang mendengar jawaban Victor hanya bisa terdiam kaget. Gue coba kejer dia, tapi dia berlari lebih cepat dari dugaan gue.
Rintisan air hujan yang begitu deras membuat pandangan gue kagak begitu jelas dan dalam sekejap Victor sudah hilang dari pandangan gue.

Shittt mennn….
Gue mau napain sekarang ???
Gue akhirnya kembali masuk ke dalam rumah…
Tapp…tapp..tapp..

Gue terus melangkahkan kaki gue dengan perlahan menuju ke ruang tengah rumah untuk memastikan kondisi rumah ini. Janggal juga bagi gue, suara gue ribut dengan Victor yang begitu keras, tapi kagak mendapatkan tanggapan apa-apa dari orang di dalam rumah.

“Hihiiiihiii.. temennya kabur….”
“Hihihiii… Iya nih… Ternyata pecundang juga… Percumaaa… ”

Yah lebih kurang seperti ini yang gue denger meskipun aslinya tidak sejelas ini, namun lebih kurang seperti inilah inti suara yang gue tangkap.
Masih banyak suara lain seperti orang nangis, suara orang tertawa, suara melengking, suara nafas orang, suara langkah kaki, suara buka tutup pintu.
Entah lah… Rumah kosong ini terasa begitu ramai….

Akhirnya gue sampai di pintu menuju ke ruang tengah.
Gue narik nafas dalam-dalam, gue berharap semoga semuanya kagak ada masalah.
Victor yang melarikan diri, nanti aja baru dicari ketika hujan mulai reda, sejauh ini setau gue Victor bukan tipe pengecut yang bakal bertindak bodoh. Jadi semestinya untuk masalah begini dia bisa berpikir jernih aja.

………………………..

Sosok nenek tua yang disebut oleh Victor ternyata tidak ada sama sekali…
Gue sedikit lega sih. Gue perhatikan sekeliling lemari cermin di ruang tengah, yah meskipun dalam kondisi cahaya yang remang-remang karena mati lampu, kagak ada hal aneh.

Eh… Gue lihat Aldi lagi duduk di ruang tengah tempat kami tidur, gue juga lihat Monica dan Amelia serta yang lainnya lagi duduk di ruang tamu. Semuanya kayaknya lagi berkumpul entah bahas apa di ruang tamu, cuman Aldi yang kurang peduli.

Kelihatannya di ruang tamu lagi bahas sesuatu, tapi kok rasanya hening di telinga gue ???

Gue coba mendekat ke arah ruang tamu, gue coba duduk deket Monica dan mencoba mendengar mereka sedang bahas apa …

Namun….
Gue kagak denger apapun !!!!
Gue perhatikan gerak gerik mulut mereka…
Mereka benaran ngomong !!! Tapi… tapi… kok gue ga denger apa-apa ???
Telinga gue rusak ? Yang gue denger hanya tangisan, tawa, dan suara langkah kaki serta suara aneh lainnya yang kagak jelas !
Omongan temen gue satupun kagak ada yang gue denger…!!!

Gue akhirnya berdiri dan menuju ke ruang tengah, hati gue semakin kacau dan takut..
Kenapa?? Kenapa gue ga bisa denger apapun suara temen gue, kenapa hanya suara aneh yang gue denger.

Gue menuju ke ruang tengah tempat Aldi duduk.

“Aldiii !!! Aldiii !!! Loe napain ? Loe ga ikut kumpul di ruang tengah ?!” ucap gue ke Aldi yang sedang duduk bengong.

“Woi Aldi !!!” teriak gue yang merasa dicuekin

“Woiii !!!” teriak gue lebih keras ke telinga Aldi

Tapi… Aldi sama sekali ga membalas apapun dari panggilan gue…
Karena kesel, gue coba menggunakan tangan gue untuk ngedorong badan dia…

Ughhhh….
Tangan gue gak bisa nyentuh badan Aldi…
Seperti ada penghalang di badannya….
Apa ini???
Apaaaa ???

Gue semakin takut…
Gue takut akan kondisi gueee….

Kenapaa???
Kenapa gue ga bisa mendengar temen-temen gue ngomong apa ??? Padahal tadi gue barusan ngomong ama Victor !
Kenapaa ???
Kenapa gue dicuekin ama temen-temen padahal gue ngomong tepat di depan mereka ???
Kenapa gue kagak bisa memegang badan mereka ???!!!!

Part-62

KEMBALI

Kondisi gue yang sepertinya tersesat di dunia lain membuat diri gue panik dan gak karuan.
Gue memang pernah mendengar ucapan orang tua dulu yang namanya disembunyiin setan.
Kalian pernah dengar gak ?
Disembunyiin setan seolah-olah dirimu berada di alam lain sehingga dirimu kagak bisa komunikasi dengan orang nyata.
Itulah yang ada di benak gue.

Mengingat gue masih bisa komunikasi dengan Victor, apa jangan-jangan Victor juga berada di alam lain ? Apa bener kami berdua di sembunyiin setan ?
Atas dasar apa?
Apa jangan-jangan akibat sosok bayangan yang kami lihat pas hujan lebat di dekat pepohonan dan semak-semak itu ?

Ada juga orang tua yang mengatakan bahwa disembunyiin setan disebabkan karena bayangan dirimu tertutup oleh bayangan setan, sehingga orang lain tidak bisa merasakan keberadaanmu dan dirimu juga kagak bisa berkomunikasi dengan orang lain.
Entahlah…
Itu semua hanyalah omongan orang….

Gue mulai putus asa….
Kejadian memang bener pertama kalinya gue alamin.
Gue coba teriak sekuat-kuatnya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!”
Gue hentak-hentakkan tangan gue ke dinding kayu rumah, gue coba tendang lemari kaca rumah, berharap suara yang gue hasilkan bisa di dengar oleh teman lainnya.

Namun…
Semuanya sia-sia…
Pukulan tangan gue, tendangan kaki gue ke lemari kaca, semuanya seolah ada yang membendung…
Meskipun gue mencoba menendang lemari kaca tersebut, tapi kagak ada hasilnya, jangankan ada barang yang jatuh akibat tendangan gue yang begitu kuat, menyentuh sedikitpun ke lemari kaca itu juga kagak.

Gue ga inget berapa lama diri gue berada dalam kondisi seperti ini…
Semuanya terasa begitu lama, entahlah kalau bagi teman yang lainnya bagaimana…
Apa mereka tidak cemas dan heran melihat gue dan Victor yang hilang entah kemana ?

…………………..

Gue hanya bisa duduk diem merenung…
Gue gak tau mesti gimana…
Gue hanya teringat kalau semua ini berawal setelah gue membaca surat pak Anto di jalan setapak kecil yang ada di belakang rumah.
Kemudian Victor bilang ada penampakan…
Akhirnya sampai di rumah ini…
Dan berujung seperti ini…

………………….

Entah berapa menit gue duduk diem merenung, tiba-tiba gue denger suara seseorang masuk dari pintu belakang rumah…
Nada suaranya begitu tergesa-gesa dan sepertinya dia juga lagi stress

“Don !!! Loe bisa liat gue ? Loe bisa denger gue ?!” ucap Victor yang sepertinya juga lagi kalut

“Ha?? Apa Vic.. Bisa Bisa… Loe tenang dulu. Ada apa ?!” tanya Gue yang juga stress

“Gak tau Don. Tadi gue lari keluar rumah, gue ketemu beberapa warga, tapi satupun gak ada yang respon gue ?! Gue sempet kaget. Gue banyak ngelihat sosok-sosok aneh Don !” jelas Victor

“Gue jg kagak tau. Lu lihat ke dalam rumah, Lu lihat temen-temen kita yang lain, gue uda manggil sekeras mungkin, tapi ga ada jawaban!” ucap Gue ke Victor

……………………….

Kami berdua hanya bisa terdiam dan merenung…
Victor juga uda coba manggil-manggil ke dalam rumah..
Tapi hasilnya masih sia-sia
Entah berapa lama kami habiskan waktu untuk manggil-manggil…
Beberapa kali gue keluar rumah untuk melihat sekitar, namun hanya hujan yang turun dengan deras….

Sampai akhirnya gue dan Victor tertidur karena kecapekan dan pusing….

……………………………..

“Kooo… Kooo Dony…. Ko Victorr….. ! Kalian napain tidur di sini ?!” ucap suara seorang gadis

Gue yang masih sedikit pusing, mulai membuka mata gue perlahan…
“Loh gue di mana ? Eh Mon, gue kok bisa tidur di sini ?!” ucap Gue kaget karena gue terbangun di bawah pohon pisang, sepertinya sih di jalan setapak belakang rumah…

“Gak tau Ko… Tadinya kalian kan keluar rumah berdua. Terus gak balik-balik. Ini hari uda mau jam 6 sore. Makanya kami cariin.” Ucap Monica dengan suara pelan

Gue dan Victor saling bertatapan seakan kejadian yang kami alamin tadi itu hanyalah halusinasi…
Entah lah… Gimana mau mastikannya…
Yang pasti sekarang gue masti balik ke rumah dulu bareng Monica, Amelia dan laras yang jemput kami…

Part-63

PENJELASAN

Gue dan Victor yang tadinya bisa dibilang nyasar entah ke alam mana, seolah semuanya tidak mengenal gue, akhirnya gue dan Victor berhasil balik ke alam asli kami.
Untung nasib kami masih baik. Gue ga abis pikir kalo selamanya mesti tersesat di kehidupan alam lain.
Entah lah… Baru pertama kali gue merasakan ini..
Ya semoga itu semua hanya mimpi…

……………………..

Gue merasa agak lega setelah tiba di rumah dan bisa berbicara dengan teman lainnya.
Gue lihat sekeliling gue dan gue coba dengarkan suara suara berisik tadi, syukulah sudah kagak ada apa-apa lagi.
Gue ceritain masalah yang gue alamin ke Aldi, ya barangkali dia lebih mengerti hal beginian.

“Aldi, loe tau gak ? Tadi gue seolah-olah masuk ke alam lain. Gue dan Victor uda berada di rumah ini, tapi gue ga bisa manggil dan nyentuh kalian !” ucap Gue dengan penuh semangat

“Maksudnya Don ?” tanya Aldi yang agak bingung

“Gue macem disembunyiin setan gitu Di, tadi kan gue uda di rumah ini, gue uda lihat elo lagi baca buku klo gak salah (sambil gue inget”), terus gue panggil, tapi loe gak sadar sama sekali ! Nah loe beneran baca buku gak tadi ?” tanya Gue penasaran

“Iya bener Don, gue tadi baca buku sebelum loe datang. Loe nampak gue?” tanya Aldi kembali

“Nah benar ! Trus itu para cewek kumpul di ruang tamu depan kayak lagi bahas sesuatu. Benar gak ?!” tanya gue lagi

“Iya ! Kok bisa tau loe ? Mereka tadi di ruang depan bahas masalah Feby, soalnya Feby jadi pemurung banget, makan pun gak mao, entar malah sakit parah kan. Diajak ngomong aja kayak orang linglung. Terus Danu juga gak balik-balik, uda ditanya ke warga, tapi pada gak nampak.” Ucap Aldi

Ya ampunnn….. Ternyata semua yang gua lihat tadi itu nyata terjadinya ?
Terus kenapa gue bisa terbawa ke alam itu ?
Bagaimana cara gue sadar sekarang ?
Gue jadi teringat soal isi surat dari Pak Anto yang banyak makhluk halus yang ngikutin kami…

………………………….

“Vic, menurut loe, kita kasi tau yang laen aja gak soal isi surat pak Anto dan kita bahas aja masalah ini biar pada tau semua ?!” ucap gue ke Victor yang lagi duduk diem di ruang dapur.

“Ya, gue rasa gitu Don. Tapi kok rasanya mereka aman aman aja yah ? Kita lebih sering kena ganggu. Si Aldi juga gak kenapa-kenapa tuh ? Mereka doyan ama loe kali Don, jangan ajak-ajak gue deh.” Jawab Victor sambil isengin gue

Nih anak kok cepet kali ilang stress nya, perasaan tadi baru cemas dan khawatir, lahhh sekarang uda bisa candain gue lagi, gak bener emang.

……………………………..

Menjelang pukul 8 malam, sehabis makan malam selesai, kami semua berkumpul di ruang tengah. Gue dan Victor bermaksud untuk menjelaskan soal isi surat dan hal-hal yang kami alami. Ya tujuannya sih untuk sharing biar yang lain pada hati-hati.

“Guys, gue mau info sedikit nih soal hasil kedatangan Pak Anto tadi pagi. Ada sesuatu yang mau kasi tau, tapi jangan pada kepikiran or cemas yah ?!” ucap gue memulai pembicaraan

Para cewe terlihat begitu serius mendengarkan dan penasaran tentang apa yang terjadi.

“Emang apa itu ko?” tanya Monica

“Sebenarnya tadi Pak Anto kasi surat buat gue dan Victor, terus kami bacanya di belakang rumah tadi. Nah sebenarnya gue dan Victor malas untuk ceritain isi suratnya, tapi ya kalo dipikir-pikir lebih baik kalian tau aja kan? Asal jangan malah kepikiran. Ok?” ucap gue

“Ya ko, sekalian lu jelasin kenapa kalian berdua tadi bisa ketiduran di belakang rumah ?” tanya Amelia

“Begini, isi surat Pak Anto itu nyuruh kita agar cepat ninggalin desa ini, karena desa ini banyak penunggunya, kemudian katanya kita yang sengaja ganggu penunggu desa ini, termasuk nenek tua itu.” Ucap Gue

“Woi Don, ngomong yang bener, jangan pakai tua-tua.” Tegur Aldi

Astagaaa… gue keceplosan…. Duh diingetin gini kan malah bikin merinding….

“Terus apalagi Ko Don ?” tanya Laras penasaran

“Terus katanya kita ini banyak diikuti oleh makhluk halus. Penyebabnya juga gak tau. Mungkin ada salah satu dari kita atau beberapa dari kita yang nakal or mengganggunya.” Tambah Victor

…………………………..

Suasana menjadi hening setelah gue menjelaskan tentang masalah ini.
Raut muka para cewe terlihat menjadi murung dan takut.

“Jadi gimana ko? Kita masih 1 bulan lagi loh di sini. Bagusnya gimana?” tanya Monica dengan pelan

“Kata Pak Anto, sebulanan terakhir ini juga akan jadi lebih gawat, kalau awal kan masih ga seberapa, semakin diakhir, penunggu sini semakin risih. Apalagi kalian tau sendiri kan rumah ini punya siapa.” Ucap Gue

“Sstttttttttt Don… Uda uda jangan bahas terlalu panjang!” timpa Victor sambil nyuruh gue diem

“Terus soal kalian tadi tertidur di luar itu kenapa ?” tambah Amelia

“Ah udah itu jangan kepo… Ntar siap dari sini aja baru kami ceritain. Siap tugas ngabdi ini, masih boleh ketemu kan kita ?” ucap Victor sambil ngegoda Amel.

“Ho oh…” angguk Amel agak malu

…………………………

Tak terasa kumpul-kumpul kami ini menghabiskan waktu cukup lama.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan ini adalah saat-saat matinya lampu..

“Klikkkkkkkkkk…………….”
Akhirnya lampu padam tepat sesuai waktunya…

Suasana menjadi begitu gelap

Beberapa cewe menjerit kecil karena matinya lampu ini, apalagi sehabis mendengarkan cerita serem gini kan?
Gue mencoba menyalakan flash HP yang gue pegang di tangan gue…

…………………………..

Sesaat gue menyalakan flash HP

“Shiittt men oh shittttttttt…..”

Di…di depan gue tampak sosok bayangan putih tegak dengan rambut tak tertata rapi, terurai begitu kacau…

Sosok bayangan putih itu tepat berdiri sudut ruangan yang arahnya berada tepat di depan pandangan gue…

Badan gue hanya bisa terdiem… Badan gue gemeteran… Apa Cuma gue yang ngelihat ?
Gue lirik kiri kanan, sepertinya mereka sibuk-sibuk sendiri, kenapa Cuma gue yang lihat?

Gue coba gerakin badan gue, tapi semuanya ga berhasil. Badan gue terasa kaku kembali.
Keringet dingin mulai bercucuran..

Mata gue tertuju dan hanya fokus pada sosok bayangan putih itu, hingga dari sela-sela rambutnya, sosok gadis putih itu menunjukkan senyumannya yang begitu seram dan sulit diungkapkan dengan kata-kata…

Suara yang timbul saat dia tersenyum ngeri itu… Suara tawa HIHIHIHIHIHI yang benar-benar membuat telinga gue berdenging….
Akhhh….. !!!!

Part-64

SIKSAAN

1 bulan bagi orang yang bersenang-senang ria mungkin adalah waktu yang sangat sebentar, namun tahukah kalian bagi orang yang sedang berada dalam posisi mencekam seperti gue saat ini, hari demi hari berlalu begitu lama?
Bahkan satu jam pun terasa seperti satu hari…

“Ya Tuhannnn…. Ini sosok apaan depan gue… Kali ini wujudnya sudah bukan wujud yang manis dan cantik terlihat lagi. Sosoknya mulai menyeramkan !” gumam gue dalam hati

Sekujur tubuh gue kaku… Badan gue macam patung kagak bisa digerakin sama sekali…
Kondisi mati lampu menambah suasana semakin mendebarkan…
Yang gue heran…
Suara temen-temen gue kok pada lenyap???
Waktu seakan berhenti, seolah-olah hanya ada gue dan sosok bayangan putih berambut panjang ini…

Damn…

Sosok bayangan yang awalnya terlihat kabur dan selayang…
Kini semakin jelas karena semakin mendekat ke arah mata gue…
Gue yang berusaha mau mundur , namun tak pernah bisa…

Gila….
Mulut dari sosok bayangan putih itu tiba-tiba terbuka menganga…
Lidahnya yang panjang dan bercucuran air ludah membuat gue semakin merasa jijik.
Matanya yang hanya berupa lubang hitam yang sangat dalam, tanpa biji bola mata…
Suaranya “Wooooooooooooooo”
Ah susah diungkapkan dengan kata-kata…
Sosok bayangan itu terus berada di depan mata gue…
Air ludahnya menetes membasahi celana gue tepat di daerah kemaluan gue…
Menjijikkan … Ya sudah pasti itu….
Gue mau teriak bahkan gak bisa…
Gue mau mundur dan menghindari sosok itu juga gak bisa…
Gue hanya bisa diemmm…
Menyaksikan segala perbuatan yang dilakukan oleh sosok bayangan wanita yang seram itu.
………………………..

Tolong…. Tolongggg…. Gumam gue dalam hati….
Tapi tak ada seorangpun yang bisa mendengarkan teriakan gue…
Bahkan gue sendiri kagak bisa mendengar suara dari mulut gue…

Waktu seakan berhenti…
Tatapan sosok wanita yang menyeramkan ini terus berlangsung, entah berapa lama gue pun kagak tau…
Yang jelas, lubang matanya yang hitam ditambah mulutnya yang menganga dan bercucuran air liur, sangat menyeramkan…
Bau busuknya mulai tercium dan menyengat hidung gue…
Bau seperti mayat… tau ???
Bau busuk yang sangat menyengat, persis seperti bau mayat tikus… bau mayat binatang yang sudah lama mati dan tidak dikubur…

…………………..

Ya tuhan…. Berapa lamaaaa gue harus terdiem melihat sosok ini…
Perlahan-lahan, dari cucuran ludahnya, keluarin seperti belatung… Wujud kecilnya yang menyerupai cacing berwarna putih, menggeliat di lidahnya…
Air ludahnya yang kental dan banyak menjadi sarana tempat belatung tersebut berenang dan menggeliat..
Ampunnn dah… Gue mau pejamkan mata pun kagak bisa…
Benar… Ini seperti siksaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata…
Mungkin hanya yang pernah mengalami masa begini barulah mengerti…

……………….

Ohhhhhhh shitttttt ! baik… !!! gumam gue dalam hati
Belatung yang menggeliat di lidahnya akhirnya jatuh bersamaan dengan tetesan ludahnya ke celana gue…
Ya tepat jatuhnya di bagian kelamin gue…
Celana pendek yang gue pakai menjelang tidur dipenuhin dengan air ludah tadi, kini telah bercampur dengan belatung…
Sekujur badan gue kagak bisa gerak…
Hanya kepala gue yang bisa gue gerakin ke atas ke bawah untuk melihat sosok wanita menyeramkan tersebut dan belatung yang kini menggeliat di celana gue…

………………..

Cukup lama waktu berjalan bagi gue…
Gue yang mulai kehabisan akal, akhirnya baru terpikir untuk mengucapkan doa…
Namun… Setiap kali gue mulai mau mengucapkan doa…
Sosok wanita itu selalu meneriaki gue…
Mulutnya yang terbuka lebar, berteriak di depan wajah…
Bau busuk dari mulutnya seakan membuat gue ingin muntah…

Siksaan mual di perut gue, rasa ingin muntah, tekanan batin dan mental gue seakan sedang di obrak-abrik…
Kalimat doa yang ingin gue ucapkan selalu terhenti…
Konsentrasi gue untuk berdoa selalu hilang…
Gue coba untuk kedua kalinya mengucapkan doa…

Kejadian yang sama terulang lagi, sosok wanita itu terus meneriaki gue, dan bahkan belatung yang ada di air ludahnya mencrot ke arah muka gue..
Oh damn God !
Gue mesti gimana ?

Gerak gerik belatung yang menggeliat kini terasa di kulit wajah gue…
Gerak belatung yang perlahan naik turun di sekitaran mulut gue bener-bener menyiksa diri gue dan membuat gue bungkam…
Sedikit saja gue membuka mulut untuk mengucapkan doa, belatung ini bisa jatuh dan masuk ke dalam mulut gue…

Berdoa di dalam hati selalu terusik konsentrasinya….
Pasrah…
Ya sudah lahhh… Gue hanya pasrah dan bisa berharap siksaan ini cepat berakhir…
Atau semoga ini hanya mimpi…
Sulit mempercayai jika ini adalah mimpi… Semua terasa begitu nyataaaaaaaaaaa……..

Gue mesti ngapain lagi ???
Sosok wanita ini terus menempel di depan gue, dan bahkan bertingkah lebih aneh lagi !!!!

Part-65

KETENANGAN

Gue yang tersiksa karena kaga bisa napa-napain semenjak sosok wanita seram itu berada di depan mata gue hanya bisa pasrah…
Usaha utk berdoa juga selalu gagal…
Tatapan sosok hantu wanita dengan lubang matanya yang hitam gelap semakin mendekat, menempel tepat sejajar dengan mata gue, air liurnya dan belatungnya terus berjatuhan ke celana gue bahkan karena saking deketnya jarak hantu wanita ini, baju gue mulai kena lumuran ludah dan belatung.

Gue yang pasrah… diem… kagak bisa napa2in…
Akhirnya gue paksa pejamkan mata gue, gue paksa teriak sekuat2nya…

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!

Teriakan gue awal-awal seakan kagak ada suara sama sekali, gue terus paksain hingga mungkin ada 5 kali dan akhirnya badan gue tersentak sadar.

Gue bisa ngelihat temen-temen di sekeliling gue.
Para cewe yang sedang ketakutan karena lampu mati dan suasana gelap hanya menggunakan lilin semakin merinding melihat gue yang tiba-tiba teriak.

Victor dan Aldi yang ada di deket gue juga sempet terkejut gue melihat badan gue kejang-kejang sekejap saat berteriak.

“Loe kenape Don? Kok badan lu geter-geter gitu sampai teriak segala ?! Loe bikin gue ama yang lain kaget. Dah tau suasana lagi gak enak gini !” ucap Victor

“Gak tau Vic ! Gak tau ! Tadi gue lihat penampakan sosok hantu wanita yang serem banget, bola matanya kagak ada, hanya lubang matanya yang begitu hitam pekat, air ludahnya terus nyucur ke celana gue dan ada belatungnya juga !” ucap gue dengan nafas terengah-engah.

Para cewe yang mendengar dan melihat ekspresi gue semakin ketakutan, mereka akhirnya saling berkumpul satu sama lain, sementara Victor dan Aldi berusaha nenangin gue.

Gue coba ambil nafas perlahan-lahan agak stabil. Gue tenangin diri gue.

“Udah udah… Gak usah cemas banget, gak kenapa-kenapa kok, mungkin hanya halusinasi sekejap aja kok.” Ucap gue nenangin hati para cewe lainnya yang tampak ketakutan

“Ko, kamu serius gak kenapa-kenapa ? Beberapa hari ini kamu terlihat agak aneh.” Tanya Monica dengan suara lembutnya, sementara cewe lainnya hanya diem dan melihat ke arah gue.

Suasana yang gelap dan ditemenin dengan 2 batang lilin yang menyala redup di ruang tamu, ditambah suasana yang menegangkan akibat pengungkapan gue dan Victor tadi beserta ekspresi gue barusan semakin memperkeruh keadaan.

Beberapa cewe yang hatinya lembut dan bisa dibilang sedikit manja, mulai meneteskan air mata, terutama Feby dan Angela.
Mereka berdua tampak ketakutan dan cemas.

Sosok Feby yang cantik dan rambut panjangnya yang lurus yang mungkin mengerti keadaan yang gue alamin, dia hanya bisa meneteskan air mata seakan-akan penuh dalam rasa ketakutan, ingin rasanya gue ngehampirin dia dan meluk dia.
Pengen gue katakan pada dia untuk tetap tenang…

Percayalah pada kami semua, kita akan baik-baik aja.

Sementara Angela yang juga cantik dan berkulit putih bersih juga tampak meneteskan air mata, hanya kedua cewe ini yang mungkin memiliki hati yang lebih lemah dibandingkan para cewe lainnya.
Mereka berdua tampak ketakutan dan kagak bisa menahan rasa takutnya..
Sebenarnya wajar saja bagi para cewe untuk merasakan ketakutan di kondisi begini, apalagi mereka pasti membutuhkan perlindungan dan perhatian dari orang lain.

Ahhh… Pengen gue tenangin mereka, sementara gue sadar hati dan detak jantung gue belum stabil mengingat kejadian yang gue alamin.

Victor yang sadar akan keadaan Feby dan Angela mulai menghampiri mereka.

Feby dan Angela yang sedang dihibur oleh para temen cewe lainnya tetep menangis ketakutan, rasa takutnya membuat badan mereka juga sampai bergetar sedikit.

Victor menghampiri Angela, memegang tangannya, mengesampingkan poni doranya yang manis imut yang menutup matanya karena ia sedang tertunduk menangis sedih dan takut.

“Tenang Angel… Kita semua pasti baik-baik saja kok. Waktu pengabdian kita sisa sebulan aja. Kagak mungkin terjadi apa-apa. Gue, Doni dan Aldi pasti berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi kita semua. Kalian semua jangan lupa perbanyak berdoa. Kita gak tau ke depannya apa yang akan terjadi, yang pasti kita berharap yang terbaik dan lancar.” Ucap Victor dengan suara pelan

Victor juga memberi kode kepada Aldi untuk membantu menghibur Feby yang juga dalam keadaan takut.

Gue hanya bisa diem, syukurlah Victor dan Aldi bisa nenangin kedua cewe itu.
Gue tau kedua cewe itu memang sosok yang lembut, hati mereka termasuk yang lemah dan mudah takut. Pengen rasanya ngelindungin dan meluk mereka, ya tujuannya untuk nenangin mereka, bukan macem-macem sih.

Gue hanya merhatiin Victor dan Aldi nenangin kedua cewe, tanpa gue sadari Monica ada di samping gue.

“Ko, udah mendingan kah dirimu ? Udah tenang ?” tanya Monica lembut

Gue yang duduk bersandar di dinding rumah seorang diri, ternyata ada Monica di samping gue, hati gue tenang dan terasa lebih nyaman ada yang nemenin gue.
Yang lain berkumpul cukup jauh dari posisi gue, wajar aja, tadi kan para cewe jauhin gue karena melihat gue berteriak.

Monica menatap mata gue terus, meyakinkan diriku bahwa gue kagak kenapa-kenapa…

Gue hanya diem, tersipu sedikit malu karena gue tampak takut tadinya.

“Mon, sorry loh tadi gue teriak dan ketakutan. Gue hanya ga menyangka gue bisa halusinasi gitu.” Ucap gue lembut ke Monica

Monica hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan memberi isyarat bahwa semua baik-baik aja.

Waktu seakan berhenti ketika gue memandangin tatapan mata Monica dan wajahnya yang deket dengan diriku, suaranya yang lembut membuat gue semakin tenang dan yakin bahwa semua akan baik-baik aja.

Beberapa jam kemudian, setelah para cewe mulai tenang, barulah kami memutuskan untuk berdoa bersama dan akhirnya kembali tidur dan istirahat.

Beberapa hari berlalu dengan tenang tanpa ada masalah apapun, yah mungkin ada yang alamin, tapi gue kagak tanya karena kagak begitu mencolok.

Sampai kira-kira seminggu berlalu, barulah sesuatu yang kagak enak kembali berulah………….

Part-66

SUARA ANEH

Tidak terasa waktu pengabdian kami di desa ini hanya tersisa 3 minggu lagi. Segala cobaan dan rasa yang tidak enak dan tentunya menyeramkan akan segera sirna dari keseharianku…
Satu minggu semenjak kejadian malam hari, di mana gue berhalusinasi akan adanya sosok hantu wanita tanpa bola mata yang tepat berada di depan gue sudah mulai terlupakan.
Namun, siapa sangka, di awal minggu kedua bulan ketiga ini, kami dikejutkan dengan kejadian baru yang tentunya bakal menjadi trauma dan pikiran bagi kami semua lagi.

Kami menjalani hari-hari kami dengan biasa selama satu minggu setelah kejadian menyeramkan terakhir itu, namun pada malam ini, pemadaman listrik terjadi semenjak pukul 6 sore, biasanya terjadi pada pukul 9 malam.

Kami semua heran dan kaga tau kenapa listrik padam lebih cepat dari biasanya. Rasanya gue pengen tanya ke warga yang rumahnya lebih dekat dengan rumah kami, namun mengingat di sekitaran rumah kami yang ada hanyalah rumah kosong alias rumah Diana, kemudian ada rumah seorang nenek dan rumah seorang bapak dan anaknya.

Gue berjalan keluar rumah dan melihat sekeliling, rasanya langit lebih cepat gelap dan mendung berangin.
Angin yang berhembus sepoi-sepoi yang dingin lama kelamaan menjadi semakin kuat dan semakin dingin menusuk ke tulang-tulang.

Langit yang gelap ditambah kilatan cahaya dan suara gemuruh petir membuat sekitaran gue menjadi begitu menyeramkan dan dingin.

Hujan pun turun dengan begitu deras di sore hari itu sekitaran pukul 6.30.

Gue hanya duduk diem di teras rumah kami sambil memandangi rintisan deras hujan yang turun.

“Woi Don ! Napain lu bengong2 sendiri di teras? Mao kesurupan lagi lu ?” usil Victor sambil mukulin pundak gue dari belakang.

Sejenak gue kaget karena mikir siapa.

“Halah, loe bisa nya ngagetin gue doank cok, Kalo gue jantungan, bisa kejang2 neh gue !” sindir gue ke Victor

“Hahaha canda bro canda, Lagian ini baru jam segini kok uda mati lampu sih, mau napa2in jadi malas, klo uda malem enak, tinggal tidur kan.” Ucap Victor

“Gak tau juga gue, eh coba klo ga ujan, gue mau pigi jalan2 ke rumah tetangga, mau nanyain kenapa tumben mati listrik hari ini cepet banget, padahal kata pak Kades biasanya mah jam 9an kan?!” jawab Gue, Victor hanya mengangguk2 setuju.

…………………..

Kami hanya ngobrol berdua di teras depan rumah sambil ditemenin suara yang begitu berisik karena derasnya, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara orang menangis lagi, suara orang berjalan seperti ngesot di lantai, srekkk srekkk srekkk begitulah kira-kira.

“Vic, lu denger suara aneh2 lagi gak ?” tanya Gue dengan serius

“Iya Don, kali ini gue denger, baru aja gue mau nanya ke lu. Kayaknya sih bukan dari ruang tamu, apa mungkin dari dapur rumah ? Coba lu liat sono !” ucap Victor

“Kampret lu ! Jangan gue yang pergi lihat lah, barengan ayo, lagian kok cewe yang di ruang tamu kagak ada yang bilang apa2? Aldi juga ga bilang apa2 tuh. Coba samperin Aldi dulu.” Jelas Gue yang masih fifty2 percaya dan ga percaya.

………….

Gue dan Victor langsung masuk ke dalam ruang tamu tanpa menutup pintu depan rumah. Kami langsung mencari Aldi yang sedang santai main Handphone di ruang tengah, sementara kami melihat para cewe-cewe sedang bersantai di ruang tamu dan ada yang di kamar, ada yang berbaring, ada yang main HP dll deh. Lilin pun dinyalain di ruang tamu dan ruang tengah.

“Aldi, Lu ga denger suara apa-apa gitu dari belakang rumah ?” tanya Gue ke Aldi yang lagi santai-santainya

“Ada bro, tapi gue cuekin aja. Paling hal-hal aneh lagi itu, uda ga usah dipeduliin.” Ujar Aldi nyuruh kami berdua utk cuek.

Gue sih pengen aja cuekin suara itu, tapi susah banget, suara itu terus berdengung di telinga gue…

Sreekkkk…. Sreeekk….. Suara orang yang lagi ngesot di lantai dapur rumah…
Krasak krusuk… Seperti ada yang lagi membongkar barang di dapur….

Entahlah… Bingung juga gue jelasin suaranya seperti apa…
Yang pasti ada suara yang bikin hati lu kagak bisa tenang…

“Ko… Temenin ke belakang donk?” ucap Monica tiba-tiba di samping gue.

WTF !!! Tiba-tiba ngajakin gue temenin dia ke belakang ? Ke toilet di saat genting begini pula…
Duh… Apa dia ga denger ada suara aneh-aneh gini ?

Gue rasa sih dia kagak denger, kalo dia denger, mana mungkin dia berani ke wc…
Apa mesti gue kasi tau ke dia? Ah kagak deh. Ntar malah jadi beban pikiran pula….

“Ko… Kenapa lu bengong ? Ada sesuatu mengganjal ?” ucap Monica sambil ngelihat ke mata gue dengan flash HP nya yang bersinar terang.

“Oh gak gak.. Gapapa… Ayuk deh gue temenin.” Ucap Gue spontan karena malu

OMG ! Gue meng-iyakan untuk nemenin Monica ke toilet… Antara senang dan takut… Kacau dah batin gue.

Gue kodein ke arah Victor untuk nemenin gue juga, tapi Victor pura-pura ga mao ikut campur.

Ah sudahlah…

Yang jelas gue jalan pelan-pelan menuju pintu belakang rumah dan Monica megang pundak gue di belakang.

Ya moga aja kagak ada apa-apa…

Sesaat gue melangkahkan kaki gue memasuki bagian dapur rumah, dan arah flash HP yang gue sorotin ke sekeliling dapur rumah.
Oh shittt !!!

Part-67

TERJEBAK

Sesaat setelah gue melangkahkan kaki gue masuk ke dapur rumah, dan flash HP yang gue sorot2in ke sekeliling ruangan…
Dan….
Shitttt…..

Ada sekilas bayangan orang berbusana putih merangkak di dapur rumah !!!
Gue yang kaget , spontan langsung mengarahkan arah sorotan flash HP gue ke arah lain…
Gue atur nafas pelan-pelan…
Syukurnya sosok bayangan tersebut bukan tepat di tengah jalan menuju ke WC, namun di arah sudut ruangan dapur.

Gue tetep ngarahin arah flash HP ke arah jalan menuju WC dan Monica berjalan di depan gue, salah satu tangan Monica menggenggam tangan gue untuk memastikan gue ada di belakangnya.

“Ko, kok lu keringetan ? Kenapa ?!” tanya Monica dengan lembut dan pelan

“Eh kagak apa-apa Mon, tuh WC nya, kamu masuk deh, gue tunggu di luar ya!” ucap Gue dengan nada yang agak kaku

“Gua ga tutup pintunya ya Ko, jangan intip ! Awas aja !” sindir Monica gangguin gue

“Iyaaaaa…. Ga bakal ~!” jawab gue singkat.

Ya iyalah ga bakal, kondisi gini suruh gue ngintip ? Yang ada mendingan gue fokus bayangan itu ga nongol-nongol depan gue aja ~ hufff

……………………….

Berselang 5 menit, gue nungguin Monica di depan pintu WC sambil membelakangi pintu tersebut.
Lama bener nech anak pipis, napain aja dia coba ?

“Mon… udahan belom?” tanya gue pelan.
Lampu flash HP gue Cuma nyorotin ke arah jalan dari ruang tengah ke dapur, gue kagak berani nyorotin ke arah lain.

Duhh lama bener nech anak….
Mana gue merinding pula sendirian di ruangan dapur ini, ditambah di luar angin berhembus mayan kenceng, jadinya dingin banget.
Entah dingin entah merinding… Entahlah…

“Monnn…???” ucap gue lagi.

….

“Moonnn ? Udahan lom? Jawab donk.” Ucap gue dengan nada agak keras

………..

Kemana nih anak ? Kok ga ada suara ?
“Mon, lu klo diem, gue noleh ke belakang nech. Jangan salahin gue ngintip yaaa !” ucap gue dengan nada serius

……

Gue pun berbalik badan ke arah WC…
Lohh…
Kosonggg…..

Badan gue uda mulai merasakan kagak enak…
Kayaknya ada yang gak bener nih…
Kagak mungkin kan Monica niat ngerjain gue di saat-saat begini ?
Monica bukan tipe begitu deh setau gue…

Gue mulai masuk ke dalam WC untuk memastikan Monica tidak sedang bersembunyi.

…….

Gue dorong pintu WC yang tidak terkunci namun hanya sedikit ditutup agar cahaya flash gue tetep terang di dalam.

“Mon??? Loe dimana ?” ucap Gue

Gue manggil berkali-kali, namun kagak ada jawaban…

Badan gue beberapa kali merinding lagi, bulu kuduk gue serasa naik dan kaki gue serasa lemes.

“Ahhh setan…. Kenapa badan gue ga enakan ?” gumam gue dalam hati

Gue langsung membalikkan badan gue untuk keluar dari WC, namun…

“Lohhh… Mata gue kok burem ?!”

Gue kucek-kucek mata gue, pandangan gue serasa kagak jelas.
Susah buat gue jelasin gimana, tapi seperti lu buka mata di dalam kolam renang deh, kabur gimana gitu.

Pandangan gue yang burem, arah flash HP gue serasa tidak fokus dan bias.

“Viiiccc !!!! Aldiii !!!!” teriak gue berulang-ulang

…………….

Gue ga mendapatkan jawaban apapun dari mereka….
Sial….
Otak gue mulai berpikir ke arah negatif…
Gue rasa gue mulai masuk ke alam lain seperti kemarin lagi…

Kok gue bisa ngalemin hal beginian terus yah ?
Apa karena gue disembunyiin hantu lagi ?
Disembunyiin sosok putih tadi lagi ?

…………….

Gue coba diem, gue coba tutup mata gue,
Gue atur nafas gue dengan perlahan-lahan.

Di sela-sela gue menutup mata gue, gue mendengar suara seseorang.

“Ssstt….. ssst…. Doooo…..doonnnn….”

Ya suara seseorang yang jauh dari luar rumah, suara lelaki !!!
Gue masih kurang fokus dengan suara tersebut karena terdengar begitu samar-samar…

Gue tetep menutup mata gue dan konsen dengan suara itu..

“Donnn…. Kemari…. Bersenang-senang di sini…. !”

Suara bisikan itu…. Lama kelamaan mulai terdengar jelas…. Arah dari luar rumah !

Gue akhirnya membukakan mata gue,
Dan….

Sial !!!
Pandangan gue masih burem !
Ini uda keberapa kalinya sich gue ngalemin begini pikir gue dalam hati ?

Gue terus melangkah maju menuju ruang tengah rumah….

………..

Gue nampak 2 sosok orang, berbadan lumayan gede, sosok lelaki lah, mungkin ini Victor dan Aldi menurut gue.
Gue coba manggil dan menyentuh tubuh mereka, namun kaga berhasil…

Seperti ada penghalang dan entah apa yang gue rasakan, gue kagak bisa jelasin…
Rasanya pengen gue tinggalin desa ini, ngalemin kondisi seperti ini, hati gue berkecambuk kagak jelas. Konflik batin gue antara takut, pengen nangis, kabur dan perjuangan gue yang sia-sia.

Gue pun jongkok, menutup mata gue, menutup telinga gue dari suara-suara aneh…

Ingin rasanya gue berteriak, namun percuma….
Kagak ada yang mendengarkan !!!

“Donnnn… kemariiiii !”

Suara lelaki dari luar rumah terus memanggil gue untuk menemui dia…
Suara siapa sih itu ???!!!

Gue yang sudah putus asa dan kagak tau gimana cara lepasin dari alam tidak nyata ini, akhirnya gue putuskan untuk keluar rumah dan mencari asal suara itu ….

BERSAMBUNG